Hisc 40

1652 Words

Sava sedang duduk di ruang kerjanya, menatap kosong ke layar laptop yang sudah menyala sejak satu jam lalu tapi tak satu huruf pun ia ketik. Kopi di mug-nya sudah dingin. Langit di luar mulai menggelap, menyisakan pantulan cahaya jingga dari jendela. Hari itu berjalan seperti kabut: lambat, berat, dan membekas. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Incoming Video Call: Aryo, Gilang, Reza. Sava sempat ragu untuk mengangkat. Tapi tiga nama itu terlalu familiar untuk diabaikan. Ia menghela napas panjang, lalu menyentuh ikon hijau di layar. Begitu tersambung, langsung terdengar suara heboh seperti anak-anak SMA lepas dari karantina. “WOOOOO!!” “MUKA BOS BESAR AKHIRNYA MUNCUL!!” “GILA, BENERAN DIANGKAT, GENGS!” Sava tersenyum lelah. “Gue belum mati, tenang aja.” “Yah, itu dia, Sav! Loe belum

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD