Order Fiktif

456 Words
"Selamat pagi Bandung, aku siap untuk hari ini", pagi mengetuk, fajar menyambut, embun menyapa, kicau burung bernyanyi dan Ibu : " Hudang.... Geura pinuhan bak" Suara ibu, yap, tapi aku selalu bahagia masih bisa mendengar suaranya hari ini. Aku : "Muhun mak siap, ananda merapikan dulu tempat tidur ya'. ----- Waktu bergulir kencang beriringan dgn perasaan yg kian hebat. Dengan rasa percaya diri yg tertanam kuat dan berbekal order fiktif dua cup Thai tea, cimol bojot, karedok basreng dan seblak tulang. " Jir maenya mawa nu kieu", aku menggerutu, di saat orang lain menemui perempuan yg baru di kenalnya membawa re juve, chatime, shu shi. Tpi tak apalah mungkin bisa dia bagi sama temennya kalau dia tidak suka. Dari jam sebelas aku 'menyelinap' di depan toko tempatnya bekerja, mencari informasi jam berapa dia istirahat. Kepala toko : "Fanny mau istirahat jam berapa? " Fanny :"jam 12 aja bun, bentar lagi" Dari situlah aku tahu kalau namanya Fanny. Dan dia keluar Aku : "Eh kebetulan ketemu di sini ya, mau minum?", sapaku gugup. Fanny : "Iya sangat kebetulan untuk orang yg datang bawa minuman dan dari tadi bolak balik toko saya", jawabnya yg ternyata tahu aku datang dari jam 11. Aku : " Hee ketauan ya, makan siang bareng yuk? ", aku mengajaknya makan berharap tidak ada penolakan untuk itu. Fanny mengangguk dan tersenyum mengiyakan. Bahagia sekali rasanya dan meningkatkan kepercaya dirianku Aku :"Mau makan dimana?, Mcd, solaria atau shushi tei?", penawaran yg sangat nekat untuk seorang ojek online yg baru kena order fiktif. Fanny : "Nggak, di belakang aja aku bawa bekal dari rumah", jawabnya tenang menggambarkan kesederhanaan. Aku yakin setelah menikah dia bukan type istri yg kalau suami pulang tak bawa uang di suruh tidur di luar dan tidak dapat jatah (makan). Aku : "Aku beli kopi hitam dulu d depan ya" Fanny: "loh kan ini ada dua? " Aku : "aku gak suka bubble", tegasku, karena bagi seorang pecandu kopi, kopi hitam bukan sekedar apa yg kita minum tapi juga apa yg kita rasa(mereun ketang eta ge). Aku : " Pak kopi hitam satu, aduknya tiga kali aja jangan kebanyakan", pesanku ke seorang penjual kopi. Penjual kopi : "Atuh moal amis a" Aku : "Gak apa apa, udah ada yg manis kok di samping saya", sambil memalingkan muka ke arah fanny yg tersipu mendengarnya. Penjual kopi lalu memberikan kopinya dengan ekspresi wajah menggigit bibir bagian bawah dan mata yg genit. Aku : " Samping kiri maksudnya", menyadarkan bahwa orang yg di maksud itu Fanny bukan dia. Kami pun bergegas pergi Fanny : "Suka godain penjual kopi juga? ", candanya. Aku : "Udah deh gak usah ngeledek" Fanny : "kirain cuman suka sama cewek" Aku : "FANNY!", jawabku kesal tapi seneng juga suasana menjadi cair.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD