MPL - Chapter 6

2079 Words
                      Arik melangkahkan kakinya menuju unit apartemen milik sahabat kekasihnya. Arik sudah beberapa kali menjemput gadis cantik itu ke apartemennya atas perintah Sienna, kekasihnya. Dan hari ini, Arik kembali lagi ke sana dan diminta untuk menjemput gadis cantik itu untuk dibawa ke rumah keluarga Shailendra. Hari ini rencananya mereka akan sama-sama pergi ke butik untuk memilih baju yang pas untuk pesta pertunangan Sierra, kaka sulung Sienna.                 Arik terlihat sangat tampan sekali dengan balutan celana chino berwarna coklat dan kemeja flannel kombinasi merah dan hitam. Tak lupa lelaki itu memakai sneakers abu-abu keluaran brand asal Amerika itu. Dalam beberapa langkah lagi, dirinya akan sampai di unit apartemen milik Aleta, namun ia mendengar suara dua orang sedang mengutarakan argumennya. Terdengar bahkan mereka berselisih faham. Bahkan si wanita tidak mau mengalah dengan suara sang lelaki yang juga tak kalah meninggi mempertahankan argumennya.                 Arik melambatkan langkahnya dan memastikan jika suara yang ia dengar itu bukanlah bersumber dari unit milik Aleta. Begitu ia benar-benar di depan unit gadis itu, Arik melihat Aleta dan seorang lelaki paruh baya sedang bertengkar hebat. Sebelumnya Arik tak pernah menemui lelaki itu, baru kali ini ia melihatnya. Cukup lama Arik mendengar pertengkaran antara lelaki itu dengan Aleta.  Yang bisa ia tangkap sekarang ini adalah lelaki itu merupakan ayah Aleta, gadis yang sedang ditunggunya. Untuk sementara ia tidak akan mengganggu percakapan mereka dan membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya dahulu.   “Papah juga jangan egois dong, aku ga suka sama perempuan itu! sekali aku bilang tidak ya tidak!” ujar Aleta dengan nada kesalnya. “Mau sampai kapan kamu membenci istri papah, Leta? Dia itu sayang sekali denganmu!” ucap sang papah yang tak kalah geram. “Sayang kata Papah? Yang benar saja, kalau memang dia sayang sama aku dari dulu dia ga akan pernah ngerebut Papah dari aku. Apapun alasannnya!” Leta semakin terdengar marah dengan kalimat yang barusan diucapkannya. “Leta, kalau kamu seperti ini terus. Keras kepala dan tidak mau menurut dengan papah, papah akan mencabut semua fasilitas yang papah berikan sama kamu. Dan papah akan memindahkanmu.” Lelaki itu memberikan ancaman, berharap Aleta akan takut dan akhirnya menurut dengannya. Lelaki paruh baya itu juga semakin meninggikan suaranya dan tak mau kalah dengan apa yang sudah ia terlanjur ucapkan. “Hah? Sudah aku duga cepat atau lambat Papah pasti akan melakukan ini sama aku. Dan Ini pasti ada hubungannya dengan si Eva itu! kalau memang dia sayang sama aku seperti yang tadi Papah ucapkan, Papah ga akan mungkin bicara ini semua ke aku. Papah juga ga akan mungkin membiarkan aku terlantar hanya karna memaksa aku untuk menerima perempuan itu sebagai ibu sambungku. Terserah Papah mau cabut semua, mau ambil semua silahkan! Aku tidak perduli, lagi juga aku masih punya orang tua tapi seperti sudah tidak punya orang tua lagi. Papah selalu sibuk dengan memenuhi semua yang si Eva itu inginkan. Termasuk mengusir aku dari kehidupan Papah.” Aleta melebarkan pupil matanya karna terlalu marah dengan sang ayah.                 Ia menahan desakan air matanya yang ingin tumpah ruah keluar dari pelupuk matanya. Tapi Leta menahan air matanya agar tak terlihat rapuh di depan sang ayah. Saat ini ia hanya merasa kecewa dengan sang ayah yang tak Leta sangka akan berbuat seperti ini padanya. Bahkan lebih memilih istrinya dibanding darah dagingnya sendiri. “Lancang kamu leta! Dia itu istri papah!” ujar Salman sambil mengangkat tangan kanannya ke udara.                 Lelaki itu sangat terlihat marah dengan apa yang ia baru saja dengar dari sang anak yang selama ini selalu ia sayangi. “Silahkan Pah, tampar aku! tampar aku! jika itu akan membuat Papah puas dan meninggalkan perempuan itu, silahkan tampar aku berkali-kali Pah.” Bulir kristal mulai keluar dari matanya dan kini mulai membasahi pipinya.                 Salman tak bicara apapun, ia hanya memandang anak satu-satunya itu dengan sangat marah. Ia bahkan merasakan tak lagi mengenal putri tunggalnya itu setelah ia memutuskan untuk menikah dengan wanita bernama Eva yang sudah ia kenal sejak masih kecil.   / / / / / /                   Tok tok tok                 Akhirnya Arik memberanikan diri untuk mengetuk pintu unit apart milik Aleta yang sedikit terbuka. Begitu mendengar suara ketukan pintu Aleta dan Salman langsung menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya Aleta begitu melihat sosok yang mengetuk pintu unitnya. Terbukti jika ia sampai membeliakkan matanya dan segera menghapus air matanya yang sudah tumpah ruah di pipinya. Salman juga langsung menurunkan tangannya yang ia angkat ke udara. Ia ingin memberikan pelajaran pada anaknya itu. Namun, sayangnya tidak sampai terjadi. Dalam hatinya ia juga bersyukur karna tak melukai Aleta lagi agar tak membuatnya semakin menjauh.                   Salman langsung mengambil jasnya yang ia sampirkan di sofa dan segera melangkah meninggalkan Aleta yang masih bergeming di tempatnya. Begitu melihat papahnya sudah melangkah menjauh, Aleta langsung merosot ke lantai. Namun, karna Arik yang berdiri tak jauh darinya ia langsung berlari untuk bisa menggapai tubuh Aleta sebelum terjatuh ke lantai. Dan ya, Arik sangat tepat waktu dan langsung bisa menggapai tubuh Aleta. Aleta langsung menangis sejadi-jadinya. Bahkan Arik yang tak biasa-biasanya memeluk tubuh gadis lain selain Sienna, kekasihnya. Kini memeluk tubuh mungil Aleta. “Leta, lo ga apa-apa?” tanya Arik dengan penuh iba. “Gw sendirian, Ka sekarang. Gw bener-bener sendirian.” Aleta mengeluarkan isi hatinya.                 Tentu saja dengan isak tangisnya yang mewarnai pagi itu. “Lo tenang ya, Ta. Lo ga akan sendirian. Lo masih punya Sienna, gw dan keluarganya Sienna. Lo ga akan sendirian.” Ucap Arik menenangkan sahabat dari Sienna itu.                 Aleta mempererat pelukannya pada kekasih sahabatnya itu. Ia masih menangisi keadaannya sekarang ini. Hatinya benar-benar kecewa pada papahnya sendiri. Tak lama, dering suara telpon terdengar dari celana chino yang dikenakan Arik. Arik kemudian mengantarkan Aleta ke sofa yang berada di ruang keluarga dan meminta izin untuk menjawabnya. “Sienna, Ta.” Ucap Arik memberitahukan gadis itu ketika melihat id penelpon yang terpampang di ponselnya. “Angkat aja, bilang kita sebentar lagi berangkat.” Aleta langsung menghapus air matanya dan berusaha untuk menenangkan dirinya.                 Arik kemudian melangkah sedikit menjauh. Lelaki itu kemudian berdiri di dekat pagar pembatas yang ada di balkon. “Ya, Sayang.” Jawab Arik begitu mendengar sapaan dari sambungan telponnya. “Sayang kamu di mana? Sudah jemput Aleta? Dari tadi aku telpon ga ada yang angkat soalnya.” Kata Sienna. “Aku sudah ada di unit apartnya. Tapi ada masalah sedikit Sayang.” Ujar Arik yang begitu mengatakan hal itu langsung melihat ke belakang tempat Aleta duduk.                 Gadis itu masih terduduk di sofanya dan terlihat beberapa kali menyeka air matanya sendiri yang masih saja terjatuh.  “Kenapa? Ada masalah apa?” Sienna terdengar khawatir. “Tadi ada sedikit masalah, Aleta dengan papahnya.”  Arik sedikit berbisik agar tak terdengar dengan Leta. “Ada apa, Rik ayo cepat katakan.” Sienna menuntut penjelasan dari kekasihnya itu. “Mereka bertengkar hebat Sayang. Tadi Aleta hampir pingsan, untung aku bisa menangkapnya. Kalau tidak mungkin ia akan terbentur meja kalau tidak segera sampai padanya.” Arik menceritakan sedikit kejadiannya. “Apa? lalu sekarang keadaannya bagaimana?” tanya Sienna semakin khawatir. “Aku rasa sedikit lebih tenang. Tapi aku tidak yakin dia bisa ikut denganku.” Kata Arik ragu. “Baiklah, tolong kamu tanyakan. Jika memang ia tidak bisa ikut biarkanlah. Kamu temani dia saja, nanti aku akan ke sana setelah semuanya beres.” Pinta Sienna. “Aku akan bicara dulu padanya.” “Ok aku tunggu.” Sienna kemudian mematikan sambungan telponnya.   / / / / / /   “Ga apa-apa Ka, lo pergi aja. Gw udah tenang kok. Lagipula, lo itu pacarnya Sienna. Lo harus ngedampingin dia Ka bagaimanapun. Lo ga usah khawatir.” Ujar Aleta meminta Arik untuk tetap pergi menemani Sienna yang akan ke butik bersama dengan keluarganya. “Tapi lo sendirian. Gw ga bisa ninggalin lo dengan keadaan begini Aleta,” Arik kini duduk di samping Leta. “Gw ga apa-apa Ka. Serius deh, lagi juga nanti kalian ke sini lagi kan?” Aleta kini memastikan. “Iya tadi Sienna juga udah ngomong begitu, dia mau ke sini setelah semua urusan di butik selesai.” Arik mengangguk. “Gw tunggu ya,” Aleta kemudian mengelus lengan lelaki di sebelahnya itu.                     Arik akhirnya diminta Aleta untuk tetap pergi dengan Sienna. Walaupun sebenarnya Aleta membutuhkan teman bicara. Tapi rasanya ia tidak mungkin hanya berduaan saja dengan Arik yang siapapun tau jika Arik itu adalah kekasih dari sahabatnya sendiri. Dan sudah jadi rahasia umum memang Aleta dulunya sangat mengaggumi Arik sebagai seniornya yang sangat baik. Tapi berhubung Arik malah menyatakan cinta untuk sahabatnya, ia kemudian mencoba untuk menghilangkan perasaannya pada Arik yang nyatanya berhasil. Ia tau diri karna Sienna, Arik dan juga keluarga Shailendra sangat baik padanya. Bahkan ia tak pernah takut ditinggalkan papahnya sendiri karna merasa punya mereka di sisinya yang sangat mendukung dan menyayanginya apapun keputusan yang diambilnya.                 Siennapun sebenarnya tau jika sahabatnya itu pernah menaruh hati pada kekasihnya. Tapi Sienna meyakini jika Aleta sekarang sudah tidak punya ketertarikan lagi pada Arik lagi semenjak mereka berdua bertambah dekat. Sienna sendiri tidak tau apa sebenarnya perasaan itu benar-benar hilang atau sengaja Aleta sembunyikan darinya atau tidak. Tapi Sienna selalu memiliki prasangka baik untuk sahabatnya itu. Ia tau betul sifat sahabatnya itu tidak akan neko-neko untuk urusan cowo. Apalagi memperebutkan seorang cowo yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain. Dan orang lain itu adalah sahabatnya sendiri.  “Iya Ka gw engga apa-apa.” Aleta meyakinkan sekali lagi Arik untuk pergi meninggalkannya.                 Lelaki itu masih saja bertanya setelah Aleta menjawab jika dirinya tidak apa-apa. Ini sudah yang kesekian kalinya lelaki tampan itu menanyakan hal yang sama dan memastikannya.    “Lo yakin?” tanya Arik memastikan sekali lagi sebelum dirinya benar-benar pergi dari unit gadis itu.                 Aleta malah mengangguk dan kini memasang senyuman yang diyakini untuk bisa membuat Arik percaya jika dirinya baik-baik saja. “Baiklah, gw janji bakalan ke sini lagi sama Sienna ya.” Janji Arik pada gadis itu.                 Aleta mengangguk lagi dan tersenyum. Arik kemudian mengelus kepala Aleta dengan sayang dan segera berlalu. Menghilang di balik pintu putih. Aleta mulai menangis lagi dan memilih masuk ke kamarnya untuk merebahkan diri.   / / / / / /                   Arik langsung bergegas menuju butik yang lokasinya sudah diberitahukan sebelumnya oleh kekasihnya itu. Sienna dan keluarganya sedang menuju butik tempat fitting baju keluarga siang itu. Sienna yang tadinya ingin pergi bersama dengan sahabat dan kekasihnya itu, malah harus pergi bersama dengan kedua orang tuanya dan Belva menuju butik milik tantenya. Butik yang menyediakkan berbagai baju pesta dan juga baju pengantin itu sudah di pesan untuk Sierra dan keluarga melakukan fitting baju hari ini. “Belva, Neina kenapa ga diajak sih?” tanya sang mamah dengan mata yang melihat ke arah anak lelaki satu-satunya itu. “Neina katanya nurut aja sama yang Mamah pilihin. Neina ada acara keluarga jam 11 nanti. Jadi ga bisa ikut.” Ujar lelaki itu pada sang mamah. “Oh, ada acara. Mamah kira karna ga mau ketemu mamah.” Sahut Marini dengan tampang leganya. “Memangnya kenapa sampai Ei ga mau ketemu Mamah lagi? Memangnya Mamah berbuat salah padanya?” Belva langsung mencoba untuk mencari tahu apa yang dimaksud mamahnya barusan. “Engga apa-apa. Abis kan mamah ini bawel terkadang. Takutnya dia ga suka sama ucapan mamah.” Marini tersenyum mengelus pucuk kepala anak lelaki satu-satunya itu. “Enggalah, Mah. Ei ga mungkin seperti itu. Mamah tenang aja,” Belva menenangkan mamahnya.                 Wanita yang sudah melahirkannya itu terlihat lega dengan ucapannya. Marini bahkan tersenyum. Belva, walaupun ia adalah lelaki satu-satunya dan merupakan anak terakhir tapi ia adalah anak yang paling mandiri dan selalu saja mengutamakan keluarga. Ia juga paling dekat dengan kedua kaka perempuannya. Mereka bahkan jarang sekali bertengkar dengan kedua kakanya. Padahal Sienna dan Sierra sendiri saja terkadang masih suka berselisih faham hanya untuk sekedar hal-hal kecil. Tapi Belva paling menurut diantara kedua kakanya.    “Sudah sampe, Sierra kayanya belom dateng ya?” ucap Sienna yang memperhatikan plataran parkir yang mulai terisi penuh dari posisi duduknya. “Iya, mobilnya Delvin ga ada loh.” Belva mendukung pernyataan kakanya.                 Tak lama sebuah mobil sedan hitam berlogo bintang tiga keluaran Jerman itu berjalan memasuki plataran parkir butik. Terlihat di depan butik hilir mudik kendaraan lumayan padat sehingga membuat mereka merasa sedikit lega karna bisa sampai tepat waktu. “Tuh mereka datang,” ujar Abram yang langsung menyadari mobil calon menantunya itu sedang memasuki plataran parkir. “Oh iya, yuk turun.” Ajak Marini yang kemudian menekan tombol di pintu untuk membuka MPV mewah berwarna hitam itu untuk segera turun menuju butik adiknya.                 Belva dan Sienna juga suaminya langsung menurut mengikuti Marini yang sudah dengan sigap menjinjing handbag hitam brandednya .   / / / / / /
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD