Percaya

2007 Words
Ya Ampun Mama, ingat saja dengan ceritaku tadi siang, bahwa aku sudah membeli perlengkapan dan perawatan kecantikan tetapi masih aku simpan di jok motor karena malu bila dilihat Mama. Aku membantalkan niat mandi sore secepat ini dan beralih ke ruangan tamu, di mana motorku terparkir di sana. Kuambil barang-barang yang harusnya aku keluarkan setelah Mama dan Papa pulang. Aku menjinjing plastiknya dan memberikannya pada Mama. Seketika mata Mama membulat sempurna, senyumnya mengembang, tangannya seakan tidak sabar untuk membuka isi plastik. "Semuanya?" tanya Mama seakan tidak percaya dengan apa yang kubawa. Aku mengangguk tersipu malu. "Mama jadi curiga nih, jangan-jangan ada yang ditaksir, ya?" "Hah? Apa sih, Ma?" "Heem, ini apa?" Mama memegang vitamin untuk kulit, matanya berbinar melihat barang yang kubeli. "Wah, zaman Mama gadis dulu mana ada yang model beginian." Lanjut Mama lagi seraya membaca satu-satu keterangan yang tertera di produk. "Sulis, kamu sudah bisa pake ini?" Mama memegang eye shadow, "Terus ini mau di pake kondangan apa buat kerja?" Aku terdiam mendengar pertanyaan Mama, sebenarnya waktu beli aku juga bingung kapan aku harus memakainya? "Itu warnanya natural semua dipake buat kerja juga bisa." Aku menunjuk eye shadow. "Iya, tapi bisa ndak kamu memakainya? dan yang terpenting itu percaya diri." Melihat Mama yang antusias, aku mendadak salah tingkah. Segitu banyak yang kubeli dan harusnya memberikan hasil yang sesuai harapkan. Aduh, jangan sampai ada yang tidak cocok dengan kulitku, bisa-bisa Mama lebih heboh lagi. "Kata Mama kan kita wajib usaha?" "Pa!" panggil Mama. Mama memanggil Papa? Pasti Mama mau pamer yang aku beli. "Mama." "Endak apa-apa biar Papa nambahin uang jajan kamu." "Mama, Sulis malu." "Heem, kamu ini apa-apa malu, dikit-dikit malu. Ya sudah ndak jadi, Pa." "Mamamu kenapa, Lis?" tanya Papa dari ruang tamu. "Enggak apa-apa, Pa," jawabku cepat. "Aduh Mama ndak sabar mau lihat perubahan kamu, Lis." Aku tersenyum canggung, dalam hatiku selalu berdoa semoga saja sesuai harapanku. "Ini yang mana duluan?" Mama memegang krim malam dan juga serum wajah. Kulihat Mama masih bersemangat dengan barang belanjaanku. Sementara aku sendiri masih berusaha meyakinkan diri agar mampu mengikuti serangkain skincare setiap malamnya. Pasti merepotkan. "Ma, kalau misalnya sebulan ke depan ternyata tak banyak perubahan gimana, Ma?" "Hush, kamu ini kok ngomongnya begitu? Harus optimis. Percaya diri kalau kamu pasti bisa. lagi pula apa susahnya sih, Lis tinggal colek terus diusap. Masa gitu saja kamu malas?" "Ya, enggak tahulah." Bukannya menjawab Mama malah terbahak mendengar ucapanku, "Ini nih, kalau sudah terbiasa manja. Masa cuma urusan pake lipstik aja minta diingatin terus? Malu dong, Sayang. Udah gede juga." Mama membelai rambutku. "Sulis senang, Ma. Makasi ya, Ma." "Heem benar ini! Seperti aroma orang yang lagi jatuh cinta," ujar Mama. *** "Selamat datang!" Seorang anak gadis yang kukisar masih duduk di bangku sekolah itu, menyambut kedatangan kami di pintu gerbang tenda, dia juga memberikan kami sebutir telur dan souvenir tasbih. Acara inti sudah selesai tadi pagi, tamu yang datang kesorean seperti kami hanya tinggal hitungan jari. Waktu menunjukan pukul setengah lima sore, sebagian orang ada yang sudah membereskan kursi tamu. "Udah selesai, jangan-jangan enggak kebagian daging kita," ucap Abi setengah berbisik, aku menahan tawa mendengar ucapannya. Ternyata Abi juga bisa bercanda, Ya Tuhan jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang melihat Abi yang ikutan menahan tawa. "Mbak, masuk aja ke rumah." Anak perempuan yang menyambut kedatangan kami tadi berdiri di samping. "Kata Mbak Maya, makannya di dalam saja," sambungnya lagi. "Oh, terima kasih." Aku berdiri disusul Abi lalu masuk ke rumah. "Janjian nie," canda Kak Maya, yang kini duduk di hadapan kami. Aku sudah biasa digoda atau diledeki ketika bersama Agus, tetapi semuanya terasa biasa saja. Namun, berbeda ketika Kak Maya menggodaku bersama Abi, ada rasa malu bercampur bahagia entah apa namanya. Aku dan Abi hanya saling melemparkan senyuman. "Kuliah dulu tadi, Kak," terang Abi memberikan alasan atas keterlambatan kami. "Eem, alasan bilang aja mau berduaan sama Sulis." "Apa sih, Kak." Aku menyahut ucapan Kak Maya. "Tadi orang puskesmas rombongan cuma Sulis yang enggak ada. Eh, enggak tahunya Sulis setia menunggu yayangnya." Melihat Kak Maya yang terbahak, aku pun ikut tertawa mendengarnya. Sebenarnya ucapan Kak Maya biasa saja tetapi ketika dia menyebutkan kata 'Yayangnya' yang sengaja dibuat-buat itu menjadi lucu. Kulihat Abi ikut tertawa ringan dan asyik mengunyah cemilan, tampaknya dia tidak canggung lagi dengan Kak Maya. Dia juga tidak keberatan diledeki Kak Maya. Mungkin karena mereka sudah akrab sebelumnya, sedangkan aku masih sedikit terasa sungkan. "Anaknya mana, Kak?" tanyaku sambil menyomot cemilan di toples. "Tidur, tadi nangis lumayan lama. Mungkin kecapean, ya." "Mungkin, Kak. Apa lagi kalau anak udah biasa tidur siang," kataku yang mendadak sok tahu. "Hooh benar. Eh, Makan yok," ajak Kak Maya. Dia berdiri mengajak kami ke tempat hidangan yang sudah disajikan. Aku dan Abi membututinya, mengambil sesendok nasi dan sedikit lauk. Sebenarnya aku tidak ingin makan karena menurut jadwal dietku jam empat sore aku sudah tutup mulut makanan besar kecuali air putih, sedikit buah dan sepiring sayuran mentah. Tetapi karena menghormati tuan rumah aku ikut makan walaupun dengan porsi yang sangat sedikit. "Abis ini kalian mau ke mana?" tanya Kak Maya yang ikut menemani kami makan. "Terserah penumpangnya aja, Kak," kata Abi. "Enak ya, jadi Sulis, Abang ojeknya ganteng ya, Lis." Kak Maya menjawab ucapan Abi, lalu dia berdiri dan menyampaikan permintaan maaf karena menyambut tamu yang baru datang. Aku melirik Abi sekilas dan tersenyum lalu berujar dengan suara kecil, "Abang ojek datangnya lama jadi enggak kebagian kari kambing kan?" Abi tertawa kecil dan kemudian dia meraih air minum sedangkan aku sudah selesai makan duluan. Asyik juga ya, dekat Abi. Orangnya cool tetapi masih suka bercanda. "Emangnya mau ke mana lagi?" tanya Abi ketika selesai minum. "Ya pulang kan udah sore." "Iya sih, maaf ya tadi lama nunggunya," ucap Abi dengan gelagat merasa bersalah. "Enggak apa-apa biasa aja, cuma enggak kebagian kari aja." Lagi-lagi candaan kami membahas lauk, yang sebenarnya tak terlalu berharap juga. Diam-diam aku memperhatikan Abi yang sedang tertawa. Laki-laki bermata cokelat dengan tatapan yang meneduhkan itu kenapa terlihat sempurna. Setiap kali melihatnya jantungku berdetak seirama dengan pendar matanya. Oh Tuhan, debar di dadaku seakan tak mau kalah terasa semakin mengencang setiap kali melihat senyumnya. Bolehkah aku mengakuinya bahwa aku benar-benar telah jatuh cinta padanya, dengan sedalam-dalamnya perasaanku. "Pulang yok," ajak Abi yang membuyarkan lamunanku tentangnya, kemudian tanganya sibuk membuka tas mencari sesuatu. "Ayok." Kami berdiri mendekati Kak Maya yang sedang sibuk mengbrol dengan tamu yang lain, setelah bersalaman dengan tamu yang lain juga kami meninggalkan kediaman Kak Maya. Di perjalanan, Abi mengajakku mampir di warung pinggir jalan yang menjual aneka pempek. Abi membeli lima bungkus, untuk ibunya, neneknya, dan juga aku. Padahal aku sudah menolaknya karena lagi diet tetapi Abi memaksa dan mengatakan kalau tidak diterima besok dia tak mau lagi mengajakku. Kontan saja ancaman itu sangat mujarab, aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain menerimanya. Masa cuma masalah pempek, Abi tidak mau lagi mengajakku jalan? Kan lucu sekali cara Abi mengacamku, kenapa tidak sekalian memaksaku menerima cincinnya? "Kamu lagi diet?" tanya Abi yang duduk di sampingku, kami sedang menunggu si penjual menyiapkan pesanan. "Kata siapa?" elakku. "Tadi makannya dikit sekali, dikasih jajanan juga enggak mau." "Malu." "Malu? Sama aku?" tanya Abi yang kemudian menyunggingkan senyumnya seperti mendengar sesuatu yang lucu. "Jadi apa adanya kamu aja, jangan malu-malu kalau sama aku yang penting enggak malu-maluin." "Enggak lah, Bi. Bercanda, aku merasa udah enggak nyaman mungkin karena berat badan sama tinggiku itu enggak seimbang. Bahasa kerennya enggak ideal, gitu. So, aku cuma pengen memberikan yang terbaik untuk tubuhku. Itu aja. Kalau penampilanku seperti ini ya, beginilah adanya." Aku tertawa skeptis. Kadang aku harus belajar menertawakan diri sendiri, belajar menerima kekurangan diri dan belajar bahwa aku sendiri pun kadang tak yakin dengan diri sendiri. "Heem. Benar sih, yang penting kitanya nyaman. Kalau aku pribadi kurang suka melihat orang dari penampilan fisiknya. menurutku sempit sekali pemikiran yang seperti itu. Toh, di dunia ini siapa sih yang enggak mau ganteng, Body ideal sempurna, kaya raya dan apa lagi ya, Lis?" "Hah? Kok, nanya aku?" "Ya, kali aja, kamu tahu apa lagi." Abi tertawa lagi. "Tapi kan, Bi kebanyakan cowok itu memang suka liat cewek yang cantik." Aku menuntaskan kata-kata itu dengan susah payah agar tak terkesan jelek di mata Abi. "Kalau itu sih menurutku naluri semua orang, cewek juga gitu kan suka lihat yang ganteng?" Abi malah balik bertanya dan aku hanya mampu menjawab dalam hati 'Benar juga kata Abi' Kadang aku sering menghayal cinta dan anganku itu, dapat berjalan seirama. Cintaku pada Abi baru saja bersemi dan anganku cinta ini berbalas sempurna, tetapi setiap melihat f*******: Abi dengan foto-fotonya aku menjadi pesimis. Belum lagi aku dengannya tak sembanding. "Yang bikin hubungan langgeng itu bukan fisik pasangan tapi kenyamanan yang saling diberikan pasangan," imbuh Abi lagi. Aku terdiam mendengar ucapan Abi, yang terakhir sebelum si ibu penjual memanggilnya untuk melakukan pembayaran pasanannya. "Kamu masih ada yang dicari enggak?" tanya Abi, ketika kami sudah sampai di samping Ninja hitam-nya. "Enggak, langsung pulang aja, ya?" pintaku seraya memakai helm. "Oke, lima ribu ya, Mbak," ledek Abi yang diiringi tawanya. "Lanjut, Bang." Aku tak mau kalah membalas ledekan Abi. *** Usai salat aku menyandarkan punggung di dinding kamar, memejamkan mata dengan kedua tangan saling berpaut di depan dagu. Mencoba mengingat dan meresapi kembali setiap kalimat Abi sebelum pulang ke kontrakan sambil membayangkan wajahnya yang tertawa kecil. Benar juga katanya, bukan fisik tetapi kenyamanan yang saling diberikan ke pada pasangan Ya Tuhan, perasaanku tiba-tiba tak karuan. Antara senang karena semakin dekat dengan Abi tetapi terselip juga rasa takut dikecewakan. Belum apa-apa aku sudah merasa patah hati, aku akui belum punya nyali untuk mendekatinya lagi, apalagi berharap perasaanku berbalas. Rasanya, entahlah susah untuk mengungkapkannya. Benar ya kata orang bahwa jatuh cinta itu berjuta rasanya. Kadang terlihat seperti tidak waras, senyum-senyum sendiri tanpa sebab yang jelas. Itu lah yang aku rasakan setiap ingat senyuman Abi. Sejak pertemuan pertama bayangannya selalu menghantui pikiranku. Senyumnya, tawanya, hingga suaranya beratnya Abi, membuatku mabuk kepayang. Setiap kali mendengar atau ada yang menyebut namanya dadaku tak berhenti bergetar. Hingga bibir ini dengan sendirinya mengulum senyum. Ah, benar aku jatuh cinta dengan Abi. Aku berdiri mendekati laptopku yang terbuka sedari tadi. Entah berapa kali lagu yang dinyanyikan Afgan bejudul Terima Kasih Cinta kuputar berulang-ulang. Aku benar-benar terbawa suasana setiap kali mengingat Abi. Dering ponsel memutuskan lamunanku, kubuka satu pesan dari Abi. [Istirahat gih] aku lekas membalasnya. [Iya, Makasi] Dalam hatiku bertanya-tanya, apa maksud Abi mengirim pesan mengingatkanku untuk istirahat. Apa hanya membuatku Ge Er? *** Satu jam berkutat sendiri di ruangan tunggu pasien akhirnya satu persatu pegawai yang lain datang. Suasana Puskesmas tidak lagi sepi, aku menutup laptop dan mempersiapkan segala macam tugasku sebagai pemanggil karcis. Jam besar di dinding menunjukan pukul delapan pagi. Aku berdiri mengecek segala macam atribut tugasku dan memastikan apakah di ruang dokter umum dan penyakit dalam sudah siap? "Cie, tumben pagi?" tanya Agus yang baru saja tiba. laki-laki itu menampakan senyum yang sengaja di buat-buat untuk menggodaku. "Ya, lah, aku kan pegawai tauladan," balasku sambil mengangkat sedikit daguku. "Oh, gitu. Jadi enggak yang kemarin?" "Hah? Yang mana?" Tanyaku, seraya mengingat-ingat janji dengan laki-laki yang suka makan mi instans itu. "Payah kalau orang lagi jatuh cinta, suka lupa." "Eh, siapa yang lagi jatuh cinta?" "Uuuh mau ngeles," ejek Agus lagi. Kemudian laki-laki itu berjalan memasuki ruangannya, aku kembali menyiapkan perkerjaanku. Dengan bulpoin di tangan aku mulai memanggil nomor antrian. "Nomor satu." Seorang anak dan perempuan paruh baya mendekati meja, ibunya mengulurkan karcis lalu mengajak anaknya duduk. Aku mulai mengintrogasi menanyakan sakit si anak yang demam sudah empat hari. Wajahnya pucat dangan tatapan mata yang lemah si anak merengek agar tak disuntik. Aku mencatat datanya setelah itu mengarahkan si ibu ke dalam ruangan dokter. Setelah ibu dan anak itu duduk menunggu panggilan di ruangan dokter. Aku kembali lagi ke meja karcis dan memanggil nomor antrian selanjutnya. Begitu saja seterusnya sampai ke penggunjung terakhir di puskesmas hari ini. Sebenarnya ada yang iri dengan statusku sebagai keponakan Om Dani di puskesmas ini. Dengan mengatakan bahwa aku adalah 'anak emas' padahal aku berusaha berkerja dengan baik, tetap displin mengikuti aturan dan siap menerima arahan dari siapa pun. Bukan hanya dari Om Dani, tetapi tetap saja ada yang tidak suka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD