Dahlia berdiri mematung di depan Ajeng. Wanita itu paham apa yang harus ia lakukan sekarang. “Kamu udah siap, kan?” Ajeng memegang bahu Dahlia. Hantu pemberian Nyai Melati akan ia bawa masuk ke dalam kamar. Dahlia hanya mengangguk saja. “Oke, kita ke kamar sekarang. Selanjutnya kamu layani suami aku dengan baik. Buat dia puas dan ya gitulah, kayaknya kamu udah paham.” Ajeng menarik tangan Dahlia. Ia sedikit mengintip ke lantai bawah. Takut ada yang memergoki jika ia kini memiliki kembaran. Nihil, rumah besar itu memang teramat sepi dari dulu. Tak banyak orang yang tinggal di sana. Cepat saja sekutu Pangeran Satria tersebut berjalan sampai memasuki kamarnya. Candra masih terlelap. Ajeng dudukkan Dahlia di sebelah suaminya. “Aku tinggal, ya. Makasih kamu sudah mau nolongin aku.” Ajeng

