Bab 03

805 Words
Jantung Callista berdetak cepat. Ia takut Reynand melakukan sesuatu padanya, namun ia mencoba untuk tetap berpikir positif. “A-apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Callista dengan nada gugup Dan… Brugh “Aakkhh..” pekik Callista Reynand mendorong tubuh Callista membuat punggungnya terbentur dinding. Ia mengukung tubuh perempuan itu membuat jantung Callista semakin tidak karuan. Ketakutan melanda dirinya. “M-maaf, tolong lepasin saya! Saya…” “Apa yang telah kamu campurkan pada minumanku?” desis Reynand dengan tajam Callista menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Ia tidak tahu apa yang dimaksud Reynand. “Campuran apa? Saya hanya mengantar minuman buat anda.” “Jangan membohongiku!” “A-aku tidak berbohong.” “s**t!” umpat Reynand dalam hati Tatapan Reynand tertuju ke arah bibir Callista yang terlihat menggoda. Ia menelan ludahnya kasar ketika melihat bibir itu bergerak. Perlahan Reynand mendekatkan wajahnya membuat Callista reflek mendorong d**a bidang laki-laki itu. Namun ketika ingin berlari dengan cepat Reynand menahan pergelangan tangannya. “Mau kemana, hm?” ujar Reynand sembari tersenyum smirk “Lepasin tangan saya!” “Kamu harus bertanggung jawab.” Callista menggelengkan kepalanya tidak mau. “Enggak. Saya tidak melakukan apapun pada minuman anda. Tolong lepasin tangan saya!” “—“ Reynand mengabaikan perkataan Callista. Ia menuntut pertanggung jawaban perempuan itu karena Callista yang mengantarkan pesanannya. “TOLONG!” teriak Callista “Silahkan teriak sekencang mungkin karena tidak aka nada yang menolongmu. Mereka justru sibuk dengan kesenangan masing-masing.” “Saya mohon lepasin tangan saya!” “Saya tidak tahu apa-apa. Bahkan saya hanya diminta untuk mengantar minuman anda.” ujar Callista mencoba menjelaskan Namun sayangnya Reynand tidak peduli dengan perkataan Callista. Ia menggendong Callista seperti karung beras membuat perempuan itu memekik. “AAAKKHH.. LEPASIN SAYA!” Bugh Bugh “LEPASIN!” “TOLONG!” teriak Callista sekencang mungkin Reynand tetap melangkah tidak peduli dengan pukulan Callista. Pukulan itu sama sekali tidak terasa di tubuhnya. Reynand berjalan menuju sebuah kamar untuk meminta pertanggung jawaban dari perempuan itu. BRAK Reynand menutup pintu kamar, dan… Brugh “Aarrgghh..” ringis Callista Reynand melempar tubuh Callista ke atas kasur. Ia melepas jas kantornya, hal itu membuat Callista semaki ketakutan. Callista bergerak mundur ketika Reynand melangkah maju. “Apa yang ingin kamu lakukan? Jangan berbuat macam-macam padaku!” Reynand tersenyum smrik. “Berani berbuat, berani bertanggung jawab.” Reynand melepas dasi yang ia kenakan lalu menarik kedua tangan Callista untuk ia ikan agar tidak bisa memberontak. “APA YANG KAMU LAKUKAN? LEPASIN!” teriak Callista “Aku mohon lepasin!” “—“ Reynand tidak peduli dengan teriakan Callista. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah pelampiasan. Reynand berpikir jika Callista yang telah mencampurkan minumannya dengan sesuatu, padahal ada orang lain dibalik itu semua. Reynand menindih tubuh Callista. Matanya terlihat menginginkan Callista seutuhnya. Obat itu berhasil menguasai Reynand membuatnya hilang kendali. “Jangan lakukan apapun padaku! Aku mohon lepasin!” pinta Callista dengan nada memohon “Sstt.. sekalipun kamu memohon aku tidak akan melepasmu. Kita akan bersenang-senang malam ini.” “Enggak. Aku nggak mau.” “Tolong lepas….” “Hmptt..” perkataan Callista terhenti begitu saja karena Reynand tiba-tiba membungkam mulutnya dengan menyatukan bibir keduanya. “Emhh..” “Lewpasinn!” berontak Callista Namun sayangnya tenaga yang ia miliki tidak sebanding dengan tenaga Reynand. Kedua tangan yang terikat membuat Callista tidak bisa melakukan apapun. Tenaga Reynand cukup kuat, bahkan ia tidak diberikan kesempatan untuk memberontak sedikitpun. “Jangan ditahan! Keluarkan suara indahmu!” bisik Reynand Setetes air mata jatuh membasahi pipi Callista. Ia merasa dirinya telah kotor. Ia tidak bisa menjaga dirinya sendiri hanya untuk suaminya kelak. Bahkan ia tidak mengenal siapa Reynand. Dan… Krekk “Hikss..” isak tangis Callista “Aku mohon jangan melakukannya!” Reynand merobek baju Callista membuat pemandangan indah di hadapannya terlihat jelas. Hanya dengan satu tarikan baju yang dikenakan Callista robek menjadi dua bagian. Deg.. deg.. deg Jantung Reynand tiba-tiba berdebar kencang. Ia sering bermain dengan seorang wanita, tapi untuk pertama kalinya ia merasakan hal ini. Debaran jantung yang belum pernah ia rasakan. “Sungguh indah!” ujar Reynand sembari tersenyum “LEPASIN AKU!” “DASAR LAKI-LAKI b******k!” teriak Callista Cup “Emhh..” Reynand membungkam mulut Callista dengan menyatukan bibir keduanya. “Enghh..” tanpa sadar Callista mengeluarkan suara yang tidak seharusnya Reynand tersenyum smirk. “Mulut bisa menolak, tapi tidak dengan tubuhmu.” ucapnya dalam hati Selama ini tidak ada wanita yang tidak luluh dengannya. Hanya dengan sentuhan kecil darinya mereka sudah meminta lebih. “Emhh.. keluarkan suara indahmu lagi, sayang!” bisik Reynand “Aku suka mendengarnya.” “Laki-laki b******k! Aku membencimu.” ujar Callista dalam hati Cup Ciuman Reynand bergerak turun. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sampailah ia di dua benda kenyal yang membuatnya berdecak kagum. Tangannya bergerak melepas pengait yang ada di punggung Callista lalu membuang benda itu ke sembarang arah. Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD