"Apa - apaan lo, Yuna hah? Jadi ini semua gara-gara lo?!"
Wanita dengan dress satin berwarna biru itu tertawa. "Jadi the queen Cindy sekarang cuman jadi sekertaris yang dipecat karena salah kontrak?" ujarnya sinis.
"bang sat lo Yun! Lo masih kekanak-kanakan kayak gini hah? Mau sampai kapan gue tanya?" Cindy dengan nyalang menatap wajah Yuna sambil mengepalkan tangannya.
"Sampai lo bener-bener hancur kayak kehidupan gue dulunya!"
"Lo sendiri yang hancurin kehidupan lo, kenala malah nyalahin gue sekarang hah?"
Cindy menatap nyalang ke arah Yuna, mencoba mengintimidasi lawannya. sayangnya Yuna pergi meninggalkan Cindy dalam keadaan marah, yang hanya mampu melihatnya pergi.
Cindy ingin sekali menampar pipi wanita jahannam itu. Tapi sayangnya, kekerasan bukanlah gaya dari seorang Cindy Aprilia Bernadette.
Maka dari itu, disinilah ia berada.
.
.
.
.
.
Pintu kamar tertutup dengan bunyi pelan.
Cindy bahkan tidak ingat bagaimana mereka sampai ke sana.
Yang ia tahu hanya satu, kepalanya begitu berat, langkahnya tidak stabil, dan tangannya masih menggenggam lengan pria yang ia kira targetnya itu.
“Lo terlalu gampang mabuk buat kerja di bar,” suara Alex rendah, nyaris datar.
Cindy terkekeh pelan, kepalanya bersandar sebentar di bahu pria itu. “Cindy kan kerja buat Om loh, bukan di bar.”
“lo tau kan, lo tadi hampir jatuh di lift.”
“Tapi nggak jatuh,” balas Cindy cepat, lalu menatapnya dengan mata setengah terbuka. “Karena om.”
Alex tidak menjawab.
Ia hanya membuka jasnya, melemparkannya ke kursi terdekat, lalu berbalik ke Cindy yang kini berdiri di tengah kamar, sedikit limbung.
Cindy melepas heels-nya tanpa peduli, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai. Ia menghela napas panjang, lalu tertawa kecil tanpa alasan jelas.
"gue tebak lo belum pernah mabuk sebelumnya,” gumamnya.
“Hm? apa sayang?”
Pria itu kembali menggelengkan kepalanya bingung menghadapi sikap Cindy yang berbahaya.
“Om tuh…” Cindy menunjuknya asal. " Ternyata nggak kayak yang aku kira tau.”
Alex menyipitkan mata. “emang lo kira gue kayak apa?”
Cindy berjalan mendekat, setengah terhuyung. Tangannya menyentuh d**a pria itu, seolah memastikan tubuhnya benar-benar ada di depannya.
“Cimdy kira om kayak laki-laki murahan,” katanya lirih. “Ternyata lumayan jual mahal juga.”
Alex menangkap pergelangan tangannya sebelum Cindy kehilangan keseimbangan.
“Terus sekarang lo mau apa?”
Cindy mengangkat wajahnya, terlalu dekat.
“Sekarang…” ia tersenyum nakal. “Kita cobain itu aja, Om."
Sunyi jatuh di antara mereka. Pria itu memijit kecil pelipisnya sambil menatapnya beberapa detik, seperti memberi kesempatan pada Cindy untuk mundur.
Tapi Cindy tidak mundur.
Ia sudah mengklaim laki-laki di depannya ini sebagai targetnya.
Sebaliknya, Cindy malah menarik kerah kemeja pria sedikit, cukup untuk memperpendek jarak di antara mereka. “Aku nggak sabaran loh om,” bisiknya.
Alex menghela napas pelan, lalu tanpa banyak bicara, menarik Cindy lebih dekat.
Sebuah kecupan singkat menyentuh bibir wanita itu dengan lembut.
"Kata Madam, Om sering tidur bareng cewek. Kok malah kayak nggak jago gini sih?" ujar Cindy yang melantur.
"Lo ternyata masih cukup sadar yah?"
"Oh, Om lebih suka yang tipe alpha women gitu yah? jadi cewek yang di atas."
Sekali lagi, Pria itu kembali berdecak sebal karena omongan tidak masuk akal dari wanita itu.
Tapi karena egonya sedikit terluka sebagai laki-laki, dia lalu dengan cepat menyosor bibir wanita itu agar berhenti bicara.
Cindy merespons tanpa ragu, tangannya naik ke bahu laki-laki itu, mencengkeramnyasedikit. Nafasnya mulai tidak teratur, bukan hanya karena alkohol.
“lo yakin?” suara Alex rendah di sela jarak yang nyaris tidak ada.
Cindy yang sedikit berdecak tidak senang karena melihat laki-laki itu tidak aktif. Padahal kan dia juga pertama kali, dia pikir suaminya Yuna ini akan lebih jago.
"Atractive dikit dong jadi cowok, gue juga nggak tau caranya." ujar wanita itu.
Lalu pria di depannya memamerkan senyum sinis kemudian kembali menarik Cindy ke dalam pelukannya. menji lati bagian leher wanota itu dengan cepat.
Cindy beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan, tapi pria selalu menahannya, mengarahkan, memastikan ia tidak benar-benar jatuh.
Mereka bergerak menuju ranjang tanpa banyak bicara.
Lampu kamar masih menyala meski redup, tapi cukup untuk memperlihatkan bagaimana Cindy menatap pria itu setengah sadar.
“Pantes aja Yuna jatuh cinta sama Om." gumam Cindy pelan.
Alex yang sudah membuka bajunya itu berhenti sejenak, menatapnya dengan nafas memburu. "Gue bakal pastiin lo nggak bisa layanin cowok lain selain gue."
"Tenang aja Om, kata Madam, aku udah ke kontrak sama Om" Ujar Cindy dengan manis lalu mengalungkan tangannya ke leher pria itu. Dengan pelan menariknya ke atas tubuhnya yang sudah terbaring sempurna.
"Pelan-pelan yah Om, aku masih first time tau."
Pria itu seketika menahan tubuhnya agar tidak menindih Cindy sepenuhnya saat mendengar kata-kata itu keluar. "Lo serius belum pernah kayak gitu?" Ujarnya kaget.
"Kok shock banget Om? Justru bagus kan? Kata Madam, dia siap cariin Om-om lain yang lebih tajir cuman buat itu."
"Lo bener-bener di luar dugaan gue." Lalu pria itu kembali menciumi lehernya yang terbuka. Sesekali Cindy menggeliat geli yang malah makin membuat pria itu terangsang.
"Om... nggak pakai kon dom?" Ujar Cindy yang setengah sadar.
Pria itu menggelengkan kepalanya yang sudah basah karena keringat, " buat apa? kan gue bakal tanggung jawab."
" Lohh... Nanti kalau Cindy hamil gimana? Om bakal tinggalin Yuna?"
"Gue nggak pernah punya cewek lain."
Cindy terkekeh geli, "Nggak usah boong, aku tau kok. Tenang aja."
Pria itu kembali menggeleng, "ini juga first time aku."
"hmm? "
Belum sempat Cindy menerima jawaban lebih jauh, Pria itu sudah memasukkannya dengan kasar.
" Om... pelan-pelan ihh.."
Wanita itu langsung mencakar punggung laki-laki itu tanpa aba-aba. Memejamkan matanya yang setengah sadar.
"Ini belum masuk, bentar lagi."
" Ihh, ommm...."
Keduanya tenggelam dalam malam penuh rencana yang berantakan. Cindy yang merasa sudah memenangkan pertandingan antara dirinya dan sang musuh, sementara Pria itu yang juga berada dalam sebuah misi khusus.
"Saya mau kamu cari tau seseorang, akan saya krimi fotonya sebentar lagi." ujarnya dengan datar di telepon lalu memotret diam-diam wajah Cindy yang sedang tidur.
Pria itu lalu kembali menelfon. "Cari informasi tentang dia dan muci kari yang udah kasih dia kerjaan. Urus semuanya supaya jadi sugar baby saya."