Cahaya fajar yang merayap masuk melalui celah gorden beludru tetapi bukan membawa harapan, melainkan sebuah vonis yang nyata. Dara membuka matanya perlahan, namun beban di dadanya terasa seberat batu karang. Ia tidak berani bergerak, seolah-olah gerakan sekecil apa pun itu akan menghancurkan sisa-sisa dirinya yang sudah retak. Dengan gerakan yang pelan, ia menoleh ke samping dan kekosongan itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun.
Sisi ranjang di sebelahnya sudah mendingin dan hanya menyisakan cekungan yang mulai rata kembali. Sebuah bukti bisu bahwa keberadaan Garda di sana hanyalah persinggahan mekanis. Seprai sutra yang tadinya rapi kini tampak seperti medan perang yang kacau. Kain itu kusut masai, terpilin di antara tungkai kakinya, meninggalkan noda-noda yang merendahkan martabatnya.
Bantal yang semalam digunakan Garda masih menyisakan aroma parfum maskulin yang tajam dan dingin, bau yang kini membuat perut Dara bergejolak mual. Tak ada kehangatan yang tertinggal, tak ada bekas pelukan dan yang ada hanya aroma dominasii yang seolah sengaja ditinggalkan untuk mengingatkan Dara, bahwa tubuhnya baru saja digunakan demi sebuah "tujuan."
Dara menghela napas berat dan mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa remuk dan di setiap sendinya memprotes sisa-sisa pergumulan yang tak melibatkan hati itu. Ia duduk di atas ranjang, lalu memeluk lututnya sendiri di tengah kamar yang luas namun terasa seperti penjara bawah tanah itu.
“Apakah aku cuma sebidang tanah?” bisik hatinya dengan pedih.
Pikirannya berkecamuk antara rasa benci yang meluap dan kepasrahan yang pahit. Di satu sisi, ia ingin menjerit, mencaci-maki Garda yang memperlakukannya tak lebih dari sekadar inkubator bernyawa. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa ia telah terjual oleh nasib membuatnya bungkam. Setiap sentuhan Garda semalam terasa seperti stempel kepemilikan pada sebuah barang, bukan belaian seorang suami yang mencintai istrinya.
Dara mulai bergeser dan menurunkan kakinya satu persatu dari atas tempat tidur yang nampak berantakan itu. Lalu, ia pun berjalan menuju cermin besar di sudut kamar dengan langkah gemetar. Di sana, di balik pantulan kaca yang jernih, ia melihat seorang wanita yang tak lagi ia kenali. Rambutnya berantakan, bibirnya pucat, dan di lehernya terdapat tanda merah keunguan. Sebuah tanda "sewa" yang ditinggalkan pria itu serta sebuah selimut putih yang melilit tubuhnya kini.
"Kamu bukan istri, Dara. Kamu hanya perantara," bisik suara jahat itu di dalam kepalanya. "Jangan pernah bermimpi tentang cinta di rumah ini."
Dara menyentuh perutnya yang masih rata. Ada ketakutan hebat yang menjalar di nadinya. Jika nanti ada nyawa yang tumbuh di sana, bagaimana ia bisa mencintai sesuatu yang sejak awal sudah direncanakan untuk dirampas darinya? Bagaimana ia bisa memberikan napas pada makhluk yang kehadirannya hanya diinginkan sebagai komoditas semata?
Keheningan itu serta lamunan Dara yang semu, pecah oleh ketukan dari arah pintu. Seorang wanita paruh baya berseragam rapi masuk, membawa nampan perak yang berkilau menyakitkan mata. Wajahnya datar, seolah sudah terbiasa melihat wanita-wanita hancur di atas ranjang itu.
"Selamat pagi, Nyonya Dara. Tuan Garda meminta saya mengantarkan sarapan dan juga ini," ucapnya tanpa nada.
Dara menatap sepiring buah dan juga sepiring sandwich telur di atas nampan tersebut dan dengan tambahan lain, yaitu sebuah kotak kecil diantara kedua piring tersebut. Di dalamnya, sebuah kalung berlian melingkar dengan angkuh. Bagi orang lain, itu mungkin perhiasan mewah, tapi bagi Dara, itu adalah rantai yang dipercantik. Di bawahnya, selembar kartu kecil dengan tulisan tangan Garda yang tajam dan tegas terbaca:
"Pakai ini saat makan malam nanti. Istriku ingin bertemu denganmu. Pastikan kamu tampil sempurna dan jangan memalukan."
Dara merasa dunianya runtuh seketika. Bertemu istrinya? Istri sah yang akan merampas darah dagingnya? Mual yang tadi ia rasakan kini memuncak menjadi sesak napas. Ia menyadari satu hal, bahwa pertempurannya baru saja akan dimulai, dan ia harus berdiri di antara dua orang yang memandangnya sebagai benda, sementara ia harus tetap menjaga jantungnya agar tidak berhenti berdetak karena duka.
"Iya. Terima kasih. Taruh aja disitu," ucap Dara lemas.
"Baik, Nyonya Dara," ucap si pelayan yang kemudian meletakkan nampannya di atas nakas.
Menjelang malam harinya, dengan langkah yang berat, Dara dituntun menuju ruang makan utama. Di sana, Garda sudah duduk di kepala meja. Namun yang membuat napas Dara tertahan adalah sosok wanita yang duduk di samping Garda itu sendiri.
Seorang wanita yang sangat cantik, dengan wajah pucat yang anggun namun tatapan matanya begitu tajam, seolah sedang membedah isi perut Dara. Rissa namanya.
"Jadi, ini wanita yang terpilih?" suara Rissa terdengar merdu namun dingin, memecah keheningan ruangan.
Rissa berdiri, lalu berjalan perlahan mengitari Dara, memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki seperti seorang kolektor yang sedang memeriksa barang antik yang baru dibelinya. Ia berhenti tepat di depan Dara, lalu tangannya yang dingin mulai menyentuh perut rata yang Dara.
"Jaga dirimu baik-baik, Dara. Jangan makan sembarangan, jangan melakukan hal bodoh. Ingat, apa yang ada di dalam sini kelak adalah milikku," bisik Rissa dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.
Rissa kemudian melirik ke arah Garda suaminya. "Dia cukup cantik, Mas. Bahkan lebih cantik dari di foto. Oh iya, Aku nggak keberatan dia tinggal di sini sampai bayiku lahir. Tapi ingat," Rissa kembali menatap Dara, kali ini dengan kilatan peringatan yang nyata, "Jangan pernah merasa bahwa tempat tinggal ini adalah rumahmu, ya? Soalnya, kamu hanyalah 'tamu' yang membawa titipanku."
Dara hanya bisa menunduk, meremas jemarinya kuat-kuat. Sementara Rissa merasakan aura ketakutan yang bercampur dengan kepolosan wanita di hadapannya ini. Setidaknya, dia bukanlah seorang wanita yang kelihatan bisa mengambil hati suaminya. Dia bukan seorang w*************a dan hanya seorang wanita polos yang hanya bisa mengikuti setiap perintah tanpa bisa melawan dan memang itu juga yang ia inginkan. Ia baru sempat melihat secara langsung dan tidak ikut di acara akad, karena takut menjadi tidak rela melepas suaminya ke dalam pelukan wanita lain. Tapi demi berlangsungnya hubungan ia dengan sang suami dalam jangka waktu yang lama, ia terpaksa harus mencari wanita yang bisa mengandung benih dari suaminya. Anak yang kelak akan memanggilnya dengan sebutan ibu. Jadi pilihan yang ini memang benar-benar tepat. Tidak banyak tingkah dan juga penurut.
"Ayo, Dara. Kita makan dulu. Kamu harus banyak makan makanan yang sehat dan juga bergizi, supaya nanti janin yang kamu kandung sehat dan tanpa cacat. Ayo sini, Sayang," ucap Rissa yang memperlakukan Dara dengan begitu manisnya. Ia juga bahkan meminta Dara untuk tinggal satu atap dengannya bukan karena memang harus memastikan kesehatan serta asupan makanannya saja. Melainkan, agar ia bisa mengawasi suaminya ini juga dan tidak sampai terjadi di belakangnya, mereka berdua yang ujung-ujungnya malah berkhianat. Setidaknya, dengan begitu ia bisa mengawasi suaminya dan juga gadis polosnya ini.
Sementara itu di meja makan yang penuh dengan hidangan mewah itu, Dara menyadari satu hal yang lebih pahit dari malam pertamanya. Bahwa ia tidak hanya harus menghadapi dinginnya Garda, tetapi juga harus hidup di bawah bayang-bayang seorang istri sah yang memandangnya tak lebih dari sekadar tanah sewaan yang harus subur.
Makan malam itu berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Di antara denting sendok dan garpu, Dara merasa dirinya semakin kerdil. Hingga tiba-tiba, Garda pun membuka suara.
"Dara, mulai besok, kamu akan mulai mengikuti jadwal pemeriksaan dokter. Rissa sendiri yang akan mengatur semuanya. Dan kamu harus patuh," ucap Garda datar dan terdengar tegas.
Dara mendongak lalu menatap Garda yang bahkan tidak meliriknya sama sekali ketika bicara tadi. "T-tapi Tuan, apakah saya boleh sesekali pulang untuk melihat makam orang tua saya?"
Garda menghentikan makannya, meletakkan garpu dengan denting yang keras. Ia menatap Dara dengan mata yang berkilat marah.
"Kamu tidak punya tempat pulang, Dara. Rumah ini adalah duniamu sekarang, setidaknya sampai kamu menyelesaikan tugasmu. Jangan buat aku mengulanginya lagi!"
Dara menelan berat salivanya sendiri. Ternyata, memang bukan kebebasan lah yang Dara dapatkan, melainkan hanya sebuah sangka baru yang memang lebih berkilau tapi tetap membuatnya terpenjara.
Lantas, bagaimana ia akan bertahan hidup di rumah yang luas namun terasa begitu sempit karena kebencian dan keangkuhan ini? Dan mampukah ia menyerahkan anak yang akan tumbuh di rahimnya nanti kepada wanita sedingin Rissa?
Dara hanya bisa terdiam, tenggorokannya terasa tersumbat oleh segumpal tangis yang tak boleh pecah. Suasana meja makan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara kunyahan Rissa yang sangat anggun. Bahkan terlalu anggun untuk seseorang yang baru saja merampas seluruh kemanusiaan wanita lain.
"Jangan pasang wajah sedih begitu, Dara," timpal Rissa sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain. "Wajah murung tidak baik untuk perkembangan janin. Anggap saja ini pekerjaan paling mudah di dunia. Kamu cukup makan, tidur, dan menjaga aset kami. Bukankah itu jauh lebih baik daripada hidup melarat di luar sana?"
Dara tidak menjawab. Ia menatap potongan daging wagyu di piringnya yang tampak merah dan berdarah, persis seperti perasaannya saat ini.