Bab 6. Bercinta

1004 Words
Malam tiba, saat makan malam Zenit membawa anak-anak untuk bermain di taman untuk menurunkan sisa nasi yang ada di dalam perut mereka agar tidur dengan nyaman. Namun malam ini tak seperti biasa karena mata Zenit lagi-lagi menangkap keberadaan Tuan Carlos bersama teman wanita bercinta di antara Bunga Desember yang terbentang sangat luas. Zenit tidak bisa membohongi perasaan yang masih menggebu bercampur rasa kecewa, dia ingin menerkam wajah Tuan Carlos tapi hati kecilnya berbisik pelan. Zenit mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa yang sudah terjadi adalah kesalahan, Tuan Carlos bukan orang yang bisa di miliki, tapi malam itu dialah yang buta karena cinta. Bertahun Zenit menutup luka dengan kalimat ini. "Nona Zenit, apa yang anda pikirkan? Kenapa termenung di sini?! Janice berlari ke arah kolam renang." Teriak Addison, "Nona Zenit,ayo! Anda tahu kalau Janice "Astaga, maafkan aku!" Dia berlari menuju kolam renang dengan langkah terburu-buru. Zenit langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam renang dengan niat menyelamatkan Janice. "Hah, Janice," teriaknya. Dia terus mencari ke arah dalam kolam renang, tapi tetap saja tidak menemukan Janice. Lama-lama Zenit baru menyadari bahwa anak-anak sedang mengerjai dirinya. Zenit naik dari dalam kolam renang dengan pakaian basah kuyup, anak-anak itu tertawa lepas dan Zenit langsung berusaha menangkap mereka. Dari kejauhan sepasang mata melihat adegan tersebut pun menelan saliva, dia merasa sedikit berbeda saat memandang gadis yang kini berada di hadapannya. Wajahnya terlihat kaku, sampai Zenit dan anak-anak Arsenil berlalu barulah pandangan matanya menatap ke arah lain. "Setelah ini kita harus segera tidur, besok kita akan membuat permainan yang akan kalian suka." "Nona Zenit memang selalu luar biasa," teriak Jonathan yang langsung memeluk Zenit, "Nona juga harus istirahat, sampai jumpa besok pagi." Tempat yang masih tidur di dalam satu kamar melambaikan tangan. "Kalian adalah anak-anak yang sangat luar biasa, saya menyayangi kalian semua." Setelah mengatakan itu Zenit pun keluar dari kamar, dia menutup pintu dengan sangat hati-hati kenal tidak pingin Nyonya dan Tuan yang berada tepat di sebelah kamar anak-anaknya terganggu. Namun sayang, baru saja melangkah namanya kembali di panggil. "Zenit, plak!" Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Zenit, gadis itu meringis menahan rasa sakit. "Apakah benar-benar tidak berniat berhenti menggoda suamiku?! Aku pikir mungkin kau terlalu banyak membaca novel atau komik romantis, berharap status pelayanan naik tahta menjadi istri kedua alias selir!" Dia mengusap pipinya, Zenit tak ingin banyak bicara karena semuanya percuma. Nyonya besar yang masih seumuran dirinya itu tidak akan mengalah, emosional, dan tidak stabil itulah Nyonya Olive. Anak-anaknya pun merasa wanita ini sudah banyak berubah, dia lebih suka berkumpul dengan teman-teman kalangan atas yang dirinya bemtuk daripada bersama anak-anak. Perubahan Nyonya Olive sangat drastis, itulah yang anak-anak katakan. Tapi Zenit yakin tak ada orangtua yang enggan mencintai anaknya, mungkin saat ini hubungan rumah tangga beliau sedang tidak baik-baik saja sehingga emosinya tidak terkendali. "Olive!" Terdengar tenang dan sangat damai suara Tuan Arsenil menyelamatkan Olive. Pria itu menatap istrinya dari atas sampai ke bawah. "Jika Zenit sakit maka kau akan mengurus anak-anak, apa bisa?!" Tanya Arsenil lagi untuk meyakinkan dirinya. Dia tersenyum miring, "wah, anda menikmati saat-saat ini ya? Melihat cara anda membela pelayan dibandingkan istri sendiri sudah bisa membuat orang lain berpikiran tidak wajar." Olive berdiri tegap dengan pongah, "anda benar-benar ingin membuat kehidupan saya berantakan?!" Arsenil yang tahu jika Olive sedang mabuk berusaha untuk tidak peduli, karena bicara dengan orang mabuk sama dengan memukul wajah sendiri. Mereka tidak akan ingat apapun yang sudah terjadi dan lakukan. "Zenit, maafkan saya, untuk saat ini Nyonya sedang mabuk dan jangan dipedulikan. Masuklah ke dalam kamar, ganti pakaianmu karena aku tidak ingin pengasuh anak-anak menjadi sakit." "Iya, Tuan! Maafkan saya sudah mengundang kemarahan Nyonya, sejujurnya saya tidak berniat untuk membuat kacau keadaan." "Berhentilah membuat pernyataan, aku juga punya mata." Mendengarnya Olive tertawa terbahak-bahak, "kalian sedang melakukan adegan apa? Terlihat serius sekali." Arsenil menghela, dia meraih tangan Olive dan menggendong masuk ke dalam kamar. Zenit yang berlalu merasa tak enak hati pada Tuan Arsenil yang begitu baik pada dirinya hingga menimbulkan kecurigaan sang istri. "Olive, seharusnya kau tidak seperti ini karena semua yang terjadi adalah keinginanmu. Aku hanya mengikuti apapun yang kamu katakan, lalu kenapa seolah menjadi yang paling terluka?! Aku juga memiliki perasaan yang sangat kacau, setiap hari aku tidur di satu kamar denganmu, tapi kita tak saling bicara seakan tak ada aku di sisimu. Lucunya kau cemburu, lalu aku bingung harus melakukan apa!" "Aku hanya tidak suka jika matamu terus memandang pelayan itu." Arsenil tak menjawab, dia mencoba untuk bersikap dewasa walaupun terkadang percuma. Setelah meletakkan Olive bak barang langka di tempat tidur, dia pun bergegas melepaskan seluruh pakaian Olive yang berbau alkohol. "Dimana Olive yang sangat mencintai anak-anak? Dimana Olive yang rela mati demi anak-anak? Sejak satu tahun ini kau berubah sangat pesat, hingga mereka semua tidak lagi mengenal dirimu." Arsenil mengoceh, menatap Olive yang kini sudah terlelap setelah tubuhnya di bersihkan. Arsenil tidak mengerti kenapa Olive cemburu padanya, padahal dia tidak pernah merasa menatap Zenit. Arsenil tersenyum, dan tertawa saat melihat anaknya bahagia. Tentu saja setiap arah pandangnya ada Zenit karena dia pengasuh anak-anak. "Saya berubah karena diri anda," gumam Olive di sela-sela tidurnya. "Saya menginginkan diri anda." Tambahnya lagi. Arsenil mengusap rambut Olive, "kau selalu mengatakan itu saat mabuk, tapi setelah sadar kau akan membuat aku seperti musuh Olive. Sekarang kembalilah tidur, aku yakin kau sangat membutuhkan istirahat." Dia berdiri, hendak menjauh, tapi tangannya di tarik oleh Olive. "Anda tidak cemburu pada saya? Apa Tuan Arsenil yang terhormat tidak peduli istrinya tidur dengan pria manapun?!" Olive berteriak, tapi untunglah kamar ini kedap suara. "Katakan pada saya Tuan, apa saya begitu menjijikkan hingga anda tidak ingin menyentuh saya?! Cih, padahal anda melihat saya masuk ke dalam hotel, tapi bersikap seolah tak saling mengenal." Arsenil tidak menjawab ocehan sang istri, bagaimana bisa hatinya tidak luka, tapi Arsenil tahu jika Olive hanya ingin memancing amarah dirinya saja. "Begitu banyak orang-orangku di luar sana, Apa kau pikir semua tindakanmu tidak mereka laporkan?! Kau masuk ke dalam kamar hotel hanya untuk membuatku marah, jadi untuk apa aku cemburu? Lagipula aku percaya bahwa seorang Olive tidak sebodoh itu, jadi untuk apa aku cemburu?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD