Mistake

1123 Words
Pagi ini cuaca terasa hangat dan memberikan kesan segar. Leon yang dimanjakan oleh hangatnya cuaca hari ini tidak menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 08.00. Dalam seminggu Leon sudah empat kali terlambat ke sekolah dalam bulan ini. Dan hari ini, adalah kali ke lima. Jam beker sedari tadi sudah bersuara berusaha menyadarkan Leon dari mimpinya di atas kasur. Mama Leon pun bahkan sudah menggedor kamar anaknya yang entah mengapa dalam bulan ini seringkali terlambat bangun. Mustahil bagi Leon saat ini untuk bisa sampai ke sekolah tanpa terlambat. Bahkan saat ini barisan apel pagi sekolah pasti sudah dibubarkan. Namun Leon masih berada di atas kasur seakan menyatu. Leon bangun dan mendapati jam di nakas sebelah tempat tidurnya menunjukkan jarum panjang tepat di angka delapan. Leon terkesiap dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Didapatinya buku-buku berantakan di atas tubuhnya yang semalaman tidur tertelungkup. Segera Leon menuju kamar mandi dan hanya sempat menggosok gigi tanpa mandi. Bagaimana mungkin siswa bersekolah dalam keadaan belum mandi. Tapi itulah kenyataannya. Keadaan yang tidak memberikan cukup waktu untuk mandi sehingga mau tidak mau Leon terpaksa berangkat sekolah tanpa mandi. Di sekolah dilihatnya lapangan sudah kosong. Kelas-kelas sudah terisi oleh guru yang mengajar dan murid-murid yang mendengarkan. Sedangkan dirinya baru saja tiba di sekolah. Pelan-pelan Ia menuju kelasnya sambil berharap guru mata pelajaran matematika saat itu belum hadir. Sia-sia harapannya pagi itu. Guru matematika yang diketahui guru yang paling disiplin ternyata sudah mulai mengajar di kelasnya. Melihat hal itu, Ia tentu tidak berani mengambil resiko menginterupsi kegiatan belajar mengajar di kelasnya. Akhirnya, Ia menuju ke kantin sekolah. “Kamu darimana? Kok baru datang?” tanya Sisil kepada Leon yang sedang meletakkan tas nya di bangku tempatnya duduk. Tanpa menjawab, Leon langsung duduk dan menidurkan kepalanya di meja. Sisil merasa heran dan sempat mengira Leon sedang sakit. Tiba-tiba saja seorang ketua kelas memanggil nama Leon Dasuki Hutama di depan kelas. Teman Leon yang lainnya terdiam. Ada perlu apa guru bimbingan konseling memanggil Leon. Biasanya murid yang dipanggil ke ruangan bimbingan konseling ialah murid yang perlu dibimbing secara privasi langsung oleh guru bimbingan konseling. Dan kebanyakan alasannya karena permasalahan yang menyangkut sekolah. “Cih ... “ respon yang diberikan Leon tentunya membuat teman-temannya semakin terkejut dan keheranan. Leon bangkit dari tempat duduknya dan segera meninggalkan kelas. Dengan malas Ia berjalan menuju tempat yang diberitahu oleh ketua kelasnya. Sepanjang jalan Ia sudah mengetahui kalau Ia pasti akan diberi surat peringatan atau bahkan surat panggilan orang tua akibat keterlambatannya datang ke sekolah. Di depan ruangan bimbingan konseling Ia masih mendecih tanda Ia benar malas menanggapi hal ini. Diketuknya pintu ruangan tanda meminta izin untuk masuk karena menghadiri panggilan tadi. Tok... tokk... Dengan pelan Ia membuka pintu ruangan dan mendapati guru bimbingan konselingnya sedang menulis sesuatu di atas meja kerjanya. Leon tanpa sengaja melihat tulisan itu ya g ternyata berupa surat. “Duduk, Leon” Bu guru mempersilahkannya duduk dengan nada sedikit ketus. “Saya benar-benar tidak habis pikir. Dalam sebulan ini kamu terlambat sudah lima kali. Mau ditaruh dimana muka saya punya anak murid yang biasanya juara umum ini malah terlambat seperti itu. Bahkan sampai bolos mata pelajaran” Leon yang begitu duduk langsung disambut protes dari gurunya hanya bisa terdiam dan menunduk. Dalam hati amat kesal tapi mau bagaimanapun ini merupakan kesalahannya sendiri. “Ada apa sama kamu, Leon? Tidak biasanya kamu seperti ini?” tanya Bu guru yang hanya dijawab hening oleh Leon. “Baiklah kalau kamu tidak mau membicarakan ini. Surat ini tolong dikasih ke orang tua kamu. Besok saya tunggu di sini. Silahkan kamu keluar dan kembali ke kelas” Leon pun keluar ruangan sambil membawa sebuah amplop putih berisi surat panggilan orang tua yang ditujukan ke orang tua Leon. Di perjalanan menuju kelas, Leon memikirkan bagaimana Ia akan memberikan surat ini ke mamanya tanpa sepengetahuan papanya. .. “Ma” panggilnya singkat dari depan pintu kamar orang tuanya. “Ya, Leon. Ada apa nak? Kenapa?” tanya sang mama. Dengan ragu Ia mengeluarkan amplop putih pemberian gurunya tadi. Tangannya memegang amplop itu, namun matanya menelusuri ekspresi mamanya. Keduanya masih berdiri di depan kamar orang tuanya. “Ma, tolong jangan bilang papa ya” Leon memohon sambil memegang kedua tangan mamanya. “Ini apa?” Mama yang keheranan diberikan surat seperti itu dan bahkan dipesani untuk tidak memberitahu papanya. Dengan lembut mamanya mengusap pipi Leon sambil mulai membuka amplop tersebut. Dilihatnya isi dari suratnya yang menyatakan bahwa Ia dipanggil ke sekolah karena kesalahan anaknya yang sudah terlambat sebanyak lima kali dalam satu bulan ini. Mama memberikan senyum kepada Leon. Tidak biasanya anaknya berbuat kesalahan seperti ini. Walaupun kesalahannya hanya berupa keterlambatan datang ke sekolah, namun bagi orang yang biasa mendapat juara di sekolah tentunya hal itu sangat mengecewakan. Yang lebih mengecewakan lagi, ternyata Leon bolos di beberapa mata pelajaran dan menyebabkan nilai hariannya kosong. “Yaudah besok mama datang ke sekolah. Tapi mama gak janji untuk bisa nutupin semua dari papa” Papa Leon memang sibuk dan sering menghabiskan waktu bekerja di luar rumah. Tapi bukan berarti Ia tidak mengetahui keadaan keluarganya. Lambat laun pasti papanya sadar akan kesalahan anaknya di sekolah. Sore hari yang hangat ini dimanfaatkan mama Leon untuk mengajak anaknya membicarakan mengenai kesalahan yang telah dibuatnya. Diseduhnya teh hangat dari bunga krisan yang telah dikeringkan. Disajikannya untuk anak tercintanya di meja yang terdapat di teras rumah keluarga Hutama. Dielusnya pundak Leon yang duduk di sebelahnya. “Kamu kenapa? Ada yang mau diceritakan ke mama?” Yang ditanya hanya diam dan memberi tatapan kosong ke jalanan di luar pagar rumahnya. Jauh di dalam hatinya Ia kesal karena gurunya membesarkan masalah yang menurutnya hal biasa, namun tetap merasa bersalah karena membuat mamanya kecewa dan harus menutupi kesalahannya itu dari papanya. Leon menunduk dan mulai meraih tangan mamanya. “Aku belakangan susah tidur,Ma. Aku khawatir karena ujian sekolah sebentar lagi dan bahkan ujian masuk perguruan tinggi pun juga sebentar lagi” Leon total berbohong mengenai penyebab Ia terlambat bangun belakangan ini. Tidak biasanya Ia berbohong seperti ini, apalagi berbohong ke mamanya. Sangat tidak sikap dan sifat dari Leon. “Wajar kamu khawatir, Nak. Tapi gak wajar kalau sampai memengaruhi sekolahmu kayak gini” Mama mengelus punggung tangan anaknya. “Mama yakin segimanapun mama nutupin dari papa, pasti papa tau” tambahnya. “Ma, Leon minta maaf” Leon menunduk tidak berani melihat wajah mamanya. Sang mama yang melihat ketakutan dan kekhawatiran dari wajah anaknya pun langsung meluluh hatinya dan memeluk anaknya itu. . “Pagi, Bu. Saya orang tua dari Leon Dasuki Hutama” “Oh iya Ibu, silahkan masuk” Di ruangan bimbingan konseling , mama Leon hadir dan berbicara mengenai kesalahan Leon. Ibu guru meminta agar Leon diajarkan kedisiplinan lebih lagi agar tidak terulang kesalahan yang sama. Ibu guru juga menyampaikan jika kesalahannya ini akan memengaruhi peringkatnya di sekolah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD