Mereka saling menggoda, dan itu sangat memalukan. Zenit berusaha menahan atas tingkah gila sang Tuan. Setiap sentuhan yang dia berikan bukannya tidak berpengaruh padanya, hanya saja Zenit berusaha bersikap sombong karena tidak ingin di pandang rendah oleh Tuan Carlos.
“Apa anda pikir dengan menggoda saya, bisa membawa seluruh tubuh ini ke atas ranjang anda?!”
Tuan Carlos menjamah Zenit dari dalam air kolam berenang, walaupun tak begitu terlihat tetap saja gadis itu merasa geli di sekujur tubuhnya karena ulah Carlos. “Aku pikir semua yang aku lakukan ini tidak akan membuat dirimu goyah, apalagi saat aku melihat wajah sombongmu itu.” ucap Tuan Carlos tepat di depan wajah Zenit.
“Anda sengaja menghembuskan napas dengan kasar agar saya b*******h, bukan?! tapi maaf Tuan saya sama sekali tidak tergoda.”
Zenit yang sudah tidak tahan pun berusaha keluar dari kolam renang, Tuan Carlos yang berusaha menahan dirinya kini berada di hadapan gadis itu. “Jangan pergi, aku masih ingin bermain denganmu.”
“Permainan anda tidak layak Tuan.”
Zenit keluar dengan bikini yang sengaja Carlos pilihkan untuk dirinya. “Hey, aku bilang tetap di sini. Kenapa sangat keras kepala seperti ini, hah?!”
Tubuh Zenit kini kembali ke dalam kolam renang, Carlos menahannya, dan membawa ke dasar kolam. Bibir pria itu berusaha menjamah tubuh Zenit, seolah bertahan karena tak tergoda dia tak menolak. Hal ini yang membuat Tuan Carlos semakin berang karena dia sangat ingin Zenit menjerit dan menolak dirinya. Tapi sayang itu tak kunjung dia dapatkan.
Akhirnya Tuan Carlos mendorong tubuh Zenit, dia keluar dari kolam berenang begitu saja sedangkan gadis yang sejak tadi menahan dirinya bisa bernapas lega. Matanya menatap punggung Tuan Carlos yang terus berjalan menjauh dari dirinya. Aku sudah berusaha menjauh darinya, aku tidak ingin terluka lagi walaupun wangi tubuhnya sangat menyengat di indera penciumanku.
Zenit mengambil handuk kimono, dia mengikatnya sembari menghela. Semua gerakan Zenit di pantau langsung oleh Merlin, dia tak bisa membiarkan Zenit ataupun Carlos menjadi bulan-bulanan Tuan Efred. “Tuan, apa sebaiknya kita beri peringatan dia agar tak terlalu dekat dengan Tuan Carlos?!”
Melin menggelengkan kepala, “jangan ada yang bergerak jika aku tak memerintahkan langsung. Lagipula aku punya rencana lain, selama ini Zenit selalu merasa Tuan Carlos adalah orang yang luar biasa, dia tak tahu sikap itu adalah aturan dan kesan yang sengaja aku ciptakan. Biarkan Zenit mengetahui sisi bodoh Carlos hingga dia bisa berpikir ulang jika ingin menaruh hati padanya.”
“Baiklah Tuan, kami akan mengikuti apapun yang anda perintahkan.”
“Kita melakukan ini bukan untuk kesenangan pribadi, aku tidak ingin jabatan Tuan Carlos di berikan pada orang lain. Kalian tahu sendiri kandidat kuat setelah Tuan Carlos, dia bisa menghalalkan segala cara untuk naik perlahan. Jadi jangan pernah berpikir untuk berkhianat, kalian lebih sejahtera bersama keluarga setelah Tuan Efred tak lagi memimpin.”
“Tuan Merlin, kami sangat sadar dengan kebaikan yang datang setelah Tuan Carlos menjabat. Kami tidak akan mungkin mengkhianati siapapun karena pada dasarnya kita semua tidak ingin keadaan memburuk.”
“Baguslah kalau kalian menyadarinya, aku pun sama dengan kalian. Aku tak pernah berharap ada orang lain yang memimpin kelompok kita,” Mereka semua pun mendengar setiap kalimat yang di ucapkan Tuan Merlin.
Merlin sangat ingin melindungi Carlos, dia sudah menjadi bagian dalam dirinya. Mereka adalah keluarga, hanya Tuan Efred yang menganggap mereka tidak sama. “Kak, kenapa termenung seperti itu?!”
Dia tidak berbalik sama sekali. “Jangan panggil kakak, panggil aku seperti itu saja Tuan Carlos. Kecuali kau tidak ingin berada di sisiku lagi, kecuali kau ingin membuat keluargaku terancam.”
Carlos langsung mengangkat kedua tangan, “Baik Merlin, kita juga tak beda terlalu jauh! Aku tidak akan membiarkan keluarga kita hancur, aku minta maaf.”
“Kita harus pergi malam ini ke Club Red menemui Tuan Arsenix dan Tuan Arsenil, ada beberapa hal yang harus kita bahas.”
Carlos terdiam, ia sangat enggan bertemu dengan Arsenil karena dia pasti akan membahas tentang Zenit. “Aku malas, bisa kita pergi ke tempat lain saja? Coba katakan padaku, jika ada opsi aku tidak ingin bertemu dengan pimpinan Black Dragon.”
“Tidak ada opsi sama sekali, kau tidak bisa menolak untuk ini karena Black Dragon adalah kelompok mafia yang memiliki Chanel besar ke berbagai penguasaha besar. Mereka memegang penuh IL Company. Kau harus belajar banyak dari mereka.”
Carlos menggeleng, “tidak bisa, aku enggan melakukannya! Aku sudah bosan menjadi pria arrogant yang menakuti banyak orang.”
“Jika kau tidak melakukannya maka usaha kita selama ini akan sia-sia. Kau harus mendapatkan seluruh saham Tuan Efred, ini tidak mudah. Dia memiliki banyak cara agar kau tidak mendapatkan apapun, bahkan dia mampu membubuh ibumu.”
Carlos terdiam, dia tidak bisa menahan dirinya jika mengingat betapa kejam sang Ayah. “Baiklah, aku akan pergi ke sana. Tak ada alasan bagiku untuk berhenti di situasi seperti ini, aku tak dapat keuntungan apapun.”
Merlin berdiri, “setidaknya kau bisa mendapatkan kekasih yang kau inginkan. Untuk sementara jangan sampai orang lain mengetahui tentang dirinya.”
Carlos tidak menjawab sampai masuk ke dalam mobil. “Apa kau takut Tuan Efred akan mengacaukan Zenit?!”
“Dia bisa melakukan lebih dari itu, dia akan mengendalikan dirimu. Tentu saja itulah yang selama ini di inginkan olehnya! Dan itulah yang selama ini tidak di inginkan ibumu, dan ibuku. Aku harap kau memahaminya, ini akan sangat sulit jika dia mengetahui kelemahan dirimu. Bersikap biasa dan itu yang akan melindungi Zenit! Apa kau pikir di Mansion milikmu tak ada mata-mata Tuan Efred? Lalu apa tujuan utama dari menjalin hubungan dengan Ketua Black Dragon itu? Pikirkan lagi lagi yang aku katakan.”
Setelah mengatakan itu tak ada lagi yang Merlin katakan hingga mereka sampai di Club Red, dimana Arsenil bertemu dengan teman-temannya. “Apa aku harus kembali bersikap sombong?!”
Merlin memutar bola matanya jengah, “aku tidak ingin kau sombong, tapi bersikaplah seperti Arsenil. Lihat dia, sedikit bicara banyak bekerja! Tapi semua kembali pada kehendakmu.”
“Baiklah, aku adalah adik yang penurut jadi tidak akan membuat masalah. Sepertinya Arsenil menginginkan Zenit, lihatlah sikapnya yang posesif.”
Merlin mendekatkan bibirnya pada telinga Carlos, “apa kau tidak lihat betapa dia mencintai istrinya? Jadi jangan bicara sembarangan, antara simpati dan rasa suka sangat berbeda.”