Tak Ada yang Sempurna

1459 Words

Aku dan Kia saling pandang saat terdengar dering bel dari pintu depan. Untuk beberapa saat kami hanya terpaku. Begitu bel ditekan untuk yang kedua kalinya, tanpa kata-kata kami sepakat, memang ada seseorang yang datang. “Eka nggak ada bilang mau kemari, kan?” Aku turun dari sofa. Kami sedang menonton film horor dari negara tetangga dengan lampu yang sengaja dimatikan. Cari penyakit memang. Seharusnya kami tidur karena ini bukan akhir pekan. Awal minggu baru saja dimulai. Senin dengan segala kesibukan yang menyesakkan. Untuk pertama kalinya, pada hari Senin, kami tidak lembur. Kia menggeleng. Dia beringsut turun dari sofa untuk menyalakan lampu. Selimut yang sejak tadi kami gunakan untuk membungkus kaki, sekaligus penutup mata saat adegan di layar begitu menyeramkan, jatuh teronggok beg

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD