episode 4

1879 Words
Echoes of Rezernty Genre: Drama, Fantasy, Isekai, Action, Tragedy Episode 4: Kilas Balik Arc 1: Jejak Masa Lalu dan Perjalanan Masa Depan Gelombang energi Umbrellation surut, meninggalkan aroma ozon dan ketakutan yang menggantung di udara. Ciestte mengerjap, pandangannya menyapu sekeliling. Murid-murid lain mundur, seperti kawanan domba yang ketakutan melihat serigala. Bisik-bisik sinis terdengar seperti bisikan iblis yang merayu. Bahkan Pak Rudra, yang tadi tersenyum penuh keyakinan, kini menatapnya dengan raut khawatir dan... penghakiman? Ciestte merasa seperti terkurung dalam sangkar kaca, setiap tatapan adalah duri yang menusuk. Rasa bersalah dan takut bercampur menjadi satu, membuatnya sulit bernapas. 𝙋𝙖𝙠 𝙍π™ͺ𝙙𝙧𝙖: (Suaranya lembut, namun hati-hati) Ciestte... apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Ciestte menunduk, jantungnya berdebar kencang. Tenggorokannya tercekat, kata-kata terasa seperti duri yang menggores setiap kali dia mencoba berbicara. Dia mengepalkan tangan erat-erat, kuku-kukunya menancap di telapak tangan, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. β€œTing-ting-ting”. Bel pulang sekolah berdering, memecah kesunyian yang mencekam. Bagi Ciestte, suara itu seperti panggilan dari rumah, tempat di mana ia bisa merasa aman dan dicintai. Tanpa menunggu aba-aba, ia berbalik dan berlari, mencari kehangatan dan perlindungan. Dia tidak peduli ke mana dia pergi, yang penting adalah menjauh dari tatapan mata itu, dari bisikan-bisikan itu, dari rasa takut yang menggerogoti hatinya seperti virus. Ciestte berlari tanpa peduli ke mana dia pergi, menunjukkan keputusasaan dan keinginan untuk melarikan diri. Pak Rudra hanya bisa terpaku menatap punggung Ciestte yang semakin menjauh. Rasa bersalah menghimpit dadanya. Dia tahu, dia telah gagal melindungi anak itu. Ciestte masih berlari kencang dan terjatuh. Lututnya berdarah, telapak tangannya perih karena menahan tubuh saat jatuh. Namun, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan luka di hatinya. Dengan susah payah, ia bangkit kembali, air mata masih mengalir deras di pipinya. Tanpa sadar, kakinya melangkah, membawanya menjauh dari sekolah, menjauhi tatapan menghakimi. Samar-samar, Ciestte mulai menyadari lingkungannya. Aroma asin menusuk hidungnya, suara deburan ombak terdengar semakin jelas. Ia mendongak, dan jantungnya berdegup kencang. Di kejauhan, terlihat menara pengawas Hunter yang menjulang tinggi, siluetnya kontras dengan langit senja yang mulai menggelap. Tempat pekerjaan ayahnya. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š:"Apa yang harus kulakukan di sini?" gumam Ciestte, suaranya bergetar. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š:"Ayah pasti sedang sibuk.” Namun, kakinya seolah memiliki kemauan sendiri. Ia melangkah maju, mendekati gerbang menara pengawas. Seorang penjaga menghampirinya, wajahnya tampak bingung. Hunter Penjaga: (Dengan nada terkejut dan khawatir) "Ciestte?! Ya ampun, Nak, apa yang terjadi padamu? Kamu terlihat seperti habis dikejar hantu!" ​ Hunter penjaga: (Dengan nada lembut dan prihatin) "Ciestte, Sayang, ada apa? Kenapa kamu sampai seperti ini? Apa ada yang menyakitimu?” Hunter Penjaga itu menghela napas, lalu menatap Ciestte dengan tatapan iba. Hunter Penjaga:"Ayahmu baru selesai misi dan langsung pergi berbelanja. Katanya, dia ingin membelikan hadiah ulang tahun untuk putrinya. Apa... apa kau sedang mencari hadiah itu sampai jadi seperti ini? Ciestte terdiam. Ulang tahun? Ia bahkan lupa. Pikiran itu membuatnya semakin sedih. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š:(Dengan suara pelan, hampir tidak terdengar) "Ulang tahun... hari ini?" Hunter Penjaga itu tersenyum lembut, mencoba menghibur Ciestte. Hunter Penjaga:"Hahaha, kau ini lucu sekali. Bagaimana bisa lupa hari ulang tahun sendiri? Tapi jangan khawatir, ayahmu pasti akan memberikanmu hadiah yang spesial. Selamat ulang tahun ya, Ciestte!" Reno:(Mengulurkan tangannya) "Ngomong-ngomong, aku Reno. Panggil saja Paman Reno.” __________________________________ Reno adalah pria paruh baya dengan rambut yang mulai menipis dan mata yang selalu berbinar. Ia mengenakan seragam Hunter yang rapi, tapi ada sedikit noda kopi di kerahnya. __________________________________ Ciestte sedikit tersentak, lalu menyambut uluran tangan Reno dengan ragu. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š:"Terima kasih, Paman Reno," bisiknya. Reno yang melihat keimutan Ciestte, hatinya langsung meleleh. Matanya yang besar dan biru berbinar meskipun sedang sedih, pipinya yang sedikit memerah karena menangis, dan bibirnya yang mengerucut menahan isak tangis... semuanya membuat Ciestte terlihat sangat menggemaskan. Ia jadi teringat putrinya sendiri yang sudah lama tidak ia temui. Reno: (Dalam hati) "Ya ampun, anak ini... benar-benar seperti malaikat kecil.” Reno:"Kau terlihat tidak baik-baik saja, Ciestte. Ayahmu pasti akan senang melihatmu. Kenapa kau tidak masuk dan menunggunya di ruang tunggu? Aku akan membawakanmu beberapa peralatan P3K untuk mengobati lukamu. Dia tidak akan lama.” Ciestte mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang dan berterima kasih atas kebaikan Reno. Reno tersenyum dan membukakan gerbang untuknya. Reno: "Tunggu saja di sana ya. Aku akan segera kembali." Ciestte melangkah masuk, merasakan angin laut yang dingin menerpa wajahnya. Ia berjalan menuju ruang tunggu yang sederhana, di mana para Hunter biasanya beristirahat dan menunggu misi. Ruangan itu kosong, hanya ada beberapa kursi dan meja yang tertata rapi. Ciestte duduk di salah satu kursi, memeluk dirinya sendiri. Pikirannya masih kacau, tapi setidaknya, ia merasa sedikit lebih aman di sini. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š:"Hadiah ulang tahun..." gumamnya lirih. "Apa yang akan ayah berikan padaku?” Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang pria berbadan tegap dengan rambut acak-acakan dan mata yang ramah masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan seragam Hunter yang sedikit lusuh, tapi aura kepemimpinannya terpancar jelas. Itu adalah Zarion, ayah Ciestte. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š:”ayah?” Zarion tersentak kaget. Gerakannya reflek menyembunyikan boneka yang ia beli di balik punggungnya. Zarion:(Dengan nada sedikit terkejut) "Ciestte? Apa yang kau lakukan di sini?" Ciestte menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ia bisa melihat kelelahan di wajah ayahnya, tapi juga kelegaan karena melihatnya. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š:(Dengan suara pelan) "Aku... aku ingin bertemu ayah." Mata Zarion langsung tertuju pada luka di lutut dan tangan Ciestte. Ekspresinya berubah menjadi khawatir. Zarion: (Dengan nada cemas dan panik) "Ciestte! Astaga, Nak, apa yang terjadi?! Siapa yang berani menyakitimu?! Katakan pada Ayah, biar Ayah hajar orang itu sampai babak belur!" Reno kembali dengan peralatan P3K. Reno: "Kapten, sudah datang juga. Ciestte sepertinya butuh ini." Reno meletakkan kotak P3K di dekat Ciestte. Zarion melihat Reno, lalu luka Ciestte, lalu kembali ke Reno. Otaknya bekerja cepat. "Tunggu sebentar... kau menemukan Ciestte terluka, dan kau kebetulan punya P3K? Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.” Reno menggaruk-garuk kepala, merasa tidak nyaman dengan tatapan intens Zarion. "Wah, Kapten, jangan menatap saya seperti itu. Saya tidak melakukan apa-apa, sungguh!” Ciestte tertawa pelan, merasa geli dengan kecurigaan ayahnya. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: "Ayah, bukan Paman Reno! Aku hanya jatuh tadi." Ciestte menyeka air mata karena terlalu banyak tertawa. Reno menghela napas lega. "Terima kasih, Ciestte! Hampir saja saya diinterogasi habis-habisan oleh Kapten." Reno menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung. Zarion mendengus. "Tetap saja, Reno, terima kasih sudah menolong putriku." Zarion mengulurkan tangan, menjabat tangan Reno dengan erat. "Aku berhutang budi padamu.” Reno tersenyum lebar. "Tidak masalah, Kapten! Kapan saja!" Reno melirik Ciestte dengan prihatin. "Semoga harimu membaik, Ciestte.” Setelah Reno pergi, Zarion berjongkok di depan Ciestte, menatapnya dengan intens. Zarion:"Sekarang, ceritakan padaku.” Ciestte menjulurkan kedua tangannya, mencoba mengalihkan perhatian. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: β€œhadiah.” π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: "Hadiah dulu, baru cerita." Ciestte menatap ayahnya dengan mata memohon. Zarion: "Hadiah apa? Aku tidak membawa hadiah." Zarion mencoba menyembunyikan ekspresi bersalahnya. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: "Ciestte barusan lihat ayah memegang sebuah boneka. Paman Reno juga bilang kalau ayah sedang membelikan Ciestte hadiah.” Zarion menghela napas. "Aduh, si Reno, gak bisa diajak kerja sama." Zarion berdiri dan menggaruk-garuk kepalanya. "Baiklah, baiklah. Tapi janji, setelah ayah berikan hadiahnya, kau harus cerita semuanya." Ciestte mengangguk cepat, matanya berbinar. Zarion mengeluarkan boneka dari balik punggungnya. Itu adalah boneka robot kecil dengan rambut pink pendek dan mata merah menyala. Boneka itu mengenakan jubah biru tua dengan aksen emas, mirip dengan seragam Hunter. Meskipun tampak seperti robot, boneka itu memiliki ekspresi yang ramah dan menggemaskan. Zarion: "Selamat ulang tahun, Ciestte. Semoga kau suka hadiahnya.” Ciestte menerima boneka itu dengan hati-hati, matanya berbinar karena senang. Ia memeluk boneka itu erat-erat. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: "Terima kasih, Ayah! Ciestte suka sekali!” π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: β€œaku akan menamainya dengan nama marie.” Zarion tersenyum melihat kebahagiaan putrinya. "Sekarang, tentang apa yang terjadi di sekolah…” π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: eits…mending kita pulang, kita bicarakan sambil jalan. Zarion: "Sudah malam, benar juga. Ayo pulang." Zarion setuju, meskipun masih penasaran. Ciestte mencoba berdiri, tapi meringis kesakitan dan hampir terjatuh. Dengan sigap, Zarion menangkap Ciestte. Zarion:Hati-hati, Nak. Sepertinya lukamu masih sakit. Tanpa ragu, Zarion berjongkok dan menawarkan gendongannya. Zarion: Naiklah. Ayah gendong sampai rumah. Ciestte tersenyum lega dan naik ke punggung ayahnya. Ia memeluk erat leher Zarion dan menyandarkan kepalanya di bahunya. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: "Terima kasih, Ayah.” Zarion: "Sama-sama, Sayang. Sekarang, pegangan yang erat. Kita pulang.” Adegan beralih. Zarion berjalan dengan Ciestte dalam gendongannya. Keheningan menyelimuti mereka, hanya suara ombak yang terdengar. Setelah beberapa saat, Zarion memecah keheningan. Zarion: "Jadi... apa yang ingin kau ceritakan?" Nada suaranya lembut, tapi ada sedikit ketegangan yang terasa. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: (Dengan suara pelan) "Ayah... aku...apa aku sudah beberapa kali menghancurkan dunia ini.” Zarion tertawa kecil, tapi tawanya terdengar dipaksakan. Zarion: "Menghancurkan dunia? Kau ini lucu sekali. Apa kau sedang bercanda?" Namun, matanya menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya yakin. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: Aku tidak bercanda, Ayah.dia bilang pada ku β€œ dunia ini hancur oleh ku” Zarion: kalau begitu ceritakan pada ayah _________________________________ Ciestte menceritakan tentang dirinya seperti terkirim ke dunia lain. Waktu terasa seperti berhenti, pada saat ciestte akan mengeluarkan energi kegelapan (Semuanya menjadi sunyi dan gelap. Ciestte merasa seperti ditarik ke dalam pusaran air yang tak berujung.) (Ketika Ciestte membuka matanya, dia tidak lagi berada di Taman Bintang. Dia berada di tempat yang aneh dan tidak dikenal. Di sekelilingnya hanya ada kegelapan yang pekat, namun dia bisa melihat sosok seseorang berdiri di depannya. Sosok itu adalah seorang elf dengan rambut panjang berwarna merah muda yang berkilauan dalam kegelapan.) ???: (Dengan suara yang tenang namun tegas, namun ada nada kekhawatiran yang tersembunyi) "aduh. Kau hampir saja menghancurkan planet ini.” π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: (Bingung dan ketakutan) "Siapa kau? Di mana aku? Apa yang terjadi?” ??? : siapa aku? aku di tugaskan untuk menyelamatkan planet ini oleh tuan π™¨π™π™–π™£π™šπ™˜π™§π™€π™’. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: π™¨π™π™–π™£π™šπ™˜π™§π™€π™’? Siapa π™¨π™π™–π™£π™šπ™˜π™§π™€π™’? ???: (Mengabaikan pertanyaan Ciestte) "Jangan pernah mencoba menggabungkan sihir cahaya dan kegelapan seperti itu lagi. Kau tidak mengerti risiko yang kau ambil.” π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: hey, kau belum memberitahu ku tentang siapa π™¨π™π™–π™£π™šπ™˜π™§π™€π™’, dan siapa kau? ???: aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tubuh ini hanya bayangan.tubuh ku yang asli sedang menuju kemari ???: tunggu saat itu tiba dan aku akan mengajarimu sihir cahaya dan kegelapan π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: kenapa kau menghentikan ku? ??? : dunia ini hancur oleh mu, di garis waktu sebelumnya. π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: (Merasakan ketakutan yang semakin besar) "Kesalahan apa? Apa yang akan terjadi?” ??? : kamu gunakan sihir kegelapan saja dulu, kekuatan kegelapan mu masih lemah. ??? : β€œπ‘Όπ’Žπ’ƒπ’“π’†π’π’π’‚π’•π’Šπ’π’β€itu kata kuncinya, kau sudah terlanjur menggunakan kekuatan sihir jugakan. (Sosok elf berambut merah muda itu menghilang begitu saja, meninggalkan Ciestte sendirian dalam kegelapan. Ciestte merasa bingung, takut, dan penasaran. Siapa sebenarnya elf itu? Mengapa dia begitu peduli padanya? Dan apa yang dimaksud dengan kegelapan yang selalu mengintai?) (Tiba-tiba, Ciestte merasakan dirinya ditarik kembali ke dunia nyata.) (Waktu sudah kembali normal.) __________________________________ Setelah Ciestte selesai bercerita, Zarion terdiam. Ia terus berjalan, tapi langkahnya terasa berat. Zarion: (Dengan nada bingung dan khawatir) "Ciestte... Ayah tidak tahu apa yang harus Ayah katakan. Ceritamu terdengar seperti... khayalan yang mengerikan.” ​ π˜Ύπ™žπ™šπ™¨π™©π™©π™š: (Dengan suara sedih dan pasrah) "Aku tahu, Ayah. Mungkin aku memang gila.” ​ Zarion berhenti berjalan dan menurunkan Ciestte. Ia berjongkok di depan Ciestte dan memegang kedua tangannya. Zarion: (Memeluk Ciestte erat-erat) "Tidak, Sayang. Kamu tidak gila. Ayah akan selalu percaya padamu, apa pun yang terjadi. Kita akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, bersama-sama.” [Namun, di balik senyum hangat dan hadiah ulang tahun, Ciestte tidak bisa menghilangkan perasaan aneh yang mengganjal di hatinya. Mengapa Hunter tidak terlihat di kota? Mengapa Zern dan Pak Rudra bertingkah aneh?] Β©α΄³Λ‘α΅ƒαΆœα΄΅α΅‰α΅—α΅—α΅‰β°βΉβΉ
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD