Dilihat dari cara Leonhart berhadapan dengan orang yang sedang bersedih, jelas sekali bahwa pria itu tidak cocok dalam hal menenangkan. Terlebih lagi menenangkan seorang wanita, selain pelukan, dia tidak tahu harus mengatakan apa sebagai penenang. Tapi baginya yang juga pernah mengalami kehilangan, dia tahu sehancur apa hati Misty.
Maka tidak heran jika Ayahnya, Tuan besar Freddy Vossen, sudah mulai menekannya untuk segera menikah. Jika tidak, maka pihak keluarga akan menyiapkan perjodohan meski harus menggunakan ancaman.
"Roman," Leonhart memanggil asisten pribadinya.
Roman menoleh, menurunkan tab dari wajahnya. "Ya, Pak?"
"Perempuan yang tadi nangis sampai pingsan itu, dia..."
"Dia sudah sadar, kalau itu yang mau bapak tahu. Dan, sepertinya dia akan diantar pulang, Pak." Jawab Roman dengan santai, seolah bisa membaca pikiran sang atasan yang sudah dia kenal sejak lama. Bahkan sebelum Leon mengambil alih perusahaan karena Roman jugalah yang menjadi asisten pribadi Tuan besar sebelumnya.
Leonhart mengangguk, "Baguslah, bisa repot kalau dia terus stay di kantor. Kita lagi sibuk, gak ada waktu buat ngurusin masalah pribadi."
Ia melirik jam di tangan, lalu beranjak dari kursi. Jam 12 siang, saatnya pulang untuk memenuhi panggilan sang Ayah. Alasannya hanya ingin makan siang bersama, tapi Leonhart yakin bahwa Ayahnya ingin membicarakan tentang pernikahan. Dia bahkan belum setua itu tapi orang-orang sangat cerewet, membuat telinganya pengang saja.
"Kadonya sudah siap belum, Pak? Saya tahu, Tuan besar memang bisa beli apapun sendiri. Tapi, sebagai seorang anak alangkah baiknya bapak beli sesuatu," ucap Roman, membuat Leonhart membeku untuk beberapa saat.
"Kado?"
"Iya, kado. Hari ini kan ulang tahun Tuan besar. Jangan bilang Pak Leon lupa, woah... Bisa gawat! Kalau begitu biar saya hubungi toko jam tangan, nanti kita ambil di tokonya sambil jalan," Roman memberikan saran, takut bos barunya akan terkena marah atau dianggap durhaka oleh ayahnya. "Masa saya udah siapin kado tapi anaknya nggak bawa apa-apa."
Sial.
Leon tidak ingat sama sekali tentang ulang tahun Ayahnya, terlebih skandal yang dibuat talentnya baru-baru ini mengambil seluruh perhatiannya. Sungguh hari yang melelahkan, tidak, bahkan belum menghabiskan waktu satu hari penuh.
"Kau benar, jam tangan aja biar gampang. Check out sekarang. Bisa mati aku kalau sampai telat datang dan gak bawa apa-apa. Jangan lupa bungkus se-proper mungkin, biar gak keliatan mendadak." Ucap Leon menerima saran.
Roman mengangguk paham, bergegas membuka website toko jam tangan mewah yang toko offline-nya ada di mall terdekat.
"Kita berangkat sekarang." Ujar Leonhart seraya menyambar jas yang tersampir di kursi kerjanya.
Mereka berdua berjalan menuju lift. Lift khusus dengan akses terbatas menuju ke lantai yang ditempati para eksekutif agar bisa lebih fokus, minim dari gangguan.
Ting.
Sesampainya di lobi, secara kebetulan lift karyawan pun terbuka dan Misty keluar dari sana sendirian. Leon tanpa sadar menghentikan langkahnya hanya untuk memperhatikan Misty, hingga gadis itu menoleh karena merasa ada yang terus menatap.
"Pak, anda bisa melubangi kepalanya kalau menatapnya seintens itu." Bisik Roman.
Leon pun tersadar, namun saat dia hendak melanjutkan langkah, Misty tiba-tiba berlari kecil menghampiri dirinya. Mau tidak mau, Leon tetap diam di tempat. Walau sedang buru-buru dan bisa saja memilih pergi, entah kenapa dia tidak bisa mengabaikan Misty. Leon penasaran apa yang akan gadis itu katakan.
"Selamat siang, Pak." Sapa Misty dengan sedikit serak, mungkin karena menangis terlalu lama. Matanya pun sembab.
'Dia masih bisa tersenyum,' gumam Leonhart.
"Ya?"
"Terima kasih dan ... meminta maaf." Ucap Misty dengan tulus, "Saya nangis kayak orang gila di depan Bapak sampai... sampai mengotori kemeja Pak CEO."
Gadis itu menunduk begitu dalam, membuat Leon yang tinggi kesulitan melihat wajahnya. Semakin Leon menunduk untuk melihat wajahnya, Misty semakin menghindar. Dia malu.
Akhirnya Leon menyerah dan berhenti berusaha mengintip wajah karyawannya itu. "Lupakan saja. Emh... selain kamu, ada siapa di rumah?"
"Ya?" Misty terlihat ragu-ragu, takut salah dengar.
"Bukan apa-apa. Jangan sendirian, lebih baik kamu ajak teman, sauda--, nggak, maksud saya... yeah terserah." Leonhart gelagapan sendiri.
Sekarang ia terlihat seperti orang bodoh yang gengsi menunjukan kekhawatiran terhadap karyawannya. Bukan sifat Leonhart bersikap hangat pada orang lain.
"Teman satu tim saya mau datang sepulang kantor nanti, Pak." Jawab Misty.
"Ouh, okay. Saya gak peduli sebenarnya. Jangan mikirin kerjaan dulu, itu maksud saya."
Barulah Misty mendongak, mengangguk paham, "Ah iya, kalau begitu saya permisi, Pak."
Setelah mengucapkan itu, Misty bergegas pergi dari pandangan Leonhart. Pria itu hanya bisa diam dan memandangi langkah kecil Misty yang semakin menjauh.
Melihat situasi dan kondisi Misty saat ini mengingatkan Leon pada dirinya di masa lalu, ketika Ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dia mati rasa, tak ada kesedihan dan sibuk dengan banyak hal hingga akhirnya meledak. Leon sampai harus pergi ke psikiater.
"Ekhem, Pak? Mari kita lanjutkan perjalanan kita, Pak." Kata Roman.
Leon mengangguk, "Iya, o-okay. Let's go."
***
Misty meringkuk di atas tempat tidur mendiang sang Ibunda, matanya yang sembab masih terus mengeluarkan air mata. Rasa kehilangan dan kesepian baru jelas menghantamnya ketika ia memasuki rumah tanpa ada yang menyambut dengan senyuman ataupun aroma masakan.
Kesepian. Misty benci perasaan itu. Susah payah dia bekerja demi memberikan pengobatan yang terbaik untuk Ibunya, tapi takdir membuat semua pengorbanannya itu terasa sia-sia.
"Ibu... Kalau gak ada Ibu, aku hidup buat siapa? Aku kerja buat siapa, Bu? Harusnya aku yang pergi lebih dulu... Aku gak kuat nanganin rasa sakit ini," lirih Misty disela tangisannya.
Tok.
Tok.
Tok.
Misty menoleh ke arah jam dinding, ternyata sudah menunjukan waktu pulang bekerja. Barusan itu pasti teman-temannya.
Ia bergegas beringsut turun dari tempat tidur, menyeka sisa-sisa air matanya.
"Permisi!"
"Sebentar," sahut Misty dengan suara yang semakin menghilang.
Sebelum membuka pintu, Misty mengintip dari jendela. Ternyata benar, itu adalah Amanda dan Marsha, teman satu timnya. Tunggu, masih ada satu orang di belakang sana.
Misty segera membukakan pintu.
"Hey, merasa lebih baik?" Amanda terdengar sangat khawatir melihat kondisi rekannya yang berantakan.
"Heem, lumayan. Ayo masuk." Misty mempersilakan kedua temannya masuk.
Ya, Misty tidak punya tenaga untuk berganti baju. Sepulang dari kantor, dia langsung pergi ke kamar Ibunya dan menangis sendirian di sana. Ia bahkan melewatkan makan siang.
"Kita beli makanan di jalan ke sini tadi, kita makan bareng ya?" Kata Marsha seraya meletakan dua kantung plastik di atas meja ruang tamu.
"Kalian dateng bareng Kevin?" Tanya Misty, kepalanya terasa berat karena terlalu lama menangis.
Amanda mengangguk, "Dia lagi nerima telpon dulu,"
Tak lama kemudian, Kevin muncul dari ambang pintu. Tubuhnya yang tinggi dengan wajah tampan khas blasteran chinesse, Kevin tersenyum. Meskipun begitu, dia terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Hai, kamu pucet banget," Kevin menempelkan punggung tangannya di kening Misty. "Besok jangan masuk kerja dulu okay?"
Misty mengangguk. Dia memang berniat untuk mengambil cuti selama beberapa hari, toh CEOnya pun sudah memberikan persetujuan.
"Kalian beneran cuma sahabatan? Aku ragu sih," kata Marsha seraya mengeluarkan kotak nasi untuk mereka makan bersama.
"Kalian gak usah repot." Ucap Kevin mengambil tempat di samping Misty.
Misty hanya diam, pandangannya kosong ke depan. Hari ini teman-temannya datang menemani, tapi besok dan seterusnya? Misty akan menghabiskan sisa harinya sendirian.
Tanpa sadar, air mata Misty mengalir kembali.
Marsha yang menyadari itu langsung mendekat dan memeluk Misty. Begitu juga dengan Amanda dan Kevin, mereka berusaha untuk menenangkannya.
Mereka tidak mau kehilangan Misty yang ceria. Kehidupan di kantor tidak akan bisa mereka lewati jika bukan karena Misty. Gadis itu selalu membawa aura positif, menguatkan orang-orang sampai dia sendiri lupa bahwa ia pun sama manusia yang bisa merasakan kesedihan.
Marsha menangis. "Untuk pertama kalinya aku lihat kamu nangis. Aku, aku merasa lega... Aku selalu takut ngeliat kamu yang bersikap seolah semua baik-baik aja setiap waktu. Kamu gak sendirian, Misty, ada aku, ada kami di sisi kamu." Ucapnya.
Tangisan Misty pecah, semua yang memberatkan hatinya tumpah di waktu itu.
Sedangkan di sisi lain, lebih tepatnya di kediaman keluarga Vossen yang bak istana, Leonhart nampak membeku dalam pelukan sang Ayah.
"Bawa calon istrimu itu, Papa kan harus kenal,"
"Calon istri?"
Mata Leonhart terpaku pada layar tablet di atas meja yang menunjukan foto dirinya sedang memeluk seorang wanita. Memeluk Misty.
Leonhart melirik Roman yang langsung membuang muka.
"Siapapun gadis itu, asalkan dia baik dan kamu suka, Papa setuju." Ucap Tuan besar Vossen dengan senyuman lebar. "Bawa dia kemari secepatnya, mengerti?"
Leonhart tersenyum canggung, kemudian mengangguk. "Tolong bunuh aku." Gumamnya dalam hati.