Dengan malas, Erinna melangkah menuju ruang makan. Sampai saat ini, ia masih menggunakan hoodie untuk menutupi luka di kepala belakangnya. Ia mengerutkan kening melihat sang Papi yang tersenyum menyambut kedatangannya. Erinna mengangkat sebelah alis seraya menatap Abang sulungnya yang tengah mengembangkan senyumnya. Sungguh, ia merasa sangat aneh dengan suasana yang seperti ini. Jika bukan karena paksaan Rendy, ia tak akan sudi makan bersama keluarganya itu. "Erin, kenapa kamu pakai hoodie seperti itu, nak? Kamu nggak lagi nggak enak badan 'kan?" tanya Ibram sedikit cemas. Karena tak biasanya, putrinya memakai pakaian seperti itu. Terlihat sangat tertutup, hanya menunjukkan wajahnya saja. Erinna tersenyum sinis. "Ngapain Papi peduliin aku?" tanyanya membuat Ibram dan si kembar terkejut

