Squatjump untuk melatih kelincahan dan otot paha. Aku mulai menekuk kaki seperti orang duduk, lalu melompat. Disaat melompat, aku melirik ke arah Doni. Ia sibuk membidik tubuhku dengan kamera. Lalu mendarat dengan kedua kaki. Kulakukan lagi, kali ini kubusungkan dadaku agar pantulan buah dadaku lebih terlihat. Entah senakal apa aku dimatanya, tapi ini semata-mata apakah Doni pria yang profesional atau tidak.
"Sudah cukupkah!?" Aku bertanya ke Doni.
"Mnnnn,, kayaknya,,," ucap Doni. Namun aku tak menunggu jawab Doni. Aku langsung berlari kearah Doni untuk melihat hasilnya. Aku mau sedikit bereksperimen dengan menempelkan buah dadaku sendikit ke tubuhnya. Aku berada di sampingnya lalu sedikit membungkuk.
"Mana lihat!?" Paksaku.
Aku merasakannya, buah dadaku menyentuh pundak Doni ketika aku membungkuk. Hanya tiga detik sebelum aku kembali menjauh. Doni memperlihatkanku beberapa Foto hasil jepretannya. Aku tak peduli hasilnya, namun ketika aku menunduk untuk melihat lebih dekat, aku melirik celana Doni. Ternyata,,, memang benar aku melihat tonjolan itu. Tidak cukup besar namun aku belum bisa memastikan.
"Sekarang apa lagi ya!?" Aku bertanya pada Doni.
"Back Up dan Pull Up," Doni mengingatkan.
"Mnnn,,, oke." Aku kembali ke posisiku setelah meletakan alas untuk berbaring. Lalu aku mulai berpose. Entah kenapa? Poseku semakin nakal, Terutama saat Sit-Up aku sengaja membusungkan buah dadaku, sehingga tonjolan itu membentuk sempurna tubuhku. Belum lagi ketika Back-Up, aku sengaja berlama-lama menungging untuk berbaring tengkurap. Dengan begitu aku bisa menguji nafsu dari Doni itu sendiri.
"Sudah! Gimana hasilnya," aku langsung melompat dan mendekat Doni. Tanpa sadar, aku melingkarkan tanganku di lehernya sehingga buah dadaku mengenai pundaknya. Entah kenapa? Aku semakin terbuka padanya.
"Bagus juga hasilnya, selain sebagai atlit, kamu berbakat juga jadi model." Doni memujiku. Ternyata, yang selama ini kupikirkan salah. Doni ternyata enak diajak ngobrol. Terbukti suasananya cair seperti ini.
"Terus selanjutnya?" Tanyaku.
"Sudah, katanya mau Sit-Up sama Back-Up." Ujarnya.
"Oh, oke." Aku kembali ke alasku setelah meletakkan kamera di meja taman. Lalu tanpa diperintah lagi, Doni duduk di lututku untuk menahan beban tubuhku yang akan melakukan Sit-Up. Lagi-lagi, aku mencium aroma parfum yang khas dari tubuhnya. Aroma yang membuatku betah berlama-lama. Tak pelak, konsentrasiku semakin berkurang karena aroma itu. Wajahku terhanyut dalam keremangan yang selama ini tak pernah kurasakan. Entah kenapa, aku semakin nyaman berada di dekat Doni. Bahkan beberapa kali mata kami saling bertemu pandang. Aku tak sadar bahwa buah dadaku beberapa kali menyentuh tubuhnya. Namun semua itu tersamarkan begitu saja.
"Seratus." Ujar Doni yang membantuku menghitung.
"Huaaahhh,,, selesei juga." Keluhku. Doni bangkit dari tubuhku. Entah kenapa? Doni melemparkan sebotol air mineral kepadaku. Mungkin ia tahu bahwa aku sedang kelelahan. "Terima kasih."
"Setelah ini, Back-up kan?" Tanyanya. Tubuhku bergidik ketika mendengar Doni yang mengatakan itu. Tetapi inilah pembuktiannya, aku harus membuktikan sendiri bahwa ia tertarik padaku atau bukan. Tinggal masalah cinta saja, aku selama ini tak pernah benar-benar tertarik dengan cowok karena mereka bagi segerombolan kurcaci m***m yang mengincar buah d**a dan lekuk pinggangku.
"Mnnn,,, iyah, ayohh!" Ungkapku sembari menungging. Sesaat aku merasakan Doni sudah tak sabar ingin menunggangiku. Ia menunggu tubuhku untuk tengkurap.
Lalu,,,
Yang benar saja, tonjolan yang kemarin tak kuperhatikan—kembali kurasakan. Walau tidak terlalu besar. Aku mencoba untuk cuek dengannya.
"Satu,,,dua,,,tiga,,," Doni mulai menghitung. Aku jadi tak fokus untuk latihan, beberapa kali aku coba untuk merasakan sesuatu yang menempel di bongkahan pantatku. Namun semakin kuangkat, tonjolan itu semakin menekanku. Wajahku meremang merasakan sesuatu yang belum sekalipun aku bayangkan. Karena tubuhku besar dan tenagaku kuat. Doni kewalahan dengan gerakan Back-up itu. Belum lagi, getaran suara Doni membuatku semakin salah tingkah. Ketika Sit-up, suaranya tak seperti itu. Kini ia seperti mendesah seakan menahan sesuatu.
"Empat sembilan, lima puluh,,, lima sa—," suara Doni berhenti karena aku menghentikan Back-up.
"Haaahhhh,,, bentar, istirahat dulu." Yang anehnya, Doni tak beranjak dari badanku. Aku menopang badanku dengan lengan dan menyesap seteguk air mineral. Sembari merasakan sesuatu yang aneh di bawah sana.
"Ayok, terusin, lima puluh kali lagi." Perintah Doni.
Aku kembali tengkurap dan merasakan sesuatu dibagian bongkahan pantatku. Sangat hangat dan bergerak-gerak. Seakan Doni menggerakan pinggulnya dan menggesekannya di pantatku. Tetapi, apa enaknya seperti itu.
Aku kembali melakukan Back-Up. Namun kali ini, aku melakukannya secara malas, sangat pelan dan tak niat. Karena fokusku tidak disitu, tetapi di bongkahan pantatku yang mungkin sedang dikerjai oleh Doni. Ketika aku bergerak, sulit merasakan gerakan pinggul dari Doni, tetapi ketika aku berhenti. Doni yang mungkin sedang ngaceng itu berusaha menggesekan batang kejantanannya ke arah bongkahan pantatku.
"Mnnnppffttt! De—lapan tihh—gaa." Doni tersentak, entah apa yang dia rasakan sekarang. Aku tetap melancarkan back-up untuk menutupi semuanya. Tapi aku yakin, ada sesuatu yang berkedut tadi di bagian bongkahan pantatku. Aku takut untuk mengungkapkan, bahkan tak ada rasa jijik atau apapun, yang ada hanyalah rasa penasaran.
Tiba-tiba,,,
Gluduuuukkk!!! Ssssrrrrrrrr!!! Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Aku heran, kenapa Doni masih saja duduk disitu. "Hehhh,,, hujan, cepat neduh." Ungkapku sembari menunggingkan pantatku, sehingga tubuh Doni tersentak dan kesadarannya kembali. Doni seperti orang linglung yang tak tahu apa-apa.
"Itu bawak kameranya!" Teriakku sembari membawa tas dan beberapa peralatan kami. Hanya ada satu tempat berteduh, yaitu lubang prosotan anak kecil yang berbentuk tabung. Cukup besar untuk dimasuki oleh orang dewasa. Kami berdua memasuki lubang itu tanpa harus berbasahan lagi.
"Kameranya tak apa!?" Tanyaku.
"Mnnn,,, eh,,, tak apa!?" Ucap Doni yang masih linglung dan dengan nada getaran bicara yang sama.
"Eh, kamu kenapa!?" Tanyaku penasaran karena Doni sepertinya menyembunyikan sesuatu. Wajahnya memerah dengan kaki tertekuk di tubuhnya.
Gluddduuuukkkk!!! Duaaarrrr!!!
"Huaaaahhhhh!!!" Doni berteriak dan menutup telinganya. Kedua kakinya dirapatkan untuk melindungi tubuhnya. Memang, hujannya meraung cukup deras disertai angin yang menerpa. Untuk tempat teduh kami cukup tertutup. Lubang perosotan cukup luas sehingga tak membuat kami sesak.
Aku tak yakin bahwa seorang cowok takut dengan suara petir. "Heh, Don, itu cuma petir." Ungkapku sembari menepuk lengan Doni dan mencoba menyadarkannya.
Duaaarrrrr!!!
Entah salah aku atau bukan? Karena aku merenggangkan kedua tangannya. Doni melompat kearahku dengan memeluk pinggangku. "Heh,,, tenang Doni itu cuma petir!" Kataku sembari meronta. Posisi dudukku yang dengan lutut tertekuk kebelakang membuat tangan Doni dengan mudahnya melingkat disana. Namun sepertinya, ini bukanlah akal-akalan. Ia benar-benar ketakuan, pelukannya keras dan jemarinya mencengkeram kausku. Hal itu tak memungkiri bahwa buah dadaku tersentuh oleh wajahnya. Cukup lama, ia di dalam posisi itu.
Duaarrrrr!!!
Entah salah aku atau bukan? Karena aku merenggangkan kedua tangannya. Doni melompat kearahku dengan memeluk pinggangku. "Heh,,, tenang Doni itu cuma petir!" Kataku sembari meronta. Posisi dudukku yang dengan lutut tertekuk kebelakang membuat tangan Doni dengan mudahnya melingkat disana. Namun sepertinya, ini bukanlah akal-akalan. Ia benar-benar ketakuan, pelukannya keras dan jemarinya mencengkeram kausku. Hal itu tak memungkiri bahwa buah dadaku tersentuh oleh wajahnya. Cukup lama, ia di dalam posisi itu.
Duaarrrrr!!!
"Hiiiiihhhhhh," jerit Doni.
"Ssshhhhh,,, tenang, ada aku disini. Nggak apa, itu cuma petir." Aku semakin iba padanya. Kuusap rambutnya perlahan untuk menenangkannya. Entah, aku tak merasakan apapun lagi. Aku yakin, ini memang murni bahwa Doni membenci petir. Aku juga mempersilahkan wajahnya bersembunyi di belahan dadaku. Aku tak merasakan apapun, aku hanya takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak padanya. Mungkin ia punya riwayat penyakit jantung atau epilepsi. Penyakit-penyakit itu biasa kumat disaat-saat seperti ini. Aku takut itu terjadi padanya.
Tubuhku semakin pegah karena Doni masih memeluk tubuhku erat-erat. Apalagi aku mengenakan sportbra yang sesak. Petir sudah menghilang dan hujan sudah mulai mereda. "Don, sudah. Petirnya sudah pergi."
Doni dengan tatapan takutnya mengintip rintikan air dari celah belahan dadaku.
Lalu,,,
Gluuudddduuukkk! Dari kejauhan terdengar suara gemuruh. "Huaaaahhh," Doni kembali memeluk pinggangku. namun kali ini wajahnya tepat menekan diatas buah dadaku.
"Eeehh,,,mnnnm," entah kenapa suara desis itu yang keluar dari bibirku. Tubuhku seakan ringan namun kepalaku berat. Tengkukku seakan mengeras dan mataku meremang. Entah ini rasa yang enak atau tak enak. Tetapi inilah yang kurasakan jika seseorang menekan buah dadaku. Aku mencoba mengembalikan lagi kesadaranku.
"Don,,, ini cuma gemuruh. Mnnhhh,,, Tuh hujannyah sudaah pergiiih!" Entah getaran pita suaraku lain dari pada yang lain. Nafasku berat seakan tertutup sesuatu. Wajah Doni masuk terhenyak di buah d**a kiriku. Apalagi Sportbra didesain tanpa bantalan bisa. Sehingga membuat p****g susuku tertekan, bahkan aku bisa merasakan tekstur wajah Doni yang tercetak dibuah dadaku.
Lagi-lagi, Doni melirik kearah luar. Hujan rintik semakin ringan. Hanya beberapa rintihan langit yang masih terdengar dari kejauhan. Beberapa cekungan beton di taman tergenang oleh basahan yang memantulkan cermin alam. Lalu Doni mulai melepaskan diriku.
"Eh, kamu kenapa tadi!?" Ucapku penasaran. Entah sejak kapan aku mau membelai pipinya. Kulitnya yang sawo matang terlihat halus dan nyaman. Wajahnya tirus kurus hidung agak mancung. Matanya yang biasanya terlihat kejam mendadak meremang karena ketakutan. "Masa' cowok takut petir!?" Ejekku.
"Petir itu kilatan listrik yang bebas," ungkapnya sambil mengatur nafas. "Karena bebas, jadi bisa menyambar apa saja. Bahkan kita disini saja bisa disambar!"
"Hmn,,, tapi aku tak takut disambar." Seusai hujan, tubuhku malah memanas. Doni memeluk paksa tubuhku dalam waktu yang lama, belum lagi rasa aneh yang kurasakan barusan. Aku mulai melangkah keluar dari lobang perosotan.
"Eh, kamu mau kemana!?" Ucap Doni.
"Mau hujan-hujanan. Tubuhku panas soalnya!" Aku melompat keluar dan menengadahkan tubuhku untuk menampung air hujan yang seakan menyiram tubuhku. Tubuhku menggelora seperti ingin melepaskan sesuatu. Entah kenapa? Aku malah menanggalkan kausku. Tetapi untung saja, aku mengenakan Sportbra yang cukup tertutup. Sehingga hanya sedikit belahan d**a, bagian ketiak dan bagian perutku saja yang terlihat. Aku melompat dan berputar bagai seorang anak kecil yang diberikan ijin oleh orang tuanya untuk bermain hujan. Rasanya, aku barusaja merasakan sesuatu yang baru di dalam hidupku.
=====
Hujan siang tadi adalah awal mula dari hujan yang terus mengguyur hingga sore. Gemuruh-gemuruh petir bersahutan dari dekat maupun jauh. Aku jadi khawatir dengan Doni, apa yang sedang dia lakukan sekarang? Apakah ia ketakutan dan memeluk mamanya? Atau sedang tertidur pulang. Mungkin aku akan bertanya padanya nanti sembari menanyakan bagaimana rencana besok hari.
Malam ini, entah kenapa? Aku cukup bersemangat. Hari hujan membuat nafsu makanku bertambah. Tentu saja, aku hanya memakan Mie Instant rebus ketika hujan.
"Sejak kapan kau suka Mie Instan?" Tanya ibu yang mungkin juga heran denganku.
"Hmn,,, sejak hari ini." Aku yang biasanya manja-manjaan dan malas gerak dirumah—mendadak ingin memasak Mie Instan dengan telur mata sapi kesukaanku.
"Awas, buang air rebusan, dan ganti dengan air termos kalau sudah matang. Itu mengandung pengawet." Ujar Ibuku yang malas meladeniku.
"Siap boskuuuu!" Aku menjadi gila sendiri. Padahal tak ada musik yang mengalun, sepertinya ada suara yang mengalun melewati kuping kananku, masuk ke otak, lalu keluar lagi ke kuping kiriku. Bahkan aku mengira, suara rintikan hujan di senja itu adalah irama orkestra yang mengalun seiring dengan suasana isi hatiku.
Setelah menyantap Mie Instan, aku kembali ke kamar. Aku buka ponselku, tak ada pesan dari siapapun. Aku merebahkan tubuhku dikasur sembari menyahut majalah bertema olahraga yang baru dikirim kurir sore tadi. Cukup lama aku membaca, smartphoneku tak lagi berbunyi. Aku merasa aneh, biasanya aku tak peduli dengan pesan singkat atau WA dari seseorang. Tetapi yang jelas aku seakan sedang menunggu sesuatu. Aku sahut smartphoneku dan membuka WA yang dua hari lalu di kirim oleh Doni. Di bawah itu, aku juga melihat nama Rosa yang sudah dua hari ini tak menghubungiku. Oh,,, ya,,, aku ingat pertanyaanku dengan Rosa. Namun setelah kupikirkan, aku kembali melihat profil WA Doni yang tanpa foto profil.
"Aneh, punya WA nggak dikasih foto profil!" Gumamku aneh, untuk apa aku mempermasalahkan foto profil seseorang. Kulihat Doni aktif 3 jam yang lalu. Namun ketika aku ingin menyentuh tombol bagian atas profil. Aku salah menyentuh ikon telpon.
"Sialan!" Ucapku karena tak sengaja aku menelpon Doni. "Sial! Sial! Sial!"
Aku gila sendiri memikirkan hal itu. Kupukul-pukul smartphoneku ke kasur empuk, agar tak rusak. Setelah tenang, namun jantungku masih berdegup kencang. Aku melihat lagi, Profil Doni yang kembali online.
Lalu,,,
Jreeeennnggg,,, jreeeengggg,,, aku dikejutkan oleh suara ringtoneku sendiri. Alhasil smartphoneku terjatuh ke lantai dan masuk ke kolong tempat tidur. "Arrrgghhhh!!!" Aku marah pada diriku sendiri karena terlalu ceroboh. Panggilan itu masih berbunyi dan aku menungging untuk mengambil Smartphoneku di kolong tempat tidur.
Masih dalam posisi menungging aku mengangkat telpon yang baru saja berdering. Tentu saja itu dari Doni yang menelponku balik.
"Halo Mir," sapa Doni diujung panggilan.
"Eh, iya, ada apa?" jawabku sekenanya.
"Lho, bukannya kamu yang nelpon aku tadi." Doni selalu berpikir logis, memang aku tak sengaja menekan ikon telpon tadi.
"Oh, mnnn,,, itu,,," Aku gelagapan menjawabnya.
"Nah, gini. Besok aku tak bisa ketemu, aku harus jaga rumah karena sekeluarga harus pergi ke luar kota. Kalau kamu mau, kamu bisa kerumahku besok. Biar aku yang order MAXIM untukmu agar kamu nggak perlu nyari rumahku lagi." Kata Doni mengajakku untuk kerumahnya.
Sejenak kami terdiam, entah apa yang ingin kukatakan. Wajahku terlalu tebal untuk mengatakan sesuatu.
"Gimana!?" Tegas Doni.
"Mnnn,,, oke deh. Jam 9 kayak tadi ya!?" Tanyaku.
"Oke, sampai jumpa besok." Doni menutup telponnya tanpa sempat aku bertanya padanya. Apakah yang terjadi padanya? Disana masih hujan? terus dengan siapa dia dirumah? Pertanyaan-pertanyaan itu hanya berlalu menjauh dari otakku.
"Ca, dah tidur belum?" Pesanku terkirim melewati aplikasi WA. Kulihat Rosa baru saja online. Lalu Smartphoneku berdering, Rosa memang sahabatku yang paling sohib. Ia langsung menelpon tanpa kusuruh.
"Lom, ada apa Mir? Gmn latihannya?" Rosa langsung menjawab pesanku dengan suaranya.
"Lancar-lancar aja sih," jawabku singkat. "Eh, aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi rahasia ya?"
"Siap, aku selalu menjaga rahasia." Ujarnya meyakinkan.
"Serius ini!" Aku menegaskan Rosa agar mau menjaga rahasia ini.
"Iya Mir, cerita aja." Tawar Rosa agar mau menceritakan semuanya padanya. Namun tak mungkin aku menceritakan semuanya.
"Ca, kamu kemarin cerita kalau cowok lihat aku tuh, itunya jadi gede gitu." Dengan canggung aku bertanya pada Rosa.
"Ngaceng maksudmu." Tegas Rosa blak-blakan.
"I—iya, gitu?" Aku gelagapan mendengar perkataan Rosa yang tak tahu aturan.
"Mnnnn,,, iya kalau lihat tetekmu segede itu terus goyang mantul kesana kemari, pasti mereka ngaceng. Hahahahahaha,,," Rosa memang pandai berterus terang, apalagi soal seperti ini. "Lain cerita kalau mereka ngaceng karena lihat aku."
"Heh, dasar kau ini." Aku cukup risih mendengar perkataan itu.
"Eh, emangnya kenapa kamu tanya gitu malam-malam kayak gini?" Tanyanya penasaran.
"Enggak, penasaran aja. Dari kemarin aku penasaran. Emang enaknya apa lihat t***k aku terus mereka ngaceng?" Aku sudah terlanjur bercerita blak-blakan.
"Mana aku tahu, itu natural Mir. Kamu juga bisa horni kok kalau lihat titit cowok yang ngaceng. Hahahaha!" Kini Rosa semakin memancingku.
"Gila kau Ca, mana mungkin aku lihat kayak gituan." Aku mengelak.
"Terus ngapain kamu tanya kayak gituan, terus kenapa tanya sama aku?" Rosa yang penasaran mencoba mencari tahu apa yang terjadi padaku. Aku ingin mengatakan hal tentang kemarin dan tadi siang bersama Doni. Mungkin lain kali saja aku berceritanya.
"Ya, kaukan pernah nunjukin koleksi video bokep di HP kamu." Aku kembali menyerang Rosa dengan segala ke-aib-annya. "Jadi mungkin kau lebih pengalaman ketimbang yang lain."
"Oh, itu. Mnnnn,, gini aja. Kamu tuh lagi puber, sebenarnya kamu itu terlambat Puber." Rosa mencoba menasihatiku.
"Maksudmu?" Aku tak mengerti apa yang dikatakan Rosa.
"Ya, kamu terlalu polos sehingga kamu nggak menyadari bahwa banyak cowok yang tertarik padamu." Rosa mulai menjelaskan. "Coba kamu ngaca, bodymu sudah kayak orang dewasa seutuhnya. Bahkan bisa dibilang cenderung seksi."
"Mnnnn,,, jadi aku harus gimana?" Aku kebingungan.
"Gini, coba kamu tonton film-film romantis? Seperti Twilight, serial Thirteen Reason Why, atau Drama-drama Korea gitu deh." Rosa sepertinya memberiku solusi.
"Aku mana ada waktu nonton film sepanjang itu!?" Film terlalu membosankan bagiku, bahkan di bioskop aja aku tidur.
"Mnnnn,, ada kok yang pendek, durasinya sekitar 15 menit sampai satu jam." Kata Rosa.
"Nah, apa judulnya?" Tanyaku penasaran, mungkin dengan film aku bisa jadi lebih sensitif.
"Film Bokep!" Jawab Rosa singkat namun menjengkelkan.
"Gila kau! Masak suruh aku nonton Film bokep." Umpatku meledak.
"Ya udah kalau nggak mau non, jangan marah. Tapi kalau mau nonton kamu harus download VPN dulu ya. Baru search di google." Rosa tetap menggodaku untuk tidak menyentuh itu.
"Gila kau, nggak mau! Udah ah, aku mau tidur." Umpatku karena kesal Rosa malah menyuruhku menonton Bokep.
"Eh, Mir. Satu lagi aku lupa tanya?" Tanya Rosa.
"Apa?" Ujarku.
"Itu, si Doni gimana? Kamu katanya se kelompok sama adek si kapten yang sok cantik dan sok pintar itu." Memang, Rosa tidak pernah seirama dengan mbak Melly.
Aku tak tahu menjawab apa, kalau berterus terang. Sudah pasti Rosa akan menghajar Doni habis-habisan. Apalagi ia adalah adik kandung mbak Melly. "Oh, Doni. Ya,,,,mnnnn,,, dia yang kerjain semuanya. Aku cuma ikut absen aja. Gitu?"
"Oh, syukurlah kalau gitu. Jadi kamu bisa fokus latihan." Ucapnya. "Huaaahhh,, yaudah Mir, aku juga sudah ngantuk."
"Oke, bye!" Sapaku sembari mematikan telpon. Dan pada akhirnya, aku harus melakukan eksperimen sendiri soal bagaimana caranya mendewasakan diriku. Rosa memintaku untuk menonton film romantis atau Drama Korea. Namun aku tak begitu suka Film berdurasi panjang, bagiku itu sangat menguras waktu dan pikiran.
Lalu,,,
Mnnnn,,, apa salahnya aku mencoba sesekali. Setelah mempersiapkan semuanya. Entah apa yang terjadi padaku, aku membuka situs dewasa dari smartphoneku. Padahal aku belum sempat memilih filmnya, di webbannernya terdapat gambar Gift seseorang yang sedang ditunggangi pria berkulit hitam. Mataku terbelalak menatap benda hitam yang keluar masuk ke dalam lubang kencing sang wanita. Anehnya, sang wanita menunjukan ekspresi keenakan—bukan kesakitan.
"Apa-apaan ini!" Segera kumatikan smartphoneku dan menyudahi semuanya. Pikiranku semakin kacau menyusun tingkat proporsi yang tepat untukku. Apakah aku memang telat puber. Bahkan ketika aku melihat banner situs dewasa tadi, tubuh sang wanita itu mirip dengan tubuhku. Mungkin seharusnya Rosa mengatakan bahwa tubuhku sudah seperti bintang film bokep. Sehingga para cowok ngaceng melihatku.
Setelah itu, aku membuka smartphoneku lagi. Aku membuka WA dan menatap beberapa pesan di WA. Namun setiap kali membuka WA, jemariku tak sadar ingin membuka chat dari Doni. Padahal baru dua hari ini aku berbicara dengannya. Aku ingin bertanya, ia sedang apa? Ia suka makan apa? Terus dan terus.
"Arrrgggghhhh!" Tidak mungkin aku menyukainya. Ia cowok kurcaci pendek. Sedangkan aku calon atlit voli nasional. Apa kata dunia kalau aku berjalan dengannya. Orang akan mengira aku berjalan dengan adik laki-lakiku. Aku camkan hal itu baik-baik di pikiranku.
Mentari sudah terlalu tinggi ketika aku mempersiapkan diriku untuk kegiatan hari ini. Kali ini, aku disuruh kerumahnya untuk menyelesaikan tugas Essai. Entah kenapa, sedari tadi aku memilih pakaian yang cocok untukku. Aku sendiri bingung, biasanya aku tak begitu memperhatikan penampilan. Sekarang hampir setengah jam aku memilih baju.
Alhasil, aku memakai kemeja berbahan tebal karena bisa juga dijadikan sebagai jaket. Lalu kaus berwarna putih, serta celana jeans berwarna hitam. Jadwal latihanku kosong di hari sabtu dan minggu. Sehingga aku tak perlu memakai sportbra. Jika bukan Sportbra, Bra mana yang ingin kupakai nanti. Aku membuka lemari bagian atas untuk melihat koleksi Bra milikku. Kulihat semuanya sudah terlalu kecil, bahkan ada yang lingkar dadanya sudah tak muat.
Lalu,,,
Aku melihat sebuah Bra yang cukup unik. Bagian Cup-nya cukup besar dan ditahan oleh kawat. Lingkar dadanya juga cukup. "Tunggu, ini?" Gumamku perlahan. Aku ingat ketika aku membeli sportbra di toko Online. Namun Toko Online itu salah kirim, sehingga barang kami tertukar. Aku sudah mencoba untuk mengajukan pengembalian, namun sayang tokonya tidak merespon. "Ini ada pasangannya."
Ya, Seksi Bra berwarna hitam kombinasi merah. Ada juga renda-renda yang membuat siapa saja betah memegangnya. Lalu Bra itu satu set dengan celana dalam serupa. Namun di bagian belakang hanya berupa tali. Aku sering melihat ini di toko online, namanya adalah G-String.
Aku mulai mencoba memakainya. Kukunci pintu rapat-rapat agar tidak ada yang melihat. Lalu, aku memakai Bra dan celana G-String itu. Walau terkesan ketat, tetapi bahan dasar cukup nyaman dan tidak melukai kulitku. Untunglah aku menyimpan ini karena mungkin Set Bra ini harganya mahal, mengingat bahannya yang bagus.
Smartphone-ku mulai berbunyi. Ternyata dari Doni yang menanyakan kesiapanku. Aku segera bersiap memakai celana jeans, memakai kaus berwarna putih polos lalu kemeja oversize yang tidak kukancingkan bermotif kotak-kotak merah.
"Sudah siap belum, aku mau pesan MAXIM-nya!" Kata Doni mengirim pesan.
"Iya, sudah siap!?" Jawabku.
Setelah berpamitan, tukang ojek online itu mulai meninggalkan rumahku. Ternyata, rumah Doni hanya sekitar 15 menit perjalanan dengan motor dari rumahku—cukup dekat dengan rumahku.
"Bener ini rumahnya pak?" Tanyaku dengan bapak driver ojek online.
"Bener non, disini titik map alamatnya. Saya permisi non, terima kasih." Tukang Ojek Online itu pergi tanpa menghiraukanku. Aku tak yakin ini rumahnya. Sebuah rumah besar dua tingkat ditepi jalan dengan gerbang hitam menutupi sebagian pandangan dari luar. Aku masih terkagum dengan gerbang besi hitam itu. Aku mengeluarkan smartphoneku untuk memastikan bahwa ini rumah Doni. Belum sempat aku keluar membuka kunci layar smartphone-ku. Gerbang itu tiba-tiba terbuka sendiri.
"Ayo masuk!?" Ajak Doni yang masih mengenakan kaus oversize dan celana boxernya. Mungkin ia baru bangun tidur.
Aku terkagum dengan rumahnya. Halamannya cukup luas dan juga ada ring basket di atas garasi. Dindingnya dicat rapi dan sesuai dengan komposisinya. Pintunya juga terbuat dari kayu mengkilap yang menyilaukan jika terkena sinar mentari.
"Eh, kamu sendirian!?" Tanyaku pada Doni yang membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
"Iya, semuanya berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pesta pernikahan keluarga." Jawab Doni sekenanya.
"Tapi, Eh,,, Mbak Melly juga ikut?" Tanyaku penasaran.
"Melly tak tinggal disini. Ia tinggal dirumah nenekku. Silahkan duduk!" Doni mempersilahkanku untuk duduk di ruang tamu dengan Sofa berwarna putih dengan motif kayu ukir khas rumah mewah. "Kayaknya dia juga ikut karena nenekku juga ikut."
"Oh," gumamku menjawab karena aku sedang memadang seantero ruang tamu yang mewah. Terdapat lemari kaca berisi hiasan guci dan gelas cantik. Lalu lampu gantung yang sangat indah jika dihidupkan. Tapi mataku tertuju padan foto keluarga yang menggantung tepat diatas ruang tamu. Kulihat Doni dan Melly berdiri bersebelahan. Mereka hanya tiga bersaudara. Entah aku baru melihat kakak perempuannya yang berseragam Polwan lengkap. Ternyata Doni anak lelaki paling bungsu di keluarga ini.
Prannnnkkkkk!!! Lamunanku tersentak ketika mendengar suara gelas yang terjatuh dari arah belakang. Secara refleks aku langsung bangkit dan memasuki ruang tengah yang berupa ruang keluarga. "Don,,, Doni," panggilku. Aku memberanikan diriku untuk masuk lebih dalam. Ternyata Doni menjatuhkan seteko minuman yang mungkin akan dipersiapkan untukku.
"Ah,,, nggak apa? awas banyak kaca." Ucapnya melarangku untuk mendekat.
"Kamu kenapa?" Tanyaku.
"Bisa tolong ambilkan alat pel itu!" Ungkapnya sembari menunjuk kain pel ysng bersandar di dinding. Kami berdua akhirnya membersihkan lantai yang dipenuhi kaca.
"Mnnn,,, rumah sebesar ini, nggak ada pembantu apa?" Tanyaku.
"Bik Tina ikut juga ke Jakarta." Jawab Doni sembari membuang kaca beling di tempat sampah.
"Oh," gumamku.
"Kalau mau minum ambil sendiri aja di Kulkas aja ya? Kalau mau camilan di lemari itu. Kalau mau makan, masak sendiri juga bisa. Sudah dipersiapkan semuanya. Anggap aja rumah sendiri!" Kata Doni mempersilahkanku. Aku memang hobi makan, tapi aku masih punya adab untuk tidak makan di rumah orang.
"Iya Don, terima kasih." Ungkapku sembari membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air dingin.
"Mnnn,,, ayo ke kamar!" Tubuhku terpaku mendengar ajakan Doni. Kakiku serasa begetar dan bibirku tak mampu berkata-kata. Tak mungkin ia langsung mengajakku gituan. Aku teringat banner situs dewasa yang kubuka semalam. Aku yakin aku tak siap untuk itu.
"Eh, ayo!" Ajak Doni sembari membawa beberapa camilan untukku.
"Mnnn,,, kok dikamar?" Kata itulah yang kucetuskan karena aku sendiri masih awam dengan hal begituan.
"Ya iyalah, makalah itukan harus di ketik di komputer. Nah komputernya ada dikamarku. Masa' mau dibawa ke dapur." Ucapnya sembari membelakangiku.
Akhirnya, aku salah tingkah sendiri. Aku mengira Doni akan melakukan hal-hal yang tidak senonoh padaku. Dengan ragu aku mengikuti Doni ke lantai dua sebelum melewati sebuah dinding kaca yang jernih.
"Eh, itu!" Aku terkejut melihat pemandangan halaman belakang rumah Doni.
"Apa?" Doni berhenti dan menoleh ke arahku.
"Kolam renang!" Ujarku terkagum melihat air biru dengan pancuran di ujungnya. Tanaman hias menghiasi sekitaran. Sungguh rumah yang mewah dan nyaman. Berbeda dengan rumahku yang berantakan dan berada di gang sempit.
"Kalau mau berenang, nanti sore aja. Setelah selesei. Siang ini masih panas." Tawar Doni.
"Eh, boleh apa?" Ucapku.
"Ya, boleh-boleh aja. Lagian jarang ada yang berenang di kolam itu." Ucap Doni.
Akupun berlalu melewati dinding kaca yang telah membuatku terkagum itu. Tak lama, sampailah diriku di kamar Doni. Terletak di lantai dua. Kamarnya rapi dengan karpet bulu mahal yang terasa nyaman di telapak kaki. Tak ada yang spesial, hanya saja buku-buku super tebal menghiasi setiap sudut ruangan. Jangan untuk membacanya, membaca judul du punggungnya saja sudah membuat pusing. Doni langsung duduk di depan komputer yang sudah dihidupkan sebelumnya.
"Ini foto hasil jepretan kemarin. Tinggal buat deskripsinya saja." Ujar Doni membangunkan lamunanku atas kemegahan rumahnya.
"Eh, itu,,, aku,,," kataku terkagum. langkahku cepat mendekati Doni. Aku tak sadar bahwa tubuhku yang membungkuk membuat buah dadaku menyentuh kepala Doni. Apalagi meja belajar Doni terlalu pendek untukku. Dan yang lebih parah lagi, Buah dadaku menjadi semakin besar karena Bra baru yang kupakai. Berbeda dengan sportbra yang menahan daging menonjol itu. Sekarang bentuknya lebih sempurna dari biasanya.
"Iya, setelah di edit dengan Photoshop, hasilnya jadi seperti ini." Kata Doni menjelaskan.
"Wah, bagus banget. Bisa nggak ditransfer ke smartphoneku. Mau kuposting di sss-ku juga." Aku masih terkagum, dan tanpa sadar juga tubuhku menjadi lebih dekat tubuh Doni.