Mihe menatap Cellin. “Eonni, tenang saja. Nanti kalau makan siang di sekolah, kami kasih tahu mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak.”
Cellin menatap mereka satu per satu. Hatinya kembali terasa hangat. “Terima kasih… semuanya…” ucapnya tulus.
Yunji tersenyum. “Kita kan keluarga sekarang.”
“Betul!” sahut yang lain kompak.
Cellin tertawa kecil. “Ayo lanjut makan,” katanya.
Mereka kembali makan dengan suasana penuh tawa dan kehangatan. Pagi itu terasa begitu berbeda bagi Cellin. Di tempat yang jauh dari rumah, ia justru menemukan kehangatan yang tak ia sangka. Teman-teman yang peduli....... Teman-teman yang mau mengerti.
Teman-teman yang membuatnya tidak merasa sendirian.
Setelah sarapan pagi yang hangat dan penuh tawa, mereka semua bersiap untuk berangkat ke sekolah. “Sudah siap semua?” tanya Mihe sambil mengambil tasnya.
“Siap!” jawab yang lain hampir bersamaan.
Summi langsung menarik tangan Cellin. “Ayo, eonni! Hari pertama kamu!”
Cellin tersenyum, meskipun dalam hatinya ada sedikit rasa gugup. “Iya… ayo,” jawabnya.
Mereka pun keluar rumah bersama. Mobil yang biasa menjemput mereka sudah menunggu di depan. Selama perjalanan menuju sekolah Raxyla yang memakan waktu sekitar 40 menit, suasana di dalam mobil tidak pernah sepi. Summi terus saja membuat lelucon.
“Eh, kemarin Hyumna hampir jatuh dari tempat tidur gara-gara mimpi dikejar ayam!” kata Summi sambil tertawa.
“YA! Itu rahasia!” protes Hyumna dengan wajah memerah.
Semua langsung tertawa. Cellin ikut tertawa lepas.....hahahaha
Rasa gugupnya perlahan menghilang. “Seru banget mereka…” pikirnya dalam hati.
Perjalanan yang cukup jauh itu tidak terasa berat karena diisi dengan canda dan tawa. Hingga akhirnya... Mobil berhenti di depan gerbang besar. Sekolah Raxyla. Bangunannya megah dan terlihat sangat mewah. Cellin menatapnya takjub. “Ini… sekolahku?” gumamnya pelan.
Summi langsung menarik tangannya. “Ayo, eonni!”
Mereka berjalan masuk bersama dan seperti yang sudah biasa terjadi... Banyak pasang mata langsung tertuju pada mereka.
“Eh, itu kan genk Summi…”
“Iya, tapi kok ada orang baru?”
“Jadi enam orang sekarang?” Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar mereka.
Kini, kelompok itu terdiri dari enam orang... Summi, Yunji, Mihe, Yuna, Hyumna, dan Cellin.
Selama berjalan di koridor sekolah, mereka tetap tertawa seperti biasa, seolah tidak peduli dengan tatapan orang lain.
Namun Cellin bisa merasakan perhatian yang begitu besar tertuju padanya. Ia sedikit menunduk, tapi Summi menggenggam tangannya lebih erat. “Tenang aja, eonni,” bisik Summi. “Aku di sini.”
Cellin tersenyum kecil. Mereka akhirnya sampai di kelas. Dalam hati, ia kembali berdoa..... Terima kasih, ya Allah…Ia tersenyum. Hari pertamanya di Korea belum dimulai sepenuhnya. Namun satu hal sudah pasti, Ia tidak sendiri dan itu sudah lebih dari cukup.
Kelas 10 A.....
Begitu masuk, suasana kelas langsung berubah. Semua siswa dan siswi menoleh ke arah mereka. Summi langsung menarik Cellin ke dalam. “Eonni! Nanti duduk sama Summi ya!” Karena suara Summi yang cukup keras, semakin banyak mata yang memperhatikan.
“Siapa itu?”
“Anak baru?”
“Iya, kayaknya…”
Cellin mencoba tetap tenang. Ia mengikuti Summi dan duduk di sampingnya. Susunan tempat duduk mereka cukup dekat:
Di depan Cellin dan Summi ada Mihe dan Hyumna.....Di belakang mereka ada Yunji dan Yuna., Cellin duduk dengan rapi.
Namun ia menyadari sesuatu. Semua mata masih tertuju padanya. Bukan hanya karena ia siswa baru. Tetapi juga karena penampilannya.
Ia satu-satunya siswi yang memakai kerudung di kelas itu. Beberapa siswa terlihat berbisik-bisik. Namun tidak lama kemudian, beberapa siswi mulai mendekat. Rasa penasaran mereka terlihat jelas. Seorang siswi dengan senyum ramah membuka percakapan.
“Eh… Summi,” katanya, “itu siapa? Kita boleh kenalan nggak?” Yang lain langsung menimpali.
“Iya, boleh dong kenalan.”
“Bener, kita kan satu kelas.”
Cellin tersenyum sopan. Ia berdiri sedikit dan membungkuk. “Annyeonghaseyo… Cellin imnida.”
Salah satu dari mereka terlihat kagum. “Wah, namanya bagus…”
Ia lalu memperkenalkan diri. “Annyeonghaseyo… Riana imnida, Bianca imnida,” sambung yang lain.
“Luna imnida,” ujar siswi terakhir.
Mereka bertiga tersenyum....
“Semoga kamu betah ya di sini, Cellin,” kata Luna.
Cellin tersenyum hangat. “Terima kasih…”
Tiba-tiba, Hyumna menyela dengan ekspresi serius. “Eh, jangan panggil Cellin saja.”
Semua menoleh padanya. “Panggil eonni. Dia lebih tua dari kita.” Semua langsung terkejut.
“Serius?” tanya Riana dan Hyumna mengangguk.
“Wah!” kata Bianca. “Akhirnya kelas kita punya eonni!”
“Iya!” Luna terlihat senang. “Berarti kita harus hormat!” Mereka semua tertawa.
“Eonni Cellin!” panggil Riana dengan semangat.
Cellin sedikit kaget, tapi tersenyum. “Iya…”
Luna tiba-tiba berkata dengan nada serius, “Kita harus jaga eonni Cellin dari genk pembully.” Ucapan itu membuat suasana sedikit berubah. Namun yang lain langsung mengangguk.
“Iya, bener!”
“Setuju!”
“Kita lindungi eonni!”
Cellin terdiam. Hatinya terasa tersentuh.
Mihe lalu menambahkan, “Oh iya, satu lagi.” Semua menoleh.
“Eonni Cellin agamanya berbeda dengan kita.” Suasana kembali hening.
Mihe melanjutkan dengan tenang, “Jadi nanti kalau makan siang, tolong kasih tahu ya mana makanan yang ada daging babinya. Karena eonni Cellin tidak bisa makan itu.” Beberapa siswa langsung mengangguk.
“Oh, oke!”
“Siap!”
“Tenang aja!”
Riana tersenyum. “Kami bantu, eonni.”
Cellin menatap mereka satu per satu. Rasa hangat kembali memenuhi hatinya. “Terima kasih…” ucapnya pelan.
Tak lama kemudian, suasana kembali santai. Mereka mulai mengobrol, bercanda, dan tertawa. Summi kembali membuat lelucon.
“Eh, nanti kalau ada yang ganggu eonni, kita lempar pakai buku saja!”
“YA! Jangan!” teriak Yuna sambil tertawa.
Kelas dipenuhi suara tawa. Cellin ikut tertawa bersama mereka. Ia melihat sekeliling. Teman-teman baru. Suasana yang hangat.
Perhatian yang tulus. Dalam hati, ia berkata.... Ini… seperti keluarga kedua… Ia tersenyum. Hari pertamanya di sekolah Raxyla ternyata tidak semenakutkan yang ia bayangkan. Justru inilah yang lebih hangat dari yang ia harapkan.