1. Tidak Seperti Mereka

1683 Words
*بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم* ⚠Ambil baiknya, buang buruknya⚠ ⚠Jangan judge suatu cerita, sebelum kamu mebacanya sampai tamat⚠ ?Selamat Membaca? ??? Segala sesuatu yang menimpa seorang muslim, baik berupa rasa letih, sakit, gelisah, sedih, gangguan, gundah-gulana, maupun duri yang mengenainya adalah ujian baginya. Dengan ujian itu, Allah mengampuni dosa-dosanya. (Muttafaq'alaih) ??? Rania baru saja pulang dari sekolah. Saat tiba di dalam rumah, tidak ada yang pernah berubah, semuanya kosong tanpa ada suara yang memecahkan keheningan. Setiap hari, Rania selalu merasakan ini, hidup di tengah-tengah keluarga yang tidak utuh amat menyakitkan. Sekarang, ia sudah tumbuh menjadi gadis remaja, banyak hal yang harus diceritakan kepada orang yang dia panggil ibu. Sayangnya angan itu sudah pupus sejak lama. Kesibukan Asri membuat Rania merasa sama sekali tidak punya ibu. Pekerjaan di luar sana sudah merenggut segelanya, kesibukan sudah menyita semua waktu yang Asri punya. Rania mendesah resah, entah apa yang harus dia lakukan untuk menyatukan keadaan yang sudah retak. Rania seolah merasa menjadi wanita paling menyedihkan, ayahnya sudah lama meninggalkannya, sementara Radit; kakanya, selalu menyalahkannya atas keadaan yang sudah ada. Bagi Radit, semenjak kehadiran Rania, semuanya menjadi kacau balau, ayahnya memilih untuk pergi meninggalkan ibunya. Radit merasa malu, tidak mau terus-terusan hidup dalam dunia kaku seperti di rumahnya. Hidup bebas di luar rumah dan mendapatkan kesenangan adalah obat yang bisa menenangkan pikiran. "Non Rania sudah pulang? Bibi ambilin minum ya, non?" Bi Nani menawarkan nona mudanya itu, Rania hanya tersenyum sambil menganggukan kepala sebagai respons. Sejak dulu, Rania dirawat perempuan paruh baya itu, wanita yang menggantikan posisi sang ibu. Tidak lama setelah itu, Bi Nani kembali membawa segelas air putih dia atas nampan, ia mengihdangkan air putih itu di atas meja. "Bik, kak Radit udah pulang?" "Setau bibik belum, non." "Kak Radit selalu bikin aku khawatir, aku itu nggak mau dia terus-terusan kayak gini." "Ya mesti gimana, Non. Den Radit itu orangnya keras kepala, percuma non Rania nasehatin dia." "Tapi aku yakin, Bik. Kak Radit pasti bakalan berubah kok." Bi Nani ikut sedih melihat keadaan rumah ini, tuan mudanya selalu pulang dalam keadaan tidak sadar, menurutnya kegiatan seperti itu mampu menghilangkan beban hidup yang menguasai pikirannya. Sementara Asri, sudah terlalu sibuk berbisnis, meninggalkan Rania yang masih sangat membutuhkannya. "Yaudah, bik. Aku mau ganti baju dulu, kayaknya aku harus cari kak Radit." Baru saja Rania ingin melangkah, tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar, seperti ditendang dari luar. Setelah itu, muncul sosok laki-laki dengan tampang arogan, rambutnya pun juga kusut masai. "Kak Radit!" Rania memekik, kemudian berlari ke arah Radit yang berjalan tertatih-tatih, Rania membuang nafas masam, mencium aroma meyengat dari mulut Radit. Lagi-lagi kakaknya pulang dalam kondisi mabuk seperti ini. "Kak Radit itu kapan sih berhenti bikin aku khawatir. Aku mohon kak, stop minum-minuman seperti itu, itu nggak cocok buat lambung kakak." Radit memandang Radia sepintas, kemudian tertawa sarkastis. Sama sekali tidak peduli dengan rancauan receh adiknya. Menurut Radit, Rania terlalu cerewet, semakin membuat kepalanya pening saat berada di rumah. "Emangnya kenapa, Rania? Ini itu hidup gue, gue yang minum, lo nggak usah ngatur-ngatur gue!" Radit berbicara dengan kesadaran yang sudah hampir habis, mulutnya mulai bergumam dengan suara yang tidak jelas. "Aku peduli sama kakak, karena aku sayang sama kakak." Melihat Radit seperti itu, membuat hati Rania kembali pedih. Rania sudah terlalu sering memberi nasihat kepada kakaknya. Seharusnya, laki-laki inilah yang membimbingnya, bukan sebaliknya. Rania sudah puluhan kali meminta agar mamanya mau meluangkan waktu untuk berbicara pada Radit. Tapi waktu seolah membuat mereka kontra untuk bertemu. Radit selalu pergi malam dan pulang pagi, sementara mamanya selalu pergi pagi dan pulang larut malam. Bahkan, yang membuat Rania sedih, ibunya sama sekali tidak peduli, menganggap anak laki-laki memang sewajarnya bertingkah seperti itu. "Kak, aku khawatir sama kakak. Aku nggak mau hidup kakak semakin rusak. Kalau aja ada yang bisa aku lakuin, pasti bakal aku lakuin buat kakak, asal kakak bisa jadi laki-laki baik." Rania menyentuh rambut Radit yang lembab karena keringat, kemudian mengusapnya dengan pelan. Hanya dengan situasi seperti inilah Rania bisa dekat dengan kakaknya, memandang wajahnya lama-lama. Jika saja Radit dalam keadaan sadar, sudah pasti dia akan berbuat kasar kepada Rania. "Aku sayang sama Kak Radit. Tapi, kenapa kakak nggak pernah mau dengerin aku, percuma kakak lampiasin kemarahan kakak dengan bersikap kayak gini." Kedua mata Rania berkaca-kaca, antara marah dan iba, perasaan ini kini bercambur menjadi satu. Rania sangat sedih saat melihat kakaknya yang menatapnya dengan antipati, tatapan tajam yang selalu menusuk kala Rania menatap kedua matanya. Setiap hari, Ia terluka saat melihat kakaknya pulang dalam keadaan seperti ini, setiap hari bahkan kegiatannya hanya dipenuhi dengan hura-hura. Ingin mendapatkam perlindungan dari seorang lakak, tapi nyatanya harapan itu benar-benar hanya sekedar angan, karena sampai kapanpun Ia dan Radit hanyalah dua titik yang memilih jalur untuk saling bertolak. "Non, Rania. Mendingan sekarang biarin den Radit istirahat. Nanti kalau dia liat non, non bisa dimarahin lagi." Rania mengangguk, menegakkan tubuhnya dan menjauh dari Radit. Bi Nani yang melihat Rania seperti itu merasa kasihan dengan keluarga majikannya sendiri. ??? Asri baru saja pulang dari kantor, pekerjaan seharian penuh benar-benar membuatnya lelah. Andai saja dulu dia tidak ditinggalkan suaminya, mungkin dia tidak perlu bersusah-susah payah untuk memenuhi kebutuhan kedua anaknya, menjadi tulang punggung keluarga bukanlah hal yang mudah bagi Asri. Tapi, ia terpaksa mengorbankan tugasnya sebagai ibu yang sesungguhnya, karena mereka masih bisa hidup tanpa memerlukannya di setiap saat. Asri merenggangkan otot-otot yang terasa keram. Asri tahu, suasana rumah ini memang seperti ini, selalu sunyi ketika sudah malam, Rania sudah pasti tidur, sedangkan Radit, Asri sudah tidak mau ambil pusing lagi, dia sudah terlalu lelah untuk menasehati anak itu. Dulu, dulu sekali. Asri tidak pernah menyangka akan mengalami hidup seperti ini. Menjadi seorang janda, yang memiliki status begitu menggelikan. Dulu, Asri sangat bahagia, apalagi saat kelahiran anak pertamanya; Radit. Ilyas begitu perhatian, sangat bersikap lembut dan benar-benar mencintainya. "Terima kasih, Asri. Aku berjanji, akan menjagamu dan anak kita. Aku tidak akan pernah meninggalkamu." "Iya, Mas Ilyas. Aku harap kita bisa mendidik anak kita sama-sama. Aku janji, akan jadi istri yang baik lagi." Asri tersenyum, lantas menatap bayi yang ada dalam pelukan Ilayas. Saat itu Ilyas dan Asri sangat-sangat bahagia, kehadiran putra mereka semakin menambah kebahagiaan di dalam keluarga mereka. Asri bisa melihat bagaimana bangganya Ilyas saat memdapatkan seorang jagoan kecil, terbukti saat Ilyas tidak membiarkan sang bayi lepas dari gendongannya. "Kamu tau?" "Hmm?" kedua alis Asri terangkat. "Suatu saat nanti, jagoanku ini akan menjadi lelaki sukses sepertiku, dia akan menjadi kebangganku karena kepintarannya." "Tentu, Mas. Dia akan pintar sepertimu." "Tentu, aku tidak sabar melihat dia tumbuh dewasa, menjadi orang sukses, mungkin lebih tepatnya akan menjadi seorang pemimpin." "Kita akan sama-sama melihatnya tumbuh dewasa, Mas. Nanti, saat dia menjadi seorang sarjana hebat, kita akan berdiri di sampingnya, mencetak sebuah foto untuk kita pajang dan kita pandang dengan bangga di hari tua." "Aku akan menunggu waktu itu tiba, sayang." Bibir Asri tertarik kesamping, merasa geli dengan kalimat tipu daya seperti itu, karena pada kenyataannya Ilyas tidak pernah menepati janjinya, semua ucapan manis itu hanya bertahan sesaat, tidak pernah benar-benar setia, pada akhirnya dia malah memilih pergi meninggalkan Asri bersama kedua buah hatinya. Karena orang itu, perempuan yang sudah merenggut kebahagiaannya, menghancurkan keutuhan rumah tangganya dan merengut ayah dari kedua anaknya. "Pembohong!" Kedua tangan Asri terkepal kuat, sampai kapan pun dia tidak akan pernah rela disakiti seperti ini. Berharap kedua orang yang sudah menyakitinya mendapatkan balasan yang setimpal. "Ibu...," Mendengar panggilan itu, sontak Asri menghapus jejak air matanya, tidak ingin terlihat lemah di depan anaknya. "Ra, kamu kenapa belum tidur?" "Aku sengaja nunggu ibu pulang." Kening Asri tampak mengerut, "Ada apa?" "Ibu, kenapa ibu nggak berhenti kerja aja?" "Maksud kamu?" "Ya ibu berhenti kerja, kita bisa usaha kecil-kecilan di rumah. Aku sama kak Radit butuh ibu untuk selalu di rumah." "Bagaimana mungkin ibu berhenti bekerja, Rania. Lagipula kalian sudah terbiasa dengan siatuasi seperti ini, kenapa sekarang kamu malah larang ibu buat bekerja, kebutuhan kita itu banyak, Rania. Bayar listrik, uang sekolah kamu, uang bulanan belum lagi tagihan yang lain. Hanya dengan bekerja seperti ini ibu bisa penuhi ini semua. Rania, ibu berjuang sendiri tanpa ayah kamu, harusnya kamu mengerti." "Tapi, Bu. Karena ibu jarang di rumah, kak Radit itu semakin nggak bisa dikontrol, dia makin sering minun-minuman terlarang itu, bu. Aku nggak mau kak Radit terus-tersan kayak gini." "Rania, kakak kamu itu laki-laki, biarkan saja dia seperti itu, ibu juga sudah kehabisan cara untuk menasehatinya, jadi biarkan saja, kalau dia bosan, dia akan berhenti sendiri." Rania mendesah resah, merasa tidak pernah diperhatikan dengan lebih. Rania benci dengan keadaan seperti ini, dulu Rania sering mendengar, bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya di luar batas kemampuannya. Tapi, sungguh ... Rania merasa cobaan ini begitu berat. Memiliki ayah yang terlalu b******n, membuatnya kehilangan sesuatu yang harus menjadi miliknya; kasih sayang seorang ibu. "Tapi tetap aja, ibu. Ini bahaya buat kak Radit." "Itu sudah risiko dia, Rania." "Kenapa ibu secuek ini, apa ibu sama sekali nggak sayang sama kami?" Mendengar tuduhan Rania, membuat wajah Asri merah pekat, memandang anaknya dengan tajam. "Kamu tidak perlu menuduh ibu yang tidak-tidak. Jika ibu tidak sayang dengan kalian, mungkin sudah sejak lama ibu akan pergi meninggalkan kalian, ibu bisa hidup sendiri tanpa perlu bersusah-susah payah pengurus kalian. Jangan membuat ibu semain sakit hati, Rania. Harusnya kamu dan kakak kamu bersyukur, karena ibu tidak meninggalkan kalian seperti ayah kalian yang tidak tau diri itu." Rania bisa melihat bagaimana kemarahan yang terpancar dari wajah sang ibu. Sungguh, sama sekali ia tidak bermaksud untuk memancing kemarahan sang ibu. "Sekarang, lebih baik kamu tidur, ibu juga butuh istirahat." Asri beranjak, meninggalkan Rania yang masih duduk di atas sofa. Rania hanya memandang kepergian mamanya dengan pilu, rasanya ingin menangis saja. Jika Rania bisa menukar takdirnya dengan orang lain, Rania pasti sudah melakukannya seja jauh-jauh hari, memiliki kedua orang tua lengkap yang begitu menyayanginya. Benak Rania semakin bertanya-tanya. Kenapa kehidupannya tidak sebahagia teman-temannya, hidup bahagia tanpa mengenal kesedihan. Tidak seperti dirinya, seseorang yang merasa belum pernah mencoba bahagia. ??? Bersambung Jazakillahu khairan khatsiiran ... Peluk jauh, Dimchellers_17 ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD