Abel tidak mau pulang ke rumah, meski mendapat beberapa kali panggilan dari Ayahnya. Dia akan mengabaikan dan memilih untuk mematikan gawainya, daripada harus meladeni Ayah yang sama keras kepala dengannya.
Tes!
Dia merasa kepalanya dingin, dan air menetes di pipinya. Ketika Abel mendongak, wanita itu menatap sahabatnya yang sekarang sedang memandangnya dengan tatapan penuh tanya.
"Kabur lagi?"
"Bukan kabur, tapi tidak ingin pulang," balas Abel cepat.
Wanita dengan rambut dikepang dua dan kacamata bulat itu memanyunkan bibirnya. Abel mengambil kaleng soda yang ada ditangan Lulu---sahabat sejati Abel dari jaman SD sampai saat mereka telah selesai kuliah---membuat Lulu mendengus sebal.
"Selalu merebut tiba-tiba."
"Kali ini, apa yang telah dikatakan Ayahmu, sehingga kamu tidak mau pulang?"
"Ck, jangan dibahas. Aku sedang tidak mood membayangkannya."
Lulu menghela nafas, dia tau betul bagaimana Abel. Hanya Lulu yang pernah melihat titik terendah dari seorang Abelia Azkors, manusia keras kepala dan banyak akal.
"Baik, aku tidak akan memaksa. Namun percayalah, aku tidak akan kemana-mana, datang jika kamu butuh untuk cerita."
Setelah Lulu mengatakannya, Abel langsung luluh dan kini duduk menghadap Lulu dengan serius. Lulu tau, Abel sedang marah, kecewa dan juga sedih. Memangnya mengenal Abel dari jaman SD tidak membuat Lulu tau perangai Abel?
"Ayah, dia menggantikan Cinda denganku."
"Maksudmu?"
Abel membuka kaleng soda itu, meneguknya sebentar kemudian melanjutkan ceritanya dengan semangat.
"Kamu tau kan? Aku pernah mengatakan padamu tentang pernikahan Cinda dan pewaris yang terkena penyakit, usai dia kecelakaan itu?"
"Ah, dia Evan Valhok. Pria tampan yang kecelakaan lalu menjadi bodoh?" Terang Lulu dengan jujur.
"Jangan menghinanya, sebentar lagi aku akan menjadi istri dari pria yang kamu katai bodoh itu!" Dengus Abel.
Lulu terkekeh sejenak kemudian menggeleng, "maaf, tapi apa itu sungguh menimpamu?"
Abel mengangguk dengan serius, walau begitu wajahnya sekarang berubah sendu dan tidak segalak tadi. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk milik Lulu.
"Andai waktu bisa diputar, aku tidak ingin menjadi keluarga Azkors."
"Hush! Jangan pernah berkata seperti itu. Lihatlah, kamu selalu mengeluh tentang hidup. Mungkin ini ganjaran yang kamu dapat karena sering mengeluh."
Abel tidak menjawab memilih untuk berbalik membelakangi Lulu. Sedang malas saja melihat wajah sahabatnya itu, karena sekarang Abel ingin menangis namun dia tahan.
"Lalu, apa kamu menerimanya?"
Abel menganggukkan kepalanya, satu anggukan sudah cukup membuat Lulu paham bagaimana perasaan Abel saat ini.
"Kamu serius? Memangnya, kamu sudah siap dengan konsekuensi dari keputusanmu?"
"Siap tidak siap, harus siap. Setidaknya aku bisa pergi dari rumah yang mirip seperti neraka itu."
Lulu terdiam, karena sekarang suara Abel bergetar. Tangisan Abel pecah tidak bisa ditahan, dan Lulu tau kalau Abel paling benci kalau terlihat lemah di depan orang.
"Selama ini aku selalu bertanya-tanya, kenapa Tuhan cepat sekali membawa ibuku pergi? Setidaknya saat ibuku masih ada, Ayah tidak akan berperilaku seperti ini."
"Ayah yang aku kenal dulu, berbeda dengan yang aku kenal sekarang. Dia lebih sering menyalahkanku, dan melindungi putri tirinya."
"Lalu, apa aku ini masih dia anggap sebagai putrinya atau tidak?"
Setelah itu Lulu tidak mendengar apa-apa selain suara isakan. Wanita itu memilih untuk diam, perlahan namun pasti suara Abel semakin besar.
"Aku tidak bisa membantu banyak, hanya saja aku berdoa semoga kamu punya akhir yang bahagia dengan kehidupan kamu."
Setelah tangisan Abel mereda, barulah Lulu kembali ke kamar dan bertanya. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Abel membawa kabar bahwa sebentar lagi Abel akan menikah dengan pewaris grup Valhok?
"Dery, pria sialan itu berselingkuh dengan Adik tiriku yang juga sama sialannya. Bahkan sampai adik tiriku hamil."
Lulu terkejut bukan main, kemudian menutup mulutnya tidak percaya. Jadi yang pernah dia lihat itu benar adanya?
"Pantas saja saat itu aku melihatnya bersama dengan Cinda di rumah sakit."
"Ck, pria sialan itu!"
Lulu bekerja di rumah sakit baru-baru ini, dia adalah dokter anak di rumah sakit itu. Mengingat dia sangat menyukai anak-anak kecil.
"Bersyukur, setidaknya kebusukan mereka berdua cepat terungkap. Kalau dia terus membohongimu sampai anaknya lahir, maka kamu akan punya rasa bersalah karena telah memilih pria lain selain dia."
"Ah, sudahlah! Aku tidak ingin membahas manusia menyebalkan itu."
Lulu terkekeh kecil, "lalu ... Apa rencanamu sekarang?"
***
Setelah Abel mengatakan kalau dia menerima menggantikan Cinda, maka sekarang dia secara khusus datang sendiri ke sebuah butik ternama menggunakan ojek online.
Dia tidak ada di rumah, padahal supir keluarga Valhok sudah menunggunya di sana. Tentu saja Abel tidak sudi untuk kembali, bahkan dia berencana akan bertemu dengan Ayahnya hanya saat pemberkatan.
Kalau kata Lulu, Abel itu beruntung menikah dengan keluarga kaya raya di Kota Ciex. Pada kenyataannya tidak seberuntung itu, karena pria yang akan dia nikahi adalah pria dengan kondisi bodoh.
"Selamat siang, saya adalah Abelia Azkors. Apa ada pesanan gaun pengantin atas nama saya?" Tanya Abel langsung pada dua resepsionis yang saat ini berjaga.
Abel tidak mau membuang-buang waktu, dia ingin pernikahan ini berjalan dengan semestinya. Tidak sabar untuk lepas dari sang Ayah.
"Abelia Azkors."
Setelah dua resepsionis tadi berhasil melacak namanya, mereka segera mengarahkan Abel masuk ke ruang ganti VIP dengan hormat.
Tatapan itu membuat Abel salah tingkah, seumur-umur dia tidak pernah diperlakukan sebagai Nona Muda, tapi sekarang dia seakan Nona muda berharga di keluarga calon suaminya.
"Nyonya Rosetta sudah memilihkan lima grup gaun termahal yang ada di sini, dan dia membiarkan anda memilih salah satu di antaranya."
Awalnya Abel tidak begitu peduli, namun saat lima gaun itu dikeluarkan sekaligus, Abel langsung ternganga karena terkejut.
"I-ini semua gaun pengantin?"
"Iya, anda harus memakai lima gaun yang ada di tiap closetnya."
Abel ingin tepuk tangan di depan mereka, karena ini semua terlalu sulit untuk Abel. Semua sangat bagus di mata Abel, dan sekarang dia bingung mau memilih yang mana.
Netranya menangkap satu set gaun berwarna royal dan silver. Hiasan di sekitar gaun juga sederhana dan tidak terlalu terbuka.
"Aku pilih yang itu saja." Tunjuknya pada deretan gaun berwarna classy itu.
"Anda tidak ingin mencoba satu-persatu dari gaun ini?"
Abel segera menggeleng, yang benar saja. Dia mencoba satu-satu sama saja dengan buang-buang waktu, bagi Abel waktu adalah uang yang tidak bisa dia hiraukan begitu saja.
"Tidak perlu, saya rasa semuanya pasti muat di tubuh saya."
Ting!
+12 628 xxx xxx
Datanglah ke Kafe Musim panas, aku akan menantimu di sana.
Abel hanya melirik tanpa minat, namun sepertinya ada hal yang harus dia luruskan di sini, bahkan Abel juga ingin mengembalikan semua barang yang pernah pria itu berikan padanya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Abel dengan tatapan tajam.
"Bel, sebenarnya kehamilan Cinda adalah kecelakaan---"
"CUKUP! jangan katakan apapun untuk membuat alasan. Di mataku kamu tetaplah mantan yang seharusnya berada di tempat sampah!" Ujar Abel tegas.
Dia hendak bangkit, namun tangannya di tahan Dery. Abel merasa kesal dan tidak peduli pria itu mau mengatakan apapun untuk menjelaskan.
"Abel! Percaya sama Aku!"
"Ck, lepas," ujar Abel dingin.
"Lepas!"
Karena bentakan Abel, Dery segera melepaskan tangannya. Kemudian menghela nafas.
"Cinda yang menjebakku bel, awalnya aku kira dia itu kamu---"
"Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mendengar apapun, sudah aku katakan tidak ada hubungan apapun di antara kita berdua. Jadi hentikan semua omong kosongmu!" Potong Abel penuh penekanan.
"Ekhem, Nona Abel."
Abel segera berbalik dan mendapati seorang pria bertubuh kekar menatap serius ke arahnya. Pakaiannya begitu formal dengan setelan jas hitam rapi.
"Saya adalah orang yang akan mengantar anda ke kediaman Tuan Evan. Anda sudah di tunggu oleh beliau."
Abel mengangguk paham, kemudian kembali berbalik untuk memberikan tatapan tajamnya pada Dery.
"Dengarkan? Calon suamiku sudah memanggil, jadi jangan pernah temui aku lagi. Hubungan diantara kita sudah benar-benar berakhir!" Tekan Abel lagi sekali.
***
Wanita itu cukup terkejut dengan mansion besar dengan gaya modern di depannya.
Baru sekali melangkah, seseorang tiba-tiba memeluknya. Hal itu membuatnya Refleks menarik tangan pria itu, dengan mengumpulkan tenaga, Abel membanting pria itu yang saat ini terdengar meringis.
"ADUH! Tangan Evan sakittt!"