Rosela pov
Aku berjalan menysuri jalan jalan yang luamayan sepi. Pada saat aku dijalan ingin pulang aku melihat sekelompok orang dibelakangku, dengan secepat kilat aku berlari tapi sialnya aku malah terselandung dan malah jatuh, lutuku berdarah, kaki dan tanganku juga berdarah dan beberapa memar terdapat ditanganku karena posisiku pada saat jatuh tangan yang menahan badanku sementara kaki sudah tersangkut duri duri, ya aku jatuh disemak semak karena terselandung akar pohon. Pada saat aku ingin berdiri aku kesakitan karena kaki sebelah kiriku sepertinya terkilir, jadi aku tetap berusaha untuk berjalan walau pincang. Aku pun melihat taksi lalu memberhentikannya.
Didalam hati aku hanya merutuki kebodohanku saja, aku tidak tau jika mereka masih mengejarku, tapi kenapa pas banget pada saat aku sedang dirumah rafa. Kalian tau siapa mereka yang kumaksud? Siapa lagi kalau bukan anak buah orang tuaku yang menyuruh mereka supaya aku pulang. Tidak terasa aku suda sampai di kos kosan dan setelah aku memberikan uang kepada supir taksi aku pun memasuki kos kosanku.
Betapa terkejutnya aku melihat seorang yang tidak asing lagi buatku, siapa lagi kalau bukan ARLETA.
"Eheemm.." dehemku, kulihat dia menatapku dengan senyum yang terukir diwajahnya
"Mau ngapain?" Tanyaku to the point
"Mau kesini aja karena kangen sama lo cil" kata arleta mencoba memelukku tapi aku menghindar darinya, jadinya dia tidak bisa memelukku.
"Masuk" kataku menyuruh nya untuk masuk, dengan secepat kilat dia sudah masud.
"Gua gak tau apa maksud lo" kataku lagi, sebenernya aku tau maksud dia kesini
"Gak usah pura pura gak tau gua deh cil, gua tau lo itu ROSELA CECILIA WALKER" ujarnya menekankan namaku.
"Gua gak tau maksud lo" kataku lagi, kulihat dia memandangku sendu
"Oke kalo lo gak kenal gua, pasti lo kenal dong sama yang namanya ZAKY FAHREZA WALKER" katanya sambil menekankan nama kak zaky, apa yang dia mau dengan kak zaky.
"Gua akan nyuruh ka zaky kesini buat liat lo, apaka lo cecil walker atau bukan" ucapnya santai sambil mengambil ponselnya, seketika aku diam.
"Oke oke gua ngaku gua emang sahabat lo dulu" ujarku pasrah, kulihat dia tersenyum sangat lebar lalu memelukku
"I miss you" katanya sambil memelukku
"I miss you too.." kataku membalas pelukannya.
"Jadi kenapa lo jadi nerd dan kenapa lo tinggal disini?" Tanyanya beruntun, aku sudah tebak pasti pertanyaan ini bakal ada
"Lo tau kan masalah gua dengan orang tua gua? Gua bosen hidup dirumah sendirian jadinya gua kabur dari rumah semenjak satu tahun yang lalu, disitu gua merubah penampilan gua jadi kayak gini, biar semua orang gak tau kalo gua itu cecil. Orang tua gua udah nyuruh anak buahnya nyari gua, dan tadi gua ketemu deh pas gua pulang dari rumah rafa, oh iya gua jadi guru piano adeknya rafa" kataku menjelaskan, kulihat diahanya melongo saja
"Lo dikejer sama anak buah ortu lo? Dan lo jadi guru piano adeknya rafa?" Tanya nya dengan tatapan tak percaya, aku mengangguk lemah
"Lo gpp kan? Gak ada yang luka kan?" Tanya nya sambil memutarkan tubuhku dengan kencang, sehingga kaki yang terkilir tadi sakit dan jadinya keselimpet dengan kursi, jadinya aku jatuh dan kupastikan kakiku makin terkilir
"Lo hati hati dong, kaki gua sakit nih. Tadi gua jatoh di semak semak, kaki gua terkilir dan sekarang lo nambahin beban gua deh, jadi makin terkilir kan gua" ucapku kesal sambil memandangnya tajam. Kulirik arleta memandangku dengan tatapan bersalahnya
"Maaf" ujarnya lirih, aku hanya mengangguk. Dia pun membantuku untuk berjalan dan menyuruhku tiduran dikasur
"Banyak banget luka lo, tangan sama kaki lo berdarah lagi" ucapnya panik
"Gak usah panik lagi, tinggal diobatin" ucapku ketus, dia hanya menyengir dan mengambil kotak p3k disebelah lemari lalu membantuku buat membersihkan lukaku.
"Besok gak usah sekolah, kalo masih sakit. Dari pada makin sakit lagi" ucap arleta sambil mengurut kakiku
"Awww.. lo bisa ngurut gak sih let?" Tanyaku kesal karena dia mengurutnya terlalu keras, kulihat dia cengengesan
"Maaf, sangkain gua kan gak sakit" katanya meminta maaf, aku hanya menggerutu kesal karena perkataannya.
"Lo pikir gak sakit apa? Nih liat sampe bengkak, ini gara gara lo juga narik gua kenceng bener, udah tau kaki gua udah terkilir nah sama lo malah asal putar tubuh gua kenceng bener lagi" omelku, kulihat dia hanya menggerutu kesal. Salah siapa coba dia asal narik tanganku.
"Maaf maaf.. pokoknya besok lo gak boleh masuk" katanya tegas, aku meliriknya dengan pandangan sinis
"Aishh... gak usah natap gua gitu lah, ini kan demi kebaikan lo juga" katanya meringis karena melihat tatapan sinisku.
"Iya iya gua gak sekolah, tapi besok gua ada les piano lagi, kalo les piano mah gak bisa kalo gak kesana, soalnya gua kan baru kemaren hari pertama masa dihari kedua gua gak ngajar sih" kataku sambil memanyunkan bibirku
"Iyadeh kalo les lo boleh ngajar.. lagian cuman duduk doang kan?" Katanya sambil terkekeh karena melihatku yang memanyunkan bibir.
"Makasihhh letaaa!!! Lo emang sahabat gua yang baik deh" ujarku sambil memeluknya, dia pun membalas pelukanku
"Sama samaa cecill. Akhirnya ada juga yang manggil gua leta.." katanya sedikit lebay sambil mengguncangkan badanku
"Lebay woi lebayy" kataku menjitak kepalanya. Dia hanya meringis sambil mengusapkan kepalanya yang ku jitak.
"Jaket lo nih, makasih ya" kataku tersenyum tulus, dia mengambilnya dan membalas senyumku
"Sama sama. Udah ah gua pulang dulu" katanya sambil berdiri
"Iya" kataku singkat, emang aku mau ngomong apa lagi selain iya?
"Hati hati dirumah sendirian. Besok lo gua ijinin di sekolah" katanya, aku mengangguk lalu aku menatapnya tajam
"Jangan bilang kak zaky, kalo lo bilang gua gak mau temenan sama lo lagi" ancamku
"Iya iya gua janji." katanya sambil menutup pintu kos ku. Aku hanya menghembuskan nafas lega.
●●●●●
Author pov
"Hari ini kok sela gak masuk ya" ujar lili sambil menatap bangku disampingnya. Sejak pelajaran pertama tadi lili memikirkan kenapa rosela gak masuk sekolah
"Lo temennya rosela kan?" Tanya arleta menghampiri meja lili. Lili pun gemeteran karena dihampiri arleta, apa dia bakal dibully lagi.
"Jawab!" Teriak arleta, sebagian murid yang didalam kelas itupun menoleh ke arleta dan lili termasuk rafa dan rama karena pada saat istirahat pertama ini mereka akan membahas lomba minggu depan.
"I-iya" kata lili gugu, arleta hanya menganggukan kepalanya
"Jawab gitu aja kok susah. Hari ini rosela gak masuk sekolah, dia sakit" kata arleta membuat lili menyerngitkan keningnya
"Gua tau karena kemaren gua kekos kosannya, ngambil jaket gua" kata arleta seolah tau arti kerutab didahi lili.
"Oh" kata lili, arleta pun mengangguka kepalanya.
"Leta!!" Teriak seseorang dari dalam kelas, arleta membalikan badannya dan melihat kak zaky telah berdiri tepat didepannya
"Eh? Iya kak apa?" Tanya arleta gugup. Dia takut keceplosan kalo dia udah ketemu cecil.
"Kenapa lo gugup?" Tanya kak zaky sambil menyerngitkan keningnya
"Gpp kok kak, lo ngapain kesini?" Tanya arleta cepat dan mengubah topik pembicaraan
"Gua cuma mau nanya kenapa kemaren lo gak kekantin?" Tanya kak zaky, kak zaky gak sadar kalo arleta menghembuskan nafas leganya
"Oh itu kemaren gua nganterin murid baru dikelas ini buat daftar eskul. Tanya aja sama rafa" kata arleta sambil tersenyum, kak zaky menoleh kearah rafa dan rafa mengangguk
"Murid baru?" Tanya kak zaky lagi
"Iya..gak penting kok, dia cupu" arleta memandang kak zaky sambil tersenyum
"Nah karena dia cupu itu. Tumben lo baik sama anak baru apalagi dia cupu, gak lo bully kan?" Tanya kak zaky menyipitkan matanya
"Gak kok"kata arleta sambil tersenyum. Kak zaky menganggukan kepalanya dan keluar dari kelas. Arleta memikirkan cecil sampai bel pulang berbunyi.
●●●●●
Rosela pov
"Wahh kamu hebat ra, kamu udah bisa main piano pake lagu ini" kata rosela sambil menepukan tangannya. Aura hanya tersenyum malu.
"Makasih kak" katanya sambil tersenyum malu
"Yaudah kalo gitu kakak pulang dulu ya" ucapku sambil berdiri tapi sedikit pincang
"Tunngu sebentar ya. Rafaaaa anterin rosela pulang" teriak tante santi memanggil rafa, rafa pun turun dari lantai dua.
"Apa ma?" Tanya rafa saat didepan tante santi. Dia terlihat ganteng kalo make pakaian santai gini, tapi sayangnya sifat dia dingin. Batinku
"Anterin rosela pulang ya raf, kamu mau kan rose?" Tanya tante santi memandangku dan rafa bergantian.
"Mau tan" jawabku cepat. Soalnya aku gak mau ambil resiko lagi kalo pulang malem malem terus ketemu sama anak buah dad dan mom lagi. Bisa bisa buka kaki aku aja yang terkilir tapi badanku di mutilasi. Kulihat rafa menyerngitkan keningnya sementara tante sinta dan aura tersenyum lebar.
"Kaki kakak kenapa? Perasaan kemaren belom kayak gini deh" Tanya aura
"Oh ini, kemaren pas kakak pulang dari sini dikejer kejer sama orang, kakak lari terus keselandung deh jadinya terkilir" jawabku polos, seketika aku menutup mulutku dengan tanganku sendiri. Kenapa bisa keceplosan sih, kalo kayak gini kan gak enak sama tante sinta.
"Eh enggak kok, ini jatoh dari kasur" jawabku cepat sambil tersenyum
"Jatoh tapi sampe terkilir ya kak? Terus sampe luka luka" kata aura sambil menunjuk kakiku dan tanganku yang terluka, aku hanya meringis saja.
"Yaudah deh rafa anterin" kata rafa sambil berjalan kearah luar rumah, setelah berpamitan kepada tante dan aura aku pun menyusul rafa dibelakang. Dijalan rafa menanyakan alamat kos ku dan akupun menyebutkannya.
"Mampus gua" kataku pelan karena melihat beberapa pria berdiri didekat kos kosanku, untungnya tidak dalam area kos.
"Kenapa lo?" Tanya rafa dingin, aku mengabaikannya saja dan terus melihat kearah orang orang suruhan orangtuaku, tidak kusadari ternyata rafa juga menoleh kearah pria itu lalu memandangku dengan tajam
"Lo kenal mereka?" Tanya rafa membuatku gugup.
"Eng..gak" jawabku terbata, kulihat rafa menganggukan kepalanya
"Maksih ya fa" ucapku saat didepan pintu kos, rafa hanya melihatku sebentar saja lalu ingin beranjak pulang menggunaka mobilnya tetapi aku tahan. Dia memandangku seolah dengan tatapan -ada apa lagi-
"Hati hati" kataku tulus sambil tersenyum, kulihat rafa mengangguk lalu pergi dari kos kosanku.
Dasar manusi es. Batinku sambil berhalan kearah kasur