Konser

2611 Words
    Farrell dan kembar ABC telihat dinaungi oleh mendung. Kini sudah tiba di akhir minggu. Tentu saja Farrell dan ketiga puntranya mendapatkan libur kerja. Seharusnya keluarga Dawson berkumpul dan menikmati akhir minggu mereka dengan nuansa kekeluargaan yang kental. Bahkan, kembar ABC dari jauh-jauh hari sudah merencanakan hal apa saja yang akan ia lakukan bersama Princess di akhir minggu nanti. Sayangnya, rencana mereka itu gagal total karen Princess sudah memiliki rencananya sendiri. Ya, Princess mendapatkan izin untuk pergi ke konser musik.     Walaupun sudah memberikan izin, baik Farrell maupun kembar ABC sama sekali tidak mau pura-pura dan menunjukkan jika mereka memang sebenarnya tidak senang saat Princess pergi ke tempat umum yang ramai tanpa ada lapisan keamanan yang mengikuti dan melindunginya. Ya, Princess memang tidak mau pergi ditemani oleh pengawal atau bahkan ketiga kakak kembar dan ayahnya. Princess hanya ingin pergi dengan Tano, hanya dengan Tano sahabatnya yang berdalih mengajak Princess nonton konser.     Menyadari jika suasana hati suami dan ketiga jagoannya sama sekali tidak tengah dalam situasi yang baik. Riri tersenyum dan masing-masing memberikan kecupan pada pipi mereka. Hal itu rupanya bisa membuat suasana hati mereka membaik satu tingkat. “Jangan memasang raut seperti itu, jika Princess melihat, putri cantik kita itu pasti akan merasa kecewa.”     Karena ucapan Riri itulah, keempatnya dengan kompak memeperbaiki raut wajah mereka hingga lebih enak dilihat. Hanya saja, begitu melihat Princess yang turun dari kamarnya menggunakan gaun, kembar ABC dan Farrell kembali dengan raut wajah menyeramkan mereka. “Princess, ganti baju!!” seru keempatnya dengan kompak.     “Memangnya kenapa? Princess tidak terlihat cantik?” tanya Princess sembari menunduk menatap gaun yang ia kenakan.     Bukannya tidak terlihat cantik, Princess malah terlihat sangat cantik. Dengan gaun kuning lembut dan rambut yang dikepang menjadi satu, Princess terlihat begitu manis. Princess seakan-akan menjadi perwujudan seorang putri yang nyata. Namun, baik Farrell dan kembar ABC sama sekali tidak akan mengizinkan Princess berdesak-desakan dengan orang yang tidak dikenal hanya menggunakan gaun seperti itu. Sayangnya, keempatnya tidak bisa mengatakan hal itu dengan jujur. Karena jika iya, Princess malah akan marah.     Dengan alasan itu, semua orang kompak memberikan waktu dan tempat bagi Aio sebagai jubir mereka. Tentunya, karena Aio yang paling bisa diandalkan, dan karena Princess memang sangat mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakak sulungnya itu. Aio berdeham sebelum menjawab, “Princess lebih baik mengenakan jeans dan kaos. Pasti itu akan terlihat lebih cocok. Heels seperti itu tidak cocok digunakan untuk menonton konser. Akan lebih nyaman menggunakan sepatu kets. Princess akan lebih leluasa nantinya.”     Riri yang mendengar ucapan Aio tak bisa menahan diri untuk mengulum senyum. Putranya itu memang sejuta cara untuk membuat Princess mengerti tanpa harus meninggikan suara atau bahkan bersikap kasar pada adiknya itu. Salah satu sifat Aio yang sangat bisa diandalkan oleh Riri. Karena Aio tampaknya kesulitan meyakinkan Princess, maka saat itulah Riri harus turun tangan. “Sayang, Mama ingat sudah membelikanmu sweater yang manis. Apa Princess bisa menggunakan itu saja? Mama dengar malam ini akan sangat dingin, Mama tidak mau jika Princess sampai kedinginan di sana.”     Mendengar apa yang dikatakan oleh Riri, Princess tak berpikir dua kali untuk mengangguk. “Princess akan ganti, Ma!” seru Princess ceria sebelum beranjak naik kembali ke kamarnya yang memang berada di lantai dua.     Kembar ABC menghela napas lega karena Princess mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Riri. Ah sebenarnya Princess tidak pernah sekali pun menolak apa yang dikatakan oleh Riri. Berbeda hal dengan perkataan kembar ABC dan Farrell. Jika Princess tidak setuju atau pun tidak senang, Princess memiliki sejuta cara untuk mematahkannya. Princess selalu mendapatkan apa yang ia mau.     Tak lama, seorang pelayan datang dengan Tano yang mengikutinya. Pemuda itu tampak tampil tampan dengan setelan kasual yang melekat ditubuh jangkung dan kurusnya. Meskipun kurus, jangan kira jika Tano tidak memiliki otot. Meskipun tidak senang berkelahi, jika Tano memberikan bogem mentah, dirinya bisa membuat penerima bogemannya itu setidaknya mengalami patah tulang hidung. Tano melangkah mendekat pada anggota keluarga Dawson tersebut dan menciumi satu persatu punggung tangan kanan mereka.     “Tano tampan sekali. Mama suka melihat Tano memakai pakaian santai seperti ini,” puji Riri jujur.     Namun, baru saja Tano mau menjawab keramahan pujian yang diberikan Riri, kembar ABC lebih dulu menyerobot. “Aio hari ini juga menggunakan pakaian kasual, Ma. Apa Mama tidak mau memuji Aio?” tanya Aio.     “Beben juga hanya mengenakan kaos polos, apa Beben tidak terlihat tampan?” tanya Benny menyusul.     “Cencen juga! Cencen seharusnya jug aterlihat sangat tampan saat ini.”     Belum juga Riri memberikan reaksi, Princess yang turun dari tangga sudah kembali menyita perhatian. Princess kini sudah berganti pakaian menggunakan jeans panjang berawarna biru langit dan sweater putih dengan sulaman kelinci kecil di dadanya. Rambut Princess disatukan dan ditutupi oleh sebuah topi yang senada dengan sweater serta sepatunya. “Ah, Tano sudah sampai! Wah, ternyata kita sehati!” seru Princess saat menyadari jika pakaiannya dan Tano memang sangat matching. Jika ada yang melihat keduanya, pasti akan menyimpulkan jika keduanya adalah pasanya kekasih.     Tano memutar bola matanya saat mendengar ucapan sahabatnya itu. Tipe Princess sekali. Tano menatap jam tangannya. “Apa mau berangkat sekarang?” tanya Tano.     Princess mengangguk. “Princess ingin jalan-jalan ke mall dulu,” jawab Princess.     “Tapi kan, masih ada banyak waktu hingga nanti malam. Kalau begitu kalian akan berjalan-jalan dalam waktu yang lama, dong?” tanya Cencen.     Princess menoleh dan mengerucutkan bibirnya pada kakaknya itu. “Ih, Abang Cencen kepo! Kalo Abang mau jalan-jalan, ajak aja Kak Ai sama Kak Beben.”     Cendric menggeleng. “Abang enggak mau jalan sama pria bangkotan. Maunya jalan sama Princess cantik.”     Mendengar jika mereka disebut sebagai pria bangkotan, Benny dan Aio dengan kompak masing-maisng meginjak kaki Cendric hingga membuat adik mereka itu mengerang kesakitan. Melihat tingkah ketiag kakaknya itu, Princess sama sekali tidak bisa menahan diri untuk menggeleng dan berkata, “Hah, sayang. Padahal Abang ABC ganteng, tapi ternyata jomblo ngenest.”     Setelah memberikan serangan telak pada ketiga kakaknya, Princess pun segera mengajak Tano untuk pamit dan beranjak pergi untuk berangkat. Saat itulah kembar ABC baru sadar dari keterkejutan mereka. Mereka baru saja akan mengungkapkan protes mereka pada Princess, tetapi Princess sama sekali tidak terlihat lagi. Kembar ABC hanya bisa menahan kekesalan mereka, sebelum Farrell memberikan perintah pada mereka.     “Apa kalian akan tetap di sana? Cepat ikuti mereka!” perintah Farrell membuat Riri menoleh dengan spontan.     Kembar ABC mengangguk dan pergi setelah mencium tangan Riri serta Farrell. Saat itulah Riri berkata, “Jika Princess tau dia diikuti, dia pasti akan marah pada Kang Mas dan Abang ABC. Kenapa Kang Mas tidak menepati janji?”     Farrell merangkul dan mengecup kening Riri sebelum menjawab, “Princess akan marah jika Princess tau bahawa dia diikuti. Tapi tenang saja, Princess tidak akan menyadari hal itu.”     Beberapa saat kemudian Gwen datang dan membungkuk hormat di hadapan Farrell serta Riri. Kini, semenjak Hendrik meninggal, Gwen yang menjadi kepala pelayan sekaligus pengawal pribadi Princess. “Tuan, Nyonya, maaf saya mengganggu. Tapi saya harus menyampaikan, jika ada seorang tamu yang sejak tadi memaksa untuk bertemu dengan Tuan dan Nyonya.”     Farrell mengerutkan keningnya. “Memangnya siapa tamunya?” tanya Farrell.     “Itu aku,” jawab sebuah suara dari ambang pintu.     Farrell dan Riri mengalihkan pandangan mereka. Jika Riri terlihat sama sekali tidak mengenali siapa pria yang tengah berdiri di ambang pintu, maka berbeda hal dengan Farrell. Pria itu memasang ekspresi tegang, seakan-akan menunjukkan jika dirinya memang sudah sangat mengenal orang yang datang bertamu ke kediamannya itu. Ya, Farrell memang merasa terkejut dengan kedatangan orang itu. Bahkan Farrell tidak pernah mengharapkan jika mereka akan bertemu kembali.       ***           Seperti yang diketahui, konser musik yang akan dihadiri oleh Princess dan Tano memang berlangsung nanti malam. Meskipun begitu, Princess dan Tano memang sengaja keluar rumah lebih awal untuk berjalan-jalan sebentar. Lebih tepatnya, Princess memang sengaja keluar untuk menyiapkan hadiah yang akan ia berikan pada Arlan. Dan hanya perlu satu jam untuk membeli hadiah untuk Arlan tersebut. Princess ternyata sudah merencanakan hadiah apa yang akan ia berikan pada Arlan, dan ketika sampai di mall, Princess hanya perlu membelinya.     Tano melirik paperbag yang berada di kursi samping Princess. Tano dan Princess kini memang tengah duduk berhadapan di salah satu restoran. Tano memang merasa lapar, dan ingin mengisi perutnya sebelum menuju tempat konser. Tano tidak ingin merasa kelaparan saat menemani Princess yang berubah menjadi bucin. Sungguh, Tano sebenarny tidak suka saat Princess menunjukkan betapa dirinya menyukai Arlan. Bukan karena Tano memiliki perasaan lebih pada Princess, tetapi lebih karena Tano memang tidak menyukai Arlan.     Sejak pertama mengenal Arlan, Tano memiliki hal yang tidak ia sukai dari sosok pemuda yang dicintai dan menjadi kekasih Princess itu. Tano merasa ada sebuah rahasia besar yang disembunyikan oleh pria itu, tetapi Tano tidak tahu rahasia apa itu. Wajar memang manusia memiliki sebuah rahasia, tetapi jika rahasia yang disembunyikan itu hanya akan membuat orang lain mengalami kerugian, itu adalah rahasia yang buruk. Tano sendiri yakin, rahasia yang disimpan oleh Arlan adalah rahasia buruk. Tano hanya berharap jika Arlan memang benar-benar tulus menyukai Princess dan tidak akan menyakiti sahabatnya ini.     “Giliran Tano ulang tahun, Tano tidak pernah mendapatkan hadiah semewah dan sebagus itu dari Princess,” gerutu Tano sembari menyedot minumannya.     Princess yang sedang memakan pecel lele, mengangkat pandangannya dan menatap sahabatnya itu. “Tano, Princess tau kalo Kak Arlan itu suka pake banget sama kamera dan seni potografi. Jadi, Princess membelikan kamera itu untuk Kak Arlan. Kan kalo Tano tidak suka kamera, Tano malah tidak suka difoto bukan? Jadi, Princess selalu kasih kado yang berkaitan sama kesukaan Tano.”     Tano mendengkus. “Ya, sangat berkaitan. Mentang-mentang Tano suka matematika, setiap tahunnya Princess memberikan kado buku bank soal yang tebalnya luar biasa.”     Princess pun tertawa senang, dan hal itu membuat Tano mengernyit. “Ish, Princess kamu muncrat-muncrat! Tuh kan lihat makanan Tano terkontaminasi sama iler Princess,” ucap Tano kesal bukan main. Padahal Tano belum kenyang dan baru menghabiskan seperempat porsi makanannya.     Princess mengunyah makanannya dan menelannya sebelum berkomentar pada celaan Tano. “Tano, iler Princess memberikan efek yang membuat makanan jadi lebih enak. Jadi cicipin aja, pasti lebih enak.”     “Tidak mau! Tano akan pesan yang baru saja,” ucap Tano memanggil pelayan untuk memesan makanan yang baru. Tano dan Princess memang memilih untuk bersantai lebih dulu, toh keduanya masih memiliki waktu luang sebelum keduanya harus berangkat menuju tempat di mana konser diselenggarakan.     “Kalau tidak mau, ya Princess habiskan. Kan, mubazir. Mama bilang tidak boleh membuang-buang makanan,” ucap Princess lalu menarik piring milik Tano yang berisi ayam kampung bakar madu.     Princess seakan-akan mendengar suara orang yang menahan tawa, karena itulah Princess menoleh dan mencari sumbernya. Sayangnya, Princess sama sekali tidak menemukan orang yang aneh, yang mungkin saja tengah mentertawakan dirinya. Princess mengendikkan bahu dan memilih kembali memakan menu makan sore menjelang malamnya ini. Tano yang melihat Princess memakan makanannya hanya bisa mendengkus sebelum berkata, “Pasti Princess sengaja melakukan hal tadi, karena ingin makan makanan Tano.”     “Tumben Tano lama mikirnya,” ucap Princess lalu memasang tampang tidak bersalah.     “Kan Princess bisa minta saja.”     Princess menggeleng lalu meminum minumannya. “Tano tidak akan mau bagi Princess. Tano kan bucinnya ayam bakar.”     “Kayak kurang kerjaan aja, ngebucinin ayam bakar,” ucap Tano setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan yang mengantarkan makanannya.     “Tano kan sebelas dua belas sama Abang ABC. Kalian sama-sama enggak doyan cewek, jadi selera kalian berubah aneh.”     Tano menoleh ke sana ke mari saat menyadari apa yang dikatakan oleh Princess tadi bisa membuat orang lain yang mendengarnya menjadi salah paham. Tano mengetatkan rahangnya dan berkata, “Princess, kecilkan volume bicaramu!”     Princess menatap Tano dengan netranya yang bulat dan indah. “Tano enggak perlu malu kok. Abang ABC aja enggak malu, kamu ada temennya kok,” ucap Princess masih belum mengecilkan volume bicaranya. Karena itu, banyak yang menatap Tano dengan prihatin. Tentu saja banyak orang yang berpikir jika Tano mengalami kelainan. Hal itu membuat semua orang prihatin. Tano tampak normal dan sangat tampan, sayangnya dia tidak memiliki kesempurnaan sebagai seorang pria.     Tano yang menyadari tatapan-tatapan yang ia terima, tentu saja merasa malu. Princess memang memiliki banyak tingkah yang bisa membuat orang-orang salah kira, termasuk apa yang ia lakukan saat ini. Tano hanya bisa berpikir untuk segera menghabiskan makanannya sesegera mungkin, agar dirinya bisa membawa Princess keluar dari tempat ini.     Dan yang merasa malu sebenarnya bukan hannya Tano. Ada pula tiga pria dewasa yang hampir muntah darah karena mendapatkan serangan beruntun yang diberikan oleh Princess. Benar, ketiganya tak lain adalah kembar ABC yang mengemban tugas untuk menguntit dan menjaga Princess dari jarak yang memungkinkan. Kembar ABC hanya bisa menahan diri dan tidak menerkam adik mereka yang semakin hari semakin menyebalkan tetapi semakin menggemaskan dan mudah untuk dicintai. Terlalu sibuk untuk menyusun rencana agar tidak ketahuan oleh Princess, kembar ABC melewatkan acara makan Princess yang diluar apa yang dianjurkan oleh dokter gizi.       ***           Kembar ABC mempertahankan untuk tetap bertahan di tiga titik yang memungkinkan mereka meraih Princess jika ada hal buruk yang terjadi. Kini, kembar ABC memang sudah berada di tengah-tengah lautan manusia yang tengah menunggu acara konser musik dimulai. Namun di tengah orang-orang yang tumpah ruah tersebut, kembar ABC tampak begitu mencolok. Tinggi badan dan bahunya yang kekar menjadi pusat perhatian para kaum hawa yang memang sebagian besar menjadi penonton di sana. Untungnya, ketiganya mengenakan topi dan masker yang tidak memungkinkan orang-orang melihat wajah mereka. Namun hal itu tidak menyurutkan antusiasme para gadis muda yang memang sangat penasaran dengan wajah dan identitas dari ketiga pria tinggi tersebut.     Namun, untungnya kembar ABC sama sekali tidak menarik perhatian Princess. Gadis satu itu masih saja menatap panggung, berharap untuk segera melihat orang yang ia rindukan. Tano yang berdri di samping Princess hanya bisa diam dengan tampang yang terlihat begitu bosa. Tano mengabaikan tatapan-tatapan yang ia terima dari para gadis yang berda di sekitarnya. Bahkan, Tano sadar jika ada beberapa dari mereka yang sengaja menempelkan bagian-bagian tubuh mereka padanya.     Sebenarnya kehadiran Tano dan Princess tentu saja menarik perhatian orang-orang yang mengetahui identitas keduanya. Karena itulah, kini ada beberapa orang yang sudah mulai berbisik-bisik membicarakan keduanya, lebih tepatnya membicarakan Princess. Ya, Princess memang tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Apalagi jika itu berkaitan dengan masa lalu Princess. Perubahan bentuk tubuh dan perilaku Princess lah yang menjadi sorotan mereka. Masih banyak yang berpikir jika perubahan bentuk tubuh Princess yang mengurus dan wajah Princess yang terlihat semakin cantik, disebabkan oleh operasi plastik.     “Princess, kita kapan pulang?” tanya Tano.     Princess mendongak dan menatap Tano dengan tatapan aneh. “Kamu ini aneh, Kak Arlan bahkan belum naik ke atas panggung,” ucap Princess.     Baru saja Princess mengatupkan bibirnya, suara gemuruh terdengar begitu konser musik tersebut dibuka. Princess sepenuhnya tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok pria yang tampak begitu bersinar dengan nyanyiannya yang merdu. Ya, Princess begitu takjub dengan sosok Arlan yang tampak bersinar dengan aura idolanya. Princess mengatupkan kedua tangannya dan menikmati suara merdu Arlan.     Princess begitu bahagia. Hanya melihat Arlan secara langsung seperti ini, membuat Princess berdegup dengan kencang. Princess sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan dan hadiah pada Arlan. Sayangnya, harapan Princess untuk memberikan kejutan pada Arlan pupus, karena Arlan sudah lebih dulu memberikan kejutan. Kejutan yang tak hanya dialamatkan untuk Princess, tetapi untuk semua yang menghadiri konser musiknya.     Arlan tersenyum lebar dan merangkul seorang gadis cantik sembari berkata, “Perkenalkan, dia kekasihku.”     Saat itulah Princess merasakan kekecewaan besar. Netranya yang indah meredup dengan cepat. Tepat saat itu pula, netra indah Princess bertemu dengan netra milik Arlan. Sedikit, hanya sedikit Arlan terlihat terkejut dengan kehadiran Princess. Selebihnya, Arlan kembali melanjutkan pengumumannya. Tano merasa begitu terkejut, ia juga bisa mengetahui apa yang kini tengah dirasakan oleh Princess, karena itulah Tano menunduk dan menatap Princess. Saat itulah, Tano merasa lebih terkejut. Untuk pertama kalinya, Tano melihat betapa Princess terlihat menyedihkan dengan air mata yang mengalir deras dari kedua netranya yang indah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD