Setelah puas bermain, aku dan Karin memutuskan untuk bermain di rumahku saja, karena aku ingin mengajaknya makan mie dalam jumlah yang banyak dan hanya dihabiskan berdua saja.
Dalam perjalanan, sesekali aku mengecek ponselku. Tidak ada satu pun notifikasi pesan atau telepon darinya. Apakah se-tidak peduli itu?
***
Sejak beberapa hari terakhir, aku hanya menerima satu pesan w******p dari kekasihku. Namun, pesan itu mampu membuat hatiku berbunga-bunga. Aku langsung membalas pesan itu, padahal sebelumnya aku sudah merencanakan untuk tidak membalas pesan itu dengan cepat.
Saking bahagianya, aku sampai melompat-lompat di atas spring bed-ku, sambil berteriak-teriak, “Yeyy ... Aaa ... Hahaha ....”
“Kamu kenapa?”
Aku langsung berhenti melompat dan berteriak hanya untuk melihat kearah pintu kamarku. Di sana sudah ada mamaku yang berdiri diambang pintu, sambil menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu.
“Ee ... Anu, Ma ... Tidak ada apa-apa sih, Ma.” Aku mulai gerogi ketika melihat tatapan matanya.
“Oh ya sudah. Kamu mau ikut mama, nggak?” tawaran mama sebelum pergi dari tempat dia berdiri.
“Ke mana, Ma?” tanyaku sambil mengangkat satu alis.
Kemudian, aku langsung turun dari spring bed, agar bisa ikut mama.
“Mama mau ke minimarket. Kebetulan ada banyak diskon di sana.” Mama terlihat sangat bahagia ketika mengucapkan kata diskon padaku.
“Oh ya?” tanyaku, karena tidak terlalu percaya.
Mama hanya mengangguk sambil tersenyum padaku. “Mau ikut, tidak?” tawarnya sekali lagi.
“Ayo!”
Akhirnya aku dan mama pergi berdua dengan mengendarai sepeda motor. Ujung-ujungnya juga aku yang jadi sopirnya mama. Akal-akalannya saja ini, padahal kan mama tidak bisa mengendarai sepeda motor. Bisa-bisanya aku melupakan tentang ini. Tapi, enggak apa-apa lah, mungkin sebentar lagi akan mendapatkan es krim.
Setibanya di minimarket, aku hanya membuntuti mama di belakangnya, kedua mataku sambil melirik ke samping kanan dan kiri melihat barang-barang yang tersusun rapi. Sepertinya mama hanya berputar-putar saja. Bagaimana tidak berputar-putar, mama saja berjalan dari ujung rak toko ketemu ujung lagi dan kembali lagi ke bagian tengah.
“Mama cari apa?” tanyaku karena kelihatannya mama masih bingung.
Mama langsung menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya ke belakang sambil melihat ke arah keranjangnya. “Ini loh, Mama cari minuman yang sempat menjadi tranding topik waktu itu. Katanya ada di minimarket,” jawabnya, lalu menatapku.
“Oh, mungkin ada di minimarket sebelahnya, Ma. Ayo pindah ke minimarket sebelah,” ajakku. Karena kalau di minimarket sini tidak ada, ya pasti tidak ada. Kan memang kepala tokonya tidak mau stok minuman itu toh.
Mama langsung menyetujui. Tapi, sebelum pergi dari sini, mama mendekati kasir untuk membayar beberapa barang saja, sedangkan aku langsung menunggu di teras minimarket. Setelah beberapa menit, akhirnya mama keluar juga dengan membawa kantong plastik berwarna putih yang berisi beberapa belanjaannya.
Tanpa basa-basi lagi, aku dan mama langsung pindah ke minimarket lainnya yang hanya berjarak lima ratus meter dari minimarket ini. Saat tiba di minimarket lain, mama langsung mendekati beberapa deretan kulkas yang ada di dalam toko. Ternyata hanya tersisa dua minuman saja. Padahal mungkin mama ingin membeli banyak untuk stok di rumah, karena di tangannya sudah membawa keranjang belanja berwarna biru. Pasti mama kalau membawa keranjang begini, bawaannya ingin belanja terus.
“Yah, Nak. Tinggal dua ini. Kita cari di lain lagi ya, Nak,” seru mama dengan sedikit tidak bersemangat. Tapi tetap tidak pantang menyerah untuk pindah ke minimarket lainnya lagi.
Hm, ini hanya perkara minuman saja sampai pindah beberapa minimarket, untung aku selalu bisa mengantarnya ke mana beliau inginkan.
Setelah puas berpetualang ke minimarket, akhirnya aku dan mama pulang dengan hanya membawa sepuluh botol minuman saja, karena sangat susah untuk mencari di beberapa minimarket daerah sini. Mungkin karena terkenal, jadi stoknya memang sengaja diberi sedikit. Huh, aku tak tahulah, karena aku tidak mengerti tentang marketing seperti ini. Karena aku bukan ahli marketing.
Langkahku langsung menuju ke kamarku lagi. Aku kembali melihat ponselku. Hm, tidak ada notifikasi apa pun di sana. Padahal aku sudah membalas dengan cepat, berharap dia juga akan membalasnya dengan cepat, tapi ternyata, aku salah berharap. Bukan harapanku yang salah, tapi aku salah untuk mengharapkan sesuatu padanya.
Aku mulai ragu untuk melanjutkan kisah cinta ini. Dari cara memberikan kabar saja, dia menganggap semuanya sebagai hal sepele. Kalau seperti itu caranya, mending tidak usah memutuskan untuk menjalin hubungan denganku. Cukup mengagumi saja. Karena aku juga butuh kepastian, bukan seperti ini yang kubutuhkan. Hilang, dengan kabar seperlunya saja. Padahal aku sudah siap menjadi tempat keluh kesahnya, menjadi rumah untuk dia pulang. Tapi ternyata, dia hanya menganggapku sebagai pacar yang hanya dikabari sesempatnya saja.
Sepertinya ini bukan salah beda agama, yang salah sikap orangnya. Bagaimana cara kita untuk selalu mengabari. Bagaimana kita bisa mengatur waktu meskipun kelihatannya sangat sibuk.
Sudahlah, aku tidak mengerti lagi. Mau dia seperti apa juga terserah. Mau mengabari boleh, tidak mau mengabari juga boleh. Terserah dia saja sudah. Aku benar-benar sudah pasrah padanya.
Mau menyalahkan tentang perbedaan agama, tapi bukan itu inti permasalahannya. Mau menuntut tentang kabar, tapi dianggap seperti anak kecil. Memang serba repot kalau jadi aku ini. Tidak semuanya yang terlihat bahagia dalam senyumku itu, benar-benar bahagia. Karena sesungguhnya, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sedang dibingungkan dengan sifatnya yang baru kutahu saat ini.
Kemudian aku berpindah ke dekat jendela. Duduk termenung sambil meneratapi nasibku kali ini. Sepertinya aku tidak seberuntung mereka. Tapi mengapa, saat air mataku jatuh, langit juga menjatuhkan air hujan di daerahku, padahal saat ini bukan musim hujan.
Kupikir, aku akan bahagia seperti lainnya. Meskipun menjalani hubungan jarak jauh, setidaknya ruang pesan w******p-nya terlihat menyenangkan saat dibaca, tapi semua itu hanya harapanku, bukan dijadikan kenyataan.
“Apakah aku salah?” gumamku sendiri, sambil menyandarkan daguku pada kusen jendela.
“Apakah aku tidak pantas bahagia?”
Kalimat-kalimat seperti itu selalu muncul dalam pikiranku, lalu keluar dari mulutku, setelah itu hanya air matalah yang mengatakan segalanya. Jika aku ditakdirkan untuk tidak bahagia, mengapa Tuhan selalu memperkenalkan diriku pada beberapa orang?
Sudahlah ...
“ESTER ... BISA BANTU MAMA?” teriak mama. Suaranya seperti berada dalam dapur.
“IYA, MA ....” Aku langsung menghapus air mataku, lalu membuka jendela kamarku untuk menampung air hujan dengan kedua telapak tanganku, lalu kusentuhkan pada bagian wajahku.
Setelah itu, aku langsung berlari menuju dapur untuk membantu mama.