Jika Avery boleh bercerita, salah satu wanita simpanannya yang bertahan cukup lama adalah Judith Spencer.
“Aku menyewanya bahkan lebih dari enam bulan. Kira-kira … aku dan Nyonya Spencer bisa bertahan hingga delapan bulanan.”
Di tempat duduknya, Hanae mengangguk-angguk mafhum. “Memang biasanya berapa bulan?”
“Biasanya lima sampai enam bulan.”
“Kenapa akhirnya kau menyelesaikan kontrak dengan Lady Spencer?”
Avery berpikir sejenak. Ia menuang wine ke dalam gelasnya, sebelum akhirnya menjawab, “Seperti biasa … aku sudah tidak memiliki ketertarikan dengannya.” Diam sejenak, hingga Avery menambahkan, “Atau lebih tepatnya karena wanita itu mulai meminta hal yang lebih padaku.”
“Hal yang lebih?”
Setelah meneguk sedikit wine-nya, Avery mengangguk. “Ya, dia ingin menjadi istriku.”
Kali ini, Hanae yang mengangguk-angguk. “Itu wajar. Wanita pasti akan terbawa perasaan saat berhubungan dengan laki-laki cukup lama. Apalagi, transaksi yang kalian lakukan cukup intim. Lady Spencer pasti menginginkan sesuatu yang mengikat dan memperjelas statusnya.”
“Tapi hal itu melanggar kesepakatan. Lagi pula, dua bulan sebelum aku memutus kontrak dengannya, dia sudah bertunangan dengan mendiang Tuan Spencer.”
Kali ini dahi hanae yang dipenuhi kernyitan. “Jika sudah tahu Lady Spencer bertunangan, kenapa kau tidak segera mengakhiri kontrakmu dengannya?”
Avery mengedikkan bahu. “Dia memohon-mohon di kakiku supaya tidak segera memutus kontrak. Kurasa dia memang tidak ingin melepaskanku, padahal di sisinya sudah ada seseorang yang bersamanya.”
“Hoo.” Mata Hanae berbinar cerah, seolah baru saja mendapati hal seru yang membuatnya terpesona. “Dia ingin mengoleksi pria ….”
Avery mengangguk. “Dia memang suka diperhatikan banyak pria.”
“Wanita yang hebat.”
Avery pun tidak tahan untuk mencubit dua pipi Hanae. “Apanya yang hebat? Kau mau seperti wanita itu?”
Namun, meskipun pipinya begitu sakit, Hanae malah tertawa dengan riang. “Meskipun aku mau, aku tidak akan bisa. Karisma yang ditampakkan Lady Spencer berada di level yang berbeda.”
Avery mendecih tidak suka. “Kenapa kau malah memuji wanita itu?!”
“Karena dia patut dipuji,” sahut Hanae ringan, masih dengan tawanya yang menyenangkan.
Melihat bagaimana tanggapan Hanae yang selalu di luar prediksi, Avery hanya bisa mengambil napas dalam. “Seharusnya kau cemburu dengannya.”
Seraya mengelus-elus pundak Avery, Hanae berujar kalem. “Aku cemburu … aku cemburu … jangan ngambek padaku, My Lord.”
Tangan Avery semakin kencang mencubit pipi istrinya. “Kedengarannya tidak tulus.”
“Awawawa, aku tulus!!”
Mendapat tamparan-tamparan kecil di punggung tangannya, Avery pun melepas cubitan gemasnya pada pipi Hanae. Ia terkekeh ringan. “Judith Spencer adalah orang yang sulit, Hanae. Sebaiknya kau berhati-hati dengannya.”
Hanae mengangguk-angguk. “Ya, aku akan lebih waspada.”
Ya, Hanae akan lebih waspada. Sebab, ia telah melihat sendiri bagaimana Judith Spencer menatapnya maupun suaminya. Tatapan yang ramah tapi berlumur racun itu, harus benar-benar ditanggapi dengan serius. Sebab, kemungkinan terburuk ketika berhadapan dengan orang seperti itu, adalah kehancuran diri sendiri atau bahkan orang di sekitar.