Ajeng mengaduk teh di depan matanya dengan rasa sedikit malas. Setiap sebentar ia melirik ke kamar di mana Dahlia tidur. Ia takut jika hantu pemberian Nyai Melati tersebut tiba-tiba saja terbang ke luar dan mengejutkan semua orang. Wanita itu menarik napas panjang, sungguh drama kehidupan yang ia jalankan teramat sangat pelik. Mata wanita itu tertuju pada bibi pelayan rumah yang entah mengapa keluar kamar menggunakan mukena. Benda yang jarang-jarang memang dipakai Ajeng, setahun dua kali cukup baginya. Pada saat hari raya besar keagamaan. Selebihnya? Jangan tanya lagi. Tak pernah, ayahnya termasuk lelaki awam dan tak mau pula belajar serta tidak memiliki inisiatif untuk mencarikan guru untuk putrinya. Suaminya? Lebih parah lagi, tak peduli sama sekali. Selagi uang lancar maka urusan agam

