Tetangga Masa Gitu?

1148 Words
"Kak, kok ngelamun?" Senggolan Yudith di lengan Intan menyadarkan gadis itu dari keterkejutan. Bagaimana bisa dia malah bertetangga dengan Arga? Padahal tujuannya ke rumah Om Hasan adalah agar ia punya alasan menolak polisi tampan itu mengantar dan menjemputnya setiap hari. Rasanya sekarang Intan ingin pinjam pintu Doraemon saja. "Eh, Intan udah dateng? Ayo masuk, Sayang." Tante Fitri, istri Om Hasan, keluar membawa satu mangkuk sup yang masih mengepul. "Mau kemana, Ma?" tanya Yudith pada Ibunya. "Mau ke rumah Bu Setio, nih ngasih sup iga mumpung masih anget. Dith, ajak Intan masuk dulu biar istirahat terus makan. Bentar yah, Ntan. Tante mau ke rumah seberang dulu." 'Apa lagi ini, Tuhan? Tante Fitri malah akrab sama Ibunya Arga?' "Iya, Tante." Intan tersenyum tipis. "Sini, aku bawain, Kak," pinta adik sepupu Intan. Yudith membawakan tas ransel Intan dan mempersilahkan kakak sepupunya naik ke lantai dua. "Ini kamarnya ya, Kak. Tadi si Mama udah nyiapin handuk sama mukena tuh buat Kakak. Nanti kalau udah selesai langsung makan ke bawah aja ya, Kak. Nggak usah sungkan, anggap kayak lagi di rumah Kakek aja." Adik sepupu Intan itu lalu pamit dan menutup pintu. Langit mulai menggelap, azan maghrib pun berkumandang. Gegas Intan akan meluncur ke kamar mandi untuk membersihkan diri dilanjutkan mendirikan salat maghrib. Namun, langkahnya terhenti saat telinganya mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumah. Karena penasaran gadis berambut panjang itu lalu mengintip dari balik tirai. "Tuh, kan! Beneran dia!" Intan menutup mulutnya saat melihat sosok laki-laki tinggi, tegap, memakai seragam cokelat khas aparat kepolisian turun dari mobil hatchback warna hitam. Tak berselang, mobil Om Hasan pun datang. Arga terlihat menghampiri Om Hasan dan memberi salam takzim saat adik dari ayah Intan itu turun dari mobil. Keduanya terlihat berinteraksi sebentar entah apa yang mereka bicarakan, lalu setelahnya dua laki-laki beda usia itu saling berpamitan dan masuk ke rumah masing-masing. Intan hanya bisa menghela napas sambil menyandarkan diri di tembok saat Arga sudah menghilang di balik pintu rumahnya. "Gimana nih cara berangkat ke kantornya besok pagi? Hadeeh!" Intan menepuk jidat. Kemudian ia melanjutkan tujuan awalnya untuk membersihkan diri. Setelahnya berlanjut salat maghrib. Saat selesai salat, Intan mendengar suara. "Intan?" Suara ketukan dan panggilan terdengar dari luar kamar. Intan segera membuka pintu. "Iya, Tante?" "Udah mandi sama salat?" "Udah, Tante." "Yuk, makan. Sekalian sama Om Hasan juga udah pulang tuh," ajak Tante Fitri ramah. "Oh, iya, Tante." Intan lalu mengekori langkah Tante Fitri menuju meja makan. Setelah salam takzim dan menyapa pamannya, Intan lalu duduk di samping Yudith. "Gimana magangnya, Ntan? Lancar?" tanya Om Hasan disela makannya. "Alhamdulillah, lancar, Om. Orangnya juga baik-baik pada bantuin Intan." Om Hasan mengangguk, "syukur lah, tadinya kalau kamu kesulitan atau dipersulit nanti Om mau minta tolong sama tetangga Om buat bantuin kamu. Dia juga dinas di Polres tempat kamu magang." "Eh, nggak usah, Om. Makasih, Intan bisa sendiri kok." "Kalau nggak salah dia perwira deh, udah punya jabatan juga di sana. Namanya Arga, kenal?" Seketika Intan tersedak, butiran nasi yang harusnya ia telan justru masuk ke lubang hidung. Intan terbatuk sekaligus merasakan pedih di hidungnya. Tante Fitri sibuk memberi minum dan menepuk punggung Intan perlahan. "Pelan-pelan, Ntan. Makanya kalau lagi makan jangan sambil ngobrol dong, Papa juga nih! Jadi keselek 'kan Intannya," omel Tante Fitri. Setelah batuk Intan mereda, semuanya kembali makan dalam diam. Sampai terdengar suara ketukan pintu dan salam. "Biar Mama aja yang buka." Tante Fitri lalu berdiri dan meninggalkan meja makan menuju pintu depan. Sayup-sayup terdengar percakapan istri Om Hasan dengan suara laki-laki. "Ini dari Ibun, Tante." "Eh, Arga nih repot-repot mangkuknya dibalikin pakai isi segala." Mendengar nama Arga mendadak nyali Intan menciut. Ia berdoa agar tantenya tak meminta Arga masuk. "Sini masuk dulu, Ga. Makan bareng, yuk." 'Tidaaaak!' batin Intan menjerit. "Makasih, Tan, barusan beres makan sama Ibun. Arga pamit ya, Tante." "Iya, makasih, Arga. Salam buat Ibun." Intan bisa bernapas lega saat mendengar Tante Fitri menutup pintu. "Nih ada puding dari Bu Setio. Cobain, Ntan. Enak loh puding buatan ibunya Arga." Intan hanya mengangguk sopan dan segera menyelesaikan acara makannya. Ia tak mau lagi terlibat dalam obrolan yang akan merembet membahas Arga dan tempat magangnya. "Om, Tante, Yudith, Intan ke kamar dulu yah." Ketiganya mengangguk mengerti jika Intan atau Maura yang mereka kenal, memang suka menyendiri dalam kamar. Gadis cantik itu selalu menutup diri, jarang bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Sesampai di kamar, Intan merebahkan diri di kasur. Ia lalu mengambil gawainya di nakas hendak memberi kabar pada kakeknya bahwa ia sampai di rumah Om Hasan dengan selamat. Namun, matanya terpaku pada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Intan semakin terbelalak melihat siapa yang telah mengiriminya pesan. Terlihat dari foto profilnya seorang laki-laki memakai kacamata hitam dan kaus polo berkerah warna hitam dengan tulisan TURN BACK CRIME. Hai, Maura, eh Intan. Kamu udah sampai rumah Om kamu? Terlihat pesan itu terkirim 10 menit yang lalu. Tak lama pesan baru kembali masuk. Lemari kaca banyak isinya. Kalau udah baca dibales ya ;) Intan menutup mulut membaca pesan terakhir, antara ingin tertawa dan juga kaget karena Arga tahu ia baru saja membaca pesan darinya. "Dia tahu dari mana nomor aku, ya? Perasan aku belum kasih deh." Kini Intan semakin dibuat kalang kabut saat teleponnya berdering. Deretan nomor yang belum ia simpan dalam kontak itu menari-nari di layar. Gadis berponi itu bingung apakah akan menerima panggilan itu atau mengabaikannya. Ragu, akhirnya Intan mengusap layar dan mendekatkannya ke telinga. "Halo, Intan, assalamualaikum." "H-halo, waalaikumsalam." Intan berusaha mengatur suaranya sedatar mungkin, meski sebenarnya ingin menjerit dengan euforia rasa yang ia sendiri tak bisa mendefinisikannya. "Kamu udah sampai rumah Om kamu?" "Eh, udah, Kak." "Syukurlah kalo gitu. Udah makan?" Intan masih terdiam, mencoba mencerna setiap perhatian yang Arga berikan. "Halo, Intan? Kamu masih di situ?" "H-halo, iya, Kak. Udah, udah makan kok." "Alhamdulillah kalau udah makan, kamu lagi ngapain?" "Lagi rebahan aja, Kak." "Hmm, bisa bangun sebentar nggak?" "Ha? Maksudnya?" "Iya, kamu bangun dulu bentar. Terus coba jalan ke balkon," titah Arga. "Jalan ke balkon?" tanya Intan semakin heran. "Iya, ke balkon, rumah Om kamu ada balkonnya, kan?" "Kok, Kakak tahu?" Intan menautkan kedua alisnya. Hanya tawa Arga yang ia dengar. "Udah jalan aja dulu ke balkon," Arga mengulang perintahnya. Intan semakin tak mengerti arah pembicaraan Arga. Tapi karena penasaran, Intan lalu menuruti perintah perwira polisi itu. Perlahan, gadis yang sudah mengenakan piyama hitam itu berjalan menuju balkon. Intan pun menoleh ke kanan dan ke kiri, dan tak mendapati apa pun. "Halo, Kak? Ini saya udah di balkon, tapi nggak ada apa-apa." "Oh, udah yah? Oke, tunggu yah." Tak selang berapa lama, dari pintu balkon rumah seberang keluar sosok laki-laki tegap dengan rambut undercut memakai kaus dan celana pendek warna cokelat. "Selamat malam, Maura Intan Permata," sapa Arga dari ujung telepon tapi tangannya melambai dari balkon seberang dengan senyum yang mengembang. Seketika Intan lemas dan ingin pingsan, ia butuh pintu kemana saja milik Doraemon sekarang juga. 'Somebody, please help me!' teriak Intan dalam hati sambil berdiri mematung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD