Arka bergeming. Ia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda gentar meski berhadapan dengan pria yang reputasinya mampu membuat siapa saja di ruangan itu bertekuk lutut. Ia justru membalas tatapan Garda dengan senyum tipis yang terlihat begitu tenang, seolah ia sedang menghadapi pasien yang sedang mengalami gejala emosional berlebihan. "Milik orang lain?" Arka mengulangi kata-kata Garda dengan nada datar namun tajam. "Kurasa kamu masih belum bisa membedakan mana manusia dan mana properti, Garda. Dara adalah seorang wanita, bukan barang yang bisa kamu klaim kepemilikannya hanya berdasarkan ego." Tangan Garda yang mengepal di sisi tubuhnya semakin kencang, urat-urat halus di pelipisnya terlihat menonjol. Ia mencoba mengintip ke balik bahu Arka, mencari sosok Dara yang masih bersembunyi di balik

