Membangun Hubungan

1333 Words
Sesampainya di rumah …. “Ro, kenapa kamu nggak ngomong ke aku kalau kamu pergi ngisi pentas di acara ulang tahun kota?” tanya Nanda begitu ia sudah masuk ke dalam rumah bersama Ayu. “Kamu juga nggak bilang kalau bawa Arlita ke pesta itu,” sahut Ayu sambil melangkah santai menaiki anak tangga rumahnya. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Ay! Aku lagi bicarain kamu!” Nanda mengejar langkah Ayu sambil menahan kesal. “Bukan kamu, tapi kita!” sahut Ayu. Nanda menghela napas kesal. “Aku udah rela ninggalin Arlita dan nungguin kamu sampai selesai nari. Kamu malah kayak gini? Dengerin aku, Ay!” “Aku denger, Nan. Kamu juga harusnya bisa dengerin aku. Aku ini perempuan, Nan. Istri sah kamu. Meski kita menikah tanpa cinta, tolong hargai pernikahan ini! Aku capek ya setiap hari lihat kamu jalan sama Arlita. Giliran aku deket sama cowok lain, kamu misuh-misuh nggak jelas kayak gini,” sahut Ayu sambil masuk ke dalam kamarnya. “Aku ini laki-laki, Ay. Mau deket sama perempuan mana pun, nggak akan jadi masalah. Tapi kamu ... kamu ini perempuan. Pakai pakaian seksi dan nari mesra sama laki-laki di depan umum, nggak malu?” tanya Nanda sambil menatap tubuh Ay yang sedang duduk di depan meja rias. Ayu menarik napas dalam-dalam. “Kamu sendiri, nggak malu jalan sama cewek lain sementara kamu sudah beristri?” “Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Ay! Aku tanya ke kamu!” sahut Nanda kesal. “Aku heran, kenapa aku bisa punya istri pembangkang kayak kamu! Apa yang aku lakuin di luar sana, nggak seharusnya kamu cari tahu. Cukup berdiam diri di rumah dan jadi istri yang berbakti! Nggak perlu keluyuran di luar sana apalagi tampil di depan umum cuma pake kemben dan jarik doang!” “Nggak usah kuno, Nan! Apa sih bedanya sama Arlita yang pakai bikini di pantai atau di kolam renang? Lebih seksi dari aku. Kamu pernah marahin dia karena pakaiannya yang terlalu seksi itu? Kamu malah suka ‘kan?” tanya Ayu sambil menatap serius ke arah Nanda. “Kamu ...!?” Nanda gelagapan mendengar ucapan dari Ayu. “Nan, aku capek berantem sama kamu setiap hari. Kalau kamu nggak suka sama pernikahan ini dan ingin menikahi Arlita, kamu ceraikan aku aja!” pinta Ayu sambil membersihkan sisa make-up di wajahnya. “Kamu minta kayak gitu supaya kamu bisa deket sama laki-laki itu?” tanya Nanda. “Laki-laki mana? Nggak usah ngada-ngada, Nan! Dari awal yang salah itu kamu! Kenapa kamu buat seolah-olah aku adalah kesalahan utama dalam hubungan pernikahan yang tidak pernah bahagia ini!” sahut Ayu kesal. Ia bangkit dari kursi sambil menyambar tas tangannya dan melangkah pergi. “Kamu mau pergi ke mana lagi?” “Mau pulang ke rumah orang tuaku! Aku nggak betah berlama-lama tinggal di rumah kayak neraka ini!” sahut Ayu ketus. Nanda buru-buru berlari ke arah pintu dan menghadang Ayu agar tidak keluar dari kamar tersebut. “Jangan bikin masalah baru, Ay! Papa Andre bisa marah sama aku kalau kamu pergi dari sini.” “Bodo amat! Mau Papa Andre, Papa Sule atau Papa apa pun itu, aku udah nggak peduli. Kamu bisa balik sama Arlita meski kita sudah menikah. Kenapa aku nggak bisa memutuskan hidupku sendiri dan balik ke Sonny? Jelas-jelas dia jauh lebih baik dari kamu!” Nanda menatap wajah Ay sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Emosinya selalu tak terkendali setiap kali berhadapan dengan wanita ini. Ia sendiri, tidak tahu apa yang terjadi dengan hatinya hingga membuat pikirannya menjadi sekacau ini. “Nan, aku udah merelakan semuanya demi menerimamu menjadi suamiku. Kamu tahu, sejak dulu aku cinta sama Sonny. He is my future, Nan! Dan kamu yang menghancurkan semuanya!” Ayu menurunkan nada bicaranya dengan mata berkaca-kaca. “Aku nggak tahu aku salah apa di masa lalu sampai Tuhan tega menghukumku seperti ini,” ucap Ayu sambil menitikan air mata. “Satu hal yang paling aku sesali dalam hidupku saat ini adalah mengenalmu, Nan. Kamu adalah satu-satunya pria yang tidak pernah menghargai keberadaanku. Bahkan kamu akan tetap melihatku hanya sebagai sampah meski aku memberikan nyawaku sekalipun untuk kamu.” DEG! Nanda terdiam sambil menatap mata Ayu yang terus meneteskan air mata. Saat masih SMA, Ayu memang hampir mati karena menolongnya. Bahkan wanita ini sering terluka karena menjadi target utama musuh-musuh Nanda saat itu. Karena tidak ingin melukai wanita ini, ia memilih untuk membencinya dan menjauhkan Ayu dari kehidupannya yang keras di luar sana. Menjadi ketua genk yang kerap tawuran saat masih sekolah, ia selalu saja mendapatkan banyak kesulitan. Dan sialnya, Ayu selalu datang tiba-tiba di tengah konflik dan ikut menjadi korban. “Nan, aku sudah berusaha menjadi istri yang baik meski aku tidak mencintaimu. Demi orang tua, aku berusaha untuk berbakti dan berharap kita bisa menjalani rumah tangga yang bahagia. Sudah hampir tiga bulan, kenyataannya kita malah selalu perang dingin atau perang mulut. Aku sudah lelah seperti ini terus, Nan. Kalau memang kamu tidak menginginkan anak ini, aku bisa merawatnya sendiri. Saat ini aku tidak menginginkan apa pun selain kedamaian.” Nanda menghela napas sambil menundukkan kepalanya. “I’m sorry, Ay ...! Aku akan berusaha menjadi pria yang bertanggung jawab terhadapmu. Dia anakku dan dia harus bersamaku!” “Kamu nggak pernah menginginkan anak ini, Nan. Begitu juga denganku. Impianku adalah menikah dan punya anak dari Sonny. Bukan dari pria baj!ngan sepertimu. Apa yang harus kuceritakan pada anak ini di masa depan? Haruskah aku bilang sama dia kalau ayahnya tidak pernah menginginkan kehadiran dia dan selalu pergi bersama wanita lain untuk menyenangkan diri sendiri?” tanya Ayu lirih sambil berlinang air mata. Nanda menggelengkan kepalanya. “Nggak, Ay! Kamu nggak boleh lakukan itu! Dia anakku dan aku akan bertanggung jawab.” “Dengan cara apa? Menikahiku saja tidak cukup, Nan.” “Aku akan menafkahi kalian berdua.” “Yang aku permasalahkan bukan soal finansial. Aku bukan wanita yang hidupnya bergantung sama pria seperti pacarmu itu. Meski tidak menikah denganmu, aku masih bisa menghidupi keluargaku sendiri. Aku juga bukan wanita yang tidak punya prestasi. Asal aku bilang ke Sonny kalau aku tidak bahagia hidup denganmu, maka dia akan senang hati menerimaku kembali,” tutur Ayu lirih. “STOP, AY ...!” seru Nanda sambil mencambak rambutnya sendiri. Ayu menyeringai kecil menatap Nanda yang semakin kacau dan tidak bisa ia mengerti keinginannya. “Jangan sebut Sonny atau siapa pun yang statusnya selalu jauh lebih baik di matamu!” pinta Nanda. “Aku nggak tahu kenapa Tuhan ngasih wanita baik-baik untuk pria baj!ngan sepertiku. Aku nggak tahu apa yang harus kulakukan.” Ia berbalik dan menyandarkan keningnya di pintu. Ia terus memukul-mukulkan kening ke daun pintu beberapa kali. “Yang harus kamu lakukan saat ini adalah bersyukur, Nan! Hargai pernikahan ini dan aku akan menghargaimu sebagai suamiku. Bagaimana kamu memperlakukanku, begitu juga aku akan memperlakukanmu,” tutur Ayu sambil mengusap sisa air matanya dan menatap punggung Nanda. Nanda langsung membalikkan tubuhnya menatap Ayu. Ia melangkah perlahan mendekati wanita itu. Mengikis jarak di antara mereka yang selama ini saling menyakiti tanpa mereka sadari. “Ay, aku sudah salah?” tanya Nanda sambil menyentuh lembut pipi Ayu. Ayu menarik sisa cairan hidungnya sambil menahan perih di matanya. Ia sendiri tidak tahu jelas apa yang sebenarnya dia inginkan. Ia hanya ingin ... bisa menjalani rumah tangganya dengan baik dan melepaskan masa lalunya. Sebab takdir telah menentukan bahwa hidupnya akan seperti ini. Ia tidak bisa meminta untuk kembali, hanya bisa menikmati. Nanda mendekatkan bibirnya perlahan ke bibir Ayu. Entah mengapa hatinya sangat menginginkannya. Rasa vanila yang manis di bibir Ayu, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk menikmatinya dan terus mengulum bibir itu tanpa meminta persetujuan dari Ayu. Ayu menelan salivanya dengan susah payah ketika Nanda mengulum lembut bibirnya. Ia tidak bisa menolak perlakuan lembut dari Nanda dan mulai menikmati ciuman dari pria itu. Bahkan, ia malah membalasnya dan membuat Nanda menginginkan hal yang lebih dari sekedar berciuman. Ini pertama kalinya ia sangat menikmati setiap sentuhan yang dihadirkan Nanda di seluruh tubuhnya. Setelah tiga bulan menikah, ini pertama kalinya ia bisa melayani suaminya di ranjang dengan perasaan ikhlas dan bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD