Meski telah berlalu cukup lama, tapi aku sering mengingat laki-laki langka yang baik hati itu. Bagaimana tidak kusebut langka. Mobilnya penyok cukup parah karena keteledoranku. Aku tidak memperhatikan situasi dan mengendarai motor sambil melamun. Jika bertemu orang lain, mungkin kecelakaan tersebut jadi panjang hingga ke pihak berwajib. Biasanya, pengendara mobil tidak ingin disalahkan. Di beberapa kasus yang kutahu penyelesaian kecelakaan berlarut-larut walau tak jarang berakhir damai dengan sejumlah uang. Berbeda dengan kasusku. Meski laki-laki itu bisa menuntutku tapi dia memilih tak mempermasalahkan, sebaliknya aku diberi uang, motorku diperbaiki tanpa biaya sepeserpun. Mulia sekali hatinya. Tak mengira di zaman serba hedon yang mementingkan egosentrisme masih ada manusia yang tak

