Sudah hampir dua minggu Anisa hidup seatap dengan Elang. Namun, belum pernah sekali pun lelaki itu memberinya nafkah batin. Hal itu tentu saja membuat tanda tanya di benak Anisa tak pernah habis. Untuk apa Elang menikahinya kalau nyatanya dia tidak butuh sosok istri? Makin berusaha untuk dimengerti, Elang justru semakin misterius. Kadang di matanya hadir pertanda, bahwa di dasar hatinya ada cinta untuk Anisa. Namun, lebih sering dia bagai aurora, indah tapi tak tergapai. Beberapa hari yang lalu Anisa mendapatkan kartu kredit dari suaminya itu. Katanya no limit, dia bisa menggunakannya sepuasnya. Namun, harus digunakan untuk apa juga? Setiap hari hidup Anisa hanya berputar di dalam rumah mewah berlantai tiga itu. Hanya sesekali dia menemani Bibi belanja keperluan rumah. Di saat-saat seper

