"Katanya, pondok putra kedatangan santri dewasa lagi, ya?" tanya Marwah saat makan malam baru saja berlangsung di kediaman keluarga Ust. Badwi.
"Iya, Mi. Namanya Elang." Rohim, suaminya menjawab sambil mengunyah suapan pertamanya.
"Alhamdulillah, ya, zaman sekarang masih ada yang peduli dengan ilmu agama."
"Dia anaknya Pak Roni, loh."
"Pak Roni?" Marwah tampak mengingat-ingat.
"Itu, loh, pengusaha kaya raya dari kampung ini yang sekarang menetap di Jakarta. Kabarnya, sekarang bisnis mereka makin berkembang pesat. Makin kaya tentunya."
Diam-diam Anisa menajamkan pendengaran. Dia sengaja mengunyah pelan-pelan agar tidak ada satu pun obrolan tentang Elang yang terlewatkan.
"Si Elang ini katanya sudah memegang perusahaan sendiri, loh. Hebat banget, ya?" Nada takjub mengalun dari suara antusias Rohim.
"Dia juga ganteng banget, Mi." Gawat! Maryam kelepasan. Seketika tatapan semua orang di meja makan itu mengarah padanya.
"Tahu dari mana?" Marwah bertanya dengan alis bertaut.
"Eh, itu ...."
Anisa nyaris tidak sanggup menahan tawa melihat sepupunya salah tingkah.
"Apa?" desak Marwah. Dia tahu betul kebadungan anaknya ini.
"Itu, Mi, nggak sengaja lihat pas dia baru datang."
Marwah malah memicing curiga.
"Sudah, sudah. Makan dulu, nanti aja ngobrolnya." Badwi menengahi.
Maryam menghela napas lega. Dia terselamatkan.
Selesai makan malam, mereka bersantai di ruang keluarga sambil menikmati teh hangat.
"Besok, kan, kita ada jadwal baksos sama warga, kalian ikutan, ya." Tatapan Rohim mengarah ke Anisa dan Maryam.
"Aduh, Pung, bukannya nggak mau, tapi saya lagi PMS. Rada kurang nyaman gitu terlalu banyak gerak."
"Selalu saja nyari-nyari alasan." Marwah geleng-geleng. Dia tahu betul rencana keponakannya itu. Paling ingin mengurung diri di kamar sambil baca novel atau menulis.
"Ya udah, nggak apa-apa. Lagian ada Elang, kok. Tadi udah aku bilangin, dan dia siap ikut membantu."
Seketika mata Anisa membulat.
Ha? Elang ikutan?
"Aku ikutan juga, deh, Pung," ralat Anisa buru-buru."
"Kok?" Tentu saja Rohim heran dengan keplin-planan itu.
"Saya baru ingat, pernah baca di internet, katanya nyeri datang bulang sebaiknya jangan dimanja."
Rohim masih menatap heran.
"Anisa penasaran, Bi, setampan apa santri baru itu," sosor Maryam.
Anisa langsung memelototi sepupunya itu.
***
"Nis, masuk! Ngapain ngeronda di situ?" teriak Badwi.
Sudah sedari tadi Anisa berdiri di sisi pagar. Wajar kalau Abi menyuruhnya masuk.
"Bentar, Bi, lagi nyari angin, nih. Di dalam panas."
Badwi hanya geleng-geleng, lalu kembali ke dalam.
Sementara Anisa masih saja betah memandangi bangunan pondok putra di seberang jalan sana. Tidak, dia tidak berharap Elang tiba-tiba keluar. Hanya saja, dia masih antara percaya dan tidak percaya, bahwa sosok penyelamatnya sedang berada di dalam sana. Meskipun kayaknya di benaknya tidak ada secuil pun masa lalu mereka yang tersisa. Fakta yang lumayan bikin down sebenarnya.
Setelah tindakan bodohnya itu dirasa cukup, Anisa pun masuk, sebelum Abi meneriakinya lagi.
Di kamar, Anisa gelisah bukan main. Menyadari kini Elang berada sangat dekat dengannya, membuat kantuk minggat sejauh-jauhnya. Namun, dia harus memaksakan diri tidur secepatnya agar esok datang lebih cepat.
Besok, kesempatan Anisa untuk bertemu lagi dengan Elang terbuka selebar-lebarnya. Semoga dia punya keberanian untuk menanyakan beberapa hal.
***
Di bawah komando Rohim, baksos berlangsung lancar. Menjelang siang, mereka sudah selesai membabat semak belukar di tepian ruas-ruas jalan kampung, juga membersihkan sampah-sampah di selokan.
Anisa dan Maryam bertugas menyiapkan makan siang di rumah Pak RT, bergabung bersama beberapa warga perempuan lainnya.
"Kita kenapa harus kebagian memasak, sih?" keluh Maryam sambil mengaduk gulai ayam yang hampir matang.
"Karena Abimu tahu, kita kalau disuruh bersih-bersih nggak akan becus. Terutama kamu," jelas Anisa tanpa menoleh. Dia sedang memindahkan nasi dari panci ke dalam termos.
"Yah, nggak bisa lihat Ahmad lagi kerja, deh. Dia pasti seksi banget kalau lagi keringatan."
"Dasar m***m!" Anisa berdecak sambil geleng-geleng. Namun, detik selanjutnya ucapan Maryam malah mengirimkan gambar tidak pantas ke otaknya. Bisa-bisanya dia membayangkan Elang lagi keringatan sambil bertelanjang d**a.
"Astagfirullah!" Anisa buru-buru menggeleng, membuang pikiran memalukan itu jauh-jauh.
"Kenapa?" Maryam sigap menoleh, mengira hal buruk tiba-tiba menimpa sepupunya itu.
"Nggak apa-apa." Anisa menggeleng sambil nyengir.
***
Jam makan siang pun tiba. Para santri dan warga berkumpul di lapangan. Mereka duduk beralaskan terpal yang dirangkap dengan karpet.
Dari rumah Pak RT, makanan diangkut menggunakan mobil pick up. Setibanya di lapangan, Anisa langsung mengedarkan pandangan mencari Elang. Ada tiga baris kumpulan warga dan santri yang duduk saling berhadapan, tapi Elang tidak ada di antara mereka. Anisa pun mengedarkan pandangan lebih luas, rupanya cowok itu masih mengantre untuk cuci tangan.
Pelan-pelan Anisa memisahkan diri dari ibu-ibu yang sedang membagikan makanan. Sambil menunggu momen yang pas untuk mendekati Elang, dia mengawasi pergerakan Rohim yang sedang bercakap-cakap dengan Pak RT. Jangan sampai suami tantenya itu memergokinya sedang mendekati cowok. Bisa-bisa diadukan ke Abi.
Melihat Elang sudah selesai cuci tangan, Anisa buru-buru menghampirinya, sebelum cowok itu telanjur bergabung dengan warga lain.
"Ini buat kamu." Tanpa basa-basi, Anisa langsung menyodorkan sebotol minuman isotonik.
Elang agak kaget. Langkahnya tercekat seketika. "Makasih, Ustazah," ucapnya kemudian sambil menerima minuman berwarna putih keruh itu.
"Masih aja manggil ustazah." Anisa berdecak. "Nisa aja."
"Yakin, nih, nggak apa-apa manggil nama doang?"
Anisa mengangguk, sambil kembali mengawasi pergerakan Rohim yang agak jauh di pojok sana.
"Akunya yang nggak enak kalau kedengaran sama yang lain. Karena bagaimana pun juga, sekarang aku santri di Al-Amin. Sementara kamu, selain pendidik, juga putri pemilik pesantren."
Anisa mengernyit samar. "Kamu kenal Abi?"
"Selaku pemilik pesantren tersohor, siapa yang nggak kenal beliau? Lagian, waktu aku nganterin kamu pulang setelah tercebur ke telaga waktu itu, kan, sempat ketemu beliau."
Seketika Anisa membekap mulutnya yang ternganga di luar kendali. "Lang, kamu ingat kejadian 10 tahun yang lalu?" tanyanya kemudian dengan napas tertahan.
"Mana mungkin aku lupa?" Elang terkekeh ringan sambil membuka tutup minumannya, lalu meneguknya dengan santai.
Sementara Anisa, fakta tentang Elang yang ternyata juga masih ingat dengan kejadian di telaga, membuat detak jantungnya meningkat drastis. Dadanya terasa penuh.
"Eh, aku ke sana dulu, ya." Elang menunjuk ke area pembagian makanan. "Orang-orang mulai ngeliatin kita soalnya. Nanti malah jadi gosip."
Anisa mengangguk dengan berat hati. Sekarang malah semakin banyak hal yang ingin dia tanyakan ke Elang. Namun, cowok itu benar. Mereka harus menghindari gosip.
"Oh ya, makasih, ya," ucap Elang sambil mengacungkan botol minumannya sebelum beranjak.
Anisa kembali mengangguk. Perasaannya sedang campur aduk, membuatnya agak kesulitan untuk bicara. Satu pertanyaan berdentang hebat di kepalanya; apakah Elang juga merindukannya sebagaimana dia merindukan cowok itu?
***
[Bersambung]
Menurut sobat readers, apakah Elang mengingat Anisa sebagai orang yang spesial atau B aja? ?