Jangan macam-macam. Apalagi ikut campur urusan orang. Ini soal cinta yang harus diperjuangkan. Jadi, bersiaplah kalah dalam persaingan.
-Kang Dani Seblak-
Tanpa menunggu hari berganti minggu, apalagi minggu langsung berganti bulan. Denis segera mengejar dua manusia yang mengganggu kedamainnya, di saat semua orang menjaga jarak mengetahui hubungannya dengan Kang Dani. Ehh ... dengan lancang Desi dan Dayana mendekati. Ada banyak cacian yang sudah dirangkai, kedua tangan mengepal keras.
Kedatangan Denis disambut oleh Bu Dara sebagai guru Bahasa Indonesia. Jangan tanyakan mengapa Denis telat. Semua guru sudah tahu dan hanya mampu bersabar. Dari belakang Dena menabrak punggung Denis.
"Lu punya mata, gak!" maki Denis.
"Yee ... yang salah, elu!"
Keduanya pun berjalan malas menuju bangku ketiga di belakang. Denis yang menangkap tatapan Dikri menatapnya dengan ringisan bak jijik, membuat kepulan asap amarahnya bertambah.
"Apa lu liat-liat! Dasal Daki!"
Dikri mengelus dadanya mencoba bersabar. Bu Dara segera menerangkan bahasan hari ini tentang puisi. Semua penghuni kelas Akuntansi I mendengarkan dengan santai dan damai. Kecuali Denis, ia menatap kesal Dayana dan Desi di bangku kedua paling kanan. Tetap santai juga membuatnya gatal untuk menjambak rambut Desi yang menari-nari bak l***e.
Dikri yang duduk sendiri di belakang bangku Denis dan Dena hanya bisa memaklumi, keadaan jam pelajaran kedua penuh amarah menahan emosi hanya karena tukang seblak saja. Seperti biasa, selesai menjelaskan tentang puisi dan macam-macamnya Bu Dara meminta semua muridnya membuat puisi bebas empat bait.
"Silakan dibuat dari sekarang, ibu pergi keluar dulu," pamitnya seraya berjalan keluar tidak lupa menutup pintu.
Denis sudah berdiri berjalan dengan kedua tangan berkacak pinggang. Desi yang tahu keberadaan Denis sudah diam di sampingnya tetap santai.
"He! Sok buta, tuli, elu gak mampu ngejal Daniel jangan ngejal Ayang gua, dong!" ocehnya.
Semua orang menatap Denis biasa. Sejak hadirnya Denis yang tadinya berada di kelas Akuntansi X mereka semua sudah maklum. Sikapnya yang posesif dan gak jelas sekali. Bahkan sangat mencoreng nama baik kelas Akuntansi I karenanya. Daniel sebagai ketua kelas hanya mampu menonton pertunjukan gratis itu. Tidak jarang Denis juga selalu main tangan.
Selain menjambak, ia juga sering mencakar wajah musuh dengan kuku panjangnya. Dayana menatapnya malas, lalu berkata, "Buat puisi, bukan buat orang emosi!"
"Apa lo!" sentak Denis.
Desi mendongak. "Bodoamat, lo mau ngatain gua apa pun! Udahlah, ngapain ladenin manusia kek, dia!" Desi segera mencoret kertas putihnya dengan malas, mencoba merangkai kata.
Dena segera menarik tangan temannya itu untuk menenangkan. "Udah, lagian Ayang Daniel suka sama gua, jangan bela-belain gua gitu, ah!"
Please! Dena ngomong apaan, sih? Denis memilih duduk di bangkunya kembali. Tidak lama Bu Dara datang meminta karangan puisi segera dikumpulkan. Dayana kembali menjadi orang pertama, tidak biasa Dikri berjalan santai memberikan selembar puisi penuh diksinya.
"Dikri, ibu belum ngasih materi dengan diksinya loh. Dapat dari mana kamu?" tanya Bu Dara.
Dikri yang ditanya seketika mendapat belasan pasang mata menatapnya. "Eh, itu, Bu ... saya punya catatan dari temen," balasnya.
Bu Dara mengangguk. "Tapi bagus, terangkai apik. Pertahankan, ya!"
"Halah, buat puisi kek apa Si Daki?" hina Denis, ia berbalik malas menatap kedua lesung pipit Dikri yang melekuk masuk.
"Kenapa? Saya enggak rebut Kang Dani dari kamu, ih!" terang Dikri, takut mendapat ocehan Denis.
"Mana liat puisi lo!"
"Ih, naon kapan udah ke depanin barusan!" balasnya.
"Punya lo 'kan bagus, pasti ada puisi lainnya! Mana sini gua minta, Anjing!" pintanya memaksa.
Dena menoleh. "Ngapain, sih, Nis? Jangan bilang lo malah mau ngejar Si Dikri? Buat apa? Dia gak ganteng!"
Deg!
Dikri sadar diri, ia tidak jadi memberikan lembaran puisinya kepada Denis karena perkataan Dena membuatnya kecewa. Denis menatap kesal temannya itu tidak peduli, lalu memaksa Dikri memberikan puisinya. Terpaksa dengan hati terluka, Dikri menyerahkan rangkaian katanya yang lama dibuat.
Denis segera menyalin tulisan dari selembar kertas lusuh itu. Meskipun ia tak tahu arti dari diksi dalam puisinya, tetapi ia tetap menyalin dengan gampang. Sampai Bu Dara meminta karangan puisi segera dikumpulkan. Menjadi kesempatan bagi Denis, puisinya takkan jadi masalah. Sebelumnya ia membaca puisi tersebut, seketika ide muncul membuatnya tersenyum senang.
Bu Dara keluar dari kelas. "Dikli ...!"
Panggilan Denis membuat Dikri tak percaya dan hanya mampu melongo. Bukankah Denis selalu memanggilnya Daki? Lalu sekarang? Ah, pasti ada maunya.
"Lo kok ganteng, ya, hali ini!" sorak Denis dengan wajah penuh bunga-bunga.
Semua orang menunggu kelanjutan cerita Denis yang aneh di hari ini. Memuji Dikri ganteng? Sejak kapan?
"Naon atuh ih, saya mah enggak ganteng, Nis!" balas Dikri mulai salah tingkah.
Denis memilih duduk di bangku kosong samping Dikri yang hanya diisi ranselnya saja. "Ihhh, ganteng kok! Lo cocok banget pacalan sama Dena!" Tunjuknya membuat Dena shock setengah mati.
"Gua punya Ayang Daniel! Ogah sama Dikri, iw!" tolaknya.
"DENA!" sentak Denis.
"Apa? Gua gak suka sama Si Dikri, lu aja yang pacaran sama dia!" Dena pun berjalan manja menuju bangku paling ujung terdepan, di sana Daniel sedang santai memainkan ponselnya.
Denis melempar senyum manis, sedangkan Dikri sudah bersiap ingin keluar karena di saat keadaan grogi apalagi didekati cewek secantik Denis, adalah masalah gawat darurat karena ia akan merasakan kantung kemihnya penuh ingin mengeluarkan urine dengan cepat.
Sebelum Dikri benar-benar berhasil berlari, Denis sudah menahan pergelangan tangannya. "Eits! Dikli, buatin puisi dong buat Kang Dani, gua!"
Ah, ternyata itu alasannya? Dikri segera meminta waktu ke toilet. Tentu saja Denis tidak melepaskannya dengan gampang. Sepanjang jalan, Dikri harus berjalan di sampingnya. Sampai di depan toilet cowok, Denis bersandar di ambang pintu menunggu. Semua kaum adam yang siap masuk ke toilet selalu menyapa Denis terlebih dahulu.
"Makin cantik aja, nih!"
"Eh, Denis cantiknya gak luntur, heran."
"Oi! Denis nyasar, tolong arahkan ke jalan yang benar, a***y!"
Denis membalas lelucon mereka semua dengan senyum manisnya. Sampai keluarnya Dikri menjadi akhir menunggu di ambang pintu toilet.
"Dah, gua jalan duluan," pamit Denis, tanpa ragu segera menarik tangan Dikri untuk pergi.
Ketiga cowok yang menemani Denis dari tadi saling melempar tanya. Apakah tipe cowok yang patut bersanding dengan Denis menjadi turun drastis? Danu juga kalah, sekarang lihatlah! Lebih baik menggandeng wajah polos Dikri dengan dua lesung pipit menghiasi senyum kakunya.
"Anjir, gak mungkin 'kan gua harus berubah jadi pemulung?"
"Gak mungkin banget, ini Denis kena pelet kayaknya. Parah, sih!"
Di dalam kelas, Denis menemukan Dayana sedang membaca novel yang tebal. "Gak pusing apa tuh mata? Tiap hali baca mulu, nak aneh!"
Dikri segera melepas tangan Denis yang membuatnya salah tingkah. Beruntungnya Dikri tidak memiliki gebetan, jadi semuanya tetap aman. Ia mulai mengeluarkan alat tulis dan selembar kertas untuk merangkai kata yang diinginkan Denis.
"Lo langkai kata dengan sebagus-bagusnya! Inget, halus bagus banget!"
"Tentang apa?" tanya Dikri.
Denis menggigit ujung jari telunjuk kanannya. "Gua cinta, gua sayang, gua pokoknya suka sama Kang Dani!"
Dikri mengambil napas panjang. "Gitu doang? Kalo gua tambah pakek bahasa Sunda gimana? Dia 'kan dari Garut?"
"TELSELAH! Yang penting itu puisi cinta!"
Sekelebat ide jail membuat Dikri semangat merangkai kata. Denis sendiri memilih memainkan ponselnya yang ramai dengan postingan semua pembeli Kang Dani. Tidak lama Dikri menyerahkan selembar kertas yang sudah dilipatnya rapi. Denis tidak perlu membacanya karena ia yakin Dikri membuat puisi terbaik, tinggal menyerahkan dengan senang kepada Kang Dani berharap mendapat balasan puisi cinta juga.
Denis sudah pergi keluar, Dikri menahan tawa mengingat puisi yang dia buat dengan asal. "Meskipun kamu bau jigong, daku yakin pasti kakimu juga rorombeheun. Ohh ... Kang Dani, pujaan hati."