Chapter 06: Thinking Further

1178 Words
Ellen langsung mencari kasur dan merebahkan dirinya dengan semena-mena di ranjang begitu sampai di Istana Spica. Lantas Ravi juga dengan teganya menarik perempuan itu agar tidak jadi jatuh ke tempat tidur. Keduanya mendengkus bersamaan, sang Pangeran berdecak heran sambil menatap tajam manik hazel yang tampak kesal. “Kau!” Ellen menghardik lebih dulu, batal menyentuh empuknya kasur membuatnya kesal. “Kau?” Ravi menarik napas, kemudian mengembusnya kasar. “Orang yang barusan kau hardik ini suamimu, Eleanor.” Lelaki itu melanjutkan, “Lagi pula, bagaimana bisa kau berpikir mau langsung tidur dengan tubuh kotor itu, hah?” “Tapi aku-” “Nyonya Margareth, Frita!” Ravi berteriak lantang. “Apa kalian di luar?” Dua orang wanita tergopoh-gopoh masuk, kemudian membungkuk sopan. “Hormat kami pada Putra dan Putri Mahkota. Apa ada yang bisa kami bantu, Pangeran?” Nyonya Margareth berbicara dengan tenang, sudah sangat terbiasa menghadapi sikap Putra Mahkota yang setiap hari selalu meledak-ledak. “Mandikan Putri Mahkota.” Titah sang Pangeran. “Aku akan menemui Ayahanda Raja sebentar, begitu pulang aku mau Eleanor sudah bersih.” Ravi menggeleng pelan, kemudian memicing pada Ellen sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Frita dan Margareth membungkuk hormat mengiringi kepergian Putra Mahkota, sementara sang Putri hampir saja melemparkan diri ke ranjang empuk kalau saja tangan Margareth tidak menahannya. “Astaga, kalian!” Ellen memutar bola matanya malas. “Kami harus memandikan Anda sekarang, Tuan Putri.” Margareth berucap tegas, tangannya menahan lengan atas Ellen sambil mengarahkan wanita itu ke kamar mandi. Dengan sisa tenaganya Ellen mengekor kepala pelayan Istana Spica itu masuk ke kamar mandi. Frita entah sejak kapan sudah berada disana, dengan cekatan ia menyiapkan air hangat serta menaburkan kelopak dan sari mawar ke dalam bathtub. Ellen memejamkan mata, menghirup wangi lembut yang menguar ke seluruh ruangan. Margareth kemudian menarik resleting gaunnya dan meloloskan pakaian itu dari tubuh sang Putri. Perlahan Ellen masuk ke dalam bathtub dan bersandar nyaman di sana. Air hangat bersuhu pas, wangi mawar yang menguar, serta dua orang dayang cekatan yang membantu menggosok tubuhnya … sepertinya ini tidak buruk juga, Ellen membatin. Kemudian menampilkan segaris senyum yang tertarik miring. “Apa Anda merasa kurang nyaman, Yang Mulia?” Suara Frita menyahut pelan dan takut-takut. Ellen menatap wajah lugu gadis itu, dengan surai panjang yang digelung rapi ke atas dan sorot mata hitam yang jernih. Ia benar-benar tidak terlalu paham pada strata kebangsawanan yang berlaku, akan tetapi di zaman eropa kuno para gadis bangsawan sangat suka memamerkan kecantikan, juga mengagungkan posisi mereka. Wajah gadis pelayan ini lumayan cantik, dengan hidung mungil, mata sayu, dan kulit tan menggoda. Frita menunduk dalam saat menyadari tatapan Putri Mahkota yang mengarah padanya “A-ada apa, Tuan Putri?” Frita mencicit pelan. Ellen menggeleng pelan, “Dengan wajahmu itu kau bisa mendapatkan seorang suami kaya berpangkat tinggi.” Senyum sang Putri terpatri tipis, atensinya kemudian teralih pada langit-langit. “Kenapa kau datang ke Istana dan repot-repot mengabdi pada keluarga kerajaan?” Giliran Frita yang tersenyum tipis, “Tidak ada jaminan bahwa kami akan dicintai seumur hidup oleh lelaki bergelar tinggi itu, Tuan Putri, kalau di Istana kami tidak perlu takut pada hal seperti itu.” “Apa Anda sedang menyesali pernikahan ini, Putri Eleanor?” Margareth menyisir surai karamel kecoklatan Ellen yang basah.  Bukan hanya pernikahan sialan ini, tapi keberadaanku di sini juga. “Saya paham, pasti Tuan Putri sedang bimbang dengan keadaan sekarang, dan tidak tahu harus melakukan apa. Saya pernah merasakannya saat seusia Anda, Yang Mulia.” Margaret kini mengusap lembut puncak kepala Ellen. “Perjodohan memang selalu seperti ini, dan laki-laki akan selalu menemukan wanita baru. Itu sebabnya mengapa kami berakhir di sini.” “Aku bimbang, tapi percuma.” Ellen tertawa hambar. “Aku bahkan tidak tahu apa yang kulakukan di sini. Rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.” Margareth tidak menjawab kalimat terakhir Ellen, wanita itu langsung mengambilkan handuk dan membawa sang Putri keluar dari kamar mandi. Frita mengeringkan tubuhnya cekatan, kemudian mengeringkan rambut sang Putri dengan lembut. Seumur hidupnya Ellen belum pernah diperlakukan sespesial ini, bahkan saat menjadi aktris terbaik. Ditatap penuh rasa hormat juga kali pertama bagi perempuan itu. Kehidupannya di New York sungguh tidak segemerlap yang terlihat. Para dayang itu memakaikan gaun tidur putih berbahan katun yang memiliki tekstur tipis dan ringan pada Ellen. Lantas sang Putri tanpa basa-basi langsung membanting tubuhnya ke ranjang dan terlelap, saking lelahnya. Ravi masuk tepat saat Frita dan Margareth keluar dari kamar utama Istana Spica. Mereka membungkuk hormat pada sang Pangeran sebelum kembali ke asrama para dayang. “Ck, sudah tidur rupanya.” Ravi menggeleng pelan, kemudian melepas dua kancing teratas kemejanya.  Lelaki itu tersenyum beberapa detik berikutnya, tepat saat menangkap wajah lelap Ellen dengan mulut sedikit terbuka. “Selamat tidur, Tuan Putri, semoga mimpi indah.” ◇•◇•◇   Istana Spica, tulisan ke 1582. Sudah dua minggu aku mencoba beradaptasi dengan dunia yang baru ini. Sebagai pendamping Putra Mahkota, aku diwajibkan untuk tinggal di Istana Spica. Oh, jangan lupakan Ny. Margareth dan Frita yang sekarang menjadi dayang pribadiku. Sejauh ini semuanya masih baik-baik saja. Aku cukup menikmati peranku sebagai seorang putri gadungan. Mungkin alurnya masih di awal cerita, sehingga belum ada tanda-tanda kemunculan Isabella sama sekali. Ravi juga tidak semenyeramkan kelihatannya. Dia adalah tipe lelaki yang perhatian walau terkadang sikapnya kelewat dingin. Satu hal yang pasti adalah … dia juga tidak terlalu menginginkan pernikahan ini. Namun, Ravi sepertinya sangat memahami bahwa hidup sebagai Putra Mahkota sama sekali tidak bebas. Hal yang terlalu gila bagiku, menjadi sesuatu yang lumrah di dunia antah berantah ini.  Raja dan Ratu ternyata sangat baik. Aku masih belum tahu bagaimana percisnya  kondisi dan keadaanku di Kerajaan ini sebelum memasuki istana. Tapi satu hal yang pasti, sepertinya ada sesuatu yang salah pada silsilah keluargaku. Pasalnya sampai detik ini aku belum melihat wali atau orang tua yang bertanggung jawab atas diriku sejak pingsan kemarin. Apakah di sini aku juga sebatang kara? Kalau iya, mungkin sejak awal aku memang selalu sendirian.  Aku tahu bahwa semuanya masih berjalan mulus, belum ada hal yang mengkhawatirkan. Memang sih, meskipun begitu, tidak ada salahnya ‘kan merencanakan sesuatu? Minimal supaya aku bisa selamat dari hukuman mati Ravi. Padahal aku cuma berharap bisa hidup tenang di sini. Toh, tidak ada yang akan berani memperlakukanku dengan buruk. Kecuali ketika Isabella datang, tentunya. Hampir seluruh benda di istana ini terlihat berkilauan. Aku sangat yakin bahwa tidak sedikit yang mengandung lapisan atau unsur emas atau perak murni, belum algi perhiasan-perhiasan yang aku terima. Mungkin rencanaku cuma mengumpulkan banyak harta lalu melarikan diri saat Isabella datang. Sesederhana itu. Tapi … aku masih berharap kalau Isabella tidak akan muncul. Eleanor Thyra, sebelum tidur. ◇•◇•◇   Halo, jumpa lagi dengan aku disini, hihi. Jadi sampai sejauh ini Ellen sudah menyiapkan rencana untuk menghadapi Isabella kalau nanti dia datang. Dan kelihatannya Ravi itu tsundere, ya? Wkwkwk. Apa ada yang penasaran sama putra mahkota kerajaan orient yang satu ini? Atau rasa penasaran kalian masih di simpan dalam-dalam buat kemuncula Yonathan? Hmm, pokoknya apapun itu jangan lupa tekan LOVE dan pantau terus update-an FAKE LOVE PRINCESS supaya kalian makin tahu keseruan kisah Ellen berkelit dari hukuman mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD