Part 02
Allucard menghembuskan nafas panjangnya beberapa kali, berusaha menenangkan perasaannya yang tampak tak karuan sekarang. Bisa dilihat dari tatapan matanya yang mulai berkaca-kaca oleh air mata, bibirnya merapat dengan gigi bergesekan, tangannya juga mengepal menahan dirinya untuk tidak bertindak gegabah.
Di depannya saat ini, seorang wanita cantik tengah terlelap di sofa yang berada di ruangannya. Wajah wanita itu tampak kelelahan, matanya merapat begitu pulas. Sedangkan di sampingnya ada sebuah koper berwarna hitam, Allucard sangat mengenali koper itu, koper milik Sheina yang wanita itu bawa ke rumahnya empat tahun yang lalu.
"Sheina, kamu benar-benar kembali." Allucard bergumam lirih, masih merasa tak menyangka wanita yang sudah lama dicarinya dan masih sangat dicintainya kini sedang berada di hadapannya.
Allucard melangkahkan kakinya, ia ingin segera memeluknya saking rindunya ia dengan wanita itu, namun pikirannya menahan pergerakan tubuhnya. Allucard merasa tidak bisa melakukannya, karena ia sendiri tidak tahu apa yang sedang wanita itu rencanakan.
Hampir empat tahun yang lalu, Allucard menikahi Sheina dan beberapa bulan setelahnya wanita itu pergi dengan meninggalkan surat perceraian di kamarnya. Sebagai lelaki yang sangat mencintainya, tentu saja Allucard merasa terpukul, ia sempat kacau pada saat itu, belum lagi perusahaannya juga sedang berada di ambang kehancuran.
"Kenapa kamu pergi dan menceraikan aku dulu? Memangnya aku salah apa?" Allucard bergumam lirih setelah mendekatkan tubuhnya di dekat Sheina yang masih terbaring pulas.
"Kamu itu wanita kurang ajar, aku akan membuat kamu menyesal sudah berani kembali." Allucard menitikkan air matanya lalu ia hapus dengan segera. Ia tidak akan memperlihatkan tangisannya pada Sheina, wanita yang sudah berani menghancurkan hatinya.
Allucard menghembuskan nafas panjangnya lalu mendirikan tubuhnya, ia berusaha menenangkan perasaannya sembari melirik ke arah Sheina. Tatapannya seolah ingin mengatakan bila wanita itu tidak akan bisa lagi pergi dari sisinya, ia bahkan akan mengurungnya andai berani kabur lagi dari hidupnya.
Setelah perasaannya sudah mulai merasa tenang, Allucard melangkahkan kakinya lalu duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan tempat Sheina tidur. Dengan ekspresi dinginnya, Allucard menatap wanita itu seolah tak akan membiarkannya lari dari pandangannya.
Jauh di dalam hatinya, Allucard sangat ingin memeluk Sheina kalau perlu membawanya ke ranjang dan bermain sampai puas di sana, namun hal itu hanya akan membuatnya terlihat lemah seolah ia sangat mengharapkan kedatangannya. Tidak, Allucard tidak akan melakukannya, ia harus berpura-pura tidak peduli dengan mantan istrinya itu.
Sheina baru tersadar dari tidurnya, matanya terbuka perlahan sembari mengusapnya beberapa kali untuk memperjelas pandangannya. Namun ia justru melihat seorang lelaki dengan setelan jas berwarna hitam, tengah duduk begitu tenang di hadapannya.
"Allucard," gumamnya sembari menyipitkan matanya, ia berusaha membangunkan kesadarannya.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Allucard dengan nada dinginnya, yang kali ini berhasil membangunkan kesadaran Sheina sepenuhnya.
"Maaf," ujar Sheina setelah membangunkan tubuhnya lalu menundukkan wajahnya tanpa mau menatap ke arah Allucard yang terdiam, yang saat ini tengah bertanya-tanya kenapa Sheina meminta maaf, apa wanita itu akan menjelaskan alasan kepergiannya dulu.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf untuk ... sofamu yang aku tiduri," jawab Sheina yang tentu saja mendapatkan tatapan tak percaya dari mata Allucard. Padahal lelaki itu sudah sangat berharap akan mendapatkan permintaan maaf dari mantan istrinya tentang kepergiannya dulu, namun kenyataannya jauh berbeda dari bayangannya. Dengan perasaan menahan kesal, Allucard kembali bertanya dan berharap bisa mengendalikan emosinya.
"Terserah. Sekarang kamu jawab pertanyaanku, untuk apa kamu ke sini?"
"Begini, aku ... emh ... mau ...." Sheina tampak ragu mengatakannya, yang tentu saja membuat Allucard kian geram, ia hampir tidak bisa membiarkan wanita itu duduk dengan tenang di sana.
"Cepat jawab atau kamu akan tahu akibatnya." Allucard berusaha bersabar, namun jantungnya sudah bergejolak panas, ia ingin segera memeluk Sheina dan menciumnya hingga puas.
"Sebelumnya aku mau minta maaf karena sudah meninggalkanmu dulu," ujar Sheina dengan nada ragu-ragu, ia semakin takut mengutarakan niatnya kali ini.
"Kamu enggak hanya meninggalkan aku, tapi kamu juga menceraikan aku tanpa alasan." Allucard menjawab dengan nada geram, yang kian membuat Sheina meringsut takut di tempatnya.
"I-iya, aku minta maaf. Ka-kalau begitu, a-aku pergi dulu ya? Maaf sudah mengganggu waktumu ...." Sheina merasa tidak bisa melanjutkan rencananya, ia langsung mendirikan tubuhnya tanpa mau menatap ke arah Allucard, menurutnya lelaki itu tampak lebih menakutkan dari sebelumnya.
"Cepat duduk atau kamu enggak akan bisa duduk sampai besok." Allucard mengancam Sheina dengan kalimat yang menurutnya begitu menakutkan. Sheina sendiri masih mengingat jelas, bagaimana cara mantan suaminya membuatnya mau menuruti keinginannya.
"I-iya, maaf ...." Sheina kembali mendudukkan tubuhnya, jantungnya berdebar tak karuan, begitupun dengan ekspresi wajahnya yang juga tampak ketakutan sekarang.
"Selama ini kamu ke mana?" tanya Allucard dengan berusaha untuk tetap tenang, berbeda dengan Sheina yang merasa ingin pulang.
"Di rumah orang tuaku ...."
"Bohong, aku sudah mencarimu di sana, tapi rumah itu selalu kosong, kamu dan orang tuamu sengaja pindah kan?" ujar Allucard serius, yang kian membuat Sheina tak nyaman dan dilema di waktu yang sama.
"Maaf, Al ...." Sheina menatap ke arah Allucard dengan wajah penuh penyesalan, namun lelaki itu justru tak mengubah ekspresi dinginnya.
"Jelaskan ke aku sekarang, kenapa kamu pergi dulu? Apa karena aku hampir bangkrut, makanya kamu enggak mau bersamaku." Allucard menatap geram ke arah Sheina yang tertunduk, karena bukan itu alasannya, namun ia juga tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Bukan begitu, aku cuma enggak mau menjadi beban di hidup kamu, Al."
"Beban kamu bilang? Kapan aku mengatakannya kalau kamu beban di hidupku? KAPAN?" sentak Allucard marah, merasa tak menyangka dengan alasan Sheina yang tiba-tiba menceraikannya dan meninggalkannya dulu.
"Tanpa kamu mengatakannya, aku sudah sadar diri kalau dari awal aku ini cuma beban di hidup kamu." Sheina berusaha untuk menjawab dengan alasan yang mungkin masuk akal, namun sepertinya jawabannya berhasil memancing kemarahan Allucard.
"Aku enggak pernah berpikir apalagi sampai merasa kalau kamu itu beban di hidupku, bagaimana mungkin kamu bisa menceraikan ku dan meninggalkan aku cuma karena pikiran kamu sendiri?" tanya Allucard tak percaya, namun Sheina justru terdiam, ia tidak bisa tetap berada di sana.
"Seharusnya aku enggak ada di sini, maafkan aku, aku akan pergi." Sheina kembali mendirikan tubuhnya lalu mengambil kopernya dan berjalan ke arah pintu ruangan, ia benar-benar tidak bisa melanjutkan rencananya sekarang.
"Apa? Terkunci?" Sheina berusaha membuka pintu itu, namun tidak bisa sedangkan kuncinya pun juga tidak ada di sana.
"Kamu enggak akan bisa pergi dari sini, sebelum kamu kasih tahu aku alasannya kenapa kamu datang sekarang? Apa yang sedang kamu rencanakan?" Allucard menunjukkan kunci yang berada di tangannya ke arah Sheina, yang membuatnya tak bisa keluar dari sana.
"Mana kuncinya! Aku harus pulang, aku juga enggak akan mengganggu kamu lagi." Sheina melangkahkan kakinya ke arah Allucard yang justru meletakkan kuncinya ke dalam kemejanya, yang tentu saja akan jatuh di bagian perut bawahnya.
"Ambil sendiri!" Allucard membuka jas dan dasinya, yang hanya menyisakan kemeja putih di tubuhnya.
"Bagaimana aku mau mengambilnya sendiri? Kuncinya kamu masukkan di ... kemejamu?" Sheina tampak canggung untuk mengatakannya, merasa kesal saja dengan tingkah Allucard yang tidak pernah berubah.
"Kamu hanya perlu membuka kemejaku, apanya yang susah?"
"Dasar m***m. Cepat ambil kuncinya, aku harus pergi dari sini, aku enggak mau berurusan denganmu lagi." Sheina tampak salah tingkah setelah mendengar jawaban Allucard, lelaki itu begitu seenaknya menyuruhnya untuk membuka kemejanya sedangkan sekarang mereka tak lagi memiliki hubungan apa-apa.
"Ambil sendiri!" pinta Jonathan dengan wajah tenangnya, yang justru terlihat menyebalkan untuk Sheina.
"Aku enggak mau," jawab Sheina tegas.
"Ya sudah kalau begitu kita akan tinggal berdua di sini."
"Sebenarnya mau kamu apa sih? Aku cuma mau pergi dari sini, Al. Tolong biarkan aku pergi ya?" Sheina mulai memelas ke arah Allucard, matanya bahkan berkaca-kaca berharap lelaki itu mau mengasihinya.
"Kamu tanya mau ku apa? Enggak salah? Bukannya ini kantorku, kamu datang untuk menemuiku kan? Itu artinya kamu yang ada mau dariku."
"Awalnya iya, tapi sekarang enggak." Sheina menjawab tegas, yang kali ini mendapatkan picingan mata dari Allucard.
"Kenapa?"
"Karena kamu menyebalkan," jawab Sheina dengan nada yang sama, namun Allucard justru tampak tenang.
"Kamu lebih menyebalkan. Kamu pergi seenaknya dan sekarang kamu juga datang dengan seenaknya." Allucard berujar serius yang kali ini didiami oleh Sheina, karena apa yang dikatakannya memang benar.
"Aku minta maaf, tapi aku sangat membutuhkan bantuan mu, makanya aku datang." Sheina menjawab bersalah yang kali ini berhasil membuat Allucard tertarik dengan alasannya.
"Bantuan apa?"
"Tapi kamu harus janji, kamu enggak boleh tanya alasanku apa dan kenapa aku memintanya?" ujar Sheina yang kali ini didiami oleh Allucard, merasa bingung harus bersikap bagaimana, namun ia juga ingin tahu bantuan seperti apa yang wanita itu inginkan.
"Iya, baiklah. Kamu perlu bantuan apa?"
"Sebelumnya aku mau tanya sesuatu ke kamu, boleh kan?" Sheina mendudukkan tubuhnya, sorot matanya juga tampak berharap sekarang. Allucard yang merasa ragu, sempat berpikir meskipun pada akhirnya ia mengangguk setuju.
"Iya. Kamu mau tanya apa?"
"Apa kamu sudah punya istri lagi ...?" tanya Sheina yang entah kenapa hatinya berharap Allucard menjawab tidak.
"Belum," jawab lelaki itu singkat, yang seketika disenyumi oleh Sheina.
"Syukurlah ... ah maksudku sayang sekali, kamu kan tampan, kaya, dan sudah matang dalam banyak hal, tapi belum menikah lagi." Sheina yang sempat merasa bahagia tiba-tiba menyadari kebodohannya dan berusaha untuk tidak membuat Allucard curiga.
"Apa kamu bertanya cuma untuk menyindirku?" tanya Allucard yang seketika digelengi kepala oleh Sheina.
"Enggak kok. Aku kan cuma tanya, jadi aku berekspresi sesuai dengan jawaban kamu."
"Terus kamu mau bertanya apalagi?"
"Kamu ... sudah punya pacar? Yang mungkin akan kamu nikahi setelah ini?" tanya Sheina lagi dengan nada keraguan, yang tentu saja membuat Allucard merasa keheranan dan bertanya-tanya kenapa wanita itu menanyakan hal tidak penting.
"Enggak. Kenapa?" Allucard menggeleng yakin, yang tentu saja mendapatkan tatapan tak yakin dari mata Sheina. Karena sebelum ini, wanita itu sempat merasa ragu menjalankan rencananya, ia takut Allucard sudah mendapatkan penggantinya.
"Jadi selama ini kamu masih sendiri?"
"Iya, memangnya kenapa? Kamu sendiri apa sudah punya pacar? Atau jangan-jangan kamu sudah menikah lagi?" Allucard memicingkan matanya yang lagi-lagi digelengi kepala oleh Sheina.
"Belum lah," jawabnya cepat yang diam-diam Allucard senyumi, merasa bahagia saja mendengarnya, ternyata Sheina juga belum mendapatkan penggantinya.
"Jadi alasan kamu ke sini untuk meminta bantuan apa? Kenapa pertanyaanmu malah menjerumus ke ranah pribadiku."
"Aku minta maaf, aku cuma ingin memastikannya sebelum memintanya ke kamu." Sheina menjawab ragu-ragu, yang kian membuat Allucard merasa penasaran.
"Meminta apa?" tanya Allucard kian penasaran.
"Aku mau kamu meniduriku untuk semalam saja, kamu mau kan ...?" Sheina menunjukkan satu telunjuknya sembari menutup wajahnya yang memerah, ia merasa sangat malu mengatakannya, terutama saat mengintip ekspresi Allucard setelah mendengar permintaannya. Lelaki itu tampak terkejut dan bingung di waktu yang sama, seolah tak yakin dengan pendengarannya.