Dara tidak meronta atau menyangkal ucapan Garda. Ia sudah tahu porsinya di tempat ini, selembar kertas perjanjian siri demi memberikan keturunan tidak akan pernah memberinya hak untuk bersuara. "Iya. Aku mengerti," jawab Dara datar dan membiarkan Garda menatap punggungnya dengan kilat kepemilikan yang amat pekat sebelum pria itu berbalik lantas meninggalkan kamar dengan keangkuhan seorang penguasa. Keesokan harinya, sore menjelang malam yang mendebarkan itu pun tiba. Hari di mana makan malam resmi keluarga besar Jayanegara digelar. Garda masuk ke dalam penthouse dengan langkah tegap, sudah mengenakan setelan tuksedo hitam formal yang sangat pas di tubuh tegapnya, memancarkan aura ketampanan yang matang sekaligus d******i yang pekat. Ia melangkah menuju kamar Dara, membuka pintu tanpa me

