"Bersiap!" ucap Ketua Kelas yang suaranya terdengar berbeda.
"Beri salam!" lanjutnya.
"Asslamu'alaiku warohmarullahi wabarokatuh," ucap kami serentak.
Setelah memberi salam pada Bapak Martin yang mengajar Matematika aku menoleh ke belakang.
Mengapa Ketua Kelas suara nya berbeda?
Mataku mencari seisi ruangan tak kudapati sosok Ketua Kelas.
"Deni kemana?" ucapku yang tidak dapat di dengar oleh siapapun.
Ketika Bapak Martin mengabsen murid barulah aku tahu ternyata Deni tidak masuk sekolah, suratnya sudah terdampar di atas meja guru sejak tadi.
"Oh Deni sakit," ucap Pak Martin dan langsung memulai pelajaran.
Deni sakit?
Sakit apa dia?
Deni memang tidak pernah melepas jeketnya selama ini, itu yang membuatku penasaran. Di siang bolong pakai jaket apa enggak engap tu napas.
Dulu bahkan aku pernah bertanya pada Deni mengapa ia selalu memakai jaket meskipun siang bolong dan matahari terik. Dan ia menjawab jikalau dirinya sedang rematik.
Apa hubungannya jaket sama rematik?
Apa aku yang di b**o'-b**o'i si Deni?
setelah pelajaran Pak Martin selesai aku mendekati Husni teman semeja dengan Deni. Aku yakin sekali jikalau Husni tahu sesuatu yang bisa ku korek informasinya.
"Husni aku mau tanya?" ucapku sambil duduk di kursi Deni.
"Tanya apa?" ucap Husni yang masih sibuk menulis, entah apa yang di tulis.
"Si Deni emangnya sakit apa?" ucapku dengan memandangi tulisan Husni yang sebenarnya terlihat seperti cakaran ayam.
"Oh... Deni dia dari kecil juga sakit," jawaban Husni santai namun bukan itu jawaban yang aku inginkan.
"Iya... sakit nya itu sakit apa?" nada bicaraku meninggi.
"Dia ada kelainan ginjal gitu, jadi dia emang udah sering sakit dari kecil, udah pernah operasi juga dan setelah operasi dia lumayan sehat tapi sekarang kayaknya drop lagi," Ucap Husni yang telah melepas pulpen di tangannya dan mulai menghadap wajahku.
"Serius? emang kelainan ginjal itu penyakit serius gitu? Hehe,.. aku ngak paham," aku yang awalnya berekspresi kaget namun aku sadar aku belum paham betul tentang apa yang di jelaskan Husni.
"Tuts," Husni memukulkan pulpen ke kepalaku.
"Apa sih aku kan nanyanya serius Husni, kenapa di pukul?" ucapku kesal.
"Lu polos beneran apa sok polos sih Mouza. Lu yang pinter cari perhatian sampe jadiin Deni bahan suruh-suruhan dan sekarang lu bilang kalau lu ngak tahu kelainan ginjal itu kayak apa," ucap Husni yang sepertinya lebih kesal ketimbang diriku.
"Ya, aku ngak ngertilah, kok marah-marah sih. Akukan cuma nanya?" aku sengaja memasang wajah terlugu agar Husni tidak lagi marah.
"Oke... dia itu mengidap kelainan ginjal dari lahir dan itu penyakit serius Mouza. Bahkan dia harus rajin cuci darah agar tetap bisa hidup normal," Husni menjelaskan menggebu-gebu di depanku untung saja Husni tidak ngences kalau tidak aku akan butuh payung.
"Cuci darah itu apa?" ucapku polos, karna memang tidak tahu.
"Ya ampun tolong, mana aku tahu. Hehe.. aku juga ngak paham belum pernah soalnya," ucap Husni dengan cengengesan.
" Hadeh.. sok yes lu," ucapku sambil bangkit untuk pergi.
"Eh, ngak bilang, 'makasih infonya Kakak' kayak gitu," ucap Husni yang juga ikut berdiri.
" Ogah gwa," aku berlalu pergi.
Aku benar-benar tidak menyangka jikalau Deni mengidap penyakit yang serius. Seandainya dari awal aku tahu, aku ngak bakal keterlaluan sering suruh-suruh dia sembarangan.
Apa aku keterlaluan?
Apa dia sakit karna capek tugasnya jadi doble karna harus nulis untukku juga?
Ah lagian, si Deni juga keterlaluan. Masak dia sakit aja punya banyak selingkuhan, gimana kalau sehat.
"Mouza kantin yuk," ucapan Risa membuyarkan lamunanku.
"Ayok!" jawabku.
"Mouza kok kamu diem-diem aja hari ini. Melototin papan tulis aja dari tadi," ucap Risa sembari kami jalan menuju kantin sekolah.
Aku tak menjawab, hanya tersenyum tipis.
" Kamu ada masalah?" tanya Risa yang memotong jalanku lalu membuatku berhadapan dengannya dan ia memagang kedua bahuku selayaknya adegan romantis di film-film.
" Ngak ada sih, cuma lagi mikir aja," ucapku berhenti berjalan karna terhalang oleh Risa.
"Mikir apa?" Risa melepas bahuku.
"Aku keterlaluan ngak sama Deni ya?" ucapku yang mulai berjalan lagi karna Risa sudah menyingkir dari hadapan ku.
"Ngak lah, dia pantas di gituin," ucap Risa dengan sengaja memajukan bibirnya.
"Kamu tahu ngak kalau ternyata dia sakit ginjal," ucapku memandang Risa dengan wajah polos.
"Kamu serius?" ucap Risa kaget.
"Kalau gitu berarti kamu keterlaluan," tambahnya.
"Kok gitu sih, tadi kan kamu belain aku Risa," ucapku yang tanpa sadar sudah memasuki kanting sekolah.
"Hehe, manusia kan bisa berubah, emang kamu pikir cuma Power Ranger yang bisa," Risa melebarkan senyuman terpaksanya.
"Kamu mau jenguk ngak?" tanyaku.
"Tar aja deh ngebahas gituan, makan dulu mending," Risa mengangkat tangan memanggil bibik kantin.
Setelah pesanan datang kami makan dan aku tidak berbicara apapun lagi begitupun Risa.
"Bik tekwan dua mangkok ya!" suara di hadapanku memaksa ku untuk tercengang kaget.
Bagaimana bisa sekarang si Redi sedang bersama Desi teman semeja Risa.
Mereka terlihat sangat akrab dengan sesekali Redi membual dengan rayuan konyolnya.
Risa memandanngnya dengan tatapan jijik seolah dia melihat kotoran sapi ketika sedang makan.
"Apa lu mau sewot lagi?" ucap Redi yang sepertinya tidak suka dengan tatapan Risa.
"Terserah lu pada deh, lagian kalian semua b**o'-b**o," ucap Risa menunjuk Redi.
Hal yag sama terulang kembali. Redi cekcok dengan Risa sehingga membuat Desi jadi seperti peran pengganti yang di gantikan oleh Risa.
Aku sibuk menyantap makanan. Ku lihat sesekali Desi yang nampak manyun.
Desi memang cantik, kulitnya putih bersih, rambut hitam panjang dan wajah yang manis. Di banding dengan ku, dia jauh lebih cantik.
Dan mengapa aku berpikir untuk bandingkannya dengan ku?
Redi dan Risa tetap saling lempar kata-kata saling mengejek sampai bel masuk tiba dan kamipun bergegas masuk kelas.
Tapi Redi malah memilih di kantin dan tidak masuk kelas, kebiasaannya memang saat bolos jam pelajaran.