"SELAMAT SIANG... SIANG... SIANG" teriak seorang Laki-laki. Dia menoleh ke bangunan utama ke kiri dan kanan membawa satu keranjang buah apel "Selamat siang...adakah orang di sini ?" Keringat sudah membasahi bajunya di siang yang amat panas itu.
Ibrani berkacak pinggang, ingin mengumpat rasanya. Panti asuhan apa yang tidak ada orangnya begini. Ibrani mengerucutkan tangannya dia harus berteriak sampai sampai Juru Kunci akan mendengarnya, dia akan berteriak dengan suara terbesarnya "PER..." suaranya mendadak hilang.
Ibrani melihat Alicia berdiri di bangunan yang sederet dengan istal kuda.
"Se.La..mat..si.Ang" Ibrani jadi tergagap. Dia tidak pernah melihat gadis secantik ini. Gadis ini seperti lukisan.
"Selamat Siang Taun" suaranya lembah, seakan membelai kulit kasar Ibrani. Alicia membungkuk sopan dengan mengembangkan sedikit roknya.
Mata Ibrani masih melotot tidak berkedip karena kacantikan itu, kalau saja dia tahu ada gadis secantik ini di lembahnya pasti dia tidak akan jauh jauh berkelana mengarungi laut lepas.
Mata gadis itu kecil, dengan kelopak mata yang seperti kelopak bunga melengkung indah. Alis matanya nyaris lurus tapi tersusun sempurna sejajar dengan mata indahnya. Hidungnya memerah kecil, mungil, lalu bibirnya tipis berwana pink penuh.
"Ada apa Tuan ?"
Ibrani mengerjapkan mata "Ak...aku.." Ibrani menghela nafas, dia gugup berhadapan dengan gadis secantik itu, berikan padanya sepuluh preman pasar dia akan lebih memilih berdiskusi dengan preman dari pada seorang gadis cantik. Jantungnya mau lompat dari mulutnya.
"Ah" Alicia melihat satu keranjang buah apel "Jangan bilang kalau semua ini dari bibi Diah ?"
"Iya ini dari ibuku"
Kepala Alicia miring, melihat wajah Ibrani baik baik. Memang terlihat tidak asing. Mata lembutnya seperti bibi Diah "Apakah Tuan ini Ibrnai ?"
"Iya itu aku" Ibrani membusukan dadanya, menegakkan diri "Aku sudah lama tidak pulang"
"Belasan tahun bukan ?" Alicia mengulurkan tangan dengan ramah "Aku Alicia. Ibu Tuan sangat baik padaku, dan pada adik-adikku"
Ibrani menjabat tangan Alicia, dia mengutuk dirinya karena tangannya masih kotor akibat memunguti apel di kebun untuk di bawa kemari
"Seharusnya hari ini aku membantunya, kebetulan kakak-kakakku memutuskan pergi ke perjamuan Tn. Tanah. Yah.." dia menghela nafas "Ditinggalkan dengan tumpukan pekerjaan. Aku rasa mereka melarikan diri dari pekerjaan di malam panen"
"Seandainya aku bisa membantumu"
Alicia terkesiap "Bukan. Aku tidak bermaksdu begitu. Aku yah.., aku hanya mengeluh. Maafkan aku" dia tersenyum canggung, tapi hampir saja senyum itu membuat Ibrani mengeluarkan jantungnya "Aku sungguh tidak sopan pada anda" Alicia memiliki tipikal rambut lurus rapih yang mudah tergerai, mudah di ayunkan oleh angin. Alicia mengibas rambutnya ke belakang.
Ibrani mundur. Bisakah nona ini tidak bergerak, mematung saja sudah tidak apa-apa karena setiap dia bergerak Ibrani ingin menangkapnya dan memeluknya.
"Ibuku sering menceritakan anda, tapi aku tidak pernah tahu kalau nona secantik ini"
Mata seadanya itu memebelalak mendapatkan sanjungan yang sungguh tidak terduga dari Ibrani. Alicia tidak mengerti harus merespon seperti apa. Alicia hanya tersenyum, dan rona merah menjalar di pipinya.
"Aku harap kita bertemu di ucapara panen nanti malam"
"Oh" Alicia mengangkat wajahnya
"Selamat siang" ujar Ibrani, dia tersenyum
Alicia sangat malu. Dia tersipu...
***
Ibrani pulang dengan hati berbunga-bunga, dia tersenyum-senyum sendiri. Dia duduk menghela nafas sangat puas. Lalu tersenyum sendiri mengingat gadis cantik yang baru saja ditemuinya.
Akhirnya Diah bisa keluar dari dapur, sudah seharian dia di dalam untuk mempersiapkan masakan pada malam panen. Semuanya hampir jadi hanya kurang pie apel yang belum dia buat. Diah melihat anaknya duduk di selasar menghadap halaman rumah "Lama sekali rupanya mengambil apel saja, menghabiskan waktu setengah hari tuan pelayar ?"
Ibrani tidak menanggapinya, masih terlihat garis senyum di wajah tampan sang anak. Melihat gelagat anaknya Diah ikut tersenyum, dia duduk di sisi Ibrani "Ceritakan siapa wanita itu"
"Ah ibu" Ibrani menunjukkan cengiran lebar pada ibunya "Aku bertemu wanita cantik ibu" Ibrani terlihat malu-malu pada awalnya, lalu dia merangkul ibunya "Kenapa ibu tidak cerita kalau gadis bernama Alicia itu sangat cantik"
Senyum di wajah Diah luntur. Ternyata Alicia. Maksud Ibrani adalah Alicia. Dia menatap anaknya tanpa berkata-kata, beberapa detik berlalu tanpa ada rekasi apa-apa. Sampai Ibrani merasa bingung "ada apa ibu ?"
Diah melepaskan rangkulan Ibrani. Dia malah mengenggam tangan Ibrani kini sudah berubah jadi dua kali tangannya "Selain cantik Alicia juga gadis yang baik, dia sangat sabar. Hampir ibu tidak pernah melihatnya meninggikan suara atau berkata-kata kasar"
Tapi..., kata tapi selalu menyakitkan
Ibrani menautkan tangannya dengan sang ibu "Aku tidak akan mendekatinya kalau ibu tidak setuju, carikan saja aku perempuan sesuai keinginan ibu" Ibrani tidak pemilih, dia rasa dia bisa mencintai semua gadis asal ibunya menyukai gadis itu.
Diah menepuk tangan Ibrani "Seandainya Alicia bukan gadis Chang pasti ibu sudah menyelanggarakan pesta yang megah untuk kalian"
Mata Ibrani membesar, berbinar tajam. Dia gadis Chang ? masih ada Chang yang tersisa ? "Ibu..." suara Ibrani serak "Dia sungguh-sungguh perempuan Chang ?"
Ibunya mengerutkan alis, lalu mengangguk.
Ibrani tergelak, pikirannya berkelana dengan segala pengetahuannya tentang orang Chang "Gadis Chang" bisiknya sekali lagi, dan senyum culas terukir di bibirnya "Angkasa pasti senang" bisiknya
"Angkasa ?"
Ibrani berdiri bergegas mengambil mantelnya "Bukan apa-apa ibu, nanti malam aku kembali, aku harus mencari si pengantar surat" bisiknya lalu mencium sang ibunya terlalu bahagia.
***
Alicia tidak mengerti apa yang salah dengan kakak-kakaknya. Tiba-tiba saja mereka berencana untuk mendatangi pesta tuan tanah bertiga. Membiarkan Alicia mengerjakan pekerjaan panti seorang diri. Lagian pergi kemana semua adik-adiknya ? Kenapa tidak ada satupun orang yang diam disana untuk membantunya ?
Dimana lagi letak pakaian putih adik-adik, dia butuh seratus setel pakaian putih untuk Upacara tani. Alicia menyediakan dua ratus pita untuk di gantung. Mengeluarkan semua piring piring pahatan indah yang disumbangkan salah seorang donatur baik hati. piring itu berukiran burung cantik, berwarna biru, hanya digunakan ketika hari panen setahun sekali.
Alicia sudah bermandikan peluh, bajunya kotor. Dia baru saja selesai masak Haress dan Qiuhaw. Lengan gaunnya dilipat sampai ke siku, celemek tergantung di pinggangnya. Pipinya cemong karena seharian di depan tungku.
"Ah udara mulai dingin" bisiknya, kesal karena kakak dan adik-adik belum ada yang pulang.
Dia berlari untuk menurunkan buah persik yang di ikat. Mereka berencana membuat pie dengan persik itu.
Alicia keluar dari dapur menghela keringatnya. Dia melihat seseorang berdiri di sana. menatap buah-buah persik yang di gantung ke bawah seperti sebuah tiarai.
Tangan peria itu bertaut kebelakang.
Siapa lagi peria ini ? Bisik Alicia dalam hati. Dia sudah malas mengahadapi siapapun, dia merasa sangat lelah dengan pekerjaannya sepanjang hari dan rasanya tidak sanggup harus berurusan dengan manusia. Kadang manusia cuma mendatangkan masalah buatnya.
"Tuan" Sapa Alicia sambil lalu, dia membersihkan tangannya yang baru saja membersihkan beras dan jagung untuk sup.
Si Tuan menoleh. Alisnya terangkat sebelah. Dia menelingkan kepalanya. Matanya meruncing ketika melihat Alicia. Pandangan laki laki itu dari bawah naik sampai terdiam di mata Alicia. Laki-laki itu tersenyum. Senyumannya teramat dingin lebih dingin daripada udara di sekitarnya.
Senyum laki-laki itulah yang membuat Alicia mengingat siapa dirinya
"Malik...mppt..." dia menutup mulutnya. Jantung Alicia berdetak terlalu keras. Dia Malik !
Cara Malik tersenyum masih menjengkelkan. Senyumnya seakan tidak mengisyarakan apapun kecuali semacam meremehkan. Begitulah senyumnya, meski lesung pipi ada di kedua pipinya bukan berarti hal itu membuat Malik terlihat manis ketika tersenyum. Senyumnya selalu mengandung misteri...
"Hai perawan tua"