Kata-kata Dara meledak bagai bom di tengah keheningan ruang makan. Air mata kemarahan yang sejak tadi ditahannya kini luruh deras, membasahi pipinya yang memerah. Dadanya naik-turun dengan napas yang memburu hebat. Seluruh kepasrahan, ketakutan, dan rasa tertekan yang ia pendam sejak melangkah kembali ke penthouse ini menguap, digantikan oleh keputusasaan yang teramat dalam. Ia sudah tidak peduli lagi pada keselamatan dirinya sendiri. Garda seketika mematung. Cengkeraman tangannya di bahu Dara perlahan mengendur, namun rahang tegasnya justru mengatup semakin rapat hingga urat-urat di pelipisnya mencuat tajam. "Bunuh?" desis Garda, mengulang kata itu dengan nada suara yang luar biasa rendah dan berbahaya. Sepasang mata elangnya yang pekat menatap lurus ke dalam manik mata Dara yang menya

