Hal Kecil yang Mulai Berarti

500 Words
Sejak hari itu, semuanya tidak langsung berubah. Tapi entah kenapa... terasa berbeda. Aku melihatnya lagi keesokan harinya. Di kampus. Seperti yang dia bilang. Aku sedang duduk di tempat biasa pojok kelas, dekat jendela ketika seseorang menarik kursi di depanku tanpa izin. Aku mengangkat kepala. Arga. "Boleh duduk?" tanyanya, tapi dia sudah lebih dulu duduk. Aku menatapnya sebentar. "Kamu nanya atau cuma formalitas?" kataku datar. Dia tertawa kecil. "Biar sopan aja." Aku menghela napas pelan, tapi tidak menyuruhnya pergi. Kami diam beberapa detik. Aneh. Biasanya aku tidak suka ada orang duduk terlalu dekat. Tapi kali ini... tidak terlalu mengganggu. "Kamu beneran bawa payung hari ini?" tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk kecil. "Bawa." "Bagus," katanya santai. "Aku nggak harus jadi ojek payung lagi." Aku menahan senyum. Sedikit. Hari-hari setelah itu terasa... pelan-pelan berubah. Tidak drastis. Tidak juga terlalu jelas. Tapi cukup untuk membuatku sadar Arga mulai jadi bagian dari rutinitasku. Kadang dia duduk di sampingku di kelas. Kadang kami pulang bersamaan, meski tidak selalu sengaja. Kadang hanya bertukar kalimat singkat, tapi entah kenapa terasa cukup. "Kenapa kamu selalu duduk sendiri?" Pertanyaan itu datang tiba-tiba, suatu sore di kantin kampus. Aku menatap minumanku. "Kebiasaan." "Sejak kapan?" Aku terdiam. "Lupa." Dia tidak langsung membalas. Tidak memaksa. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menjelaskan lebih jauh. "Kalau aku duduk di sini, ganggu nggak?" Aku mengangkat bahu. "Terserah." Dia tersenyum kecil. "Oke. Aku anggap itu 'boleh'." Aku menggeleng pelan. Aneh. Aku tidak menolak. Hari itu, kami tidak banyak bicara. Hanya duduk. Kadang dia memainkan ponselnya, kadang aku hanya menatap ke luar. Tapi tidak terasa canggung. Tidak seperti biasanya. Dan tanpa aku sadari... aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Suatu hari, aku datang lebih pagi dari biasanya. Kelas masih kosong. Aku duduk di tempatku, membuka buku, mencoba membaca. Tapi pikiranku tidak fokus. Langkah kaki terdengar dari luar. Aku tidak terlalu peduli. Sampai suara itu berhenti tepat di depanku. "Kamu selalu datang sepagi ini?" Aku mendongak. Arga lagi. Aku mengangguk kecil. "Kadang." Dia menarik kursi, lalu duduk. "Kamu nggak capek?" Aku mengerutkan kening. "Capek?" "Iya. Sendirian terus." Pertanyaan itu membuatku diam. Beberapa detik. Aku tidak tahu harus jawab apa. "Aku biasa," kataku akhirnya. Dia menatapku. Tidak seperti orang lain. Tatapannya tidak sekadar melihat. Seolah... mencoba mengerti. "Kalau capek, bilang aja," katanya pelan. Aku menahan napas. Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa... terasa berbeda. Aku mengalihkan pandangan. "Ngapain juga?" Dia tersenyum kecil. "Ya... siapa tahu ada yang mau dengerin." Aku hampir tertawa. Hampir. Tapi tidak jadi. "Kayaknya nggak perlu," jawabku pelan. Dia tidak membalas. Hanya mengangguk kecil. Hari itu berakhir seperti biasa. Tidak ada yang terlalu spesial. Tidak ada yang terlalu berubah. Tapi saat aku berjalan pulang, ada satu hal yang terus terlintas di pikiranku Kalau capek, bilang aja. Aku menghela napas pelan. Sudah lama... tidak ada yang mengatakan itu padaku. Malamnya, aku duduk di kamar, menatap ponsel. Ada satu nama yang kini tidak terasa asing lagi. Arga. Aku tidak mengirim pesan. Dia juga tidak. Tapi entah kenapa... aku tidak merasa sendiri seperti biasanya. Dan itu... cukup membuatku takut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD