Malam ini aku tidak bisa tidur nyenyak, sudah beberapa malam seperti itu terus. Mataku sudah mengantuk dan ingin terpejam, tapi ada sesuatu di kepalaku yang memaksaku untuk membuka mata kembali. Bukan gara-gara rumah Rana yang mendadak ramai karena banyak keluarga yang datang. Atau pun gara-gara Ayah dan Bunda yang telah datang tapi belum sempat menasehatiku panjang lebar. Aku bahkan tidak memikirkan hal itu semua. Ada satu hal yang teramat penting dari segala hal itu sampai mataku enggan terpejam hingga saat ini. Ah sial! Mataku bertambah tidak bisa dipejamkan saat memikirkannya.
Dan yang pasti juga bukan gara-gara Rana yang dari tadi membolak-balikkan tubuhnya di tempat di tidur dengan gelisah. Nasib tidur sekamar dengan calon pengantin. Dianya yang gelisah, aku juga seperti kena imbasnya. Bedanya aku gelisah bukan karena memikirkan calon suamiku yang saat itu belum berbentuk, bahkan rupanya saja belum kuketahui. Tentu saja kami berbeda untuk hal itu. Rana dengan calon suami nyatanya dan aku masih dalam bentuk imajinasi.
“Kamu harus tidur, nanti besok kelelahan loh,” kataku sambil berusaha memejamkan mata. Hebatnya aku menasehati Rana untuk segera tidur, padahal aku sendiri kesulitan untuk melakukannya.
“Kamu belum tidur?” jerit Rana tertahan. Aku membuang napas panjang, untuk hal sepele seperti ini saja, Rama suka heboh sendiri. Memang dikiranya hanya dia saja yang nggak bisa tidur?
“Gimana bisa tidur kalau dari tadi kamu sudah kayak jagung mau dibakar, bolak balik terus,” tukasku kesal.
“Aku tegang nih,” kata Rana. Aku tertawa pelan, sepupuku yang bodoh ini suka bertingkah aneh jika panik.
“Hitung domba sampai kamu ketiduran. Sudah sana, besok pagi kamu mesti bangun subuh-subuh buat dandan." Aku membalikkan badanku, pura-pura akan kembali tidur. Lama tak terdengar suara Rana, mungkin dia sudah kembali tidur atau malah pura-pura tidur. Aku tidak mau mengganggunya dulu, karena ada hal penting yang lebih dulu mengganggu pikiranku.
Oke, saatnya tidur. Pejamkan mata dan kosongkan pikiran. Ah! Menyebalkan!
Yang terjadi malah kebalikannya, pikiranku mengembara kemana-mana. Tanpa sadar, aku menyentuh bibirku. Rasanya masih ada. Aku menggosok-gosok bibirku dengan frustrasi. Dari tadi di pikiranku hanya memikirkan hal itu, hal maha penting yang sudah memporak-porandakan hati seorang gadis polos sepertiku.
Bocah ingusan itu benar-benar telah menghancurkan pertahananku. Aku belum pernah dicium sebelumnya, tidak mempunyai pengalaman apa-apa jika mendadak ada lelaki yang mencium bibirku. Pengalaman? Pacaran saja belum pernah, bagaimana bisa memiliki pengalaman dicium.
Kata orang ciuman pertama itu indah. Ya seharusnya seperti itu. Tapi kenapa kali ini yang aku rasakan malah kebencian? Aku benci dicium dalam keadaan tidak sadar, aku benci karena yang menciumku bocah ingusan itu, aku benci kenapa tidak meremukkan tulangnya sampai hancur. Kata benci seperti berputar-putar di kepalaku saat mengingat wajahnya. Aku ingin berteriak sekerasnya, tapi tidak mungkin kulakukan. Seluruh orang di rumah ini akan kaget jika aku melakukannya.
Aku kemudian memikirkan masa remajaku beberapa tahun yang lalu. Dulu waktu masih sekolah, pernah ada anak lelaki yang iseng mencium pipiku. Seluruh badannya babak belur karena kemarahanku. Aku tidak suka dengan anak lelaki yang usil dan hanya menganggap wanita sebagai objek keisengan. Aku tidak akan tinggal diam jika hal itu terjadi padaku. Sejak saat itu tidak pernah ada lelaki yang berani mendekatiku lagi.
Makanya hingga saat ini aku tidak pernah berselera dengan lelaki yang seumuran denganku, apalagi yang jauh dibawahku seperti bocah ingusan itu. Yang ada di kepala bocah sepertinya hanya keisengan. Lihat saja bagaimana cara dia menciumku tempo hari. Apalagi yang menjadi tujuan utamanya jika bukan karena iseng. Mencium seorang wanita karena iseng? Cih. Awas saja, jika bertemu dengannya kembali, aku jamin hidupnya tidak akan tenang.
Seandainya saja, besok pagi saat aku terbangun ada lelaki mapan dan kaya yang melamarku. Ayo, mari menghayal lebih dalam lagi, Aya.
“Aya, bangun! Antarin aku.” Tubuhku terguncang-guncang dengan pelan. Rasanya baru beberapa menit yang lalu aku tertidur dengan nyenyak. Oh! Khayalanku pun belum sempurna kubentuk. Aku memicingkan mataku, menatap jam dinding di hadapanku.
“Baru jam empat pagi, Rana. Mau antarin kemana?” Aku memejamkan mataku kembali. Apa pagi ini dia mau jogging? Jogging juga kepagian jam segini.
“Tukang riasnya nggak bisa datang ke sini. Katanya mendadak nggak ada yang antarin. Jadi aku disuruh ke salonnya sekarang.” Rana masih mengguncang-guncangkan tubuhku.
“Duuuh, ngerepotin banget sih tukang riasnya. Ya sudah, cari yang lain saja," ucapku masih masih malas memejamkan mataku. Di saat mataku baru mulai bisa terpejam, kenapa ada saja hal yang menghalanginya?
“Mana bisa gitu, yang ini saja sudah di-booking dari beberapa bulan yang lalu. Nggak semudah kalau kamu mau potong rambut, tinggal ganti salon saja." Suara Rana terdengar panik.
“Iya...iya..., aku bangun,” kataku akhirnya. Taruhan, jika kudiamkan sebentar lagi, Rana pasti akan menangis. Aku tidak mungkin membiarkannya menangis di hari pernikahannya.
“Kamu sudah mandi?” tanyaku memastikan. Rana mengangguk dan kemudian mengambil sweater dan menggunakannya.
“Kamu nggak perlu mandi, cukup antarin aku saja,” kata Rana. Aku tersenyum masam, siapa juga yang pagi-pagi buta gini mau mandi, sekalipun pakai air hangat. Ogah kalau aku sih.
Aku dan Rana berjalan setengah berjinjit melewati ruang tamu yang sekarang berubah fungsi menjadi tempat tidur para keluarga dari luar kota yang memang sengaja datang untuk menghadiri acara pernikahan Rana.
“Perlu kasih tahu Tante sama Om nggak?” tanyaku. Rana menggeleng dengan cepat.
“Nggak usah, nanti mereka panik. Ayo buruan, kita pulang sebelum mereka bangun,” bisik Rana.
Udara pagi membuat tubuhku menggigil. Kalau saja hari ini bukan hari pernikahan Rana, aku tidak akan sudi mengantar Rana di pagi buta seperti ini.
“Aku lupa bawa ponsel,” jerit Rana saat mobil sudah berjalan meninggalkan rumah.
“Sudah biarin, kita juga nggak lama,” sahutku. Aku meraba-raba saku celanaku.
“Ponselku juga lupa bawa,” kataku sambil nyengir.
“Padahal aku pengen telepon Yudis tadi,” kata Rana pelan.
“Ngapain juga telepon-teleponan, nanti juga ketemu,” sahutku.
“Kamu sih nggak ngerasain gimana cemasnya.”
“Makanya aku nggak mau buru-buru nikah, biar Nggak usah ribet kayak gini,” kataku sambil tertawa.
Hanya butuh beberapa menit untuk sampai di tempat yang dituju. Jalanan yang masih sepi membuat aku bisa ngebut sekencang mungkin. Heran deh, calon suaminya Rana kan pengusaha kaya, kenapa nggak cari tukang rias yang lebih profesional. Ini dengan alasan nggak ada yang mengantar, dia bisa dengan sesuka hatinya minta kliennya yang datang.
“Nah, kamu dandan sana dulu. Aku mau tidur dulu di sofa itu,” kataku setelah disambut oleh Tante Tukang Rias yang di pagi buta seperti ini dandanannya sudah seperti ondel-ondel. Aku cuma bisa berdoa, semoga saja Rana tidak didandanin seperti itu juga.
Oke, sekarang saatnya melanjutkan tidurku yang tertunda. Semoga saja Rana baru selesai dua atau tiga jam lagi, biar aku bisa puas tidurnya.
***
“Kalau aku ngebut, kamu nggak apa-apa nih?” tanyaku memastikan. Rana baru saja selesai dirias dan kali ini aku harus membawanya pulang ke rumah sesegera mungkin, sebelum seisi rumah heboh karena kami berdua mendadak menghilang.
Aku memandang wajah Rana dengan takjub. Pantas saja Rana bela-belain menggunakan jasa Tante yang satu itu, wajahnya benar-benar terlihat manglingi Aku jadi iri melihat perubahan wajahnya. Rana yang biasanya jarang menggunakan make up, kali ini benar-benar terlihat berbeda, terlihat cantik dan bersinar.
Wajah Rana sudah didandani dengan sempurna dan entahlah aku tidak tahu apa yang dilakukan tukang rias itu dengan rambutnya. Yang pasti, penampilan Rana sudah berubah total minus baju pengantinnya saja. Baiklah, kali ini aku harus jujur, Rana cantik sekali, sudah mirip artis sinetron. Dan aku seperti asisten pribadinya.
“Nggak apa-apa, rambutku nggak bakalan rusak kalau kamu ngebut." Rana menyemangati dan membuatku tanpa ragu menambah kecepatan mobilku.
Baru beberapa menit aku dan Rana terdiam menikmati jalanan yang terlihat seperti lukisan terbang karena aksi ngebutku, tiba-tiba mobilku berhenti perlahan, makin lama makin pelan hingga berhenti sendiri.
“Gawat, bensinnya habis!” jeritku panik. Siapa sih yang nggak tanggung jawab banget, sudah dipakai nggak diisi bensinnya.
“Gimana nih! Ada pom bensin dekat-dekat sini nggak,” kata Rana panik.
“Nggak ada deh kayaknya. Sebentar, kamu tunggu di mobil saja dulu. Aku mau cari kios eceran saja,” kataku sambil membuka pintu mobil. Tidak mungkin juga kuajak Rana menemaniku dengan dandanannya yang sudah mirip artis itu.
“Jangan lama-lama!” teriak Rana sebelum aku berjalan menjauh.
Nggak bisa diajak kerja sama nih, kios eceran saja nggak ada. Aku menggaruk-garuk kepalaku sambil memperhatikan sekeliling. Apa aku nekat saja ya mencegat mobil yang lewat.
“Ayaaaa...! Ada nggak?!” terdengar teriakan Rana. Aku menggeleng sambil berjalan menghampirinya.
“Terus gimana nih. Ponsel saja kita nggak bawa." Suara Rana seperti sudah mau menangis. Gawat, aku takut dandanannya akan rusak gara-gara tangisannya.
Baiklah, kali ini sepertinya aku harus nekat. Nggak apa-apa malu, demi sepupuku tercinta.
Setelah menarik napas yang panjang sekali, aku segera memposisikan diriku. Berdiri menantang di pinggir jalan. Please, siapa saja berhenti dong.
Kalau kuhitung, sudah ada sekitar lima mobil yang lewat begitu saja tanpa memedulikan lambaian tanganku. Apa mereka pikir aku w*************a yang sedang mengharapkan tumpangan? Apa mereka tidak tahu jika mereka berhenti dan memberikan tumpangan pada kami, maka akan ada balasan setimpal berupa doa dariku buat mereka.
Satu mobil lagi, kalau nggak kali ini aku terpaksa memanggil abang-abang tukang ojek di seberang sana dengan resiko rambut Rana akan berubah seperti sarang lebah.
Yessss!!! Sebuah mobil berhenti sempurna tepat di hadapanku. Aku mengetuk kacanya yang tertutup, sepertinya sopirnya lelaki. Pantas saja mau berhenti, mungkin aku cukup menggoda buatnya.
“Mas, tolong banget..., kami boleh numpang ya. Mobil kami mogok, dan sepupu saya yang di dalam mobil itu buru-buru karena hari ini hari pernikahannya,” jelasku panjang lebar saat kaca mobil perlahan terbuka. Aku sampai hampir kehabisan napas karena berbicara tanpa jeda.
Apaaa?! Kenapa bisa bocah ingusan itu yang berada di dalam mobil?!(*)