13. Berusaha Menjadi Lebih Baik

1421 Words
*بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم* ⚠Ambil baiknya, buang buruknya⚠ ⚠Jangan ngejudge suatu cerita sebelum kamu mebacanya sampai tamat⚠ ?Selamat Membaca? ??? "Jadi, kamu pacar Senna?" Radit mengangguk. Sebenarnya Radit sangat ingin menghabisi nyawa laki-laki itu. Seorang pria yang sudah merusak semua kebahagiaannya. Menghancurkan hati ibunya dan menghancurkan hidupnya. Ini sangat lucu di mata Radit. Mantan Ayahnya itu sama sekali tidak menunjukkan raut bersalah akan masa lalunya, membuat Radit merasa sangat muak. Laki-laki itu lebih memilih untuk memberikan perhatiannya kepada anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Apalagi istri keduanya yang sama sekali tidak bisa memberinya keturunan. Bodoh! Ya, Radit menganggap bahwa mantan Ayahnya begitu bodoh. Lihat saja, sebentar lagi kerusakan besar itu akan terjadi. Ia akan menjadi orang pertama yang menertawakan laki-laki b******n itu. "Janga dia, ya. Jangan sakitin dia, karena Om sangat menyayanginya," pinta Ilyas penuh harap. Radit tersenyun, kemudian kembali menganggukkan kepala sebagai respons. "Om yakin, kamu adalah orang yang tepat untuk menjaga, Senna." "Tentu, Om. Om bisa pastikan bahwa saya satu-satunya orang yang bisa membuat Senna menjadi wanita paling bahagia. Saya akan membuatnya menjadi seorang ratu." Ilyas tersenyum bangga, kemudian menepuk pundak Radit bangga. Radit melirik tangan Ilyas yang ada di pundakknya. Sangat tidak rela laki-laki itu menyentuhnya. Tapi, Radit harus bersabar. Ini semua demi kelancaran rencananya. "Terima kasih, Radit." "Oh iya, Om. Kata Senna, tante Sarah itu istri kedua Om, kan? Terus dimana istri pertama Om?" Ilyas hanya tertawa. Membuat Radit merasa tersinggung. "Senna itu suka ngaur. Om nggak punya istri pertama, kok." Ilyas menjawab santai. Seolah-olah jawaban yang ia berikan itu benar. "Oh, ya?" tanya Radit penuh selidik. Kebenciannya pada Ilyas semakin memuncak. Laki-laki itu tidak pernah menganggap kehadiran keluarga lamanya. "Sudalah, itu tidak penting." Tanpa Ilyas tau, Radit sedang memperhatikannya dengan tatapan menusuk, tidak sabar ingin segera menghancurkan pria b******n itu. ??? Selama tiga hari Rania tidak pulang ke rumah. Ia pikir Ibunya akan menunggu di depan pintu dengan raut khawatir, kemudian menyambutnya dengan penuh suka cita, memeluknya atau bahkan menangis karena terlampau cemas. Tapi, bayangan itu sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Semuanya tetap sama, aktivitas tetap berjalan sesuai dengan porsinya. Asri tetap pada kesibukannya dan Radit, entalah. Rania belum bertemu lagi dengan kakaknya itu. "Ya Allah, Non. Bibik itu khawatir banget sama, Non Rani. Kemana aja, Non. Kenapa Non nggak pulang? Non udah bikin bibik cemas setengah mati." Rania hanya diam saat ada di dalam pelukan Bi Nani. Tapi, air matanya tidak berhenti mengalir. Seandainya Ibunya bisa seperti perempuan ini, mungkin Rania tidak perlu menanggung beban seberat ini. "Non itu perempuan, gimana kalau terjadi sesuatu sama Non Rani?" "Maafin aku, Bi." "Lain kali jangan diulangin lagi ya, Non. Sekarang Non Rani mau makan apa? Biar Bibik masakin. Tapi, setelah ini Non harus cerita sama Bibik. Kamana aja Non selama ini." Rania hanya mengangguk. Setidaknya ada Bi Nani yang menemaninya. Perempuan yang memberikan kebutuhan Rania sebagai seorang anak. Sekarang, Rania mengerti. Allah memberikan asisten rumah tangga yang begitu baik, karena dari perempuan itu, Rania bisa merasakan perhatian seorang ibu. "Jadi, Non mau makan apa?" "Terserah Bibik aja. Apa pun yang Bibik masak, aku pasti bakal makan." Bi Nani hanya tersenyum. "Non tau nggak? Kemarin Den Radit nanyain Non Rani, loh. Pas bibik jawab Non nggak pulang-pulang, kayaknya Den Radit itu khawatir deh." "Masa sih Bi?" tanya Rania tak percaya. "Iya, Non. Bibi Serius, terus Den Radit pergi. Mungkin nyari Non Rani, buktinya samai sekarang belum pulang lagi." "Terus Kak Radit nggak bilang apa-apa sama, Bibik?" "Enggak sih, Non. Tapi Bibik yakin, Den Radit khawatir sama Non Rani, soalnya keliatan dari mukanya." Mendengar itu semua, Rania merasa dikelilingi Euforia. Benarkah? "Kayaknya nggak mungkin, Bi." "Loh, kenapa nggak mungkin?" "Ya, aneh aja. Kak Radit itu 'kan nggak pernah mau peduli sama aku." "Itu namanya Non nggak percaya sama Allah. Kan Allah yang bakal bolak-balikin hati manusia. Meskipun Den Radit itu orangnya kasar, pasti dia juga sayang sama Non Rani, kan Non Rani satu-satu adik yang dia punya." "Soalnya sebelumnya aku sempat berantem sama Kak Radit. Sampai dia nampar aku." "Apa?" Bi Nani terkejut bukan main. Masih tidak percaya kalau Radit sampai tega berlaku kasar seperti itu. "Tapi, nggak apa-apa kok. Sekarang aku sadar, kalau nggak ada ujian yang Allah kasih sama hambanya kecuali dia bisa ngelewatin itu semua. Kemarin aku ngerasa bodoh banget, cuma karena masalah ini, aku hampir bunuh diri dan ngerasa putus asa." Rania menundukkan kepalanya. Jika saja saat itu nyawanya berhasil melayang, mungkin saat ini dia sudah tersiksa akan azab yang Allah berikan. "Astagfirullah, Non. Kenapa Non sampai lakuin itu?" "Entalah, Bik. Yang jelas aku ngerasa aku udah nggak sanggup. Tapi, beruntung ada cowok yang selamatin aku, kata-katanya bikin aku sadar dan nggak mau ngulangin tindakan bodoh itu lagi. Kalau dia nggak datang tepat waktu, mungkin sekarang aku udah nggak ada di dunia." Bi Nani mendesah, kemudian menggenggam tangan Rania. "Itu tandanya Allah masih sayang sama Non. Allah masih pengen Non Rani menjadi manusia lebih baik, lewat laki-laki itu." "Makasih ya, Bi. Selama ini cuma Bibik yang ada buat aku, aku sayang banget sama Bibik." Bi Nani mengangguk, kemudian kembali membawa Rania ke dalam pelukannya. Perempuan itu tidak pernah habis pikir, majikannya bisa menyia-nyiakan anak yang sudah dia mikiki, sementara dirinya sendiri, sangat ingin memiliki seorang anak, tapi Allah tak pernah memberinya, tapi tidak apa. Ia tahu, pasti ada alasannya kenapa Allah tidak memberikannya seorang anak yang lahir dari rahimnya sendiri. "Bibik juga sayang banget sama Non Rani. Mulai sekarang, Non harus lebih banyak berdabar, anggap aja semua cobaan ini kayak kita lagi puasa, bikin lemes sih, tapi di balik itu kita kan dapat pahala," kata Bi Nani sambil tertawa pelan. "Iya Bik. Bibik janji ya, harus ada di deket aku terus, tetap kasih nasehat kalau aku salah." "Iya, Non. In syaa Allah." ??? "Tuh kamu liat sendiri kan gimana nyebelinnya tante aku itu, rasanya aku pengen cakar-cakar wajah dia itu!" kata Senna gemas, kedua tangannya terasa gatal untuk melakukan perlawanan kepada wanita itu. "Kenapa nggak kamu lakuin aja? Mungpung kita masih di sini, kalau perlu kamu cekek ia sampai mati." Radit menjawab santai. Saat itu mereka masih berada di dalam mobil, belum meninggalkan rumah mewah Senna. "Kamu gampang bilang tinggal bunuh, nanti aku bisa masuk penjara, lagian kenapa kamu berambisi banget suruh aku buau bunuh dia? Kamu punya masalah sama dia?" tanya Senna penuh selidik. "Iya. Masalah aku sama dia itu satu. Yaitu nyakitin hati kamu, aku nggak terima orang yang aku cintai, dimaki-maki kayak tadi." Radit menggenggam tangan Senna, kemudian menatap mata Senna dalam-dalam. "Kamu harus lebih keras dari dia. Tunjukin sama dia kalau kamu nggak selemah yang dia pikir. Ada aku yang akan selalu dukung kamu." Senna kehabisan kata-kata, pengakuan Radit ini semakin membuatnya merasa diperlakukan sangat istimewa. "Mending sekarang kamu ikut aku. Kita lupain masalah kamu ini. Aku yakin kamu akan suka dengan kejutan ini." "Kejutan? Kamu siapin kejutan buat aku?" "Apa sih yang enggak buat pacar aku yang cantik ini." Radit tersenyum miring. Kemudian membawa Senna meninggalkan rumah itu. Ini saatnya bagi Radit. Lihat saja, kejutan yang dia berikan sangat menyerukan. "Kamu emang paling bisa bikin mood aku itu membaik. Kamu tau nggak Radit? Aku sangat mencintai kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu, kalau sampai kamu ninggalin aku, aku bakal bunuh diri." "Oh ya? Jadi cinta kamu sedalam itu?" Senna menganggukkan kepala. Radit memandang Senna penuh cinta, memberikan senyuman yang sulit diartikan. Tapi, Radit menyukai ini, dengan begitu semua rencananya akan berjalan dengan lancar. "Tuh kan, aku penasaran. Emang kita mau kemana sih? Kamu mau ajak aku kemana, sayang." "Kalau aku kasih tau, nggak jadi kejutan dong?" "Dikit aja. Aku kepo." "Nanti." "Ih Radit. Apa perlu aku cium kamu dulu?" "Kalau pun kamu cium aku, aku tetap nggak mau ngasih tau. Karena ini kejutannya beda." Senna mendesah, kemudian memorotkan bibirnya kedepan. Penasaran setengah mati. Bagi Senna, Radit itu penuh teka-teki. Pesonanya tidak pernah membuat Senna merasa bosan. "Adik kamu udah pulang?" ta ya Senna giba-tiba. Radit diam beberapa saat. "Belum." "Pasti dia marah karena kamu tampar waktu itu." "Udah, biarin aja. Kalau dia tau aku nyari dia, yang ada dia malah ketagihan, dikerasin sedikit langsung pergi." "Jadi kamu nggak peduli?" Radit mengangkat bahu acuh. "Sekarang yang paling penting buat aku itu kamu. Bukan dia atau pun Ibu, aku. Aku cuma mau habisin malam ini berdua sama kamu." Kemudian Radit mencium tangan Senna yang ada di genggamannya. Senna tersenyum. Benarkah begitu? ??? Bersambung Afwan, lama tidak menyapa, apalah ide lagi ilang ? Peluk jauh, Dimchellers_17 Jazakillahu khairan khatsiiran ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD