Sejak berada di sekolah menengah pertama, Zakiya mulai menutup dirinya dan berfokus pada sekolahnya. Harusnya pada masa itu dirinya tengah bersenang-senang ala gadis kecil yang akan beranjak remaja. Namun, ia malah menghabiskan waktunya bersitatap dengan buku pelajaran. Zakiya kecil membangun tembok tinggi yang ia bangun dengan sikap dingin dan tidak pedulinya. Ia hampir tidak memiliki seseorang untuk diajak mengobrol kala itu. Teman-teman yang datang padanya pasti akan pergi. Entah karena Zakiya yang tak menganggap mereka atau memang ia yang tak asik. Hingga akhirnya ia lulus, Zakiya tidak memiliki teman dekat. Saat berada di sekolah menangah atas, Zakiya mengira bahwa hidupnya akan persis seperti warna rok seragamnya. Abu-abu. Namun, tak apa, selama ia masih terus membawa piala di set

