Sepuluh

1891 Words
Happy Reading. * Aliya bingung saat melihat wajah sedih Jung Soo Hyun, tadi saat masuk kedalam kamarnya Jung Soo Hyun sudah tidak bersemangat dan saat Aliya tanyai Jung Soo Hyun hanya menjawab jika kurang sehat, Aliya menyuruh Jung Soo Hyun ke tabib tapi ditolak oleh Jung Soo Hyun. "Kau mau pakai baju ini?" Aliya hanya mengangguk pelan sebagai jawaban pertanyaan Jung Soo Hyun. Aliya akan pergi dengan Jimin kemakam mendiang Raja Park Hwang Ju dan Kakeknya. "Aku akan siapkan keperluanmu" saat Jung Soo Hyun akan pergi Aliya lebih dulu menahan lengannya. "Kau kenapa Soo Hyunie? Jika kau sakit lebih baik tidak usah bekerja. Aku bisa meminta Pelayan lain untuk menyiapkan keperluan ku" ujar Aliya lembut dan membuat Jung Soo Hyun menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja. Sekarang ganti pakaian mu dan aku akan membereskan barang-barang mu. Sana" Jung Soo Hyun mendorong Aliya kekamar mandi dan memaksanya masuk. "Jangan terlalu lelah" Jung Soo Hyun mengangguk dan menutup pintu kamar mandi. Setelah Aliya benar-benar masuk wajah Jung Soo Hyun sudah berubah sendu lagi. Meremas Hanbok-nya dengan gusar, Jung Soo Hyun benar-benar diliputi perasaan takut saat ini. Ia takut Aliya kecewa padanya, tapi ia lebih takut Taehyung marah padanya. Tapi ia sudah berjanji. "Maafkan aku Aliya" lirih Jung Soo Hyun yang mengusap air matanya dan melanjutkan pekerjaannya. * Jungkook tersenyum puas melihat kemarahan diwajah Jin, jelas kemarahan itu karena Aliya tidak menjadi istri satu-satunya Raja, melainkan ada wanita lain. "Bukankah Raja Park Hwang Ju sudah berjanji akan menjadikan Aliya sebagai satu-satunya Permaisuri disana?" Tanya Jin geram. "Bukankah semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu Hyung? Lagi pula pernikahan mereka adalah pernikahan perjodohan dan Hyung pasti tau akhir cerita cinta mereka. Park Jimin tidak mencintai Aliya" Jungkook semakin memanasi Jin, ia tidak ingin Jin merelakan semuanya begitu saja. Bukankah semua harus dibalas. Kematian kedua orang tua mereka bukan hal yang sepele. "Apa Hyung akan diam saja melihat Aliya disakiti?" Jungkook tau kelemahan Jin. Jin tidak akan bisa melihat Aliya bersedih atau menderita. Jadi harus Aliya yang digunakan untuk membuat Jin mendukung semua rencana balas dendam mereka. "Tentu saja tidak. Adikku harus bahagia dan aku tidak mau adikku jadi nomer dua bagi Raja" Jungkook tersenyum puas dan menepuk pundak Jin. Setidaknya Jin tidak akan melarang dirinya membalas dendam, walaupun Jungkook tau caranya dan Jin sangat berbeda. Jin menggunakan kelembutan dan Jungkook? Tentu saja kekerasan. "Kajja Hyung" * Aliya dan Jimin memberikan penghormatan pada Panglima Kim Tae Hoon, mereka sudah pergi ke makan Raja Park Hwang Ju terlebih dahulu dan ini kunjungan terakhir mereka. "Saya berjanji akan menjaga Cucu anda Panglima. Kakek saja sudah berjanji akan menjadikan cucu anda sebagai Ratu dan saya akan berusaha mewujudkan itu. Tapi sebelum ini saya minta maaf karena mengingkari satu hal. Seharusnya saya tidak menikah lagi dan harus menjadikan cucu anda sebagai satu-satunya istri saya, tapi karena kebodohan saya semuanya terjadi. Mohon maafkan saya untuk itu" Aliya hanya diam mendengar ucapan Jimin pada makam Kakeknya. Senyum tipis tersungging dari bibinya. Mendengar Jimin berkata jujur membuat Aliya yakin jika Jimin mencintai dirinya. "Mohon doakan kami agar segera mendapatkan momongan dan memberikan pewaris baru untuk kerajaan ini" tambah Jimin dengan tegas dan memberikan penghormatan terakhir untuk Panglima Kim Tae Hoon. "Permaisuri?" Aliya menggangguk Mendengar panggilan Jimin. Menatap dalam makam Kakeknya dan tersenyum manis. "Harabojie gumawo. Setelah semua yang kulalui aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Terima kasih sudah membesarkanku dan merawat ku dengan baik. Aku akan bahagia disini dan kuharap Harabojie juga bahagia disana. Doakan apa yang kami inginkan terkabul. Restu Harabojie sangat berarti bagi kami" Jimin tersenyum mendengar ucapan Aliya. Menggenggam tangan Aliya dengan erat dan melempar kan senyum manis pada Aliya. "Kuharap ada kabar baik setelah ini" Aliya menggenggam dan tersenyum lalu membalas genggaman tangan Jimin. Keduanya tidak sadar jika ada sepasang mata coklat tajam yang memperhatikan mereka. Tangan yang menggenggam pedang itu terlihat mengepal erat dan sudah dipastikan jika laki-laki itu dalam keadaan marah. Jung Soo Hyun sendiri hanya melirik was-was kearah belakang. Taehyung adalah orang itu, dan Jung Soo Hyun takut jika Taehyung akan berbuat nekad. "Kuharap semua akan baik-baik saja setelah ini. Doakan kami Harabojie" mohon Jung Soo Hyun dalam hati dan menatap memohon pada makan Panglima Kim Tae Hoon. * "Yakin mau berpisah?" Tanya Jimin lembut pada Aliya yang mau berkeliling dipasar Istana. Aliya ingin jalan-jalan sendiri, dan Aliya tidak suka diikuti, walaupun itu Jung Soo Hyun sendiri. Lagi pula mereka menggunakan penyamaran dan tidak ada yang akan mengenali mereka. Pakaian biasa dan pengawal yang berada jauh dari mereka. "Ayolah Yang Mulia. Aku hanya ingin jalan-jalan sendiri" Jimin menghela nafas panjang mendengar rengekan Aliya. Jika sudah begini Jimin tidak akan bisa menolak keinginan Aliya. "Jangan lama-lama dan hati-hati" pesan Jimin lembut dan Aliya mengangguk antusias, lalu berlari kearah tengah-tengah masyarakat yang ada disini. Melihat itu Jimin hanya tersenyum tipis dan melangkahkan kakinya kearah berlawanan. Jimin juga ingin melihat bagaimana kondisi kerajaannya. * Aliya masih berjalan-jalan dan melihat berbagai macam barang yang dijual. Rasanya Aliya kembali kemasa lalu, terus berjalan dan tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan menutup mulutnya dan membawanya pergi menjauh pergi begitu saja. * Jimin khawatir karena Aliya belum juga kembali. Jimin sudah menyebar semua pengawalnya dan masih belum juga ketemu. Jimin juga tidak diam saja, ikut mencari Aliya dikerumunan masyarakat. "Yang Mulia kami tidak menemukan Permaisuri" Jimin semakin gusar saat mendapatkan kabar itu. Seharusnya Jimin tidak membiarkan Aliya pergi sendiri. "Aku tidak mau tau, Permaisuri harus ditemukan saat ini juga. Panggil seluruh prajurit di istana dan kerahkan untuk mencari Permaisuri" kata Jimin tegas dan kembali mencari Aliya. Jelas Jimin takut jika Aliya diculik atau terluka. Sementara Jung Soo Hyun hanya bisa meremas Hanbok-nya dengan gusar. Hilangnya Aliya pasti karena Taehyung. Jung Soo Hyun sudah memastikan ini, tapi kenapa Taehyung harus membawa Aliya pergi. Setidaknya bertemulah sebentar dan tidak perlu membawa Aliya pergi. Jika sudah begini akan panjang urusannya. Apalagi dengan Jimin yang memanggil semua prajurit istana. Jung Soo Hyun tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Taehyung jika sampai tertangkap. "Kemana Orabonie membawa Aliya?" Ujar Jung Soo Hyun gusar dan ikut mencari. * Aliya memeluk erat Taehyung dan jangan lupakan tangisan keras Aliya. "Uljima" mengusap sayang punggung Aliya dan mencoba menenangkan adiknya. "Kemana Orabonie pergi?" Aliya masih terisak dan terus bertanya pada Taehyung. Sepertinya Aliya lupa dengan Jimin. Satu yang pasti, Aliya Merindukan Kakaknya dan tidak ada yang bisa menyembunyikan kebahagiaan ini. Kakak yang Aliya anggap sudah mati 12 tahun lalu ternyata masih hidup dan tengah ia peluk sekarang. "Aku ingin menunjukkan satu hal lagi padamu" Taehyung melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Aliya yang penuh air mata. Mengusap sayang wajah adiknya yang sudah tidak ia temui selama 12 tahun. Taehyung tidak munafik mengakui jika ia merindukan adik kecilnya. "Jin Hyung juga masih hidup" Aliya semakin menangis dan Taehyung kembali memeluknya. Apa saja yang disembunyikan dari dirinya? Kenapa Aliya tidak tau apapun? Bahkan keberadaan kedua kakaknya yang masih hidup juga tidak Aliya ketahui. Sebodoh itu kah Aliya? "Kenapa Orabonie membohongiku?" Tanya Aliya yang masih terisak. "Bukan itu maksudku, hanya saja aku tidak mau kau terluka. Cukup Ayah dan Ibu yang terluka dan Pergi. Dan aku tidak mau kau juga terluka. Tapi Harabojie begitu bodoh karena membiarkanmu menikah dengan Cucu dari Seorang pembunuh. Park Hwang Ju adalah pembunuh Aliya. Kakek Keparat itu membunuh orang tua kita, bahkan dia juga ingin membunuh aku dan Jin Hyung. Dia pembunuh Aliya dan tidak seharusnya kau menikah dengan cucu seorang pembunuh" tangisan Aliya terhenti mendengar ucapan Taehyung yang begitu sinis dan membongkar semuanya. Kejadian 12 tahun yang lalu harus dibongkar dan Aliya harus tau. Park Hwang Ju membunuh semua keluarganya dan Kim Tae Hoon begitu bodoh dengan diam dan membiarkan Aliya menikah dengan Jimin. "Pembunuh? Aku menikah dengan cucu seorang pembunuh? Orabonie bercandakan? Tidak mungkin" * "Permaisuri hilang?" Tanya Seulgi kaget. "Nde Selir Kang. Permaisuri hilang saat jalan-jalan dipasar Istana" wajah kaget Seulgi berubah cerah dan jangan lupakan senyum sinis yang mengembang diwajahnya. "Kuharap Permaisuri tidak ditemukan atau yang lebih baik jika dia mati" desis Seulgi sinis dan meraih kertasnya. "Kau tidak perlu bekerja. Wanita itu sudah pergi dan itu sangat baik" cetus Seulgi dan berlalu. * Rasanya Aliya ingin melompat kedalam jurang yang ada didepannya saat ini juga. Pertemuan dengan kedua kakaknya lalu mengungkapkan semua kejadian 12 tahun silam. Aliya meremas kuat Hanbok-nya dan masih saja menangis. Flashback. "Jin-ah bawa Adikmu pergi" lirih Kim Jung Woon yang sudah sekarat sedangkan Yuri sudah lebih dulu pergi dari dunia ini. "Ayah~~~" Taehyung menangis Keras dan menggenggam erat tangan ibunya yang sudah tidak bernyawa. "Tidak banyak waktu yang tersisa Jin-ah! Bawa Adikmu pergi dari sini" Jung Woon melepaskan tangan Jin yang menggenggam tangannya. "Ayah~~~" Jung Woon menggeleng dan memberi isyarat untuk Jin untuk segera pergi. Jin menangis dan menarik tangan Taehyung secara paksa, Taehyung berteriak dan berontak dan tidak mau melepaskan tangannya dari Yuri. "Hyung, Ayah-Ibu" Taehyung tetap berontak tapi Jin semakin menaikkan Taehyung menjauh. "Hyung Andwae" Taehyung semakin memberontak dan berakhir Jin menarik Taehyung untuk bersembunyi dibalik pohon besar yang tidak jauh dari kedua orang tuanya. Membekap mulut Taehyung agar tidak berteriak karena Jin melihat beberapa orang berbaju hitam yang mendekat kearah mereka. "Tae kumohon diam" lirih Jin pelan. Taehyung masih menangis dengan mulut yang dibekap oleh Jin. "Apa mereka sudah mati?" "Sepertinya sudah" "Dimana dua anak itu?" "Apa mungkin mereka kabur?" "Itu tidak penting. Sekarang kita cari mereka. Raja Park Hwang Ju ingin mereka semua mati" beberapa orang itu pergi dan meninggalkan Jin dan Taehyung yang diam mematung. "Raja Park Hwang Ju?" Jin melepaskan tangannya dari mulut Taehyung, wajah keduanya masih terkejut. Park Hwang Ju? Raja itu? Taehyung mengepalkan tangannya kuat dengan mata dengan sorot penuh kebencian. "Aku akan menuntut balas, Park Hwang Ju dan seluruh keturunan Keparat itu. Semuanya harus mati ditangan Ku" * "Kenapa Yang Mulia membunuh keluarga saya?" Teriak Panglima Kim Tae Hoon keras dan mengacungkan pedang nya dileher Raja Park Hwang Ju. Panglima Kim Tae Hoon sudah tidak peduli pada tata Krama lagi. Seluruh keluarganya mati dan Panglima Kim Tae Hoon tidak bisa membiarkan itu begitu saja. "Kumohon maafkan aku Panglima Kim. Ini diluar kemampuan ku. Aku tidak bisa mengingkari janji ku pada Putriku" Panglima Kim masih mengacungkan pedangnya pada raja. "Hanya karena janji Yang Mulia membunuh seluruh keluarga saya? Yang Mulia gila?" Raja Park Hwang Ju menatap bersalah pada Panglima Kim Tae Hoon. Ini salahnya yang tidak bisa menjadi ayah yang baik. Ia gagal sekarang, entah itu sebagai ayah maupun raja. "Aku sudah mencoba semuanya sebisaku Panglima Kim. Dulu aku sudah menawarkan pernikahan Putramu dengan Putriku, tapi Putramu menolaknya dan memilih menikah dengan Gadis biasa. Tentu saja putriku sakit hati, dan hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas sakit hati putriku" panglima Kim Tae Hoon berteriak keras dan melemparkan pedangnya kesembarangan arah. Ini semua hanya karena cinta masa lalu yang ditolak dan berakhir saling membunuh. "Aku janji akan melindungi Cucumu, aku akan menjadikan dia sebagai Ratu dikerajaan ini. Dan aku tidak akan membiarkan Cucumu terluka. Dia dalam lindungan ku penuh" janji Raja Park Hwang Ju. "Hanya dia yang saya punya sekarang. Anggap ini impas untuk saat ini, tapi jangan salahkan saya jika di masa depan cucu anda akan menderita dan itu karena cucu saya. Tepati janji Yang Mulia atau kerajaan ini akan hancur" Flashback end. * Jimin tidak peduli berapa lama dan berapa banyak prajurit yang ia kerahkan untuk mencari Aliya. Fikirannya sudah dipenuhi dengan buruk karena Aliya belum juga ditemukan. "Kumohon baik-baik saja dan jangan terluka Permaisuri" mohon Jimin dan terus saja mencari. Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD