Bali 1

2247 Words
    Hari Minggu ini, pagi-pagi sekali kami sudah bertolak ke sekolah, disana 2 buah bis pariwisata sudah menunggu kami. Sesuai rencana, kami akan tour ke Bali hari ini.     Aku masuk ke bis pertama, bersama Vika dan Dito. Sementara Dani masih menjalankan tugasnya di luar, memastikan bahwa semua pengurus OSIS sudah absen hari ini dan bus siap berangkat. setelah mengecek semua data, dia memberi tau pak Agus bahwa kami siap berangkat. Dan dia mulai menuju arah pintu untuk naik.     "Diih diliatin Mulu..." ucap Vika, dia mengambil tempat duduk di sebelahku.     "Apa sih Vik? Enggak kok, saking lihat keluar aja." elakku, sambil mengikat rambutku, agar udara dari sejuknya AC bisa kurasakan dengan maksimal.     "Nggak usah ngelak, tenang aja, tadi aku udah kasih tau dia, kita ada di bus 1." sahutnya.    Dan Vika langsung berdiri begitu melihat Dani mendekat.    "Kamu mau duduk sama dia kan, tuh, harusnya kamu berterimakasih karena udah bookingin tempat buat kamu, gak jadi di tempati yang lain." oceh Vika.     "Ooooo Ok Vik, makasiihh ya, tumben kamu pinter." kata Dani, kemudian duduk dan sebelumnya menaruh ranselnya di rak tepat diatas kami.      Aku yang sedang scroll story wa langsung kaget ketika kurasakan Dani menarik dan melepas ikatan rambutku.     "Aduhh kenapa sih?" tanyaku.     "Nihh..." ucapnya sambil memberikan tali rambutku yang tadi dia lepas.      "Nggak ngerti ni anak ada masalah apaan?" aku bermonolog.      "Udah mulai sekarang jangan diiket lagi rambutnya." katanya sambil menatapku. Nggak kuat rasanya berpandangan dengan dia dengan waktu yang lama. aku buru-buru mengalihkan perhatian ku kembali ke layar hp.      "Dan... "      "Apa?"       "Nggak jadi deh."       "Apaa.." ucapnya sambil merebut ponsel.      "Ehhh kembaliin..."      "Ngomong dulu apaan."  Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkan pelan-pelan.       "Ada yang dm aku semalam."      "i********:?"      "Iya."      "Siapa? DM apaan?"      "Anonymous... dan kaya fake akun gitu, cuma buat nge stalker Ig ku aja."      "DM apaan?" tanya dia, kemudian aku membacakan DM yang semalam aku terima.      "Kamu mau balik sama aku, atau keluarga kalian bakalan tau kalian pacaran." bunyi DM itu.      Wajah Dani seketika berubah, ada rasa geram yang tersirat di wajahnya.      "Ini mantan kamu kan?"      "Iya.... tapi aku nggak tau, soalnya aku ada beberapa mantan, walupun nggak banyak."      "Iya iya aku cuma nanya kok, gitu aja mau nangis."      "Aku takut kalau kamu marah. serem banget kalau marah."      "Nggak marah kok, udah aku bisa ngatasi masalah gini aja kan." katanya kemudian.      "Kira-kira dari beberapa mantan kamu, ada yang kamu curigai gak sih?"     "Aku nggak ada yang kepikiran, mereka pada baik ke aku, jadi nggak bisa nebak yang mana." jawabku.     "RIP otak adek ku... kalau yang namanya baik gak mungkin jadi mantan sayangggkuuu."     "Iya sihh, tapi kayanya nggak Sampek ngancem-ngancem gitu."     "Terus... siapa lagi yang ngajak balikan kalau bukan mantan."      "Nggak tau ahh pusing." jawabku malas debat.      "Tapi tadi bilang apa, adek? jadi adek apa pacar?"      "Pacarku ya adikku." ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.      "Aaaa udah jangan kaya gitu, nggak suka, jadi melting tau." kata ku.      "Hmmmmm.... masa sih."      "Udahh ah." sambil menutupi muka ku dengan telapak tangan, rasanya panas dingin, malu sampe ke nadi kalau diliatin terus digodain gini. Bus mulai berjalan, bertolak meninggalkan kota dingin Malang. mereka semua enjoy dalam perjalanan. Sementara aku mulai pusing, nggak tau mabuk atau gimana.       "Dan... aku kok pusing ya."       "Mabuk?"       "Iya kali.."       "Tadi udah minum obat belum?"      "Belum, nggak tau kalau bakalan mabuk jadi nggak minum."       "Ya ampunn beneran RIP otak pacar ku. Ya udah sini, kamu jangan nyandar ke kebelakang nanti tapi pusing kena goncangan jalanan, nyandar ke aku aja, jangan sampek punggung kamu nyentuh sandaran kursi, bakalan tambah pusing."       "Iya bawel." jawabku, aku bersandar padanya dan memposisikan diriku senyaman mungkin. lalu memejam kan mata untuk meminimalkan rasa mual dan pusing.      Baru aja aku menuju deep sleep, aku dengar Dani menerima telpon dari mamanya. tapi aku malas buka mata karena masih pusing dan pingin muntah.       "Udah nyampek mana?" tanya Tante Maya.      "Baru juga keluar dari Malang ma." jawab Dani.      "Kamu satu bis sama Syaluna nggak?" tanya Tante Maya, Dani langsung mengecilkan volume hp nya, dan memasang headset.      "Iyaa ma, ini satu bis kok, nih Dani duduk sama dia."      "Dia tidur?"      "Kayanya mabuk perjalanan ma, dia bilang pusing dan mual."      "Muntah nggak?"      "Enggak ma."      "Kamu minta itu, minyak kayu putih, terus kasih ke pelipis sama ke perutnya. Untuk mengurangi efek mabuknya."      "Iya ma, yaudah Dani nyari ke temen-temen ya."      "Iya... jagain adek kamu baik-baik, awas kamu kalau dia kenapa-napa."       "Iyaa maa.." Dani menutup telponnya dan beranjak dari tempat duduk. Namun aku masih menahannya.       "Mau kemana?"       "Pinjam minyak kayu putih, ke anak-anak."       "Nggak usah, disini aja."       "Bentar aja, liat kamu kaya gini nggak bisa tenang Sya". Dia melepaskan tanganku dan berdiri dari tempatnya. Beberapa saat kemudian kembali dengan membawa bantal leher dan minyak kayu putih.      "Punya siapa?" tanyaku.      "Bantalnya punya Naura, minyaknya punya Bella."      "Ini juga sama Atma dikasih Antimo." tambahnya.      "Kamu minum ya!"       Aku menerima sebutir Antimo kemudian meneguk air putih untuk menggiringnya masuk kerongkongan ku. Dani mengoleskan minyak kayu putih ke leher, tengkuk pelipis dan perut ku.       "Udah kamu istirahat ya, aku jagain kamu kok." ucapnya sambil menata posisi ku senyaman mungkin lalu membuka jaketnya untuk menyelimutiku juga mematikan AC diatas kami. Aku nggak sadar berapa lama aku tertidur tapi yang jelas hari udah gelap dan kami bersiap mau turun, untuk pindah ke kapal penyeberangan.      Aku membuka mata, dan kulihat mereka semua mulai merapikan barang bawaan dan berdiri dari tempat duduknya.      "Syukurlah kamu sudah bangun, kita mau nyebrang."      "Ohh iya." aku turut merapikan jaket dan bersiap hendak mengambil tas ku di atas.     "Udah biar aku aja yang bawa."      "Ehm makasih..." ucapku.     "Ini kamu pakai lagi jaketnya, nanti kena angin malam kamu tambah mabuk di kapal."      "Kamu?"     "Aku nggak papa kok."     "Iya makasih..."      Aku mengambil ponselku yang tergelatak di sisi tempat dudukku. dan kubuka notifikasi direct message pada akun i********: ku.      "Aku tau kamu tour ke Bali kan? aku tunggu, see ya in paradise."     "Bukan aku nggak punya mantan yang bahasanya kaya gini."      "Aku akan menemuimu, dimana?" balasku.     "Jangan terburu-buru, katakan saja di mana kamu menginap aku akan kesana."     "Aku belum tau dimana akan menginap, baru juga mau nyebrang."     "Okke c.u soon"     "Bahasa nya mirip cewek, jangan-jangan justru ini mantannya Dani, kirim pesan ke aku buat mau ketemu aku, dan dia suruh kami putus agar dia bisa balik lagi ke Dani, fix ini pasti mantannya Dani.     Hanya karena memikirkan pesan masuk tadi aku berasa benar-benar sehat dan gak pusing lagi. Kulihat Dani bergabung bersama teman-temannya, dan aku juga bergabung bersama Vika, Bella dan Naura. Hingga kami naik kapal penyeberangan.     Setelah kuperhatikan sekali lagi Dani sedang asyik sendiri dan tidak mungkin mendatangiku, aku buru-buru mengambil hp dan membalas pesan tadi.     "Kamu yakin nggak salah kirim?" balasku yang masih Keukeh nebak ini pasti mantannya Dani yang berniat nerror.     "Enggak."     "Kamu tau aku siapa?"     "Hafsa Syaluna Ariadi." balasnya dengan emoticon kiss, yang justru membuatku ngeri.     "Ya udah jujur aja kamu siapa? atau aku nggak mau ketemu kamu."     "Aatauuu.. aku bongkar hubungan sedarah kalian."     "Kenapa kamu terus ngancam?"     "Aku nggak akan ngancam dan aku gak bakal ngelakuin hal yang buruk ke kamu, kalau kamu nurut mau balik ke aku."     "Iya tapi nggak tau kamu siapa? mana mungkin percaya sama kamu, kamu bukan mantan aku kan."     "Bisa iya bisa juga bukan."     "Chat sama siapa sih serius amat?" tanya Dani yabg tiba-tiba duduk di sampingku.     "Nggak kok aku cuma bikin instastory aja." ucapku sambil memasukkan ponsel ku kedalam tas.     "Masa sih, tapi Sampek nggak tau kalau udah ditinggalin sama temen-temennya. Aku menoleh ke sampingku dan mereka bertiga udah nggak ada, aku nggak tau kemana, mungkin tadi aku terlalu fokus. sampai nggak denger mereka ngajakin aku pergi.      "Coba lihat hp nya."      "Enggak."      "Kenapa, kamu nyembunyiin apa dari aku?"      "Enggak kok." ucapku sambil berdiri dan hendak menjauh darinya. Namun buru-buru dia menarik tanganku dengan kencang, hingga membuatku nyaris jatuh, sampai akhirnya dia sendiri yang menangkapku.      "Kamu nggak pinter bohong, dan aku nggak suka kamu mulai belajar nyembunyiin apapun dariku, kalau kamu nggak mau ngomong ke aku sebagai pacar, cerita aja sebagai adik."      Tatapannya yang tajam menghunjam sampai ke kedalaman hatiku, dan aku takut sekali melihatnya seperti itu. Tapi aku tetap nggak mau nunjukkin chat itu, aku takut dia melarang ku bertemu dengan anak itu, sebenarnya aku lebih takut kalau hubungan kami terbongkar dan bakal kehilangan dia. Itulah yang aku takutkan dari kondisi seperti ini.        Dia memaksa mengambil ponsel dari saku celanaku, tapi aku menahan tangannya.       "Yang harus kamu tau adalah bahwa aku akan selalu sayang sama kamu sampai kapanpun, dan aku nggak mau kamu ninggalin aku dengan alasan apapun." kucium pipi kirinya kemudian aku segera berlari menjauh.      Kemudian bergabung bersama Vika dan yang lainnya. Mereka mulai terkantuk-kantuk, dan tidur saling bersandar satu sama lain. Udah tengah malam saat kapal kami bertolak. Aku buka hp ku dan menghapus chat dari anak itu.      Dan ikutan mereka tidur. Sesekali ku intip Dani masih memperhatikan ku dari kejauhan.      "Ehh mau kemana Dan?" tanya Dito.     "Nggak kemana-mana kok, pingin duduk deket pacar aja."     "Kurang lama di bus duduk sama dia?" tanya Atma.     "Namanya juga pasangan baru, masih anget-angetnya, paham kok, udah sana." lanjut Dito.     Dan Dani pun kemari, setelah duduk dia mengambil ponselku perlahan dan membukanya. Namun dia menyadari kalau pesan itu sudah aku hapus, lalu mengembalikannya padaku.     Sesaat kemudian kurasakan sesuatu yang lembut, hangat dan lembab melumat bibirku, membuatku terpaksa berhenti pura-pura tidur. Aku membuka mata dan dia tersenyum.     "Ada apa?" tanyaku.     "Nggak papa kok." jawabnya.     "Tiba-tiba nyosor aja, bikin kaget tau."     "Kamu tidur pun imut, jadi gemes pingin gigit." Aku pasang muka weird, tapi dia malah ketawa.     "Kaya gitu pun imut, rasanya pingin lagi."     "Enggak ah... diliatin temen-temen kamu juga."     "Emang kenapa? kamu pacar aku kan bukan pacar mereka."     "Iya sihh ya kalau Dito cs mah gak masalah, kalau yang lain. Misal direkam terus disebarin, pakek tagline video m***m siswa di kapal penyeberangan, habislah kita."      "Enggak lah... mereka nggak se b******k itu, kamu tenang aja."      "Percaya sama apa yang kamu percayain." ucapku sambil menggelayut di lengannya.      "Aduuhhh nggak kuat, liat kamu manja gini sumpah." ucapnya sambil ketawa.     "Gajelas, manja gimana, pegangan doang."     "Iya iya nggak papa, lanjutin sayang."     "Tapi... kamu nggak mau cerita apa gitu?" tanyanya kemudian.     "Enggak... cerita apaan?"     "Ya udah kalau nggak ada apa-apa, tapi ingat ya aku nggak suka kamu belajar bohong." aku hanya mengangguk.       Dan tepatnya kala subuh menjelang, kami sudah sampai di Bali, tepatnya setelah sampai di pelabuhan kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pantai Sanur untuk menjemput sunrise.      "Waaahh bakalan makasih sama pak Agus nih, kenapa momen nya jadi romantis gini sih." ucap Bella saat kami tengah duduk-duduk melihat sun rise bersama pasangan masing-masing pada sebuah dermaga kecil.      "Syaaa.... hunting yukk!" ajak Naura.      "Ayooo..." aku menarik Vika untuk ikut dengan ku.      "Ehh kalian mau kemana?" tanya Dani.      "Jalan-jalan bentar." jawab Vika.      "Enggak nggak nggak ada.. udah disini aja sama yang lain." kata Dani.      "Ealahhhhh Dan... kita jauh-jauh dari Malang kesini cuma diem liatin ombak." bantah Bella.      "Eiitss aku ketua OSIS yang bertanggung jawab atas kalian jadi nurut aja." kata Dani.      "Yahhhhh... bentar nggak jauh-jauh kok masih di jangkauan kamu." kata Naura.      "Ya udah mending ikut aja..." ajak Vika.      "Nggak ah aku capek, lagian kalau aku ikut siapa yang ngawasin mereka." kata Dani.       "Tau ahh..." ucapku kesal.       "Syaa pasti kamu tau gimana ngeluluhin hati nya." bisik Bella.      "Iyaaa Syaa coba aja, kamu rayu dia." tambah Naura.       "Dirayu gimana, aku nggak pernah ngrayu dia wee."      "Pakek muka sedih, atau imut gitu barangkali, udah coba aja." tambah Bella.       Aku berpikir sesaat, kemudian mendekat kearahnya. Dengan wajah seimut mungkin aku mencoba menirukan cara anak-anak hits yang memakai bahasa Korea.      "Oppa....ng Gaja" ucapku sambil menarik-narik lengan bajunya lengkap dengan agyo yang bikin laki-laki gak bisa menolaknya.       "Hassshhh.. selain mama aku juga lemah dengan dia." ucapnya kepada Dito, Atma dan Fahri.       "Yaudah asal jangan jauh-jauh."       "Yaeiiiiyyyy...." seru mereka bertiga.       "Oppa Saranghae..." tambahku sambil melemparkan sanyum dan tangan simbol hati.        "Dahhh gitu doang Dani udah senyum-senyum sendiri, aku bilang juga apa, cuma Syaluna yang bisa ngendaliin dia." kata Bella.       "Sayangnya kalau aku gitu ke Atma, wajahku gada imut-imutnya." katanya kemudian.       "Dah lahh ayoo, katanya hunting foto." ajakku. Dan kami pun mulai bertelanjang kaki bermain pasir di tengah fajar yang mulai terang.       "Sya tau nggak sih, Dani sweet banget liatin kamu terus dari jauh." kata Naura.       "Sweet dari mananya?" tanya ku.       "Ya tatapan dia ke kamu. Ajimmm bikin meleleh." jawabnya.       "Baru nyadar... serius iya dia liatin aku, jadi malu, ayo udah pergi yuk."       "Lahhhh padahal cuma diliatin doang, dah salah tingkah."       Kami berempat pergi agak menjauh dari pandangan Dani. untuk melanjutkan hunting foto istimewa.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD