Nasihat Sahabat

1801 Words
"Kamu baru di sini, Lis. Bukan aku enggak boleh kamu mempertahankan suaramu, tapi di lingkungan kerja kayak kita ini sudah biasa. Ada yang menjilat, ada yang muka seribu, ada yang merasa paling benar, paling pintar. Tinggal kitanya mau ikut gaya mereka atau mau jadi diri sendiri. Aku senang, selama ini kamu jadi diri apa adanya. Kamu enggak peduli saat yang lain menertawakan kamu hanya karena hal sepele. Kamu enggak tahukan Sulis, penampilan kamu yang asal-asalan saja jadi omongan mereka." Aku terdiam mendengar ucapan Agus, layaknya anak kecil yang dinasihati orang tua sepatah kata pun aku tak berani membantahnya. Agus benar, harusnya aku bisa menahan emosi atau mengabaikan kata-kata mereka. "A-aku emosi saat Kak Helen bilang, Kak Tari itu tidak 'memandang bulu'. Maksudnya apa? Apa selama ini kerjaku asal-asalan ya? Tapi, kalian tak berani menegur karena aku keponakan Om Dani, gitu?" "Kamu salah paham, Lis." "Salah paham gimana?" "Maksud aku gini, Lis. Kamu jangan mudah terpancing emosi. Aku bukan mau bela siapa-siapa di sini. Kak Tari atau yang lainnya sebal sama kamu tanpa alasan jelas ya, biarin aja. Nanti mereka capek diam sendiri. Tetapi kalau kamu balas sibuk menjelaskan ini itu malah tidak pengaruh apa-apa. Yang ada, kamu semakin dijauhin. Jadi diamin aja, jangan dikit-dikit dimasukin hati. Mereka segan atau enggak suka sama kamu karena keponakan Kak Dani ya, biarin aja. Yang terpenting, kamu lakukan yang terbaik apa yang menjadi perkerjaanmu. Kamu fokus belajar lebih baik biar suatu saat nanti, mereka melek dan sadar kalau kamu itu benar-benar bekerja bukan main di sini." Kulihat Agus menghela napasnya mungkin capek karena bicara terlalu panjang. Aku masih diam tak berani menjawab. Saat ini aku tak bisa berpikir jernih kepalaku masih terasa panas dengan ulah Kak Tari yang tak menghargaiku dan Kak Helen yang sependapat dengannya. Andai Agus tahu apa yang terjadi di ruangan Kak Tari tadi, mungkin dia tak akan diam membiarkan aku kebingungan. Bayangan saat aku memberikan laporan ke Kak Tari, dia tak melihat seluruh isinya. Akan tetapi, bagaimana dia bisa tahu kesalahannya padahal hanya melirik sedikit. Saat aku tanya salahnya di mana? Aku malah disuruh mencari sendiri. Terang saja aku kebingungan. Apa dia lupa kalau aku di sini baru hitungan bulan. Dia sadar tidak yang dia lakukan itu namanya tidak adil! Kalau memang merasa senior hebat harusnya bisa membimbing dan mudah memberikan bantuan. Bukan seperti ini! Tidak mungkin kan aku bertanya pada Om Dani, yang ada aku disemprot dibilang harus belajar bersosilisasi juga. Ya Tuhan aku merasa seperti anak kecil yang tak mengerti apa-apa. Kuhela napas meraup oksigen sebanyak mungkin, sesak di dadaku tiba-tiba menguap begitu saja. Aku benar-benar larut dengan nasihat Agus hingga tanpa sadar air mataku mengalir pelan. Kuraih botol minum yang tinggal separuh lalu meneggaknya sampai tandas. Tidak ada yang bisa kuucapkan kepada Agus, selain terima kasih karena hanya dialah yang mau berteman dengan tulus dan mampu memahamiku. Sedikit pun aku tidak marah ketika dinasihati Agus, atau pun tersinggung dengan candaannya. Entahlah, tiba-tiba aku merasa Agus bukan hanya sekadar teman atau fatner yang baik di tempat kerja tetapi lebih dari itu semua. Aku meletakkan botol itu di bangku di samping tempat dudukku. Kulirik jam di pergelangan tangan melihat jarumnya yang menunjuk angka lima. Awan yang berarak terlihat tak semeriah ketika aku tiba, kini diganti dengan matahari senja yang mulai menguning di ufuk barat. "Pulang yuk," ajakku. "Tunggu dulu. Sulis, kamu jadian ya, sama Abi?" "Aku sama Abi kayak langit sama bumi, Gus. Aku udah kayak pungguk merindukan bulan," ujarku dengan mimik yang memelas. "Bisa enggak kali ini, kamu serius." Agus menatapku tajam. Beberapa detik berlalu aku terdiam melihat Agus yang seperti tidak main-main dengan permintaannya. "Enggak, Gus. Enggak ada apa-apa, kok," elakku. "Kita pulang, yuk," ajakku lagi, sementara Agus diam mematung, tatapannya masih sama seperti menyelidiki sesuatu dariku. "Kita enggak akan pulang sebelum kamu cerita." "Gus," panggilku pelan. Matahari kian condong ke sisi barat, angin yang bertiup terasa dingin, kicauan burung-burung hampir tak terdengar lagi, diganti ceramah dari speaker masjid yang tak jauh dari taman ini. Suasana Magrib sudah di ambang. Orang-orang sudah pada pulang atau pun entah ke mana, tanpa aku sadar yang tersisa hanya aku dan Agus di taman ini. "Ayo pulang nanti kita ditangkap salpol PP," ajakku diiringi tawa ringan yang sedikit dipaksa. Agus bergeming. "Hei, ayo." Aku berdiri meraih tas namun Agus lebih sigap meraihnya. "Kita salat, abis itu kita cari makan. Aku enggak akan antarin kamu pulang sebelum cerita." Untuk kesekian kalinya, aku seperti anak kecil yang patuh pada perintah orang tuanya. Aku tak membantah sedikit pun kata-kata Agus, atau pun terasa berat dengan kelakuannya yang memaksa masuk ke wilayah privasi aku. Kuhela napas berat, agaknya Agus memang tak menyukai bila aku bersedih. *** "Memangnya aku jelek banget, ya?" Pertanyaan ini sudah kali ke dua kuajukan pada Agus selama perbincangan kami malam ini. "Terus?" Agus ini kenapa sih, dari tadi cuma terus terus terus saja. Aku mau cerita apa lagi? Masa aku harus cerita tentang perjodohan Mama dan dilemanya perasaan aku sama Abi. Itu kan rahasia! "Terus terus terus, yang ada nabrak tahu! Udah ah, pulang!" "Enggak, aku yakin masih ada yang lain," ucap Agus tanpa menatapku. "Itu kan rahasia, Gus." "Kita ini manusia biasa, terlalu kecil tapi sombongnya bukan main. Merasa bisa menyimpan rahasia sendiri tapi tetap aja tampak dan masih bersunggut-sunggut karena enggak kuat menyimpannya sendirian. Iya kan?" "Kamu ngomong apa, sih, Gus? Aku enggak ngerti." Aku menatap Agus lekat. "Aku enggak bisa lihat kamu sedih, Lis." Ucapan Agus membuat jantungku serasa ingin lepas. Apa maksud dari ucapannya itu? Aku bergeming. Mungkin saat ini diam adalah pilihan yang terbaik. "Mama kamu, udah nitipin kamu ke aku, Lis. Aku cuma ingin jagain kamu, kok. Enggak ada maksud lain. Lagi pula siapa temanmu di sini yang bisa di ajak curhat selain aku? Iya kan?" Lagi-lagi pernyataan Agus menohokku. Kuakui sahabat yang benar-banar dekat dan biasa mendengarkan curhatku hanya dia. Meskipun aku memiliki banyak teman tetapi semua hanya sekadar teman saja, tak pernah aku berbagi kesedihanku pada mereka. Akan tetapi entah kenapa dengan Agus berbeda, sejak awal aku seperti terhipnotis keyakinan bahwa dia bukanlah teman biasa. "Lis, aku nganggap kamu udah kayak adekku sendiri. Percaya sama aku, kalau kamu cerita aku pasti bantuin," ujar Agus meyakinkanku. "Aku bingung, Gus. Mama mau ngenalin aku ke anak temannya karena apa?" Aku tak sanggup menyelesaikan kata-kataku. "Karena?" tanya Agus pelan. "Umurku udah mau dua puluh lima, tapi aku masih sendiri aja. Jangankan nikah pacar aja aku enggak punya, Gus. Mama pengennya aku tuh, segera nikah. Sementara aku enggak kenal dengan laki-laki yang dijodohkan Mama. Lagi pula, kamu tahukan aku ini ya, begini. Enggak cantik aku sadar diri, kok." "Umur dua puluh lima itu kan, belum terlalu tua lah, Lis." "Iya kalau kata kita! Kata Mama aku sama mulut tetangga rumah itu udah mau diberikan label perawan tua," ucapku sewot. Kulihat Agus diam, keningnya nampak berkerut mungkin sedang berpikir. "Kamu kan belum kenalan sama calon Mamamu. Ya, dicoba dulu." "Aku enggak mau ngecewain Mama. Aku sih, bisa aja memaksakan perasaanku untuk menerimanya, laki-laki itu sendiri gimana? Kalau dia yang enggak mau gimana? Yang aku enggak mau tuh bikin Mama sedih. Kamu lihat sendiri kan penampilan aku ini gimana?" jelasku. "Kalau enggak gini aja, kita cari tahu sendiri calonmu itu sebelum kalian berkenalan. Jadi kita sudah tahu kriterianya seperti." "Gus, kata Mama. Anaknya itu nurut kata ibunya. Jadi sekarang keputusan di tangan orang tua kami. Aduh, aku jadi terbayang cerita-cerita di TV hidup berumah tangga kelihatan adem harmonis di depan orang tua kita aja, di belakang diam-diaman. Pokoknya aku enggak mau dijodohin." "Ya, udah kalau gitu, berarti kamu harus cari pacar, siapa yang kamu taksir biar aku bantuin haha." Agus terkekeh. Sungguh menyebalkan si Agus, bisa-bisanya dia tertawa tanpa beban begitu. "Enggak ada!" "Masa enggak ada, Lis? Jangan-jangan kamu naksir Kak Helen, ya?" "Iya, kenapa kamu cemburu, ya?" "Idih, Abi gimana?" Aku hampir saja menyemburkan es jeruk ke wajah Agus ketika mendengar nama Abi. "Kamu pikir masalah jodoh itu kayak pilih jajanan di pinggir jalan, gitu?" Aku berusaha santai menanggapi Agus, meski dalam hatiku mulai terasa sesuatu yang merayap pelan. Ada bahagia yang menyelinap diam-diam namun juga ada kekecewaan yang harus kutelan. Abi tak mungkin menyukaiku! "Masalahnya ada di aku, Gus. Selain fisikku yang begini aku juga orangnya susah jatuh cinta. Eh, sekali jatuh cinta bisa gila hahaha." Lagi-lagi aku menertawakan diriku sendiri. "Bisa enggak sih, Lis. Kamu enggak usah bawa-bawa fisik lagi. Enggak baik juga buat mental kamu. Besok lusa ada jadwal posyandu, ikut ya?" "Heem." *** Beberapa kali aku terpesona dengan pujian orang-orang atas perubahan pada penampilanku. Mereka bilang wajahku lebih cerah, kelihatan lebih segar dan sedikit lebih langsing. Ah, rasanya senang sekali setiap mendengar sanjungan itu. Padahal ini baru minggu ke empat aku melakukan perawatan dan diet mati-matian. Aku masih mengingat dengan baik setiap butiran keringat yang mengucur deras dari balik kausku ketika selesai aerobic. Setelah keletihan senam aku hanya boleh mengasup dua buah pisang, satu butir telur rebus dan segelas s**u hangat. Aku juga menjaga ketat makananku. Meski awalnya, aku merasa begitu sulit melewati hari. Bagaimana, tidak? Dari mulai makananku yang tak seperti biasanya, olahraga rutin hingga ketelatenanku mengoleskan bubuk-bubuk wangi itu ke kulit. Ah, benarlah kata mereka! cantik itu butuh pengorbanan. Saat ini aku sudah mampu menurunkan tiga kilogram, yang sebenarnya masih banyak jumlah angka yang harus kupangkas. Namun, dengan perubahan yang secuil ini saja sudah membuatku makin percaya diri, kurasakan mood dan kesehatanku juga jauh lebih membaik. Desiran angin malam membuat lamunanku tersadar, ada rasa tak nyaman tiba-tiba menyeruak. Aku menghentikan alunan musik yang kuputar dari laptop. Sepertinya hujan akan turun. Hatiku mendadak gelisah bukan karena takut listriknya padam tetapi khuwatir bila angin kencang merobohkan tenda dan susunan kursi plastik yang sudah kami siapkan untuk acara besok. Peringatan Hari Kesehatan Nasional yang ke 48 tahun 2012, yang jauh-jauh hari sudah kami siapkan lebih meriah dari tahun sebelumnya. Aku berharap acara yang sudah diprediksi pasti ramai itu tak ada halangan dan gangguan. Ah, aku jadi mengingat kembali bagaimana manisnya aku dan Abi bekerja sama memasang poster-poster di sepanjang jalan lapangan. "Eh, tahun ini temanya bagus, ya? "Indonesia Cinta Sehat," pancingku pada Abi yang sedari tadi hanya diam. Abi lagi sakit gigi atau lagi PMS? Kok, hari ini tumben benar pelit kata, padahal kan aku pengen dengar suara berat milik Abi. "Ini foto Bu Nafsiah Mboi juga cantik, ya?" Direspons Abi hanya dengan anggukan. Oke, aku cari tema lain. "Besok, kamu ikutan donor darah ya, Bi?" tanyaku hati-hati. "Maunya iya, tapi lihat nanti soalnya aku mau buru-buru pulang ke rumah," balas Abi. "Lho, ada apa? Ibu sehat?" "Sehat, ada temannya Ibu mau main ke rumah. Besok yang donor pasti rame dan bakalan ngantri lama." "Iya sih, ada acara keluarga?" "Enggak cuma arisan Ibu sama teman-temanya aja." Aku kehilangan kata-kata mendengar ucapan Abi, bagaimana bisa anak laki-laki yang masih muda, single dan sibuk dengan kerjaan masih sempat menghadiri arisan ibunya. Jangan-jangan Abi punya kelainan yang suka dengan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD