"Kenapa Abi mau-mau aja dijodohkan?"
"Karena Abi percaya, orangtua Abi pasti memilihkan calon yang terbaik."
"Waktu pertama kali lihat wajah Ummi, apa yang Abi rasakan?"
"Dunia seperti berhenti berputar, dan samar-samar Abi mendengar bisikan, dialah jodohmu."
"Kapan pertama kali Abi bilang cinta ke Ummi?"
Badwi menghela napas panjang juga akhirnya. Sudah sedari tadi dia meladeni pertanyaan macam-macam putrinya ini. Rasanya seperti maling tertangkap basah yang sedang diinterogasi di kantor polisi.
"Nis, kamu ini mau nulis novel atau riwayat hidup Abi dan Ummi, sih? Kok nanyanya sampai sedetail itu?"
Anisa berhenti mencatat. Tatapannya beralih ke mata Abi. "Makin banyak informasi makin gampang menghidupkan karakternya, Bi. Nantinya juga bisa lebih meyakinkan, kalau ini terinspirasi dari kisah nyata."
"Gini, ya, Nis, Abi nggak masalah dengan hobi menulis kamu itu, bangga malah. Tapi, daripada nulis fiksi, cinta-cintaan, apa nggak sebaiknya nulis hal-hal yang lebih bermanfaat?"
"Buku dakwah maksud Abi?"
"Nggak harus buku dakwah juga, tapi yang semacam itu."
Anisa berdecap sambil meletakkan buku catatannya di atas meja. "Kita juga bisa berdakwah lewat cerita fiksi, kok, Bi. Malah bisa jadi lebih efektif. Karena anak-anak zaman sekarang malas baca buku yang berat-berat."
"Terserah kamu, deh. Tapi Abi nggak ada waktu untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan kamu yang nggak ada habisnya itu." Badwi meraih tumpukan buku di atas meja, lalu berdiri."
"Yah, Bi. Kok, pergi, sih? Nisa belum selesai ini."
"Abi harus ngajar lagi. Assalamualaikum!"
Anisa membalas salam Abi, lalu mendengkus sambil mengentakkan kaki.
Anisa selalu merasa, bahwa bagian terbaik di hidupnya adalah terlahir sebagai putri Ust. Badwi, pewaris Pondok Pesantren Al-Amin setelah Kiai Malik—kakeknya—wafat tahun lalu.
Anisa lahir, tumbuh, dan menimba ilmu di lingkungan pesantren. Kemudian kuliah di kota ini juga dan kembali mengabdikan diri di pesantren. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan siklus itu, karena sebagian besar generasi terdahulu di keluarga besarnya juga mengalaminya. Hanya saja, sesekali kadang dia berangan-angan bisa mengunjungi tempat-tempat menakjubkan di luar sana. Karena itulah dia sangat suka membaca, dan ujung-ujungnya tertarik untuk menulis. Dia ingin menciptakan bukunya sendiri, dia ingin menuangkan pikiran seleluasa mungkin.
Dari sekian banyaknya jenis tulisan, Anisa lebih condong ke fiksi remaja. Hanya saja ... kayaknya Abi kurang suka. Lihat saja tadi, dia ogah-ogahan diwawancarai, karena tahu Anisa akan menjadikannya bahan untuk menulis novel cinta-cintaan.
Kendati demikian, semangat Anisa tidak pernah surut untuk menuliskan kisah cinta Abi dan Ummi. Karena menurutnya, itu salah satu kisah cinta terbaik yang pernah dia dengar. Tidak peduli nantinya akan ada yang baca atau tidak.
Anisa membaca lagi jawaban-jawaban Abi yang sempat dicatatnya tadi, sambil senyum-senyum sendiri. Meski terkesan pelit memberi jawaban, Anisa masih akan memburu ayah tercintanya itu dengan beberapa pertanyaan.
Jam istirahat selesai. Anisa membereskan barang-barangnya untuk kembali mengajar. Dia mengajar di tingkat SD.
Rumah keluarga Anisa berada di kawasan asrama guru. Berhadapan dengan bangunan pondok pesantren Al-Amin, hanya diantarai jalanan sempit tidak beraspal.
Pesantren Al-Amin menyatukan pondok putra dan putri di satu lokasi, tapi dibatasi tembok setinggi lima meter yang atasnya dipasangi kawat berduri. Satu-satunya akses untuk menyeberang dengan aman hanya lewat depan. Dan tentu saja pengawasannya super ketat.
"Nis! Nisaaa ...!" Teriakan itu mengagetkan Anisa. Tidak lama kemudian, pelakunya tiba di depan Anisa dengan napas tak beraturan.
"Ada apa? Datang-datang kayak orang kesetanan."
Maryam, sepupunya, tidak langsung menjawab. Dia masih sibuk mengatur napas setelah lari-larian.
"Di sebelah ada cowok yang daftarin diri mau mondok."
"Terus? Bukannya itu udah biasa?"
"Cowoknya ganteng banget," papar Maryam lebih lanjut setengah menjerit. Dia mencengkeram lengan Anisa sambil loncat-loncat.
"Alah!" Anisa mengibaskan tangan. "Kamu, mah semua cowok dibilang ganteng."
"Yang ini beda, Nis. Kek titisan malaikat."
"Emang kamu pernah lihat malaikat?"
"Malaikat maut, ngintipin kamar kamu."
"Sembarangan!" Anisa langsung mencubit pinggang sepupunya itu.
Maryam putrinya Marwah. Dia dan Anisa sepantaran. Karena tumbuh bersama, mereka sudah seperti saudara kandung.
"Pokoknya yang ini wajib banget kamu intipin. Dijamin nggak nyesel."
"Terus, kalau sudah diintipin?"
"Ya, kali aja bisa diajak kenalan dan—"
"Dan pacaran kayak kamu sama Ahmad?"
Maryam langsung membekap mulut Anisa. "Jangan kencang-kencang ngomongnya. Kalau ketahuan Abi bisa dicincang aku."
Anisa terkikik. "Makanya, hidup itu lurus-lurus aja. Nggak usah aneh-aneh."
"Maksudnya selurus kamu mencintai cowok yang nolongin kamu 10 tahun yang lalu? Gitu?" Bukan hanya nada suaranya, tapi Maryam juga memasang tampang menyindir.
"Kok, jadi belok ke situ, sih?"
"Soalnya aku gemes, tahu. Gara-gara dia yang entah ada di mana itu, kamu nggak mau kenal sama yang lain, seolah dia satu-satunya cowok yang tersisa di dunia ini." Maryam bersedekap dan menyorot serius.
"Kalau kamu nggak pernah ngerasain hampir mati dan tiba-tiba seseorang menyelamatkanmu, nggak usah komentar, deh." Anisa mendorong kening sepupunya itu dengan ujung telunjuk.
"Tapi nggak segininya juga, kali, Nis. Kalau ternyata dia nggak muncul-muncul, kamu mau jadi perawan tua, gitu?"
Anisa memutar bola mata. Ini bukan kali pertama mereka memperdebatkan soal ini.
"Udah, ah. Aku mau ngajar dulu." Anisa menepis bahu Maryam, lalu berlalu begitu saja.
Maryam lekas menyusul. "Eh, soal cowok tadi gimana?"
"Buat kamu aja. Ntar aku tinggal bilang ke Ahmad."
"Ih, dasar! Aku cewek setia, kali."
Tiba-tiba langkah Anisa yang sudah tiba di teras, terhenti. "Bentar, kamu, kok, bisa tahu soal kedatangan cowok itu?" Dia memicing sambil mengacungkan telunjuk di depan hidung sepupunya itu. "Habis berkeliaran di pondok putra lagi, ya?"
Maryam hanya nyengir. Hal itu membuat Anisa berdecak sambil geleng-geleng.
"Pakai alasan apa lagi?" tanya Anisa lagi sambil melanjutkan langkahnya.
"Kalau buat Bang Ahmad tercinta, selalu ada cara." Maryam tersenyum malu-malu.
"Ketahuan baru tahu rasa." Anisa antara takjub dan ngeri melihat kelakuan sepupunya ini. "Terus, Ahmad-nya ketemu, nggak?"
"Cuma disenyumin dari jauh. Tapi lumayanlah."
"Dasar bucin!"
Mereka sudah tiba di pekarangan, nyaris mencapai pagar ketika tiba-tiba Maryam menggaet lengan Anisa kuat-kuat.
"Apa, sih?" rengut Anisa sambil membebaskan lengannya.
"Itu dia cowok yang kubilang kek titisan malaikat," ujar Maryam setengah berbisik.
Tatapan Anisa pun mengikuti arah telunjuk Maryam. Di sana, di depan gerbang pondok putra, sesosok cowok berkoko putih dengan bawahan sarung cokelat bermotif kotak-kotak tengah melenggang santai sambil menyarangkan kedua tangannya ke dalam saku kokonya.
Anisa sampai lupa berkedip. Bukan saking melenakannya ketampanan cowok itu, tapi karena wajahnya mengingatkannya pada Elang.
Atau jangan-jangan dia memang Elang?
Anisa membeku. Apa yang harus dia lakukan untuk memastikannya?
***
[Bersambung]
Duh, itu Elang bukan, ya?
Kalo iyya, masih ingat Anisa nggak, ya?
???