Hari itu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Cellin. Matahari pagi bersinar cerah seakan ikut merayakan momen penting dalam hidupnya. Halaman sekolah SMP tempat ia belajar selama tiga tahun terakhir dipenuhi oleh siswa, orang tua, dan guru. Semua terlihat bahagia, termasuk Cellin yang berdiri di tengah teman-temannya dengan senyum lebar.
“Cellin! Kita lulus!” teriak Karen sambil memeluknya erat.
“Iya! Akhirnya!” balas Cellin dengan mata berbinar.
Darin ikut menghampiri sambil tertawa. “Gila ya, rasanya baru kemarin kita masuk sekolah ini. Sekarang udah lulus aja.”
Cellin mengangguk. “Dan kita bakal pisah… itu yang bikin sedih.”
Karen langsung merangkul bahu Cellin. “Eh, jangan sedih! Kita masih bisa ketemu kok. Apalagi kamu bakal jadi anak luar negeri sekarang.”
Darin menatap Cellin penuh semangat. “Iya, kamu keren banget sih. Bisa diterima di sekolah favorit di Korea!”
Cellin tersenyum malu. “Aku juga nggak nyangka bisa keterima di SMA XYRAN. Rasanya kayak mimpi.”
Tak lama kemudian, suara kepala sekolah terdengar dari pengeras suara, memanggil para siswa untuk maju menerima pengumuman kelulusan secara resmi. Satu per satu nama dipanggil, dan akhirnya…
“Cellin Anggraini.”
Cellin melangkah maju dengan percaya diri. Tepuk tangan terdengar dari seluruh penjuru. Ia menerima map kelulusan dengan tangan sedikit gemetar... bukan karena takut, tapi bahagia.
Saat ia kembali ke tempat duduk, ia melihat kedua orang tuanya, Olina dan Lion, berdiri di belakang sambil tersenyum bangga. Mata ibunya tampak berkaca-kaca.
Setelah acara selesai, Cellin langsung berlari menghampiri mereka. “Ibu! Ayah! Aku lulus!” katanya sambil memeluk keduanya.
“Tentu saja kamu lulus, nak,” ujar Olina sambil mengusap kepala Cellin. “Kami bangga sekali sama kamu.”
Lion menepuk bahu anaknya. “Apalagi kamu juga diterima di sekolah di Korea. Itu luar biasa.”
Cellin tersenyum bahagia. “Terima kasih ya, ayah, Bu… karena sudah selalu mendukung aku.”
Hari itu diakhiri dengan makan bersama keluarga dan teman-temannya. Mereka tertawa, berbagi cerita, dan menikmati momen kebersamaan sebelum akhirnya harus berpisah.
Hari-hari setelah kelulusan terasa seperti mimpi indah bagi Cellin. Ia menghabiskan waktu bersama Karen dan Darin hampir setiap hari. Suatu sore, mereka pergi ke pantai.
“Ini mungkin terakhir kali kita ke sini sebelum kamu berangkat,” kata Karen sambil menatap laut.
Cellin menghela napas. “Iya… aku bakal kangen banget sama kalian.”
Darin melempar pasir kecil ke arah laut. “Jangan lebay ! Kita pasti ketemu lagi.”
Cellin tertawa. “Iya sih… tapi tetap saja beda rasanya.”
Selain ke pantai, mereka juga sering pergi ke mal, menonton film, dan makan bersama. Bahkan Cellin juga meluangkan banyak waktu dengan orang tuanya. Suatu malam, mereka makan di restoran favorit keluarga.
“Kamu sudah siap semua barangnya?” tanya Lion.
“Sudah, ayah. Tinggal beberapa baju saja yang belum di masukan koper,” jawab Cellin.
Olina menatap anaknya dengan lembut. “Ibu masih enggak percaya kamu bakal jauh dari ibu.”
Cellin menggenggam tangan ibunya. “Aku juga pasti kangen, Bu. Tapi ini kesempatan besar buat aku.”
“Iya… ibu tahu,” ujar Olina pelan.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Hingga akhirnya, tanggal keberangkatan semakin dekat. Cellin dijadwalkan berangkat ke Korea pada tanggal 20 Mei. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Tepat pada tanggal 16 Mei, sore hari. Cellin sedang duduk di kamarnya, merapikan barang-barangnya. Koper besar sudah hampir penuh. Ia hanya tinggal memasukkan beberapa barang kecil.
Tiba-tiba, ponselnya berdering....Triiiiiinnnng.....Triiiiiinnggg
Nomor tak dikenal.
“Siapa ya?” gumamnya pelan.
Ia pun mengangkat telepon itu.
“Halo?”
“Cellin?” suara di seberang terdengar serius.
“Iya, ini siapa ya?”
“Saya Seonsaengnim dari sekolah.”
Cellin langsung duduk tegak. “Oh, iya, seonsaengnim. Ada apa ya?”
Suasana mendadak terasa berbeda.
“Ada perubahan, Cellin.”
" Perubahan? Maksudnya? seonsaengnim” tanya Cellin bingung.
“Kamu dipindahkan ke sekolah lain.”
“Dipindahkan?” suara Cellin meninggi. “Ke mana?”
“Ke SMA Raxyla.”
Cellin terdiam beberapa detik. “Raxyla…? Tapi itu sekolah elit, kan?”
“Iya.”.....
“Tapi kenapa saya dipindahkan? Bukannya saya sudah diterima di SMA XYRAN?”
Tidak ada jawaban.
Cellin mulai merasa tidak nyaman. “Seonsaengnim… boleh tahu alasannya?”
Hening.....
Kemudian suara itu kembali terdengar, sedikit lebih lembut.
“Tenang saja, Cellin. Semua biaya sekolah kamu di Raxyla sudah dibayar.”
Cellin semakin bingung. “Dibayar? Maksudnya…?”
“Mulai dari sekolah, tempat tinggal, sampai kebutuhan kamu di sana. Kamu tidak perlu khawatir. Fokus saja belajar.”
“Tapi....Seonsaengnim ”
“Maaf, saya tidak bisa menjelaskan lebih banyak.”
Cellin merasa dadanya sesak. “Seonsaengnim, saya berhak tahu”
Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sambungan telepon terputus.
“Hallo? Hallo.....?!”
Cellin menatap ponselnya dengan bingung. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
Kalau kamu sudah sampai di Korea nanti, akan ada yang menjemput kamu. Kamu akan diantar ke tempat tinggalmu. Maaf sajangnim hanya bisa sampai di sini. Semangat ya, cantik. Seonsaengnim percaya sama kamu.
Cellin membacanya berulang kali.
“Ini… apa maksudnya?”
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari keluar kamar.
“Ibu! Ayah!”
Olina dan Lion yang sedang berada di ruang tamu langsung menoleh.
“Ada apa, nak?” tanya Olina khawatir.
Cellin terlihat panik. “Aku… aku barusan ditelepon dari sekolah.”
Lion berdiri. “Kenapa?”
“Aku dipindahkan sekolah elit ....ayah , ibu....Bagaimana ini??.”
“Dipindahkan?” ulang Olina kaget.
“Iya… ke SMA Raxyla.”
Kedua orang tuanya saling berpandangan.
“Itu kan sekolah elit…” ujar Lion pelan.
“Iya, Yah. Aku juga bingung.”
Olina mendekati Cellin. “Terus gimana, nak?”
Cellin menarik napas. “Katanya semua biaya sudah ditanggung. Dari sekolah, tempat tinggal, sampai makan.”
“Apa?” Olina semakin terkejut. “Kok bisa?”
Lion mengerutkan kening. “Ini aneh.”
“Iya, Yah. Aku juga ngerasa gitu,” jawab Cellin.
Olina terlihat cemas. “Terus… kamu tetap berangkat?”
Lion langsung menimpali, “Ayah rasa nggak usah berangkat saja, nak. Ini terlalu mencurigakan.”