Setelah Dewa dan Maura meninggalkan ruangan dengan ancaman yang menggema di benak mereka, Utami dan Alex berdiri tertegun, menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati putra mereka. Keheningan menimpa mereka seperti beban berat yang tak tertahankan. Rasa takut dan khawatir mulai merayap dalam pikiran mereka. Ancaman Dewa untuk melaporkan mereka ke polisi bukanlah sekadar ledakan emosi—itu adalah peringatan nyata tentang konsekuensi serius dari tindakan mereka. Utami merasakan tenggorokannya mengering, hatinya berdegup kencang, sementara pikiran-pikirannya kacau balau. Selama bertahun-tahun, ia selalu merasa bahwa semua keputusan yang ia buat untuk Dewa adalah demi kebaikannya. Dalam benaknya, Maura bukanlah wanita yang tepat untuk putranya. Namun, kini setelah semua terbongkar, Utami tid

