"Nggak mau!” kataku tegas sambil memalingkan wajahku. Apa-apaan tingkahnya, memintaku menjadi pacar tapi dengan cara memaksa seperti itu. “Kalau kamu nggak mau bawa mobilnya, sini biar aku saja!” Aku merebut kunci mobil dari tangan Bima karena merasa kesal bukannya langsung menyalakan mesin mobil, tapi dia malah berada di sini. Aku juga melakukan ya agar mengalihkan pembicaraan Bima tentang mau tidaknya aku menjadi pacarnya. Mendengar permintaannya tadi malah membuatku merasa ngeri. Seperti adegan sinetron, dengan gerakan perlahan Bima menarik tanganku dan menatap wajahku. Dan sekali lagi aku memalingkan wajahku. Kali ini bukan karena kesal pada Bima, tapi entah kenapa wajahku terasa memanas. “Kamu mau jadi pacarku?” ulangnya lagi. Kali ini lebih dramatis, aku yang menunduk malu dan

