“Deni… kemari!”
Aku memanggil Deni yang sedang berada di pojok teras, yang aku tahu beberapa kali dia curi – curi pandang.
Dia mendekat padaku yang ada di samping kelas.
Ujian sekolah semester pertama telah selesai. Kami tidak ada kegiatan, hanya saja harus masuk sekolah.
Selama beberapa hari Deni menghindariku membuatku merasa aneh.
“Kenapa menghindar?” tanyaku spontan
“Mmm, ..Ngak sih. Cuma ngak enak aja.”
“kenapa ngak enak?” cecarku
“Ya ngak enak aja Mouza. Aku ngak enak udah bohong sama kamu.”
“Ngak enak karna ketahuan Deni, bukan karna bohongnya.”
“Ya terserah kamulah mau ngomong apa. Pokoknya ngak enak aja.”
“Kan aku udah bilang kita temenan aja kayak dulu. Kalo menghindar namanya memutus tali silaturahmi gitu.”
“Kita ngomong di kelas yok, ngak enak disini," ajak Deni
“Okeh.”
Aku mengekor Deni yang masuk kelas duluan.
Selama pacaran bahkan kami tidak pernah duduk dan mengobrol berdua. Setelah putus barulah harus mengobrol.
Kami duduk di kelas, tepatnya di mejaku.
“Jadi gini Mouza, selain kamu ada lagi.”
“Buset jadi dulu aku di tigain gitu. Widih sok ganteng banget kamu ya.”
“Wkwwk.” Deni malah terbahak
“Siapa?”
“Anak kelas X.b namanya Lina”
Kok Deni begok ya, ngasih kartu As padaku. Ah, mungkin dia sudah terhipnotis olehku. Wkwkwk.
“Oh Lina. Dia itu polos banget. Tega lu Den.”
“Maka dari itu kamu diem. Jangan ngomong – ngomong.”
Aduh, Deni, Deni kamu salah besar menceritakan rahasiamu pada ku. Kali ini kena kamu Den.
Hahaha, tawa dalam batinku. Aku sungguh senang hari ini. Tunggu aja Deni, bersiap untuk hal yang menyenangkan.
“Kok bisa jadian. Kapan kamu tembak?”
“Dia yang nembak aku. Sekitar tiga bulan lah”
“Buset. Dia yang nembak?”
Aku ternganga. Apa hebatnya si Deni ini. Apa dia punya ilmu pelet.
“Mouza percaya sama aku. Aku beneran suka sama kamu. Aku ngak mau mempermainkan kamu Mouza.”
“Tapi kenyataannya?”
“Mouza denger. Mereka yang nembak aku, dan aku Cuma nerima aja, dan pada kenyataannya mereka yang duluan hadir ketimbang kamu. Tapi untuk rasa sayang. Aku beneran sayang sama kamu.”
Set dah dia ngomongin sayang, sayangan lagi. Kok tiba –tiba hawanya jadi panas gini.
“Udah deh ngak usah ngomong soal sayang. Sekarang kamu ngak boleh menghindar lagi. Kita itu awalnya teman, masak rusak gara – gara beginian,” aku mencoba lebih bijak.
“Iya deh.”
#
Hari ini kami menunggu pembagian raport. Hasil dari pelajaran kami selama satu semester. Ku lihat ketegangan anak-anak yang lain Nampak jelas di wajah mereka, terutama Risa. Ya, aku tahu Risa pekerja keras. Dia yang sangat ulet belajar, semangatnya benar – benar patut di contoh. Tapi biar bagai manapun aku adalah aku. Pemalas yang teramat riang.
Wali kelas memasuki ruangan. Aku teramat santai, karna tak berharap dapat ranking kali ini, sebab memang aku kurang berusaha.
“Okeh. Anak – anak setelah ini kita libur semester selama dua minggu. Ingat untuk belajar di rumah.”
“Iya buk…”
Jawab kami serentak.
“Ibuk akan sebutkan ranking satu sampai tiga, setelah itu baru ibuk bagikan hasil ujian kalian”
“Baik buk.”
“Rangking tiga Ayu….. Ranking dua Rina.”
Sejenak ibuk Esa diam
“Ranking pertama Mouza Cantika Putri.”
Sontak perkataan ibuk Esa membuatku kaget.
Aku?
Bukannya harusnya Risa ada di jejeran ranking, secara dia teramat rajin belajar.
“Yang di sebutkan tadi sekarang maju kedepan.”
Semua mata tertuju pada kami.
Misi, misi,...miss univers mau lewat nih. Hehe,
kadang memang tidak terlihat belajar bukan berarti tidak mengingat pelajaran. Selama kita benar – benar memperhatikan apa yang di jelaskan guru dan kita mengerti. Cobalah mengingat kejadian hari ini ketika hendak tidur termasuk mata pelajaran yang di ajarkan guru. Seberapa dalam kita mengingatnya. Jika sebagian lupa coba buka buku tulis walau hanya sejenak. Jangan buat belajar itu membosankan dengan belajar, belajar, dan belajar. Cobalah untuk lebih rileks sehingga pelajaran yang di ajarkan guru bisa dengan mudah kita serap.
#
“Dek jalan yuk!” ajak Kak Adi
“Kemana?”
“Ke kampung B aja, makan – makan mau?”
Kak Adi memang sesekali suka mengajakku jalan keluar walaupun hanya untuk makan makan.
Munkin Kak Adi hanya kasihan padaku karna aku selalu di rumah dan tidak ada teman. Sebenarnya di kampungku, aku bukan tidak ada teman. Di SD dulu teman-teman ku banyak sekali, tapi rata-rata dari mereka sekolah di kota semenjak lulus SD dan masing-masing dari kami sekolah ke kota, ketika bertemu kami malah canggung untuk saling menyapa satu sama lain. Apalagi kalau harus akrab seperti dulu.dan lagi ketika aku masih sekolah di kota, aku jarang sekali pulang, ketika pulang jadwal libur kami terkadang berbeda. Karna aku sekolah MTs dan kebanyakan temanku sekolah di Pesantren yang libur mereka sangatlah pendek.
“Kakak punya langganan warung mpek – mpek yang enak di kampong B dek. Rasanya bener – bener kayak mpek – mpek Palembang.”
Di ampung memang banyak yang jualan mpek-mpek Palembang tapi jika di bandingkan dengan rasa mpek-mpek Palembang asli itu sangatlah kurang.
“Ya udah kesana aja kak.”
Tibanya kami di warung mpek –mpek bibik yang jualan malah senyum – senyum mencurigakan.
Aku merasa di pandangi dengan sorot mata yang aneh.
“Di, kok yang laen lagi?”
Aku mengerutkan kening. Apa maksudnya?
“Ini adek Bik.”
“Adek sehidup semati. Hehe?”
Dan aku baru ngeh. Ni Bibik ternyata mengira aku pacarnya Kak Adi.
Memang wajah Kak Adi lebih ke Bapak dan wajahku lebih ke Mamak.
Kami memang seperti bukan saudara kandung. atau memang aku anak pungut?
Itu pertanyaan yang selalu terlontar di pikiranku ketika masih kecil. Berharap hidup seperti sinetron yang tiba-tiba ternyata anak orang kaya. Tapi kenyataannya aku dan Kak Adi memanglah saudara kandung.
Kok miris ya, wkwkwk.
“Beneran adek Bik, yang kemaren juga adek sepupu.”
“Alah Di, Di, masak semuanya kamu bilang adek. Itu yang kemaren, kemaren nya lagi apa. Perasaan setiap kesini kamu bawa cewek beda-beda mulu Di.”
“Wkwkwk.”
Kak Adi hanya menjawab dengan tawa.
“Kak emang kemaren kesini sama siapa?”
“Sama Rahma.”
“Ohhh.”
Rahma memang adik sepupu kami. Dia sering jalan dengan kak Adi. Mereka memang akrab. Aku sering dengar suara Rahma di rumah. Tapi aku tetap di dalam kamar, bobok siang cantik.
#
“Dek kakak udah jadian sama temennya Rosi yang kamu bilang cantik itu loh.”
Kami mengobrol di ruang tamu. Kak Adi dengan kopi hitamnya dan aku dengan kopi moka. Kami memang penikmat kopi yang akurnya tiada tara.
“Oh… kakak masih sama Desi dan Esi juga?”
“Yesi Dek bukan Esi.. haha” Kak Adi tertawa.
Entahlah. Mengapa nama pacar Kak Adi terasa seperti kembar dempet. Apa memang kak Adi yang milih atau memang kebetulah. Seingatku ada juga yang namanya Resi.
“Yah begitulah, kebalik-balik. Namanya hampir sama”
“Ya masih, kan mereka jauh. Mana tahu.”
“Siapa tahu ada yang kasih tahu. Hayo gimana?”
“Ya ngak gimana – gimana. Maunya mereka yang gimana. Mau lanjut atau putus, kan keputusan ada di tangan mereka. Kakak kan ngak maksa.”
“Lagian kenapa harus banyak. Kan pusing jadinya kak.”
“Hidup itu pilihan dek. Kakak lagi menjajaki sampai akhirnya kakak tentukan yang mana mau di pilih jadi istri."
“Dari sekian banyak pacar kakak, aku paling suka sama Mbak Reni.”
“Tapi kakak ketinggalan Dek.”
“Maksudnya?”
“Kayaknya dia udah nikah. Kakak juga sulit ngelepas dia. Sebenarnya pas dia lulus SMA dan ngilang, kakak cari dia. Ada yang bilang soal alamat kerjanya, Kakak kesana dan ternyata dia udah ngak kerja di sana lagi.”
“Terus kemana?”
“Ngak tahu. Tapi ada temennya bilang kalau dia udah nikah.”
“Ohhh. Kasihan sekali, hahaha”
Aku menggeleng-gelengkan kepala menggoda Kak Adi.
“Mmm. Masak mie instan gih dek.”
“Lah kok jadi mie instan?”
“Laper.. hehe.”
Kak Adi berbicara sambil memegangi perutnya.
“Oke. Mie goreng atau kuah.”
“Mie goreng aja. Ngak suka kuah, tapi di kasih kuah dikit. Haha”
Kak Adi memang suka makan mie goreng dengan beberapa sendok kuah.
Aku berlalu melewati bapak yang ada di ruang TV.
Entah dari kapan aku dan Bapak bagai orang asing. Bukan Cuma aku saudara-saudara ku yang lain juga tidak akrab dengan Bapak.
Seingat ku semenjak aku bisa mengingat Bapak telah menjadi asing. Tapi hal yang paling ku benci adalah mengingat masa kecil.
Berbanding terbalik dengan Risa yang sangat menyukai kenangan masa kecilnya yang katanya sungguh berharga dan bahagia.
Bagiku jika bisa memilih untuk tidak usah ingat aku lebih baik menghapusnya, membuang kenangan yang terasa pedih jika untuk di kenang.
namun juga sayang karna itu juga termasuk pengalaman hidup.
ternyata ini yang dinamakan di "buang sayang, di simpan jadi beban."
lirik lagu dangdut yang sering di nyanyiin Kak Adi. Hehe.