Di Balik Dinding Istana Dingin

2088 Words
"Aditya!" Panggilan keras itu tiba-tiba memecah ketegangan yang menyelimuti ruangan. Seorang pria melangkah cepat mendekat, raut wajahnya jelas menampakkan keterkejutan bercampur amarah melihat apa yang baru saja terjadi. “Astaga, dasar bodoh!” serunya dengan nada tinggi. “Apa yang kau lakukan, Aditya?! Ayolah… Dia hanya seorang wanita! Kau tidak perlu sekasar itu!” Aditya mendengus kesal tanpa berniat menoleh sedikit pun. “Aku harap kau datang membawa urusan yang jauh lebih penting, Rama,” jawabnya dingin. Perlahan namun berat, tangan Aditya terlepas dari leher Khalisa. Gadis itu langsung terhuyung ke belakang. Ia terbatuk-batukuk keras, dadanya naik turun berusaha menghirup udara yang sekejap tadi terasa begitu mahal dan sulit didapat. Tenggorokannya terasa perih dan panas, matanya berair menahan sakit, namun ia tetap berusaha berdiri tegak, bertahan meski lututnya terasa lemas nyaris runtuh. Sementara itu, Aditya dengan tenang merapikan kerah kemejanya seolah tak terjadi apa-apa, seolah ia tidak baru saja mencabut nyawa seseorang hanya dalam hitungan detik. “Bawa wanita aneh ini ke kamar pelayan,” perintahnya dengan nada datar dan dingin, tanpa menatap sedikit pun ke arah Khalisa. “Didik dia dengan benar agar bisa menjadi pelayan yang baik dan tahu aturan di istanaku!” Beberapa wanita yang sedari tadi berdiri di pinggir ruangan segera mendekat. Tanpa banyak bicara, mereka menggenggam lengan Khalisa kuat-kuat, lalu menariknya pergi. Langkah mereka kasar, tak menyisakan sedikit pun rasa iba atau kelembutan. Khalisa didorong masuk ke sebuah ruangan sempit yang terletak di bagian paling belakang rumah besar itu. Pintu kayu berat itu ditutup dengan hentakan keras hingga dinding ruangan terasa bergetar hebat. “Ini adalah kamar para pelayan rendahan,” ujar salah satu wanita dengan nada penuh penghinaan. “Mulai detik ini, tempatmu ada di sini.” Khalisa nyaris terjatuh ke lantai. Ia berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya, napasnya masih tersengal-sengal, sementara rasa perih di lehernya belum juga hilang. Cadarnya sedikit bergeser, namun dengan sigap dan tergesa ia buru-buru merapikannya kembali. “Berdiri yang tegak dan benar!” bentak wanita lain sambil menarik lengan Khalisa dengan kasar hingga bahunya terasa nyeri. “Jangan berpura-pura lemah di sini. Di tempat ini, tak ada satu pun yang peduli pada air matamu.” Khalisa menunduk dalam, berusaha menahan isak tangisnya. “I—iya…” suaranya terdengar sangat lirih, nyaris tak terdengar. Wanita itu mendengus sinis, matanya menatap tajam ke arah Khalisa. “Lihat saja kelakuanmu. Datang ke rumah Tuan Aditya memakai cadar dan segala macam. Sok suci sekali ya?” Ia tertawa renyah namun terdengar mengerikan, dan tawanya itu segera disusul oleh tawa kecil para pelayan lain yang ada di ruangan itu. “Padahal ujung-ujungnya sama saja. Kau dibeli dengan uang,” kata-kata itu terlontar begitu saja, menghantam d**a Khalisa jauh lebih keras daripada sebuah tamparan. “Aku tidak seperti itu…” Khalisa memberanikan diri berbicara, suaranya gemetar namun berusaha tegas. Plak! Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri gadis itu. Tubuh Khalisa terhuyung ke samping, kepalanya membentur lemari wood tua yang ada di dekatnya. “Jangan pernah membantah!” bentak wanita itu dengan marah. “Di sini, kau hanyalah seorang pelayan rendahan. Kalau Bos menginginkanmu mati, kau harus mati. Paham?!” Air mata Khalisa jatuh membasahi wajah di balik cadarnya. Ia menangis bukan karena rasa sakit di pipinya yang kini terasa panas, melainkan karena harga dirinya diinjak-injak dan dihancurkan begitu saja tanpa ampun. “Sekarang ganti bajumu,” ujar wanita lain sambil melemparkan setelan pakaian yang terlihat lusuh dan sederhana ke arah Khalisa. “Dan lakukan dengan cepat! Seluruh lantai dapur harus sudah bersih mengkilap sebelum malam tiba.” Khalisa memungut pakaian itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menunduk dalam-dalam, berusaha menelan segala rasa sakit, kecewa, dan perih yang berkumpul memenuhi dadanya. “Dan satu hal lagi…” suara wanita itu terdengar kembali, dingin dan penuh ancaman. “Jangan berani-berani berpikir untuk mengadu atau berteriak minta tolong. Di rumah ini, suara teriakmu hanya akan hilang tertiup angin, dan tak ada satu pun yang akan mendengarnya.” Pintu kembali ditutup rapat, meninggalkan Khalisa sendirian di dalam ruangan sempit itu. Khalisa terduduk lemas di lantai dingin. Tangisnya akhirnya pecah tanpa suara. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangan, menahan isak tangis agar tak terdengar siapa pun. Di sela-sela butiran air mata yang terus menetes, bibirnya bergerak pelan. Melafalkan doa-doa yang nyaris putus asa, namun tetap ia panjatkan dengan sisa keyakinan yang ada. Karena baginya, hanya itu yang tersisa. Hanya Tuhan dan dirinya sendiri. * * “Apa?” Rama tergelak kecil, raut wajahnya jelas menunjukkan ketidakpercayaan. “Kau bawa gadis bercadar itu ke rumahmu hanya untuk dijadikan pelayan?” Aditya menyandarkan punggungnya dengan santai di kursi empuk, ekspresinya datar dan dingin. “Bukan aku yang membawanya ke sini. Ayahnya sendiri yang menyerahkan putrinya sebagai penebus utang,” jawabnya pelan, lalu ia menyesap minuman di gelasnya. “Dan kurasa… wanita aneh itu suatu saat akan berguna.” “Wanita aneh?” Rama mengernyitkan dahi, tak setuju. “Ayolah, dia pasti punya nama. Dan meski wajahnya tertutup cadar, dari sorot matanya saja aku yakin dia gadis yang sangat cantik.” Rama bangkit berdiri seketika. “Tunggu sebentar, aku mau menemuinya. Sekalian saja aku tanya siapa namanya.” Pandangan Aditya langsung melotot tajam. Udara di ruangan itu seolah berubah menjadi berat. “Kau memang sahabatku sejak kecil,” ucapnya dingin, nadanya mengancam. “Tapi ingat baik-baik. Sekali saja kau berani berbuat bodoh tanpa seizin atau sepengetahuanku, aku tak akan segan-segan mematahkan tulang lehermu sendiri.” Rama terdiam serentak. Ia segera mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, lalu kembali duduk di tempatnya saat Aditya memberi isyarat dengan pandangannya. “Sudah, cukup,” Aditya berkata sambil menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas sofa besar di hadapan Rama. “Sekarang katakan, ada keperluan apa kau datang ke sini?” “Untuk membawamu pulang,” jawab Rama enteng. Namun saat melihat sorot mata Aditya yang mulai mengeras, Rama membenarkan posisi duduknya. Nada bicaranya berubah sepenuhnya menjadi serius. “Sampai kapan kamu mau hidup begini terus, Aditya? Kamu punya rumah yang layak. Kamu punya keluarga. Dan nama kamu masih tercatat aktif sebagai mahasiswa di universitas ternama.” Rama menatap wajah sahabatnya itu lekat-lekat. “Ayahmu adalah pengusaha besar yang disegani, pemilik perusahaan raksasa di kota ini. Dan kamu adalah putra sulungnya, pewaris tunggal itu.” Rama menghela napas panjang. “Aditya, kembalilah.” Aditya tergelak pendek. Sebuah tawa kering tanpa sedikit pun rasa gembira. “Rumah?” Ia menggeleng pelan. “Keluarga?” Sorot matanya mengeras, menyiratkan kebencian yang mendalam. “Aku sudah dibuang lama sekali, Rama. Dibuang dan disingkirkan persis seperti sampah tak berguna.” Ia menunjuk sekeliling ruangan luas yang mewah namun dingin itu. “Dan tempat ini… hanya di sini aku merasa hidup. Ini rumahku. Rumah yang aku bangun dan beli menggunakan keringat dan usahaku sendiri.” “Semua orang tahu bisnis apa yang sedang kamu jalani,” sahut Rama cepat, nadanya tegas. “Sampai kapan kamu mau bertahan hidup dengan cara seperti ini? Apa kamu sama sekali tidak takut tertangkap atau jatuh? Kamu sudah merugikan banyak orang, Aditya!” “Aku tidak pernah merugikan siapa pun,” potong Aditya dingin. “Merekalah yang datang padaku. Merekalah yang meminta pertolongan.” Nada suaranya meninggi, penuh penekanan. “Aku beri mereka modal saat mereka tak punya apa-apa. Aku lindungi usaha mereka saat orang lain menekan mereka. Dan sebagai gantinya, mereka membayarku dengan nilai yang pantas atas semua itu.” “Tapi usaha yang kamu lindungi itu ilegal, Aditya!” Rama ikut berdiri, tak mau kalah. “Kamu melindungi tempat judi, kamu—” Aditya bangkit berdiri, amarahnya tak lagi berusaha disembunyikan. Wajahnya tampak mengerikan. “Aku tidak mau mendengar ceramah muluk darimu!” Ia melangkah mendekat, sorot matanya tajam menusuk penuh ancaman. “Pergi. Angkat kakimu dan keluarlah dari rumahku sekarang.” Suara Aditya menurun drastis, namun justru membuatnya terdengar jauh lebih berbahaya dan mematikan. “Sebelum aku berubah pikiran dan menyuruh anak buahku menghajarmu hingga tak bisa berjalan pulang.” * * Malam merayap perlahan, menyelimuti suasana. Lampu-lampu temaram di teras memancarkan cahaya lemah, menciptakan bayangan panjang yang jatuh terhampar di atas lantai yang dingin. Aditya duduk sendirian di sana, bersandar lesu pada sebuah pilar besar. Sebatang rokok menyala di sela jemarinya, sementara asap putihnya mengepul naik perlahan, lalu lenyap ditelan kegelapan malam — persis seperti segala hal indah yang pernah ia miliki, namun direnggut paksa begitu saja dari genggamannya. Keheningan menyelimuti sekeliling, namun di dalam kepalanya, segalanya justru bergemuruh riuh. Kenangan itu datang kembali, menguak luka yang tak pernah benar-benar kering. Ia teringat sosok dirinya yang masih muda, berdiri kaku di ruang tamu rumah mewah itu. Lantai marmer yang mengilap, lampu gantung kristal yang berkilauan, namun tak satu pun dari kemewahan itu mampu memberikan sedikit pun rasa kehangatan. Di hadapannya, seorang pria paruh baya berdiri tegak dengan raut wajah yang penuh amarah dan kekecewaan. “Kamu anak yang tak berguna!” Suara bentakan itu masih terdengar begitu jelas di telinga Aditya, seolah baru saja diucapkan kemarin sore. “Selalu saja membuat keributan! Tawuran, masalah, dan membawa aib bagi nama baik keluarga!” Tangan sang ayah menunjuk tajam ke arah pintu keluar. “Kamu bodoh, Aditya. Dan jangan pernah bermimpi atau berharap bisa mewarisi bisnis besar ini. Selama kamu hidup, kamu hanya akan menjadi sumber rasa maluku. Jadi, saat ini juga… pergilah dari rumah ini! Tanpa dukunganku, tanpa uangku, apa yang bisa kau lakukan?! Kau hanya akan menjadi gelandangan tak punya apa-apa!” Bunyi bantingan pintu yang keras dan menusuk itu masih membekas di ingatannya. Dan sejak malam itu, Aditya tak pernah lagi benar-benar pulang. Aditya menarik napas panjang dan berat. Dadanya terasa sesak, kembali dipenuhi rasa sakit akibat luka lama yang terkuak kembali. Ia menengadah, menatap langit malam yang kelam, hitam pekat tanpa seberkas pun cahaya bintang. Bibirnya bergerak perlahan, suaranya rendah berbisik pada dirinya sendiri. “Kau lihat sekarang?” ucapnya lirih namun penuh penekanan. “Tanpa bantuanmu… tanpa sepeser pun uang darimu…” Ia mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih, rahangnya mengeras menahan segala emosi yang berkecamuk. “… Aku tetap bisa berdiri dan hidup.” Di sudut lain rumah besar itu, jauh dari teras yang diterangi lampu temaram, suasana terasa jauh lebih dingin dan suram. Sebuah kamar sempit hanya disinari cahaya redup dari lampu gantung tua yang nyala apinya hampir padam. Dindingnya terasa lembap, lantainya dingin menusuk tulang. Di sanalah Khalisa duduk bersila, punggungnya bersandar pada ranjang kayu keras yang berderit pelan setiap kali ia sedikit saja bergerak. Seluruh tubuhnya masih terasa nyeri. Lehernya perih bekas cengkeraman kasar, lengannya terasa pegal dan memar. Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tak ada artinya, kalah jauh dibandingkan rasa sepi dan hancur yang menekan berat dadanya. Khalisa merapatkan ujung cadarnya menutupi sebagian wajah. Tangannya bergetar hebat saat ia kembali menengadah, mencoba menatap langit yang sama, namun tak bisa ia lihat jelas dari balik jendela kecil yang berjeruji besi. Butiran air matanya jatuh perlahan, membasahi kain yang menutupi pipinya. Ia kembali teringat wajah ayahnya, tatapan mata yang sengaja berpaling darinya, serta kata-kata kejam yang terlontar dari mulut orang yang seharusnya melindunginya — kalimat yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan tamparan atau pukulan apa pun. Anak pembawa sial. Kalimat itu terus bergaung berulang kali di dalam kepalanya, seolah menjadi kutukan yang melekat pada dirinya. Namun di tengah kepedihan itu, Khalisa menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang tersisa. Perlahan, ia meraih selembar sajadah sederhana yang tadi sempat diselipkan di sudut kamar. Ia bentangkan kain itu dengan hati-hati dan penuh rasa hormat, seolah benda itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang masih tersisa baginya di dunia yang kejam ini. Ia berdiri tegak. Kakinya goyah, namun hatinya berusaha tetap kokoh. Di tengah hening dan dinginnya malam, Khalisa menunaikan salat di antara air mata yang terus mengalir deras. Setiap kali ia bersujud, ia membiarkannya lama di sana, seolah meletakkan seluruh beban hidupnya di tempat itu. Setiap doa yang meluncur dari bibirnya, terucap langsung dari hati yang remuk namun belum menyerah. “Ya Allah…” bisiknya, suara yang hampir tak terdengar namun penuh keyakinan. “Jika Engkau menghadirkan aku dan menempatkan aku di tempat yang berat ini, aku yakin pasti ada maksud dan rencana-Mu yang indah di baliknya.” Ia menekan keningnya dalam-dalam ke atas sajadah. “Jangan biarkan aku kehilangan iman… Meski aku telah kehilangan segalanya, meski orang tuaku sendiri telah melepaskanku…” Angin malam berdesir pelan, menyusup melewati celah jendela kecil yang terbuka. Dan tanpa sepengetahuan Khalisa, di teras depan rumah besar itu, seorang pria juga sedang menatap langit yang sama, merenungi nasib yang sama-sama kelam. Dua jiwa yang sama-sama terluka dan kecewa, terpisah oleh tembok tebal, dosa, dan aturan takdir — namun diam-diam saling terhubung oleh kesepian yang sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD